Mejuah-juah.   Rudang Rakyat Sirulo Comunity    Mejuah-juah.
    <--> MEJUAH-JUAH <-->

    Wednesday, March 12, 2014

    Mengenal Karo dari Catatan Sejarah

    Karo(Aru/Haru) adalah suku asli yang mendiami Sumatera bagian utara, timur, dan tengah. Dipercaya, dahulu kala daerah Karo(Aru/Haru) ini didiami oleh suku bangsa yang bernenek moyangkan Karo(Aru/Haru) yang dikemudian hari diyakini dari nenek moyang Karo inilah lahirnya Merga Silima(1. Karo-karo, 2. Ginting, 3. Tarigan, 4. Sembiring, dan 5.Peranginangin) dan selanjutnya dari Merga Silima itu, terlahir cabang(sub-) merga serta sib(rantingnya). Namun, dalam perjalanan suku bangsa Karo ini, terjadi invasi-invasi dari beberapa suku bangsa baik yang memiliki pertalian dekat maupun jauh dengan Karo itu,  yang dimana sebahagian besar mereka diindikasikan dari negeri-negeri di Selatan India, seperti: Colay(Cōla), Pandya(Pandyth), Palawa, Teykaman, Muoham, Malaylam, dan Kalingga (Orysa), dll., yang kemudian berbiak, membentuk klan-klan-nya, beradaptasi(bukan membentuk budaya Karo itu) dengan budaya Karo Tua(Proto Karo),  kemudian kelompok tersebut merasuk ke Karo itu dan menjadi bagian dari Merga Silima tersebut, atau dengan kata lain menjadi sub/sib merga Merga Silima(baca etimologi marga). Diyakini juga, masa invasi-invasi ini berlangsung cukup lama, setidaknya sekitar 200 tahun Sebelum Masehi(SM) hingga masa masuknya Hindu sekitar awal abad ke-13 Masehi, maka pada invasi ini mereka bukan membentuk namun beradaptasi dengan budaya Karo yang telah ada walau tidak dapat dipungkiri jikalau mereka juga turut serta dalam menambah variasi dari tradisi budaya Karo itu.

    Keberadaan suku bangsa Karo diyakini sudah ada jauh sebelum abat I(pertama) tahun Masehi, hal ini juga ditunjukan dengan keberadaan kerajaan Aru(Haru-Karo) yang dimana diyakini berdirinya sekitar awal-awal tahun Masehi, sehingga berkesimpulan dari tradisi ini, maka diyakini benih-benih Karo telah ada sebelumnya. Aru/Haru, merupakan salah satu kerajaan tua yang pernah berdiri di Pulau Sumatera tapatnya berpusat di wilayah Sumatera Utara sekarang, yang tumbuh dan berkembangnya bersamaan dengan beberapa kerajaan besar di nusantara, seperti: Sriwijaya, Majapahit, Malaka, Johor, dll. Hal ini ditandai dengan adanya interaksi antara Aru/Haru dengan kerajaan-kerajaan tersebut, seperti: peperangan, interaksi pelayaran, agama, perdagangan; baik secara langsung maupun yang tersirat dalam bentuk sastra kelasik.
              
    Gua Umang
    Gua(rumah) Umang yang banyak ditemukan di  wilayah
                 -wilayah Karodiyakini tempat tinggal manusia Purba.
    Hipotesa akan eksistensi keberadaan suku bangsa Karo ini sudah ada sebelum memasuki tahun Masehi, dapat disimpulkan dari beberapa tradisi dan catatan sejarah yang ada.  Menurut sejarah perkembangan Pemerintahan Kota  Madya Daerah TK II Medan, tahun 1925 dan 1926, Vain Stein  Callenfels menemukan tumpukan kerang(kjokkenmondinger) dan peralatan manusia pra-sejarah berupa serpih bilah(flaked pubbel-tools), lempeng batu, dan alat tumbuk lainnya yang masih sangat kasar di perkebunan tembakau Serintis, Buluh Cina, Tandan Hilir, dll. Selain itu, di beberapa daerah Karo di Deli Sedang, Kab. Karo, Langkat, Gayo, dan Alas juga banyak ditemui gua-gua umang(cakap(bahasa) Karo, umang dipakai untuk menyatakan manusia yang masih primitif, hidup di gua-gua, dan pemakan kerang) yang didalamnya bertuliskan Karo(Surat Aru/Haru).  Hal-ini  dapat dijadikan sebagai bukti  dan membuat para  ahli menyimpulkan bahwa manusia purba telah hidup di wilayah Karo setidaknya sekitar 10.000 tahun lalu. Manusia-manusia purba ini hidup di wilayah Karo sekitar 4.500 – 2.500 SM yang kemudian terdesak(invasi) dan bercampur dengan ras Mongoloid dari daratan Asia 5.000 tahun yang lalu(Adat Karo hal. 15, Darwan Prints). Sehingga para ahli dan pemerhati sejarah Karo menganut teori bahwa suku bangsa Karo merupakan percampuran antara ras Negroid dengan ras Mongoloid. (Lihat juga: Temuan fosil manusia purba ber-DNA Karo dan Gayo berusia 74.000 tahun)

