Mejuah-juah.     Selamat datang di blog sederhana kami: "Rudang Rakyat Sirulo".   Mejuah-juah. Kami minta maaf jika diwaktu dekat ini akan ada sedikit gangguan atau ketidak nyamanan pengunjung terhadap tampilan blog ini, sebab direncanakan dalam waktu dekat blog ini akan melakukan perbaikan. Terima kasih atas kunjungan anda.   Terus dukung dalam doa, untuk Taneh Karo Simalem yan kita cintai segera dipulihkan    Mejuah-juah.        RUDANG RAKYAT SIRULO COMUNITY menerima donasi dari pihak-pihak yang hendak/peduli dengan blog ini, yang ingin berinfestasi. Hal ini ditujukan untuk menghidupkan terus blog ini, serta meng-UPGRADEnya ke wensite berbayar demi kenyamanan pengunjung. Bagi anda yang tertarik silahkan hubungi e-mail: bastanta.meliala@gmail.com. Terima kasih.
Mejuah-juah.   Rudang Rakyat Sirulo Comunity, mengundang partisipasi dari pemcaba untuk mendukung eksistensi blog ini, dengan mengirimkan tulisan-tulisan yang berkaitan dengan Karo ke e-mail: bastanta.meliala@gmail.com    RRSC juga mengundang para pengunjung blog untuk ikut serta membangun jaringan RRSC dengan cara menyampaikan donasi untuk meng-UPGRADE blog ini ke versi berbayar, hal ini dianggap perlu untuk memberi kualitas konten dan kenyamanan pembaca.   Bagi anda yang tertarik untuk mendukung dan ikut serta membangun jaringan RRSC, anda dapat menyampaikan donasi anda ataupun berinfestasi di blog ini. Silahkan hubungi e-mail admin di BASTANTA.MELIALA@GMAIL.COM    Mejuah-juah.
    <--> MEJUAH-JUAH <-->

    Kamis, 26 Mei 2011

    Perkawinan Se-merga Pada Merga Sembiring

    Belakangan ini pikiran saya tertuju kepada satu hal yang lama membuat saya bertanya-tanya, mengapa demikian. Beberapa saat yang lalau, seorang “turang” (saudara lain jenis kelamin. Misal: Peria - wanita; wanita – peria) saya bertanya demikian: 

    Turang : “Tur (turang)!”

    Saya  : “Ya?”

    Turang : “Kalau merga Sembiring bisa tidak “SIBUATEN?” (kawin semerga-red)” tanyanya.

    Saya  : “Hm..! Sebenarnya dari dulu ada sih turang merga Sembiring sibuten dan dari beberapa tulisan yang kubaca dan percakapan dengan beberapa orang, tidak ada yang melarang (mengatakan tidak boleh).” Sambungku “memangnya kenapa tur?”

    Turang : “Gak apa-apa kok tur!” jawabnya “Tapi. Kalau Sembiring ....(sensor).. dengan Sembiring.... Boleh gak?”


    Saya  : “Kita tahu turang kalau sebenarnya dalam adat Karo perkawinan se-merga itu dilarang, bahkan di tabukan. Jadi, walaupun dikatakan bisa, hem... kalau bisa jangan deh, tur. Entar repot jadinya, aku 'gak tahu harus duduk dimana. Hahahaha.. “ sambungku lagi  “ Tapi entah mengapa kita Sembiring ini saling sibuaten.”

    Turang  : “ Iya, ya tur!” sambungnya “ Berarti boleh donk?”

    Saya   : “Ye! Enak aj, dasar!”

    Turang   : “Hehehehe..”
    Masalah bisa atau tidaknya “perkawinan semerga” pada dua cabang merga Karo (Sembiring dan Perangin-angin) ini memang sangat membingungkan juga (Ya! Kalo loe mau bingung. Heheheh..), mengapa demikian? Ya! Kita ketahui bersama kalau dalam adat-istiadat Karo (suku lainnya juga), pernikahan se-merga (sibuaten) itu sangat dilarang keras, bahkan dianggap suatu hal yang memalukan keluarga, dan tabu (pantang hukumnya). Namun, kalau benar demikian mengapa di dua cabang merga Karo (Sembiring dan Perangin-angin) diperbolehkan? Aneh juga! Sebenarnya masalah kawin se-merga ini sudah dilarang oleh pemuka adat di beberpa daerah, bahkan sudah diberikan hukuman pengucilan, ataupun pengusiran dari kuta (kampung), tapi masih saja ada yang melanggarnya dengan alasan atas nama cinta.

