Mejuah-juah.     Selamat datang di blog sederhana kami: "Rudang Rakyat Sirulo".   Mejuah-juah. Kami minta maaf jika diwaktu dekat ini akan ada sedikit gangguan atau ketidak nyamanan pengunjung terhadap tampilan blog ini, sebab direncanakan dalam waktu dekat blog ini akan melakukan perbaikan. Terima kasih atas kunjungan anda.   Terus dukung dalam doa, untuk Taneh Karo Simalem yan kita cintai segera dipulihkan    Mejuah-juah.        RUDANG RAKYAT SIRULO COMUNITY menerima donasi dari pihak-pihak yang hendak/peduli dengan blog ini, yang ingin berinfestasi. Hal ini ditujukan untuk menghidupkan terus blog ini, serta meng-UPGRADEnya ke wensite berbayar demi kenyamanan pengunjung. Bagi anda yang tertarik silahkan hubungi e-mail: bastanta.meliala@gmail.com. Terima kasih.
Mejuah-juah.   Rudang Rakyat Sirulo Comunity, mengundang partisipasi dari pemcaba untuk mendukung eksistensi blog ini, dengan mengirimkan tulisan-tulisan yang berkaitan dengan Karo ke e-mail: bastanta.meliala@gmail.com    RRSC juga mengundang para pengunjung blog untuk ikut serta membangun jaringan RRSC dengan cara menyampaikan donasi untuk meng-UPGRADE blog ini ke versi berbayar, hal ini dianggap perlu untuk memberi kualitas konten dan kenyamanan pembaca.   Bagi anda yang tertarik untuk mendukung dan ikut serta membangun jaringan RRSC, anda dapat menyampaikan donasi anda ataupun berinfestasi di blog ini. Silahkan hubungi e-mail admin di BASTANTA.MELIALA@GMAIL.COM    Mejuah-juah.
    <--> MEJUAH-JUAH <-->

    Senin, 04 Juni 2012

    Ginting MANIK


                Ginting Manik merupakan salah satu cabang(sub-)merga dari merga Ginting. Menurut tradisi Karo, Ginting Manik ini masih sembuyak(saudara sedarah) dengan Ginting Munté(Munthé) dan Ginting Pasé, hal ini tampak dari daerah asal mereka yang sama-sama dari kuta Tongging. Bukan itu saja, dalam penyebarannya(migrasinya), kedua sub-merga Ginting ini hampir memiliki jalur yang sama, setidaknya dari Tongging hingga ke Munté, namun dari Munté keturunan merga Ginting Manik ini melanjutkan penyebarannya ke Kuta Bangun, dan sebahagian ke Singa.
                Ada sebuah kisah yang sangat menarik dan cukup populer tentang Merga Ginting Manik dan tentunya Tarigan(Si Raja Umang). Dimana kisah ini sangat akrab dalam tradisi ndilo udan(memanggil hujan) dalam kepercayaan masyarakat Karo, yang di-interpretasikan dalam bentuk seni drama dan tari topeng, populer dengan sebutan Gundala-gundala atau dibeberapa daerah Karo lainnya disebut tembut-tembut Seberaya yang membawakan kisah Manuk Sigurda-gurdi(Siluman berwujud burung raksasa) berkepala tujuh.
                Darwan Prinst, S. H., dalam bukunya Adat Karo menyebutkan, si manteki(pendiri) kuta Singa adalah Ginting Sinusinga, namun beliau juga menambahkan kalau hal ini belumlah jelas! Saya berpendapat, “mungkin saja kalau Ginting Sinusinga ini adalah keturunan(pecahan) dari Ginting Manik di Singa”. Saya berpendapat demikian karena, almarhum(mendiang) Nini Bulang(kakek) saya Nagkih Ginting Manik(ayah dari nandé/ibu saya) adalah keturunan asli dari Pengulu Singa(di duga pendiri kuta Singa). Dalam hal ini, Mama(paman) saya sudah mendapat konfirmasi akan kebenarannya dari Karo-karo Sekali yang merupakan anak beru tua Ginting Manik Mergana saat masih di Singa, dan tanpa sengaja tahun 2011 lalu saya bertemu seorang yang juga ber-beberé Ginting Manik Singa, beliau juga membenarkan akan hal ini.
                Diceritakan dalam perjalanannya ke Dusun(Karo Jahé), putra Ginting Manik dan beru Sembiring Kembaren ini diselamatkan oleh anak berunya Karo-karo Sekali yang merupakan seorang guru mbelin dan Sembiring Meliala dari percobaan pembunuhan yang direncanakan oleh pihak sembuyak dari bapanya(ayahnya), karena saat itu Ginting Manik yang seorang Sibiak(sibiak = utama, bedakan dengan sibayak)Perbapan(kaum pria/penghulu) meninggal di-usia muda dan meninggalkan seorang anak yang masih kecil. Menurut tradisi, jabatan sibiak perbapan kuta ini diwariskan secara turun temurun, kecuali tidak ada ahli warisnya maka jabatan untuk selanjutnya dipangku oleh sembuyaken-nya yang tertua, itu-lah diduga menjadi alasen utama dalam percobaan pembunuhan terhadap anak Si Ginting Manik ini. Namun, rencana ini digagalkan oleh anak berunya Ginting, yakni: Karo-karo Sekali dan kalimbubu Ginting saat itu Sembiring Kembaren yang melarikannya ke daerah Dusun Deli(Karo Jahé).
                Akan kebenaran dari cerita ini juga diperkuat dengan adanya niat dari kalimbubu Sembiring Kembaren untuk kembali menjalin pertalian kekeluargaan dengan Ginting Manik, hal ini tampak pada perjodohan yang direncanakan sekitar tahun 1920’an. Namun sedikit terhalang, karena si beru Sembiring Kembaren yang notabene-nya janda seorang Belanda, dimana mantan suaminya yang seorang jaksa merasa tidak senang, sehingga dengan segala kewenangannya si Ginting Manik dibuang ke Singapura dan akhirnya dipindahkan ke Nusa Kambangan(Cilacap), namun atas segala upaya yang dilakukan pihak keluarga dan atas prilaku baik(Si Ginting Manik sejak di Nusa Kambangan, Cilacap dikenal dengan ahli penanam kelapa yang membut pihak Belanda menaruh simpatik) akhirnya Si Ginting Manik(Nangkih Ginting Manik) dibebaskan.
                Banyak kisah dibalik perjalanan Si Ginting Manik ini, namun dilain waktu akan saya ceritakan. Hehehe…. Dan berikut jalur perjalanan dari Ginting Manik di Dusun Deli(Karo Jahé) yang sempat saya peroleh dari beberapa orang tua: Singa => Rimo Mukur => (.???.) => Kuta Jurung => Namo Rambé, dan seterusnya. Kebenaran akan cerita ini memang masih perlu didalami, akan tetapi setidaknya dengan mengumpulkan tradisi-tradisi yang ada sedikit titik terang sudah mulai tampak.
                Adapun kuta-kuta yang menjadi tempat berdiamnya merga Ginting Manik ini menurut tradisi-tradisi yang ada adalah Tongging, Aji Nembah, Munte, Kuta Bangun, Singa, dan Linga; serta penyebarannya bukan hanya di wilayah Taneh Karo saja melainkan hingga ke Pak-pak(Dairi) dan Toba, sehingga merga ini juga ada di suku Pak-pak dan Toba dengan sbutan Manik.
                           
               

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar

    Mejuah-juah!