    Titel:  "Groep der bevolking van Koetó Pinang"  Veldtocht met overste Van Daalen naar de Bovenlanden van Aceh expeditie Fotograaf:   H.M. Neeb Portret : Karo  (cultuur) Verv.jaar: 1904 Bron: [A17-46], Kerncollectie Fotografie, Museum Volkenkunde Source: geheugenvannederland.nl
    Brahma Putro dalam bukunya yang berjudul “Karo dari zaman ke zaman” mengatakan kalau Aru/Haru telah ada pada abad I Masehi dengan raja pertamanya bernama Pa Lagan(kisah kebesaran Pa Lagan ini juga tersirat dalam Babat Sunda dan kitab Manimengelai karya pujangga populer India, Brahma Putro), yang berpusat di Teluk Haru(Langkat). Dan, penyebaran suku Karo ini meliputi keseluruhan wilayah Aru/Haru yang secara garis besar meliputi Sumatera bagian utara(termasuk Aceh), timur, dan tengah.  Keberadaan suku Karo di Aceh ini dikatakan Brahma Putro dengan adanya kerajaan Karo di Aceh dimana dikatakan juga raja Karo terakhir yang pernah berkuasa di Aceh bernama Manang Ginting Suka. Hal ini juga sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh H. Muhamad Said dalam bukunya “Aceh Sepanjang Abad” (1981), yang mengatakan bahwa penduduk asli Aceh Besar adalah keturunan yang mirip Batak(walau tidak secara diteil dijelaskan). H. M. Zainudin dalam bukunya “Tarikh Aceh dan Nusantara”(1961) menuturkan bahwa di lembah Aceh Besar selain kerajaan-kerajaan Islam juga ada berdiri kerajaan Karo, yang dalam logat Aceh disebut Karéé. Dan, beliau juga menambahkan bahwa penduduk asli bumi putra dari XXV Mukim bercampur dengan Karo, dan itu-lah yang disebutkan tadi diatas dengan Karéé.

    KUTA RAJA sekarang BANDA ACEH; Titel:  "Kampong Koetö Radja"  Expeditie Veldtocht met overste Van Daalen naar de Bovenlanden van Aceh Fotograaf:   H.M. Neeb Verv.jaar: 1904 Kerncollectie Fotografie, Museum Volkenkunde Source : geheugenvannederland.nl
    Sapo Karo di Kuta Raja (Banda Aceh)
               
    Dikemudian hari, terjadi persengketaan antara suku Karo dengan kaum Hindu di Aceh, sehingga untuk menyelesaikan pertikaian ini disepakati diadakan perang tanding antara
    tiga ratus(300) orang suku Karo melawan empat ratus(400) kaum Hindu di sebuah lapangan terbuka. Namun pada akhirnya pertikaian ini berakhir dengan damai, dan sejak saat itu suku Karo disana disebut kaum tiga ratus atau Kaum Lhee Reutoih dan kaum Hindu disebut kaum empat ratus. Kemudian hari terjadi percampuran antara suku Karo dan kaum Hindu, dan kelompok percampuran ini disebut dengan Kaum Jasandang.

