Mejuah-juah.     Selamat datang di blog sederhana kami: "Rudang Rakyat Sirulo".   Mejuah-juah. Kami minta maaf jika diwaktu dekat ini akan ada sedikit gangguan atau ketidak nyamanan pengunjung terhadap tampilan blog ini, sebab direncanakan dalam waktu dekat blog ini akan melakukan perbaikan. Terima kasih atas kunjungan anda.   Terus dukung dalam doa, untuk Taneh Karo Simalem yan kita cintai segera dipulihkan    Mejuah-juah.        RUDANG RAKYAT SIRULO COMUNITY menerima donasi dari pihak-pihak yang hendak/peduli dengan blog ini, yang ingin berinfestasi. Hal ini ditujukan untuk menghidupkan terus blog ini, serta meng-UPGRADEnya ke wensite berbayar demi kenyamanan pengunjung. Bagi anda yang tertarik silahkan hubungi e-mail: bastanta.meliala@gmail.com. Terima kasih.
Mejuah-juah.   Rudang Rakyat Sirulo Comunity, mengundang partisipasi dari pemcaba untuk mendukung eksistensi blog ini, dengan mengirimkan tulisan-tulisan yang berkaitan dengan Karo ke e-mail: bastanta.meliala@gmail.com    RRSC juga mengundang para pengunjung blog untuk ikut serta membangun jaringan RRSC dengan cara menyampaikan donasi untuk meng-UPGRADE blog ini ke versi berbayar, hal ini dianggap perlu untuk memberi kualitas konten dan kenyamanan pembaca.   Bagi anda yang tertarik untuk mendukung dan ikut serta membangun jaringan RRSC, anda dapat menyampaikan donasi anda ataupun berinfestasi di blog ini. Silahkan hubungi e-mail admin di BASTANTA.MELIALA@GMAIL.COM    Mejuah-juah.
    <--> MEJUAH-JUAH <-->

    Kamis, 11 Oktober 2012

    Batak dan Si Raja Batak



    Batak dan Si Raja Batak dalam beberapa tafsir dan tradisi.

    Jika disuruh mendefinisikan Batak dan Si Raja Batak secara umum(apa yang diperkenalkan secar umum), maka dengan gampang orang akan berkata: “Batak," ialah salah satu suku asli yang ada di Sumatera Utara.” Suku?  Dan, "Si Raja Batak" adalah nenek moyang dari semua bangsa Batak yang daripadanya lah lahirnya marga-marga Batak(tradisi Toba). Nenek moyang bangsa Batak?

    Namu, kali ini saya ingin membahas tentang Batak dan Si Raja Batak itu dari presfektif, tafsir, dan tradisi yang berbeda, diantaranya, yakni: dari tradisi yang berkembang di daerah dimana bersebelahan dengan lokasi kemunculan Si Raja Batak, yakni: di sebelah utara Danau Toba(Karolanden/Taneh Karo). Namun, sebagai pengantar, tidak ada salahnya kalau saya memperkenalkan sedikit Apa dan Siapa Karo itu, agar para pembaca mendapat gambaran lebih awal.

     Apa dan Siapa itu Karo?

    rumah adat Karo(sumber: google search image)

    Karo, adalah suku asli yang mendiami wilayah Sumatera bagian utara, timur, dan tengah, dalam tradisi suku Karo, dipercaya dahulunya wilayah Karo pernah didiami suku yang bernenek moyangkan Karo yang seorang panglima besar dari daratan India(Mulawari) yang terdampar di daratan Sumatera dan lari dari kejaran para tentara kerajaan asalnya ke daerah pedalaman bersama Mina Sari(putri raja: kekasihnya yang kelak menjadi istrinya), dan dipercaya nenek moyang Karo ini pernah tingal di gua yang disebut: “rumah umang”, sebelum menemunkan tempat yang aman, dan tanah serta kondisi yang cocok seperti negeri asalnya. Rumah(gua) Umang ataupun batu kemang ini, oleh para peneliti(diantaranya: J. H. Neumann, dan Vain Stein Callenfels) mengatakan kalau gua umang(batu kemang) tersebut merupakan warisan megalitikum yang diperkirakan terbangun di zaman Hindu-Budha(awal tahun Masehi) di nusantara juga Aru/Haru(Karo), dan bahkan diperkirakan mungkin tahun pembuatannya jauh lebih awal dari prediksi itu. Berlanjut ke tradisi Karo, dan, dari nenek moyang Karo inilah diyakini dikemudian hari lahirnya Merga Silima(lima merga induk Karo:
    pakaian adat Karo.
    Karo-karo, Tarigan, Ginting, Sembiring, dan Peranginangin), serta sub-merga Karo yang tersebar di wilayah Sumatera bagian utara dan tengah, hingga Aceh, bahkan hingga ke daratan Eropa(Munthe di Vlanderen(Belgia tahun 990M dan temuan Ijazah Acricus van Munthe yang lahir tahun 1072M), Norwegia, dan Swedia). Dalam perkembangannya,  sejarah mencatat satu kerajaan besar di Sumatera pernah didirikan oleh suku Karo, yakni: Kerajaan Aru(Haru) yang diperkirakan berdiri di awal-awal memasuki tahun Masehi( Brahma Putro: Karo berdiri abad I Masehi; H. Biak Ersada Ginting: Karo berdiri tahun 685M sesuai perkiraan menurut tradisi Karo) yang awalnya berdirinya beribukota di dekat Teluk Aru(Langkat) dengan raja pertamanya Pa Lagan(juga tersirat dalam Maningmangelai karya: Brahma Putro, dan juga Babat Sunda), hingga dikemudian hari karena seringnya berperang(Tahun 860M(Ehe 175) Aru diserang Sriwijaya namun tidak berhasil, akan tetapi banyak penduduk yang pindah ke Delitua dan dataran tinggi Karo) mengakibatkan ibu kota berpindah ke pedalaman Alé(Deli) dan karena saat itu terjadi perselisihan dan ketidak sepahaman tentang penempatan ibu kota kerajaan, maka dipercaya saat itulah Aru(Haru) terpecah menjadi beberapa kerajaan-kerajaan independen, baik di daerah pesisir maupun dataran tinggi Karo. Berdasarkan pada catatan seorang pelaut Cina bernama Fahien yang melakukan perjalanan di tahun 414 M, Aru/Haru sudah ada walau tidak dijelaskan letaknya secara pasti. Dan, abad ke-9 M kembali muncul beberapa nama kerajaan seperti: Rami(Lamuri[-di] di Aceh), Balus(Barus), Jahé(Sriwijaya), Melayu, dan Harlanj(Haru/Karo).
               