    Ok’deh! Saya mau sedikit berandai-andai dan menulis hasih diskusi dan penelusuran saya di internet, ataupun menafsirkan (opini). Namun, berhubung saya merga Sembiring, jadi yang kita bahas untuk saat ini di merga Sembiring saja ya.! Ha-ha-ha.

    Merga Karo (Merga Silima)

    Dalam Suku Karo kita mengenal “Merga Silima” atau “Silima Merga,” yakni (berdasarkan abjad):
    1. GINTING
    2. Karo-karo
    3. Perangin-angin
    4. Sembiring
    5. Tarigan
    (Berdasarkan Rekomendasi Kongres Kebudayaan KARO. 3 Desember 1995)

    Merga Sembiring

    Merga Sembiring terdiri atas delapan belas (18) cabang merga dan juga terbagi atas dua kelompok, yakni:

    I. Kelompok Sembiring yang “man biang” (makan daging anjing) dan tidak di perbolehkan saling sibuaten (tidak boleh kawin se-merga), yang terdiri dari empat. Yaitu:

    1. Sembiring Kembaren
    2. Sembiring Keloko
    3. Sembiring Sinulaki, dan
    4. Sembiring Sinupayung
    (walaupun tidak dibolehkan, namun tidak jarang juga kita temui kelompok Sembiring "si man biang" ini juga saling sibuaten dengan sesama Sembiring)

    II. Kelompok Sembiring yang “mantangken biang/la man biang” (tidak makan daging anjing). Kelompok Sembiring ini terdiri dari 14 cabang dan dapat saling sibuaten (diperboleh kawin se-merga). Sembiring ini sering juga disebut dengan “Sembiring Singombak,” bukan singombang ya! Mungkin SINGOMBAK ini maksudnya: karena pada dasarnya mereka penganut ajaran Pemena(Senata Dharma/Hindu), sehingga jika meninggal dunia jasadnya dibakar dan di “OMBAKEN (hanyutkan)” dengan menggunakan guci diatas sebuah perahu kecil. Menurut cerita, dulunya dilakukan di “Lau Biang (Sungai Wampu).” Adapun ke-14 Sembiring Singombak itu adalah.

    1. Berahmana
    2. Meliala
    3. Muham
    4. Maha
    5. Pandia
    6. Pelawi
    7. Depari
    8. Colia
    9. Tekang
    10. Gurukinayan
    11. Bunuaji
    12. Keling
    13. Busuk
    14. Sinukapur
    Dan dari ke-18 Sembiring Singombak ini terbagi lagi menjadi tiga (3) golongan. Berikut ini ketiga golongan SEMBIRING SINGOMBAK itu:

    I. Golongan Pertama
    Sembiring Berahmana, Pandia, Colia, Guru Kinayan, dan Sembiring Keling.

    II. Golongan Kedua  
    Sembiring Depari, Pelawi, Bunuaji, dan Sembiring Busok.

    III. Golongan Ketiga
    Sembiring Meliala, Maha, Muham, Pandebayang, dan Sembiring Sinukapur.

    Dimana, perkawinan se-merga pada Sembiring Singombak itu hanya dibolehkan dengan golongan yang berbeda (tidak boleh satu golongan).
    (Menurut: Brahma Putro, Pustaka Alim Sembiring Kembaren, dan Pdt. J. H. Neumann)

    Inilah bandit2-nya yang kawin se-merga nie.. Ops becanda broo!
    Ok! ‘Kembali Ke Labtob’ itu yang sering di lontarkan oleh Om Tukul Arwana, ya! Pertanda kita juga harus kembali ke topik!