               
    Kuta Raja sekarang BANDA ACEH Titel: "Roemah Perendèn bij Koetö Radja"  Expeditie Veldtocht met overste Van Daalen naar de Bovenlanden van Aceh Fotograaf:   H.M. Neeb Verv.jaar: 1904 Kerncollectie Fotografie, Museum Volkenkunde Source : geheugenvannederland.nl
    Sapo Karo di Kuta Raja (Banda Aceh) 
    Selain dari pada apa yang telah dikemukakan diatas, keberadaan suku Karo di Aceh juga mendapat konfirmasi dari sejarah kerajaan
    Nagur(di Sumatera Timur sektar abad ke-5 Masehi) yang juga tersirat dalam sejarah suku bangsa Simalungun, yang dimana diceritakan  saat ke-empat raja besar dari Siam dan India hendak mengimvasi wlayah sekitar Aceh dan Langkat(Sumatera Utara) dihadang oleh penduduk suku asli, dan mungkin saja yang dimaksud adalah  Aru/Haru(Karo) mengingat penduduk yang mendiami perbatasan Aceh dan wilayah Sumatera bagian utara adalah etnis Karo. Dan, juga dapat kita lihat dari beberapa nama tempat di Aceh yang sangat identik dengan dialek , bahasa, dan tradisi Karo, seperti: Kuta Raja(sekarang Banda aceh), Kuta Bunjei(Bingei) di Aceh Timur, Kuta Karang, Kuta Alam, Kuta Lubok, Kuta Laksamana Mahmud, Kuta Cané, Belang Kejeren, Belang Bintang, Belang Pidie, Lau Sigalagala, Lau Deski, Lau Perbunga, Lau Kinga, Danau Lau Tawar, Lau Binge, Simpang Simadam, Semelue(mungkin Simalem), dll.


           Diyakini, Hindu sudah masuk ke nusantara, juga ke Karo(Aru/Haru) di awal-awal tahun Masehi, dimana dipercaya aksara Palawa(wenggi) mulai diperkenalkan bersaman dengan bahasa Sansekerta, dan diikuti oleh Budha lima abad kemudian (abad ke-5 M) bersamaan dengan masuknya aksara Nagari yang diyakini menjadi cikal bakal lahirnya Tulisen Karo(Surat Aru/Haru), aksara Melayu Kuno, Jawa Kuno, Batak, dll. Mereka(misionaris zending Hindu) merupakan penganut Senata Dharma. Hal ini didukung dengan ditemukannya sebuah inskripsi pada batu bertulis di Lobu Tua, dekat Barus (pantai barat Sumatera bagian Utara), yang ditemukan oleh G.J.J. Deuts pada tahun1879 M. Tulisan tersebut di tahun 1932 oleh Prof. Nilakantiasastri, guru besar dari Universitas Madras diterjemahkan. Maka, diketahuilah bahwa pada tahun 1080 M, di Lobu Tua tak jauh dari Sungai Singkil ada permukiman pedagang dari India Selatan. Mereka orang Tamil yang menjadi pedagang kapur barus yang menurut tafsiran  membawa pegawai dan penjaga-penjaga gudang kira-kira 1. 500 orang.  Mereka diyakini berasal dari negeri-negeri di Selatan India, seperti: Colay(Cōla), Pandya(Pandyth), Teykaman, Muoham, Malaylam, dan Kalingga (Orysa). Sekitar tahun 1128-1285 M karen terdesak oleh misi dagang dan siar Islam yang dilakukan serdadu dan pedagang Arab serta Turki(ada beberapa ahli berpendapat jikalau mere terdesak oleh sedadu Jawa, Minang, ataupun Aceh), maka kaum Tamil di Barus mengungsi ke pedalaman Alas dan Gayo (di Kabupaten Aceh Tenggara), dan kemudian mendirikan Kampung Renun. Ada juga yang menyingkir lewat Sungai Cinendang, lalu berbiak di pelosok Karo kemudian mendirikan kuta(kampung) Lingga, serta Sembiring Singombak yang diantaranya: Sembiring Brahmana, Pandia, Colia, Guru Kinayan, Keling, Depari, Pelawi(Pahlawi/Palawa), Bunu Aji, Muham, Busok, Meliala(Maliala/Milala), Maha, Tekang(Teykang), Pande Bayang, dan Kapur. “Bayangkan, bangsa dari negeri yang jauh berlayar ke nusantara dengan peradaban yang tinggi harus berbaur dan mau mengaku Karo demi sebuah kehidupan. Dari hal ini dapat kita asumsikan kalau Haru(Karo) itu adalah tempat yang nyaman bagi seluruh bangsa dan juga telah memilik peradapan yang tinggi pula.”
    Guru Patimpus Sembiring Pelawi pendiri Kota Medan
    Monumen GURU PATIMPUS PELAWI
    Menurut tafsiran(berdasarkan data yang ada), kita dapat berasumsi bahwa Bangsa Tamil yang sudah berbiak dan ber-merga di Karo itulah membawa budaya Hindu ke Karo dan diadaptasikan dengan kepercayaan pemena yang telah ada di Karo, dan bukan tidak mungkin Pemena sama dengan Senata Dharma yang pernah berkembang di Selatan India, karena jika ditinjau dari segi bahasa, Pemena=pertama, awal, dasar. Bandingkan dengan Senata Dharma(Hindu) yang juga berarti senata = awal, dasar, dll; dharma = ajaran, kepercayaan, dll; jadi, Senata Dharma = kepercayaan(agama) pertama. Jadi, dari segi ini kita sepakat, bukan? Namun, tidak cukup ditinjau dari segi bahasa saja. Ada beberapa tradisi Pemena yang sama dengan Senata Dharma, diantaranya: upacara Pakuwaluh(membakar dan menghanyutkan abu jenazah) yang dilakukan di Lau Biang(Lau: sungai, biang: anjing) dengan dimasukkan dalam sebuah guci diatas perahu dengan panjang sekitar satu meter. Mengapa dilakukan di Lau Biang? Dalam tafsiran masyarakat dahulu, Lau Biang yang perpanjanganya adalah Sungai Wampu di Langkat mengalir ke Selat Malaka dan dari sana dengan tuntunan roh-roh akan mengalir ke Samudra Hindia dan selanjutnya akan sampai di Sungai Gangga di India.