    Batak dan Siraja Batak dalam beberapa tafsir dan tradisi.

    Batak

    rumah adat Batak(sumber: google)
                Batak dalam persfektif dan definisi umum yang dibangun oleh para penulis dan beberapa antropolog adalah suku yang mendiami Sumatera Utara yang terdiri dari beberapa sub-suku, yakni: Karo, Toba, Simalungun, Mandailing, dan Pak-pak Dairi, dan Angkola(Angkola diragukan sebagai sebuah suku, namun dikatakan hanya merujuk kepada sebuah kelompok dalam satu wilayah, yakni: Angkola). Namun, jika berpaling pada masa-masa lampau, yang didefinisikan Batak ini, ialah semua kelompok-kelompok yang memenuhi beberapa kriteria, diantaranya:

    1.   Suku-suku yang belum teridentifikasi. Karena banyaknya suku-suku dan negeri-negeri independen di Sumatera Utara, maka dengan terburu-buru dan agar mempermudah dalam pengkategorian mereka, sehingga semua yang belum teridentifikasi dikatakan Batak. Dan, hal ini semakin dikuatkan pada masa pemerintahan kolonial Belanda, dimana pihak pemerintah, militer, antropolog, dan misionaris membuat kategori Batak dengan mengumpulkan beberapa persamaan dengan mengabaikan perbedaan yang mencolok dalam tradisi, adat, bahasa, sifat, dll sehingga beberapa antropolog juga mengatakan ini tindakan yang salah, keliru, dan terburu-buru, serta terkesan politis demi mempermudah dalam proses identifikasi, regristrasi, adminitrasi(pengaturan wilayah dan penguasa daerah), serta pelemahan beberapa kelompok yang dianggap mengancam keberadaan kolonialisme.
    2.      Penganut paganisme(bukan Kristen, bukan Islam)
    3.      Kanibalisme(di Karo diragukan, bahkan tidak ditemukan kanibalisme)
    4.    Pemakan babi(orang yang sudah mengnut Islam dahulu melebelkan mereka yang belum Islam(sehingga masih makan daging babi) dengan kata Batak, sehingga seorang Tionghua juga dikatakan Batak, dan bahkan para Guru Injil dan pembantu para misionaris yang sebagian besar didatangkan dari Tomohon(Minahasa) yang memakan babi juga dikatakan Batak.
    5.  Manusia yang biadap(verwilderde menschen), dan masyarakat(kebudayaan) dari masa kegelapan(duitsternisfe der alloudheit).
    6.  Bukan Melayu dan bukan Aceh.

    Tanpaknya segala hal yang melatarbelakangi kemunculan kata Batak itu mengadung pemahaman yang negatif dan tentunya kata dan sebutan Batak itu bukanlah diciptakan oleh mereka yang dianggap Batak atau yang mengaku Batak saat ini.

                Dalam tradisi Karo sendiri, tidaklah pernah ada orang Karo dahulu yang menunjuk ataupun mengatakan Batak bagi dirinya(menunjuk diri) dan juga kaumnya, sehingga pastilah kata Batak itu ditujukan untuk orang yang berbeda dengannya(bukan dirinya).  Namun sesuatu yang aneh, mengapa zaman sekarang ini generasi Karo mengatakan dan memandang dirinya sebagai Batak? Dan tak jarang cenderung lebih batak ketimbang Toba yang selama ini mengaku diri Batak(bataken asa teba!). Dan, bahkan dalam seluruh sastra klasik dari semua suku yang dikatakan batak tersebut, tidaklah pernah kata Batak itu terucap ataupun tertulis. Adapun definisi batak yang beredar dalam tradisi masyarakat Karo ada dua, yakni:

