Mejuah-juah.     Selamat datang di blog sederhana kami: "Rudang Rakyat Sirulo".   Mejuah-juah. Kami minta maaf jika diwaktu dekat ini akan ada sedikit gangguan atau ketidak nyamanan pengunjung terhadap tampilan blog ini, sebab direncanakan dalam waktu dekat blog ini akan melakukan perbaikan. Terima kasih atas kunjungan anda.   Terus dukung dalam doa, untuk Taneh Karo Simalem yan kita cintai segera dipulihkan    Mejuah-juah.        RUDANG RAKYAT SIRULO COMUNITY menerima donasi dari pihak-pihak yang hendak/peduli dengan blog ini, yang ingin berinfestasi. Hal ini ditujukan untuk menghidupkan terus blog ini, serta meng-UPGRADEnya ke wensite berbayar demi kenyamanan pengunjung. Bagi anda yang tertarik silahkan hubungi e-mail: bastanta.meliala@gmail.com. Terima kasih.
Mejuah-juah.   Rudang Rakyat Sirulo Comunity, mengundang partisipasi dari pemcaba untuk mendukung eksistensi blog ini, dengan mengirimkan tulisan-tulisan yang berkaitan dengan Karo ke e-mail: bastanta.meliala@gmail.com    RRSC juga mengundang para pengunjung blog untuk ikut serta membangun jaringan RRSC dengan cara menyampaikan donasi untuk meng-UPGRADE blog ini ke versi berbayar, hal ini dianggap perlu untuk memberi kualitas konten dan kenyamanan pembaca.   Bagi anda yang tertarik untuk mendukung dan ikut serta membangun jaringan RRSC, anda dapat menyampaikan donasi anda ataupun berinfestasi di blog ini. Silahkan hubungi e-mail admin di BASTANTA.MELIALA@GMAIL.COM    Mejuah-juah.
    <--> MEJUAH-JUAH <-->

    Jumat, 16 November 2012

    Mengapa Telu Sedalanen Lima Sada(se-) Perarihen? : Sekedar opini dari SAYA!


    Sierjabaten sedang memainkan gendang Karo.
                Jika kita berbicara "gedang" dalam cakap(bahsa) Karo, maka kita sudah bicara tentang  "instrumen, rythm ‘n sound" khas Karo. Artinya: meliputi instrumen(alat) serta bunyi-bunyiannya, dan segala hal yang berkaitan dengan musik Karo itu.

              Secara umum, “gendang Karo”, dikenal dengan sebutan “Gendang Telu Sedalanen; Lima Sada(se-) Perarihen”,  Dimana, "telu sedalanen" secara harafiah mengandung artian: "tiga serangkai" ataupun "tiga sejalan", yang sering juga disebut  "gendang kulcapi", meliputi instrumen: kulcapi(kecapi Karo ber-sneer dua), keteng-keteng(sejenis perkusi yang terbuat dari tabung bambu yang memiliki dua sneer yang dipukul untuk menghasilkan bunyi), dan mangkuk(mangkok putih) atau versi lainnya, yakni: belobat(alat musik tiup dari bambo), keteng-keteng, dan mangkok.

               Diyakini, keteng-keteng diciptakan untuk menyederhanakan komposisi group musik dan instrumen pada musik Karo, mengurangi jumlah sierjabaten(sebutan bagi pemusik Karo) dalam sebuah pertunjukan, sehingga, gendang pengindungi dan penganak tidak dipergunakan lagi. Begitu juga dengan belobat yang dalam beberapa pertunjukan dipakai sebagai instrumen melodis pengganti sarune(alat musik tiup dari kayu atau logam), walau sesungguhnya hal ini adalah proses perkembangan musik Karo tersebut dari segi instrumen, rythm, dan saound-nya.

    Biasanya, dalam setiap kuta(perkampungan) Karo, telah ada dua orang penggual(pemukul gung(gong)), yakni: indug gung(gong indul/besar) dan anak gung(gong anak/kecil), kemudian, dalam setiap hajatan dipanggilah tiga orang pemusik dari luar untuk memainkan tiga istrumen musik Karo. Ketiga orang ini-lah yang disebut "telu Sedalanen(tiga serangkai/sejalan)" ini yang kemudia arih-arih(berembuk, berdiskusi) bersama kedua pemukul gong yang ada di kuta itu, beserta anak beru(yang mengatur acara) yang memiliki hajatan untuk menentukan gendang(rhythm ‘n sound) apa yang akan ipalu(dimainkan, dibunyikan) dan juga menentukan apa gelar gendang(nama, jenis hajatan agar disesuaikan dengan gendang yang dipalu)-nya nanti, sehingga dapat menghasilkan harmonisasi musik yang sempurna. Sehingga, dengan perarihen(kesepakatan setelah berembuk) antara sierjabaten(musisi) ini, maka disatukanlah mereka dalam hajatan itu dengan format "telu(3) sedalanen: musisi luar(panggilan) + 2 orang musisi anak kuta" sehingga, terbentuk formasi lengkap dari komposisi tadi "Gendang Telu Sedalanen Lima Sada(se-) Perarihen" hasil dari arih-arih. Namun, dalam "Lima Sedalanen" ini, dipakai instrumen aslinya, yakni: sarune, pengindungi, penganak, gung indung, dan anak gung, bukan lagi memakai keteng-keteng(dipakai untuk mengantikan penganak dan pengindungi) ataupun belobat(dipakai untuk menggantikan sarune), namun terkadang untuk mencapai warna musik yang lebih indah dimainkan juga kulcapi dan instrumen lainnya.

                    
    Mejuah-juah. 

    Lihat juga:
    Belajar aksara Karo. 
    Font's Karo(download) 






    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar

    Mejuah-juah!