    Bukan itu saja, banyak tradisi di Karo yang sama dengan kebiasaan masyarakat di Selatan India, antara lain: masyarakat Karo dahulu selalu melakukan doa di malam bulan purnama serta menyanyikan mangmang/tabas(mantra/doa) dengan cara ngerengget seperti para pendeta Hindu melantunkan mantr; Mbesur-besuri, nengget, mbaba anak ku lau, erpangir, ergunting, erkiker(memotong gigi), dll. Dan, dahulu wanita-wanita di Karo juga suka membuat titik merah dikeningnya seperti halnya yang dilakukan wanita-wanita di India(sekarang juga bagi pemeluk kepercayaan pemena). Ikuti link ini: http://karosiadi.blogspot.com/2012/12/pencak-gelang-gelang-mulih-mulih.html dan dengarkan lagu ke-5, dimana seorang melantunkan mangmang/tabas(mantra) Karo (Title : Sumatra. 14, Berastagi and Kampung Doulu, Kabanjahe, North Sumatra; Creator : Margaret J. Kartomi; Contributor : Monash University. Faculty of Arts. School of Music-Conservatorium; Date : 1971; Recording session 1 (30 Dec. 1971 in Berastagi) : No.1. Pencak (continued from MK1-SUM0147) ; No.2. Gelang-gelang ; No.3. Pencak ; No.4. Mulih-mulih ; No.5. Mantera)

    Dalam hal seni, beberapa tafsiran juga muncul, diantaranya rengget(cengkok) Karo yang hampir sama dengan cara orang India untuk melantuntak mantra, suara sarune(serunai) yang tinggi di Karo yang endekna(cara permainannya) sama seperti teknik vocal wanita di India, serta beberapa perkusi Karo yang juga serupa dengan yang ada di India.

         Berdasarkan pada catatan seorang pelaut Cina bernama Fahien yang melakukan perjalanan di tahun 414 M, Aru/Haru sudah ada walau tidak dijelaskan letaknya secara pasti. Dan, abad ke-9 M kembali muncul beberapa nama kerajaan seperti: Rami(Lamuri[-di] di Aceh), Balus(Barus), Jahé(Sriwijaya), Melayu, dan Harlanj(Aru/Haru/Karo).