    pakaian adat Batak(gooogle)
    1.  Batak, adalah orang-orang Karo yang keluar(lari) dari kaumnya, oleh karena menghindari sistem feodalisme yang berlaku di Karo(hirarki pemerintahan tradisional Karo secara turun-temurun dari keturunan(keluarga) pendiri kuta, dari tingkatan teratas: diperintah oleh Sibayak, Bapa/raja Urung, perbapan/pengulu Kuta, dan kesain, dimana, rakyat derip(rakyat jelata) yang bukan ginenggem(ayoman para Sibiak(utama). Sibiak beda dengan Sibayak) wajib membayar pajak, membayar sewa tanah persekutuan(taneh persekutuan yang notabene-nya dimiliki dan dikuasai oleh para simanteki(pendiri) kuta(kampung, permukiman) dan keluarganya) dan er-kerah(bekerja untuk penguasa), sehingga untuk lari dari kewajiban-kewajiban itu, mereka pindah ke hutan yang belum bertuan dan membuka kuta bagi mereka yang ingin bebas dan merdeka dari pengaruh kaum "sibiak" dan kemudian juga diisi oleh orang-orang yang datang ke kuta tersebut yang menghindari utang  ataupun permasalahan lainnya. Mereka hidup dengan berburu dan tak jarang dari mereka dikaitkan dengan para gerombolan dari hutan yang melakukan aksinya berupa penculikan terhadap warga(khususnya gadis) seperti yang tersirat dalam tradisi Ginting Manik dan Tarigan(kisah Manuk Sigurda-gurdi), serta tak jarang dikaitkan dengan para perompak di jalur perjalanan para perlanja sira(pembawa/pemikul garam) dan puluh dagang(kaum dagang) yang lalu lalang di jalur penghubung dataran tinggi Karo dan pesisir pantai timur dan barat Sumatera.

    2.   Definisi Batak lainnya, ini berkaitan dengan ketenagakerjaan dan perdagangan budak. Sejarah mencatat, para Sibayak(si besar, si kaya, Raja, gelar bangsawan Karo) adalah penguasa dan yang berhak dalam penentuan dan pengelolaan semua aset negeri(kesibayaken, kenjurun(urung), kuta, maupun kesain)terkhususnya tanah persekutuan. Sehingga, sibayak pemilik dari semua itu, dan tidak jarang sejarah mencatat para sibayak ini pemasok rempah-rempah(khususnya lada, nipah, gambir, dan kapas) bagi para pedagang asing yang diperolehnya(para Sibiak: Sibayak, urung, pengulu-red) dari perkebunan pribadinya, maupun tanah persekutuan. Maka oleh karena itu, dibutuhkanlah banyak tenaga kerja untuk mengerjakan tanah-tanah tersebut, yang dalam cakap(bahasa) Karo disebut mbatak-bataki(meratakan tanah, mengerjakan tanah), dan para pekerja ini dikemudian hari dikenal kalak mbatak(orang yang mbatak-bataki/pekerja tanah), sehingga di wilayah-wilayah Karo dahulu, jika ada seorang tuan kebun mencari pekerja(budak) maka dia akan bertanya: “ Lit mbatak-ndu?(ada batak mu?) ”, dan dikemudian hari berkembang menjadi: “ Lit tebandu?(ada Toba mu?)” ataupun: " Lit Jawi, ndu?(ada Jawa-mu?) ", hal ini karena dikemudian hari para pekerja itu didatangkan ataupun datang sendiri dari sekitar daerah Danau Toba dan sebagian lagi dari Pulau Jawa.  Dan, ucapan ini terdengar setidaknya hingga tahun 80-an, bahkan, saat kecil di Patumbak(90-an), Nini Tudung(nenek) saya juga berkata demikian kepada sesamanya(pemilik lahan) untuk mencari si ngemo(pekerja) di perkebunan cengkeh ataupun kemiri-nya, katanya: “ Lit tebandu? ” atau “ Lit Jawi’ndu? ”.   
        Dalam buku: “ Etnisitas dan Kolonialisme; Batak dan Melayu di Sumatera Timur Laut ”, Daniel Perret mencatat, kalau: Sibayak Barus Jahé, Sibayak Barus Julu, dan Sibayak Lingga, orang yang paling berpera dalam mendatangkan budak-budak untuk dijual dan dipekerjakan di perkebunan-perkebunan, yang dimana sebagian besar dari mereka didatangkan dari daerah sekitar Danau Toba.


    Si Raja Batak

           Si Raja Batak dalam tradisi yang berkembang di sekitar Samosir(tradisi Toba-Batak), adalah nenek moyang dari semua bangsa Batak. Bangsa Batak? Dan, masih dalam tradisi Toba, dikatakan dikemudian hari dari Si Raja Batak ini-lah lahirnya marga-marga Batak(lih. Trombo Si Raja Batak). Para peneliti dan pengamat tentang Batak memprediksikan kalau Si Raja Batak ini hidup sekitar awal abad ke-13 Masehi, dan jika berpatok pada “trombo Si Raja Batak”, setidaknya marga Batak baru muncul pada generasi ke-3(setelah) dihitung setelah kemunculan Si Raja Batak, jadi dapat kita asumsikan sekitar pertengahan abad ke-14M, atau awal abad ke-15M. Lihat grafik berikut!

    skhema trombo Si Raja Batak(hingga garis keturunan ke-3)

                 Maka, jika tradisi Si Raja Batak dan kemunculannya di abad ke-13 M dianut dan menjadi satu rujukan yang dipaksakan oleh masyarakat Toba-Batak, maka ini sama saja mengkerdilkan budaya Batak tersebut, karena, jika kita berpatok pada tradisi dari masyarakat Karo, Simalungun, dan Mandailing dengan eksistensi kerajaan yang identik dengan mereka yang jauh telah tumbuh dan berkembang sebelum tradisi Si Raja Batak ini muncul di abad ke-13 M, maka sekali lagi saya katakan ini sama dengan mengkerdilkan suku-suku yang dikategorikan Batak itu.
           