    Merga Sembiring, adalah salah satu merga Karo (dari Merga Silima) yang juga merupakan salah satu merga terbesar (keturunannya terbanyak), sehingga tentunya besar juga permasalahan-permasalahan sosial yang timbul dan harus di hadapinya.
    Berikut hasil diskusi dan penelusuran saya, beberapa alasan mengapa merga Sembiring ini saling sibuaten!
    1. Dipercayai (menurut sejarah) bahwasanya merga Sembiring ini adalah merga Karo yang asli berasal dari daratan India (Hindustan), sehingga pada dasarnya menganut ajaran Hindu. Jadi kalau mati, ya dibakarlah! Setelah jasad di bakar, maka abunya dimasukkan ke dalam sebuah guci dan disimpan di tempat khusus diatas langit-langit rumah. Abu jenazah itu dikumpulkan hingga banyak (semua anggota keluarga) hingga pada saatnya (jika keluarga tersebut memiliki rejeki) diadakan pesta pelepasan ataupun pengombaken(menghanyutkan) abu jenazah. Dalam kepercayaan Karo kuno, maka abu di kumpulkan dan dibawa ke “lau mbelin (sungai besar)” untuk diombakken(dihanyutkan) dengan menaruh guci tempat abu yang telah terkumpul diatas sebuah perahu kecil, dan diharapkan abu-abu itu akan sampai di “Sungai Gangga,” tanah leluhur suku Sembiring.
    Dalam sebuah cerita “Ngombakken Abu Jenazah Jabu Sembiring Mergana (menghanyutkan abu jenazah keluarga Sembiring).” Diadakanlah pesta yang sangat  besar yang lamanya tujuh hari, tujuh malam, mengundang semua sangkep nggeluh (sanak saudara, kerabat),  sehingga semua apa yang dimiliki (padi/beras, buah, dan ternak) keluarga Sembiring habis, sehingga setelah pesta pengombaken itu selesai, timbulkan kata yang kurang mengenakkan dari “anak beru” Sembiring Mergana: “Letih benar melaksanakan tugas anak beru di Jabu Sembiring Mergana ini, bukan itu saja semua hasil kerja keras selama ini habis untuk pesta ini. Misalkan, jikalau ada lagi pesta-pesta Sembiring Mergana ini maka habislah tenaga dan harta kita.” Maka kata anak beru Sembiring Mergana kepada “Merga Siempat dan beru/br (beru/br = menandakan wanita) Siempat (Ginting, Karo-karo, Tarigan, dan Perangin-angin)”: “ Jikalau ada diantara kalian yang ingin menikah, pesanku janganlah mengambil beru/br Sembiring ataupun menikah dengan merga Sembiring. Karena akan begini jadinya, jika diadakan pesta pengombaken apa yang menjadi kerja keras selama ini akan habis.” Begitulah komentar, mungkin keluh kesah anak beru Sembiring Mergana.

    Mulai saat itulah tidak ada lagi  “singuda-nguda (gadis)” yang mau menikah dengan merga Sembiring dan “anak perana (pemuda)” yang mau mempersunting beru Sembiring. Sehingga mulai saat itu merga Sembiring dan beru Sembiring tawiren/pangke/cawir singuda-nguda ras anak perana (tidak laku. Hahahaha...).
    Hal ini membuat Sembiring Mergana berfikir “Jikalau tidak ada lagi yang mau mempersunting/menikahi turangku(saudariku) beru Sembiring, biarlah aku yang mempersuntingnya.” Dan juga kata beru Sembiring: “Jikalau tidak ada lagi yang mau mengasihi dan menyayangi turangku (saudaraku) Sembiring Mergana, biarlah aku yang mengasihi dan menyayanginya.” Itulah awal mulanya Sembiring Mergana dan Beru Sembiring saling sibuaten (kawin se-merga).