                Dalam tradisi Karo sendiri, dikatakan Haru berdiri sekitar tahun 685 M yang berpusat disekitar Teluk Haru(Langkat) dengan rajanya yang pertama bernama Pa Lagan. Dikemudian hari, karena seringnya terjadi peperangan di wilayah-wilayah Haru ini, maka pusat kerajaan mengalami perpindahan ke pedalaman Deli, namun karena saat itu tidak ditemukan kesepakatan akan pusat kerajaan dan kekuasaan maka pada akhirnya kerajaan ini terbagi atas beberapa kerajaan besar dan juga urung-urung. Adapun kerajaan-kerajaan pecahan Haru itu, diantaranya: Kerajaan Haru Mabar, Kerajaan Haru Wampu, Kerajaan Haru Kuta Buluh, Kerajaan Haru Pasé, Kerajaan Haru Lingga Timur Raya, dan Kerajaan Haru Deli Tua.

         Tahun 860 M, Kerajaan Haru diserang oleh Sriwijaya(Jahé) di Teluk Haru(Langkat) tetapi tidak berhasil, namun banyak penduduk Haru yang pindah ke Alé(Deli Tua) dan Gugung (pegungungan/dataran tinggi Karo) untuk menghindari peperangan. Pada masa-masa inilah banyak masyarakat Aru/Haru(Karo) yang bermigrasi ke pegunungan, sehingga diyakini dimasa ini-lah awal munculnya sebutan kalak jahé(orang hilir) ataupun Karo Jahé(orang Karo dari hilir). Adapun peninggalan serangan Sriwijaya itu ialah para serdadu Sriwijaya yang tertinggal dan tertawan yang kemudian beradaptasi dengan budaya Karo dan masuk menjadi bagian salah satu dari merga Karo-koro sub-merga Karo-karo Paroka.

    Di tahun 1000 – 1449 M di Eropah diketahui setidaknya 12 orang telah menggunakan kata Munthé(Muté) ini dibelakang namanya, salah satunya adalah Ascricus van Munthe(1072) dari Vlanderen yang sekarang merupakan wilayah Belgia. Apakah mungkin Munte yang di Sumatera sudah sampai di Belgia di Tahun 1000? Jika kita berpatok pada masa kemunculan kerajaan Haru(Karo), Nagur(Simalungun), dan Padang Lawas serta Pané(Mandailing), ya mungkin saja! Mengingat, setidaknya aktivitas pelayaran internasional di Barus sudah dimulai sejak abad ke-5 M. Bahkan di Norwegia, di abad ke-16 muncul Ludvig Munthe. Mengingat jarak antara Belgia dengan Norwegia yang sangat jauh(…) apakah keluarga Munté Belgia ini sama dengan Munté di Norwegia? Namun, jika ditinjau dari faktor waktu(tahun 1000 – 1500’an) dan geografis hal ini juga sangat memungkinkan terjadi, mengingat pelabuhan Belgia yang berhadapan langsung dengan Laut Norwegia melalui Laut Utara yang diapit kepulauan Britania Raya di barat dan di sebelah timur dikelilingi Belanda, Jerman, dan Denmark. Bahkan, silsilah dari Ludwig Munthe(1593-1649) ini disusun dengan sangat rapih oleh Severre Munthe, dalam buku Familiem Munthe In Norge. Sekitar tahun 1995 diperkirakan jumlah keturunannya lebih lima ratus jiwa. Munthe di Norwegia ini juga mengakui dan menyatakan bahwa Vlanderen(Belgia) adalah tanah asal leluhur mereka ( dokumen terlampir di: http://www.geocities.com/-ascricus/genealogy/surnames.htm | http://www.genealogy.munthe.net/  |  http://www.sverre.munthe.net ). Dari cerita diatas, maka timbullah pertanyaan besar: apakah Munte(Munthe) di Belgia, Norwegia, dan wilayah Eropah lainnya mencerminkan atau bahkan satu nenek moyang dengan Munthe yang tersebar di nusantara? Dan, darimanakah alsal Munthe ini sesungguhnya? Ya, itu pertanyaan yang menjadi misteri besar, tetapi setidaknya ada beberapa tradisi yang mendukung keberadaan Munthe itu lebih awal di utara Danau Toba(Karo), yakni: Tradisi Ginting Munthe itu sendiri, yang didukung oleh tradisi Ginting Pasé, Ginting Manik, Seraggih Munthe(Simalungun), Dalimute(Labuhan Batu) Karo-karo Sinulingga(tradisi Karo) dan juga tradisi Simalungun.