                      Jika kita berpatok pada teori yang mengatakan kalau kemunculan Si Raja Batak pada awal abad ke-13 M, maka pastilah beliau hidup di masa kerajaan Aru/Haru(identik dengan Karo), Padang Lawas atau Pane(identik dengan Mandeling), ataupun Nagur(identik dengan Simalungun), Sriwijaya(Palembang), dan Pagaruyung(Minang, Sumbar) dan aktifis atau rakyat dari kerajaan tersebut diatas. Ada beberapa yang berpendapat kalau Si Raja Batak adalah aktifis dari kerajaan tersebut diatas dan bahkan penentang(mungkinkah penentang seperti yang dikatakan pada poin: 1 Batak dalam tradisi Karo? Jika demikian, apakah Si Raja Batak rakyat Karo(Aru/Haru) atau Simalungun, ataupun Mandailing?) yang karena tertekan oleh kaum feodal yang kemudian memaksanya mengungsi ke pedalaman Samosir di Pusuk Buhit. Atau, ada juga yang berpendapat kalau Si Raja Batak adalah gubernur Pagaruyung di Portibi yang karena terdesak oleh aksi Majapahit yang kala itu hendak menaklukkan kerajaan-kerajaan di Sumatera bagian utara dan tengah harus mengungsi ke pedalaman Samosir.(lihat Sumpah Palapa: Sumpah Palapa adalah suatu pernyataan/sumpah yang dikemukakan oleh Gajah Mada saat upacara pengangkatannya menjadi Patih Amangkubhumi Majapahit , tahun 1258 Saka (1336 M). Sumpah Palapa ini ditemukan pada teks Jawa Pertengahan Pararaton yang berbunyi, sebagai berikut:

    “Sira Gajah Mada patih Amangkubhumi tan ayun amuktia palapa, sira
    Gajah Mada: "Lamun huwus kalah nusantara isun amukti palapa, lamun
    kalah ring Gurun, ring Seran, Tañjung Pura, ring Haru, ring Pahang,
    Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti
    palapa". )

    dan, gelar raja(Si Raja Batak) sendiri diberikan bukan karena kekuasaannya, melainkan karena teladan yang ditunjukkan semasa hidupnya(penghargaan). Karena, sejarah mencatat kalau negeri Batak dan bangsa Batak tidaklah pernah ada. Dan, dalam tradisi Toba sendiri raja-raja bukan sebagai pemangku pemerintahan, akan tetapi lebih bergelut dalam lingkup keagamaan dan peradatan.

    Ada juga yang mengatakan kalau Si Raja Batak itu hanya-lah mitos yang diangkat untuk tampak seakan nyata,  untuk mempersatukan orang Toba-Batak dan agar orang Toba saling menghormati daintara mereka karena pada dasarnya mereka adalah satu leluhur. Namun, ada juga teori yang beredar yang mengkaitkan Si Raja Batak dan silsilah marga Batak ini dengan keinginan hendak membentuk negara Sumatera Timur(abad ke-19M).  Jadi, segala cara dilakukan, termaksud melegitimasi kalau Batak itu adalah satuan etnisitas dan menotasikan Batak itu dalam lima sub-suku(Karo, Toba, Mandailing, Simalungun, dan Pak-pak) supaya menjadi perhatian dan perhitungan dunia terhadap pembentukan negara Sumatera Timur ini, yang digadang-gadang akan berpusat di Samosir dimana cerita Si Raja Batak ini muncul.

    Sedangkan, dalam tradisi Karo sendiri, kisah Si Raja Batak hampir tidak pernah terdengar dan dikait-kaitkan dengan kehidupan masyarakat Karo, walau Toba dalam  kehidupan masyarakat Karo selalu berinteraksi. Hal ini mungkin karena dalam kehidupan masa lampau Karo, Si Raja Batak tidak dikenal dan seperti apa yang telah dibahas diatas tentang Batak dalam tradisi Karo, maka pastilah orang Karo tidak mengenal ataupun tidak mengakui adanya Si Raja Batak karena orang Karo mengenal orang Batak bukanlah sebagai satuan etnis, suku, atau negeri, melainkan karena posisi kedatangannya ke wilayah Karo atau kepergianya dari kaum di Karo. Jadi, masyarakat Karo dahulu tidak pernah tahu, dan tidak mempercayai adanya Si Raja Batak selain Sibayak dan tuan-tuan tanah yang membawa serta memperkerjakan mereka di perkebunan.

    Jadi, apapun itu Batak dan Si Raja Batak tidaklah penting, karena identitas berkembang seiring zaman, dan tulisan ini hanyalah kutipan dari sebagian catatan sejarah, tradisi, serta opini tentang Batak dan Si Rakja Batak.

    Salam mejuah-juah, horas, yahobu.!

    Suber pic: google search image(key: batak). Thanks buat google dan yang uplod(share) pic diatas.