    Selain cerita diatas masih ada cerita versi lain yang mungkin menjadi alasan mengapa Sembiring dan Beru Sembiring kawin se-merga. Seperti:

    1. Kita katakan diawal tadi, bahwa menurut sejarah Merga Sembiring berasal dari India. Merga Sembiring pertama di gambarkan ber-sosok: badan besar, kulit gelap, hidung besar dan lebar, dan bersuara besar. Ya, kesimpulannya: “Jelek!” Sehingga, karena rupanya yang buruk tidak ada peria dan wanita lainnya yang mau berhubungan dengannya. Maka banyak diantara mereka yang tidak menikah. (Hem.! Jauh beda dengan skarang ya! Merga/beru Sembiring Ini mantab2. Hehehe..)
    Hal ini membuat populasi mereka kala itu menurun derastis. Mengantisipasi ancaman kepunahan dan juga tidak mungkin kalau mereka terus menerus hidup menyendiri,  jadi jalan satu-satunya ialah dengan menikahkan mereka. Tetapi dengan siapa? Melihat hal ini, maka jalan satu-satunya adalah “mereka saling sibuaten.” Dan, mengerti akan permasalahan yang terjadi para tetua adat, penguasa, dan raja (Sibayak) memberikan pengecualian kepada keturunan mereka dan kebebasan untuk saling sibuaten asalkan jangan dalm saru cabang (mislkan: Meliala – Meliala; Depari – Depari)atau sedarah langsung.
    1. Cerita berikut berawal dari keturunan India yang berdomisili di daerah yang didiami masyarakat Karo, sehingga untuk memuluskan langkahnya sebagai seorang pedagang ia mempelajari adat-istiadat Karo, bahasa Karo, dan mengambil salah satu merga Karo. Karena kulitnya yang gelap, asalnya dari Hindustan, dan dia seorang pemuja Brahmana, maka dia menggunakan merga Sembiring Berahmana. Begitu juga dengan istrinya, karena seorang Hindu dari Etnis Malyam Tamil, maka dia menggunakan beru Meliala. (menurut cerita Meliala berasal dari Etnis Malyam Tamil). Jadi, kemanapun mereka pergi, selalu katakan ia seorang Sembiring dan banyak keturunan dari daratan India lainnya seperti mereka(misalkan seorang dari Colla, mengambil merga Sembiring Colia, pedagang dari Pandyth mengambil merga Sembiring Pandia, dlsb). Memang kalau dilihat dari watak, rupa, dan logat tidak ada yang tidak percaya kalau mereka orang Karo, beitupun dengan anak-anak mereka.
    Singkat cerita, timbullah pergunjingan di masyarakat “mengapa di dalam satu keluarga suami-istri memiliki merga/beru yang sama? Dan mengapa ada pesta pernikahan antara mega/beru yang sama?” Hal ini menjadi sangat meresahkan ketika banyaknya anak muda dan para penganut aliran kebebasan mengikuti jejak mereka (padahal mereka sebenarnya orang India. Sembiring juga keturunan India-kan?) menjadikan hal ini untuk melegalkan pernikahan se-merga, dan lama-kelamaan ini tumbuh seperti sebuah trend dan kebiasaan ataupun hal yang wajar. Semakin banyak terjadi kasus-kasus di beberapa daerah membuat terjadinya pertentangan dan bahkan perperangan antar kuta (desa) di beberapa daerah, membuat tetua adat dan penguasa setempat harus ikut campur.... Dari hasil musyawarah, maka pada saat itu tetua adat dan penguasa mengeluarkan keputusan: 1) tetap pada aturan yang berlaku dan menghukum yang melanggar dengan hukuman “pengucilan di masyarakat, ataupun diusir dari kuta.” 2) Karena sudah terlanjur terjadi, maka tetua adat dan penguasa memberikan pengecualian kepada para keluarga keturunan India, namun tetap melarang bagi keturunan Karo asli.
    1. Cerita berikut ini juga menjadi alasan mengapa terjadi perselisihan antara kelompok “Kuala” dengan kelompok “Terumbu dan Tembengen” dalam tulisan saya sebelumnya “SEMBIRING MELIALA MERGANA SI TELU NINI SI PITU KUTA” dimana, karena pesatnya perkembangan dan pertumbuhan Sembiring ini membuat mereka mayoritas dan dominasi di beberapa kuta. Sehingga, untuk mencari pasangan mereka sangat sulit (orang mereka semua, gak ada yang lain. Ya! Haruslah jeruk makan jeruk. Hehehehe...). Membuat mereka saling sibuaten.
    1. Selain cerita-cerita diatas, ada juga cerita yang mengaitkan mengapa merga/beru Sembiring ini saling sibuaten dengan sifat ataupun watak dari merga/beru Sembiring... berikut pemaparannya.
    Pada umumnya Merga Sembiring rata-rata berjiwa diplomatis. Sedikit berbicara tapi memiliki arti dan makna yang mendalam. Sifatnya yang tertutup dan pendiam cenderung membuatnya sulit dalam mengungkapkan perasaannya sesungguhnya, walau demikian sikap rendah hati, totalitas, ketulusan, dan selera humornya, serta sikap welas  asih membuatnya dapat diterima dengan baik di masyarakat. Sedangkan beru Sembiring pada umumnya penyabar namun cenderung bersifat agresif, ingin menjadi pemimpin, dan menguasai. Sehingga mereka membutuhkan sosok yang penyayang dan penyabar untuk dapat mengimbangi agresifitas dari wataknya.
    Perbedaan sifat namun melengkapi ini membuat terkadang beru Sembiring akan merasa lebih nyaman dan cocok dengan Sembiring Mergana jika dibandingkan dengan yang lain. Begitupula sebaliknya! Mereka dapat saling mengerti apa yang menjadi kelebihan dan kelemahan mereka yang dapat membangun sebuah komunikasi yang baik yang pada akhirnya menumbuhkan ketertarikan, rasa percaya, saling membutuhkan, saling menyayangi, dan yang terpenting dapat saling menyokong dalam segala situasi. Rasa kesamaan yang mendalam ini membuat terkadang mereka lebih jauh memaknainya dan menimbulkan suatu rasa yang berbeda, yang dimana tadinya hanya sekedar “persaudaraan yang tulus; yang saling mendukung” berubah menjadi rasa cinta yang mendalam dan kebutuhan yang lebih untuk menyokong kehidupan selamanya.