    Sebuah cerita menarik, pernah dikatakan seorang Anthrofologi ber-merga Munté yang tinggal di Madagaskar asal Norwegia mengunjungi Kuta Ajinembah(Tanah Karo/Larolanden), diantar oleh Pengurus Nomensen dan diterima oleh Pendeta Pantekosta Ajinembah (1971 ). Beliau mengemukakan bahwa leluhurnya berasal dari Ajinembah di rumah sendi, dan mengatakan “putih” dalam bahasa ibunya dengan “Mbulan”. (Penutur, penduduk Ajinembah, 2001 dalam buku Kenangan Marga Munthe, hal. 221).

    seperti bunyi surat yang ditulis sdr. Severre Munthe,   bahwa seorang  Munthe pakai huruf “h” atau tidak pakai huruf “h” masa koloni monopoli dagang, tinggal di kampung  yang bernama Munte , bermasyarakat dan hidup turun temurun. (dalam dok. Dame Munthe: “MUNTHE DARI NORWEGIA?”). Ket: Kuta(Kampung) Munte terletak di Kab. Karo, Sumatera Utara dan sekarang menjadi nama sebuah wilayah kecamatan di Kabupaten Karo.
               
    Photo GERITEN KARO di Istana Sultan Deli saat masih di Labuhan Deli. P.J. Verth, “Het Landschap Deli op Sumatera”;  TNAG, Deel II, 1877
    Geriten Karo di Istana Sultan Deli (1877)
    Tahun 1282 M diyakini menjadi tahun awal dimana munculnya satuan politik Aru(Haru/Karo), Artinya, ditahun ini-lah Haru(Aru) mulai secara luas dikenal(khususnya oleh bangsa Eropa) sebagai sebuah kesatuan politik(kerajaan/negeri), dan diyakini berdekatan dengan masa ini di pedalaman Samosir muncul sebutan Si Raja Batak. Hal ini sangat didukung oleh
    beberapa studi-studi etnisitas dan pengkajian sejarah Batak, yang mengatakan jikalau Si Raja Batak ini muncul pada awal abad ke-13 Masehi, tepatnya di gunung Pusuk Buhit(di P. Samosir) yang hidup bersamaan dengan masa Kerajaan Haru(Karo), Padang Lawas dan Pane(Mandailing Tua), Sriwijaya(Palembang), Majapahit(Jawa), Pagaruyung(Minang), dll. Ditinjau dari aspek ruang dan waktu, tentunya Si Raja Batak pastilah rakyat atau aktivis dari salah satu kerajaan tersebut diatas, atau- bahkan biasa juga merupakan penentang dari kerajaan-kerajaan tersebut, hingga membuatnya harus mengungsi ke pedalaman di Samosir. Ada beberapa pendapat yang mengatakan, Si Raja Batak adalah gubernur dari raja Pagaruyung di Tapanuli, hal ini didukung oleh adanya patung yang menyerupai apa yang ada di Pagaruyung dan dipercaya patung tersebut memang dibawa dari kerajaan Pagaruyung. Dan, Si Raja Batak sendiri secara berkala mengirim upeti dan menerima utusan-utusan raja Pagaruyung dengan baik sebagai pembuktian setia dan pengabdianya kepada raja Pagaruyung. Namun, tidak jarang juga ahli dan budayawan yang mendukung teori bahwa Si Raja Batak adalah pejabat Sriwijaya di Portibi, Padang Lawas, dan Timur danau Toba(Simalungun) yang dikemudaian hari harus mengungsi ke pedalaman Samosir akibat serangan dari Majapahit, dan gelar raja sendiri diberikan oleh keturunannya kepadanya bukan karena kekuasaan, melainkan oleh karena teladan serta untuk mengenang jasa-jasanya.

    Tahun 1331 M dibawah pinpinan Maha Patih Gajahmada kerajaan Majapahit menyerang Haru, tetapi gagal menaklukkan Haru, sehingga beberapa serdadunya yang tertinggal dan tertawan menjadi rakyat Haru dan masuk menjadi salah satu merga Peranginangin dengan sub-merga Peranginangin Jab.