    Comments
    18 Comments

    18 komentar:

    1. makanya baca tarombo jadi bisa paham jgn baca sejarah saja kalau di tarombo terlihat bahwa putri majapahit kawin sama cucu raja batak yg melahirkan tuan sori disitulah datang saudara dari majapahit dan menetap di karo kalau batak bilang halak naro ( haro )dari kerajaan kalingga makanya ada kampung lingga atau marga lingga sebelum kerajaan haru ada dulu kerajaan lemuri.....sebelum ada kerajaan lemuri ada dulu barus yg sudah ada sebelum masehi yg hilang karena sunami abad ke dua belas makanya sejarah batak hilang semua dengan artefaknya yg disebutkan musibah garagasi dari laut...paham dulu tarombo baru bisa cerita sejarah batak...data yg diulas ini data baru atau sudah ada perbudakan sedangkan di batak dengan sistim dalihan na tolu tidak di benarkan...untuk berpikirnya karo pakai g sistim dalihan na tolu kalau pakai berarti suatu sistim sama asal juga sama jgn lihat sejarah perbudakannya dan bahasa di banjarmasin batak juga punya arti taruh...di sunda juga punya art patok...di philipina juga punya arti artinya raja muda......pahami lagi brother.......

      BalasHapus
      Balasan
      1. Terombo bisa saja dibuat, saudara. Sekarang berjalan dari mana? Fakta dimitoskan atau mitos difaktakan! Kebanyakan tergantung popularitasnya dan opini publik! Hem..
        Hehehehe...

        Tetapi sejarah berkata beda. Aroe(HAru), Padang Lawas, Nagur, dll sangat identik dengan suku Karo, Mandailing, Simalungun.Bahkan dalam negarakertagama(abad ke-13) nama kerajaan itu muncul.

        Mengenai kam bilang SI Raja Batak tentunya semua sepaham kalau itu muncul awal abad ke-13 M. Anehnya: Munte(Munthe) dalam sejarah Munthe dan dalam Familien Munthe In Norge dikatakan Severe Munthe sudah muncul di tahun 1079M di Vlanderen (Belgia) jadi, dua ratus(200) tahun sebelum Si Raja Batak! Aneh ya? Kok duluan anak lahir daripada bapak? Wkwkwkwwk... :p

        Mengenai Daliken Na Si Telu (Rakut Sitelu : Karo) atau Dalihan Na Tolo(Toba). Di Karo, Rakut Sitelu sagat berpengaruh, baik di pemerintahan(pahami pemerintahan tradisional Karo), hukum(adat), bahkan dalam penentuan penghuni rumah adat Si Waluh Jabu. Sedang di Toba yang identik dengan Batak.... yang katanya serumpun dengan Toraja dan Batak Pahlawan di Fhiliphina, tapi kok di Batak Pahlawan dan Toraja DALIHAN NA TOLU tidak dikenal? Jangan-jangan Batak (...?...) mengcopy(menciplak) habis-habisan Rakut Sitelu ini. hehehehe...

        Hapus
    2. Dan. Terombo(Silsilah) SI RAJA BATAK hanya berlaku dan diakui di Toba saja!
      Dan jika-pun dikatakan berlaku di suku-suku yang dimasukkan dalam sub suku Batak, maka saya katakan "Terkesan terlalu dipaksakan!"

      Mejuah-juah, impal Manalu.

      BalasHapus
    3. Santabi sangap ni EMPUNG SIRAJA BATAK jala santabi lube mi kita karina isen, molo aku mandekken, Batak sarupa ngi karina wehhh, molo geut kene menggali sejarah dan silsilah Batak langsung mo kene roh mi i Pusuk Buhit, kasa pejumpa kene mi sesepuh kalak batak i sade...aku tong mo menyarankan mi kita karina, kasa ulang kita mambeda-bedaken asal-usul ta karina, karna bagendari lot mbue ngo politik kasa keturunan Siraja Batak oda boi mersada ( DEVIDE ET IMPERA - POLITIK ADU DOMBA ), kasa sadar be mo kita i si weh kaltu" ( bahasa pak-pak dairi ).. santabi buat saudara-saudara keturunan Batak semua, kalau saya berpendapat banyak versi tentang asal-usul Batak, kalau boleh saya menyarankan langsung bertanya pada sesepuh Keturunan EMPUNG SIRAJA BATAK di kecamatan si anjur mula-mula daerah Pusuk Buhit, perlu saudara-saudara tahu, saya pernah tinggal di Tanah Toraja dan Manado, khusus di Tanah Toraja disana sangat banyak kemiripan dengan suku dan marga Batak, termasuk marga Limbong dimana di tanah batak disebut Limbong Mulana (limbong awalnya), pisang Manurung, simbolong, para-para, sapo, pakaian adat suku Kajang, arsitek Rumah Tongkonan yang sama dengan artinya dengan Rumah Bolon, sulu (pelita) dan masih banyak bahasa dan istilah dalam adat dan bahasa batak didaerah sulawesi dan hanya ditanah bataklah yang masih bisa mengklaim marga Limbong Mulana ( limbong awalnya ), perlu kita tahu seiring perkembangan zaman sekarang kita bisa searching marga batak dibelahan dunia di Facebook, saya menemukan ada Keturunan Raja Tinambunan keturunan EMPUNG SIRAJA ISUMBAON merupakan putra kedua Empung Siraja Batak, dikabupaten bolaang mangondow utara-prov. sulawesi utara ada terdapat desa Munthe yang menurut pengakuan yang tinggal disana mereke keturunan Empung Siraja Batak, dan marga TINAMBUNAN di philipina mereka mengakui bahwa nenek moyang nya sudah berada di PHILIPINA sudah sangat lama sekali bahkan mereka tetap menggunakan marganya, dari sejarah yang saya dapat raja isumbaon menguasai perdagangan dan ekonomi sehingga pergi menjelajah dunia, terbukti banyak keturunan PARNA sudah mendunia...bahkan Orang Toraja yang jauh dari seberang pulau saja mengakui Batak saudara nya, saya sangat prihatin dengan suku-suku yang berdekatan dengan SUB BATAK-TOBA menyangkal bukan berasal dari satu induk suku batak, saya percaya Tondi nenek moyang kita sungguh bersedih melihat kita keturunan nya tidak bersatu, baik dari segi AGAMA KRISTEN bisa dilihat kita masih saudara, sewaktu pembangunan MENARA BABEL semua dikacau balaukan bahasa, menurut saya : Terbukti wilayah yang berdekatan dengan TOBA mempunyai kemiripan bahasa, tulisan, simbol gorga, musik, dan lain-lain yang kemungkinan besar saudara kandung sehingga karena luasnya hutan dan komunikasi jarang maka setiap orang yang membuka kampung sendiri, makin lama makin besar kampungnya dan kampung yang jauh menjadi berbeda bahasanya seiring proses dan makin lama semakin maju dibentuklah kabupaten, dan ORANG TORAJA sendiri mengakui pustaka mereka tenggelam dilaut sewaktu mendarat di pulau SULAWESI...saya sangat menyanyangkan pendapat saudara Bastanta P. Sembiring yang masih bersikeras dalam hal berselisih paham tentang kebataken dan tentang induk suku dan asal-usul seolah-olah merasa tidak satu suku dengan batak, saya kira cobalah cari kembali sumber yang bisa dipercaya agar menciptakan rasa kasih persaudaraan kita keturunan Empung SIRAJA BATAK, Horas, njuah-juah, mejuah-juah, ja'howu...shalom.

