Ke-khasan Dialek Karo Yang Tegambar Pada Tulisen Karo
Diyakini, Tulisen(aksara) Karo yang juga disebut Surat Haru(karena dulunya dipergunakan
meluas di wilayah-wilayah bekas kerajaan Aru(Haru – Karo) meliputi Sumatera bagian
tengah dan bagian utara)dapat dikatakan merupakan aksara yang paling populer
setidaknya di kawasan Sumatera bagian utara dan tengah. Hal ini ditunjukkan
dengan banyaknya karya-sastra klasik yang ditemukan dan disimpan oleh para
kolektor-kolektor serta galeri seni di dunia, dimana dari kesemuanya itu
merupakan buah tangan dari para guru(orang
pintar dan bijaksana dalam segala hal) dan rakyat jelata. Jadi, di Karo bukan
hanya kaum guru dan sibayak(raja, bangsawan) saja yang
memiliki kemampuan baca tulis, melainkan segenap lapisan dan usia masyarakat
juga demikian.
Jika kita menelisik kepada tulisen(aksara) Karo itu, yang dipadukan
denga cakap(bahasa) serta endek(logat atau dialek) Karo, maka
tampak jelas ke-khasan dari tulisen karo itu yang tidak akan kita temui dalam
aksara-aksara serta dialek lainnya. Dimana dalam indung surat(huruf induk/utama) yang terdiri dari 21 surat(huruf/font), ada dua indung surat
yang sangat mencitrakan ke-khasan dari aksara, bahasa, dan logat Karo itu
sendiri, yakni pada indung surat “NDA” dan “MBA”(“nda” dan “mba” hanya ada di
Karo). Perhatikan penunjukan karakter “nda” dan “mba”, serta contoh-contoh
penggunaanya dalam kata!
![]() |
Karakter "nda" dan "mba" serta contoh penulisannya dalam kata |
Sebenarnya selain bunyi “nda” dan
“mba” yang ada dalam indung surat Karo,
ada satu bunyi yang juga sangat khas dalam dialek Karo, yakni: “nca”. Namun
sayangnya bunyi “nca” ini tidak ada
diwakili secara khusus dalam indung surat Karo, melainkan jika kita hendak
menuliskan “nca” kita haru menulis: “na+penengen+ca” Perhatikan penunjukan
karakter dibawah ini!
![]() |
cara penulisan bunyi "nca". |
Perhatikan contoh penulisan “nca” diatas sangat tidak efektif, karena
untuk menuliskannya setidaknya kita harus menggunakan indung surat “na” diikuti anak surat(diakritik) penengen
dan dilanjutkan dengan indung surat “ca”. Mungkin dalam hal ini saya mencoba
menggabungakan ketiga karakter tersebut “na+penengen+ca”, sehingga akan tampak
seperti gambar dibawah! Namun, itu masih butuh pengkajian dan kesepakatan
antara sesama pengguna tulisen(aksara) Karo. Dan, berikut paduan karakter untuk
membentuk bunyi “nca” berdasarkan rancangan saya!
![]() |
Tujuh karakter pengembangan untuk membentuk bunyi "nca" menurut rancangan Bastanta P. Sembiring. |
HM...
ReplyDeleteMNTB MFAL'Q!
Rolin ku aksara Karo baci
ReplyDelete