    Dalam Sejarah Majapahit sendiri, nama Haru berulang kali disebut-sebut, hal ini menjadi bukti akan kebesaran Kerajaan Haru di-zaman itu dan menjadi salah satu negara kuat yang susah untuk ditaklukkan oleh kerajaan terbesar di nusantara ini(Majapahit), membuat seorang maha patih menjadi resah dan mengikrarkan sumpah akan menaklukkannya. Kisah ini juga dengan jelas diceritakan dalam buku “Karo dari Jaman ke Jaman” karya pujangga terkenal India yang bernama Brahma Putro. Berikut petikan sumpah palapa dari Maha Patih Gajah Mada, Patih Amangkubhumi Majapahit.

    Sumpah Palapa adalah suatu pernyataan/sumpah yang dikemukakan oleh Gajah Mada saat upacara pengangkatannya menjadi Patih Amangkubhumi Majapahit , tahun 1258 Saka (1336 M). Sumpah Palapa ini ditemukan pada teks Jawa Pertengahan Pararaton yang berbunyi, sebagai berikut:

    Sira Gajah Mada patih Amangkubhumi tan ayun amuktia palapa, sira Gajah Mada: "Lamun huwus kalah nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seran, Tañjung Pura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti palapa".

    Terjemahannya dalam bahasa Indonesia:
    Beliau Gajah Mada Patih Amangkubumi tidak ingin melepaskan puasa. Ia Gajah Mada, "Jika telah mengalahkan Nusantara, saya (baru akan) melepaskan puasa. Jika mengalahkan Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, demikianlah saya (baru akan) melepaskan puasa".


    Terjemahannya dalam cakap Karo:
              Enda me Si Gajah Mada puanglima simbelin si la erngadi-ngadi erpuasa. Ia Gajah Mada, “Ndia enggo ngalahken nusantara, maka kami pengadi puasa. Adina pepagi enggo naklukken Gurun, Seram, Tanjung Pura, Karo, Pahang, Dampo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, bage me siterjadi maka pusa enda i pengadi.”

    Sekitar tahun 1395 – 1435 Masehi, dimana Tuan Sipinangsori putra dari Jalak Karo yang berasal dari Aji Nembah(Karolanden/Taneh Karo) sekitar tahun 1428 M menetap di Raja Simbolon dengan menunggangi horbo(kerbau) Sinanggalutu. Dan, hal ini juga didukung oleh tradisi Dalimunte yang berkembang di Labuhan Batu, dimana diceritakan saat Si Munte dari Aji Nembah yang menunggangi “Kerbo Nenggala Lutu ini membawa segenggam bibit kacang-kacangan yang disebut dalidan menanamnya kemudian tumbuh subur dan berbuah banyak, serta biji-bijian ini sangat disukai, sehingga para tetangga menawarkan barter dengan menyebut dali – Munté dengan maksud “kacang mu o, Muté ” atau “minta kacangmu o, Munté ”. Sehingga dikemudian hari para keturunannya dipanggil dengan Dalimunte.

    Sejarah Dinasti Ming menyebutkan bahwa "Su-lu-tang Husin", penguasa Haru, mengirimkan upeti pada Cina tahun 1411 M. Setahun kemudian Haru dikunjungi oleh armada Laksamana Cheng Ho. Pada 1431 M Cheng Ho kembali mengirimkan hadiah pada raja Haru, namun saat itu Haru tidak lagi membayar upeti pada Cina. Pada masa ini Haru menjadi saingan Malaka sebagai kekuatan maritim di Selat Malaka. Konflik kedua kerajaan ini dideskripsikan baik oleh Tome Pires dalam Suma Oriental (disebutkan bahwa kerajaan Haru merupakan kerajaan yang kuat Penguasa Terbesar di Sumatera yang memiliki wilayah kekuasaan yang luas dan memiliki pelabuhan yang ramai dikunjungi oleh kapal-kapal asing. Dalam laporannya, Tomé Pires juga mendeskripsikan akan kehebatan armada kapal laut kerajaan Aru yang mampu melakukan pengontrolan lalu lintas kapal-kapal yang melalui Selat Malaka pada masa itu.) maupun dalam Sejarah Melayu. Dimana sebelumnya di tahun 1282 M Haru mengirim misi ke Tiongkok.