      BalasHapus
      Balasan
      1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

        Hapus
      2. Itu kan dalan perspektif dan pemahamann tradisi Toba. Dan, tidak bisa Anda paksakan agar diamini dan diakui oleh suku bangsa lain. Me bage impal-ku "Anonim" sini la tergelar, entah kena kai, entah mbiar kam tereteh ise kam, impal. Bujur bas komentarndu.

        Karo satuan etnis yang murni, walau dikemudian hari terjadi invasi dari berbagai suku yang kemudian beradaptasi dan menjadi bagian dari Merga Silima. Adaptasi! Bukan membentuk suku(kelompok etnis) Karo itu! Dan eksistensi Karo serta Simalungun sudah ada jauh sebelum SI Raja Batak yang diyakini muncul sekitar abad ke-13 itu. Jadi bagaimana ini? Apakah Karo dan Simalungun juga keturunan Si Raja Batak? Atau sebaliknya?
        Berarti: Jika saudara/i berpendapat memang benar "SI RAJA BATAK" Adalah nenek moyang "BANGSA BATAK" berarti Anda mengingkari kalau Karo adalah Batak(Batak Karo)? Wah, bisa sedih nanti orang BATAK KARO tidak diakui anak Si Raja Batak! Tapi, kalau Karo juga diakui keturunan SI RAJA BATAK(Batak Karo?), kok aneh, kok lebih tua pula anak(Karo-Simalungun) daripada kakeknya(SI Raja Batak) ya? Aneh, aneh, aneh...

        Anda berbicara dalam tradisi Toba dan menyuruh saya untuk mengakuinya. Kalau itu yang Anda percayai ya, itu hak Anda.
        Apakah dikemudian hari harus juga ada Aceh Karo, Minang Karo, Jawa Karo, dll seperti halnya Batak Karo jika mereka dominan, tidak kan.

        Saya juga sangat menyayangkan kalau saudara/i tidak sanggup menerima perbedaan dan fakta. Anda hanya memaksakan opini publik dan tradisi Toba-Batak. Bukankah itu salah satu pengkerdilan terhadap budaya Batak yang luas itu? Dan, bukankah itu salah satu tindakan yang tidak terpuji dengan memvonis sebuah satuan etnis sepihak dengan tradisi sepihak? Hehehe... Agak lucu ya? :D
        Mejuah-juah.

        Hapus
      3. Apa itu bakan dan siraja batak tidaklah penting.
        Cuma, jangan kita saling menyinggung dan memaksakan sejarah satu pihak.
        Agap ini satu informasi yang baru saja untuk menambah informasi yang sudah ada. Syaloom.

        Hapus
      4. Mejuah-juah, impal.
        Ugalah ningen kita ada nini adi cakapta pe la siangkan.
        hahahahhaa....
        Yo'oh kalak Batak, kerina naring ate kena jang kena, nake. :D

        Hapus
    4. Horas jala Mejuahjuah. Saya seorang lulusan ilmu sejarah. Saya sudah lama mencermati sejarah yg berkembang di antara suku Batak ini dan saya ingin bicara obyektif karena saya bukan dari kalangan orang Batak. Mengenai Haru dari sejumlah keterangan yg saya baca, sepertinya kerajaan ini lebih mendekati etnis Simalungun ketimbang Karo. Alasannya hanya masyarakat Simalungunlah satu-satunya suku yg mengenal pola pemerintahan monarkhi-feodal dan masyarakatnya terstruktur berdasarkan kasta dan strata sosial.