    6. Alasan berikut ini berkaitan dengan turi-turin(cerita asal usul) dan pengelompokan Sembiring seperti telah dibahas sebelumnya. Pengelompokan itu, jelas terjadi karena adanya suatu perbedaan, mungkin sifat atau watak, negeri asal, bahkan dan tentunya darah keturunan. Hal ini semakin diperkuat dengan apa yang dianut dalam tradisi Karo, dimana dikatakan Karo adalah suku bangsa yang bernenekmoyangkan Karo(Aroe) yang dari nenek moyang Karo inilah dikemudian hari lahir Merga Silima. Masih dalam tradisi yang sama(Karo-red), dikemudian hari Karo(Merga Silima) ini mengalami invasi dari suku bangsa lain, baik yang memiliki pertalian dekat maupun jauh dengan Merga Silima dan kemudian suku-suku pendatang itu merasuk dan membentuk klan-klannya masing-masing dan bergabung dengan Merga Silima itu menjadi sub/sib dari Merga Silima tersebut. 

    Dalam hal ini, tanpak dan jelas kalau setelah terjadinya invasi suku bangsa ke Karo, maka karo bukan lagu satuan etnis vertikal(geneologi) yang utuh, sehingga pernikahan semerga bukanlah icest murni. Namun, sebagai yang telah mengaku Karo wajib dan sudah sepatutnya-lah mengikuti aturan main yang ada di Karo. Bukan begitu?

    Ya! Itulah beberapa alasan yang mungkin awal mulanya mengapa merga/beru Sembiring ini saling sibuten... Jadi enda ngenca si banci ku ceritaken turang arah penungkunendu. Ija kurang ras lepakna mindo maaf aku, ras ulanai min i goda2’du kami turangdu e “La tahan pancing turang!” Hahahaha... Bujur.
    Sampai di sini dulu kade2. Kapan2 si lanjutken! Mejuah-juah!

    Comments
    7 Comments

    7 komentar:

    Mejuah-juah!