      BalasHapus
      Balasan
      1. Sibiak(beda dengan Sibayak) diantaranya: Simateki kuta, Urung, Sibayak/Sultan. Pakah itu bukan gambaran feodalisme?

        Di Karo ada rakyat Derip dan ginemgem diluar Sibiak(bukan Sibayak), apakah ini bukan pembagian tata sosial antara bangsawan, penguasa, dan jelata?

        Hapus
    5. Sementara di Karo sejak dulu tak ada namanya penggolongan masyarakat, melainkan hidup secara egaliter. Lalu dari mana mereka mampu membuat kerajaan sebesar Haru sementara dalam masyarakat Karo sejak dulu tdk pernah terkonstruksi pola pemerintahan masyarakat apalagi yg bersifat monarkhi dan feodal. Bahkan hingga abad 16 masyarakat Karo hanya mampu merancang sistem pemerintahan sebatas raja urung dan sibayak (tuan-tuan tanah/orang kaya). Sementara di Simalungun bisa saudara lihat sendiri.

      BalasHapus
      Balasan
      1. Harus kam pahami konsep Merga Silima(Si Lima Palas dalam Daliken Karo), Tutur Siwaluh, Rakut Sitelu(penyederhanaan Si Empat Terpuk), dan Perkade-kaden Sisepuluh Dua tambah Sada. Kalau sudah kam pahami baru kam mengerti.

        Contoh. Laskar Simbisa yang banyak tercatat dalam sejarah, contoh perang Sunggal, dlsb. Kalau dicermati seperti yang kam kemukakan... mungkinkah ada Pasukan kalau hanya kerajaan tak mengenal feodalisme? Hehehehe...
        Intinya tolong Anda kembali belajar dan pahamai konsep kalak Karo. Dimana kerajaan itu dibangun bukan hanya atas palas(dasar) kekuatan, kekuasaan, dan kekerasan... selainkan Aroe(Aru/Haru: ARu ate = Kasih) dan kekeluargaan. Makanya saya bukan karena kalak Karo, tetapi menurut saya sistem di Karo ini sangat baik diterapkan, karena bukan melulu membangun sebuah negeri(kerajaan) besar dengan uang, kekuasan, kekerasan, dlsb..,, tetapi juga bisa dengan Aroe dan sangkep nggeluh(kekeluargaan). Hebat bukan orang Karo! :D supaya Anda paham dan jangan terbuai dengan teori dan opini yang diutarakan orang yang kurang mengenal Karo. Mejuah-juah, impal'q Masrul PD.

        Hapus
      2. Asal-usul merga silima dari mana..???
        Mungkinkah lahir begitu saja apa mencontek..??

        Hapus
    6. Mungkin saja sebagian besar marga2 di Tanah Karo bukan berasal dari Si Raja Batak. Karena marga2 di Tanah Karo merupakan campuran (persatuan) dari berbagai marga2 pendatang, seperti dari India, China dan juga dari Tanah Toba, Simalungun, Dairi-Pakpak, dan mungkin dari Gayo juga.

      Tepat sekali dan sah-sah saja apabila Karo bukan berasal dari Toba (karena Toba adalah suatu sub etnis, sedangkan Batak adalah suatu sebutan untuk menyebut orang-orang yang hidup di pedalaman Sumatra pada masa dahulu, mungkin bisa dibilang rumpun).
      Tapi kalau Karo bukan Batak, tentunya itu sangat lucu, karena Karo, Toba, Simalungun, Mandailing, Angkola bahkan Gayo, Alas pun semua adalah orang-orang Batak, yang sejak ribuan tahun sebelum Masehi sudah menyebar di Sumatra (tentunya belum ada istilah Karo, Toba, Simalungun dll, karena istilah2 ini muncul belakangan oleh banyak sebab. Mungkin mereka semi primitif, nomaden, tapi yang pasti mereka semua berasal dari satu rumpun asal usul yang sama, terlihat dari bahasa2 dan adat bahkan rumah adat, yang digunakan sekarang semua memiliki kekerabatan yang kuat).
      Sliahkan cari referensi sebanyak mungkin (mungkin di google ada), maaf ya, jangan hanya berpatokan pada suatu persepsi tafsiran saja, karena itu malah mengerdilkan kelompok kita sendiri (ntar tambah susah maju bangsa kita ini, karena sibuk memikirkan perbedaan saja).

      Njuahjuah, Mejuahjuah, Horas, Yaahowu, Ahoii ... Salam kerabat.

      BalasHapus
      Balasan
      1. Sepertinya KATA Karo jauh lebih tua dari Batak.
        Kalau google, wikipwdia, dan buku mentah-mentah dibacaa, bisa gawat kita. Soalna, kata mereka lagu "PISO SURIT" dari Aceh, "ERKATA BEDIL" dari Tapanuli, bahkan Nini Bulang kami GURU PATIMPUS SEMBIRING PELAWI dikatakan keturunan Si Raja Batak.
        hehehehehe.....

        BS

        Hapus
      2. haris st.
        Kalau kam bilang Karo, Toba, SImalungun Mandailing, dll sama dalam bahasa, adat, rumah, adat, dll berati anda masih perlu banyak belajar dan mengenal. Atau jangan-jangan anda buta sehingga tidak bisa membedakan. Mirip pun bukan berarti sama. Pahami lebe impal, ola asal embusindu saja, nak. Mela kari kita. hehehee....

        Hapus
    7. to: BPS

      Suka-sukak kau lah disitu....
      Darimana pula Si Raja Batak hidup abad 13 ???

      Asal tahu saja, memahami Siraja Batak, tidak boleh dengan pengetahuan yg dangkal, mereka-reka dgn nomor keturunan batak toba sekarang ini dalam tarombonya, ecek2nya dikalikan 20 generasi x 25 tahun, dapatlah sekitar tahun 1400. Bah !!!

      Hanya orang bodoh yg mengatakan bahwa si Raja Batak itu person yg hidup di Pusuk Buhit Samosir abad 13. Jadi jangan menghubung-hubungkan SiRaja Batak dgn Majapahit atau Sriwijaya. Terlalu dangkal pemahaman itu.

      Pusuk Buhit = Puncak Bukit.
      Puncak bukit ini bisa di Siam, bisa di Hindia Belakang, bisa pula di tempat lain dari mana bangsa Batak ini datang. Lalu, tempat tinggal mereka setelah migrasi 3000 tahun lalu, dinamai kemudian dgn Sianjur Mula-mula, lengkap dgn pusuk buhitnya (dinamakan seperti kampung mereka sebelumnya, sebelum bermukim di samosir).
      (Siam dan atau Hindia Belakang, diyakini sbg asal-usul protomelayu ; Batak, Ranau, Toraja, Bontoc, Igorot, Tayal)

      Orang Batak memang pintar, membuat sejarah yg membuat orang awam pada bingung.
      Kalau orang Jahudi/ Arab punya cerita penciptaan manusia, Batak juga punya.
      Kalau orang Jepang punya cerita awal mula manusia, Batak juga punya. Mana mau kalah?

      Memahami SiRaja Batak, harus dari kacamata agama/ kepercayaan Batak jaman dahulu kala, tidak boleh dari kacamata antropologi.
      Kebetulan saya penganut salah satu kepercayaan Batak

      Saudaraku,,
      Sebahagian orang Karo mungkin dari India Selatan. Seperti Brahmana, Meliala, Dll. Tetapi tidak lantas semua orang karo jadi keturunan India. Karo terbentuk dari campuran bangsa-bangsa. Ada dari Toba, dari Barus, dari India, dari Gayo, dll. Dan semua sudah menjadi Batak sejak dahulu kala.

      Kata Batak sudah dari jaman dahulu kala.... tak perlu dicari-cari malah diplesetkan pengertiannya seperti pengertian budak dalam cerita anda diatas.
      Orang Karo perlu belajar menghargai orang Toba. Sebutlah kami kalak Toba (orang Batak yg bermukim di Toba). Jangan sebut kami "Teba". Karena arti Teba bagi kami adalah sisa-sisa.

      Soal Karo tak mengaku Batak, bagi kami tidak masalah. Silahkan !
      Karena marga-marga dari toba yg sudah merantaupun banyak tak mau dibilang batak. ada Panjaitan, ada Marpaung di asahan sana yg sudah hilang ke-batak-an nya, jadi melayu. Hana masalah... tidak boleh dipaksa. Tak elok pula disebut anak durhaka.

      Saran saya : Perkenalkanlah suku anda ke seluruh dunia tanpa menyinggung-nyinggung Si Raja Batak.
      Bujur.

      BalasHapus
    8. Agak sakit hati jugak liat si kawan ini bilang kita keturunan Si Raja Batak ini dengan sebutan 'kalak Teba', ditambah lagi kam bilang kami ini semua buruh untuk ladangmu, "lit tebandu", dan kau samakan pulak kami sama orang jawa koruptor itu, Kalok kuliat sejarah yang kam bahas ini lebih berdasarkan perasaan sakit hati, karena yang kami kenal kalian suku karo ini agak pendendam jugak orang-orangnya. Aku sebagai orang darah batak murni justru bingung jkalau aku mau mempelajari sejarah batak kenapa harus tersangkut paut sama kalian suku karo ini. Kalok memang ada salah kami per-individu sama kalian suku karo, jangan gini caranya, Kalau aku tanyak sama Opung2 ku yang dulu yang sudah lama meninggal maupun kami sekarang generasi muda, tidak pernah sedikitpun kami menyinggung suku kalian, kenapa kalian suka menyakiti kami? malah ada yang sikitpun gak mengenal suku kalian. ingat Adat Budaya itu ada, karena itu adalah Cara hidup, Cara bersosial, Adat budaya itu ada bukan dibuat untuk saling menyerang lae. Aku rasa pun kalok ruangnya ini begini terus pembahasan-nya, perlu kita gencarakan bahwa orang batak itu hanya suku toba saja. Untuk Keturunan Si Raja Batak jugak harus melihat masalah ini secara detail. Panas Jugak hati lama lama Bah, liat-liat artikel yang kayak gini. Mulai dari Karo, Mandailing,Tapsel menjelek-jelekkan suku Raja kami ini. Maaf Lae Dari Pembahasan lae diatas jelas-jelas subjektif, makanya aku tanggapi dengan subjektifitas jugak. Untuk kita pun orang Batak ini juga yang baca ini, saranku, kita gencarkan Batak itu adalah Hanya Toba, yang mempunyai konsep ketuhanan sebelum bangsa indonesia miskin ini ada, Terima Kasih

      BalasHapus

    Mejuah-juah!