    Dalam ekspedisi maritim Tionghua tahun 1413 M Ying-yai Sheng-lam, disebutkan “A-lu(Aru, Haru/Karo)” merupakan penghasil kemeyan; dan sumber Tionghua lainnya Hsing-ch’a Sheng Lam menyebutkan “A-lu” sebagai penghasil beras, kemeyam, bahan-bahan aromatik, kamper, dll.

    Dalam Wu Pei Shih(Peta Cina, 1433 M) disebutkan, ketika armada Cina berlayar dari arah barat saat hendak kembali ke Cina, mereka melalui kerajaan-kerajaan sebagai berikut: Su Man Ta La(Samudra Pasai), Chu-Shui Wan(Lhok Seumawe), Pa Lu T’hou(Perlak), Kum Pei Chiang(Tamiang), Ya Lu(Haru/Karo), Tan Hsu(Pulau Berhala), dan seterusnya.

    Januari dan November 1539 M, Haru diserang oleh Sultan Aceh Al Qadar(Sultan Alaidin Riyad Shah – I) dan kejadian ini dituliskan oleh Ferdinand Mandez Pinto yang merupakan seorang utusan Portugis saat mengunjungi Haru(Haru II/Deli Tua) dari Malaka setelah menempuh lima hari perjalanan hingga sampai di ibu negeri Haru II(Deli Tua).

    Tahun 1511 M Haru diserang oleh Malaka namun tidak berhasi. Kemudian ditahun 1515 M Haru kembali diserang kali ini oleh Aceh dan Portugis namun juga tidak berhasil. Dan, para peneliti meyakini dimasa iniliah pusat kerajaan Haru benar-benar berpindah dari Teluk Haru(Langkat) ke Alé(Deli Tua).
    Geriten Karo di Istana Maimoon: Geriten adalah rumah penyimpanan tulang belulang leluhur Karo
    "Geriten di Istana Maimoon" sumber photo: tripadvisor.com
    Tahun 1590 M diyakini tahun berdirinya Kota Medan, yang dimana didirikan oleh seorang putra Karo bermerga Sembiring, yang bernama Guru Patimpus Sembiring Pelawi. Bersamaan dengan ini, ditahun 1594 M Seh Ngenana beru Sembiring Meliala atau lebih dikenal dengan sebutan Putri Hijau diangkan menjadi pemimpin(Ratu) Haru. Di masa-masa inilah dapat dikatakan masa-asa kritis Haru, dimana peperangan yang terus-menerus membuat wilayah Haru semakin terdesak ke pedalaman gugung(pegunungan Karo) dan melemahkan posisi Haru itu sendiri, maka ditahun 1632 M diyakini Haru(Alé) di Pesisir Pantai Timur Sumatera bagian Utara resmi takluk. Hal ini ditandai dengan pengangkatan Gocah Pahlawan menjadi Raja(Sultan) Deli. Dengan tegaknya Deli membuat supremasi Haru(Karo) di wilayah pesisir pantai timur benar-benar hilang, namun ada beberapa kerajaan urung Haru(Karo) yang masih tegak berdiri dan menjadi wilayah independen terbatas, seperti: Kerajaan Urung Serbanyaman(Sunggal) yang dipinpin oleh Datuk Sunggal ber-merga Karo-karo Surbakti, Urung Senembah yang dipinpin oleh merga Karo-karo Barus, Urung Hamparan Perak(Sepuluh Dua Kuta/XII Kuta) yang dipinpin oleh Sembiring Pelawi(keturunan Guru Patimpus Sembiring Pelawi/pendiri kota Medan), dan Urung Suka Piring yang juga dipinpin oleh seorang dari merga Sembiring Pelawi.

              Dalam suratnya kepada Raja Portugal bertahunkan 1539 M  Pero de Farida mengatakan Aceh telah menyerang Haru sebanyak dua kali, yakni di bulan Januari dan November 1539 M. Cornelius de Houtman dan Frederich de Houtman saat tiba di Aceh tertanggal 21 Juni 1599 mengutarakan beberapa kerajaan besar di Sumatera, diantaranya: Minangkabau, Pedir, Haru, dan Aceh. Di-tahun 1591 M Sultan Johor, Ali Jalal menumpas pasukan Aceh dan berhasil mengalahkanya di Haru yang dimana tahun 1612 M Aceh kembali menyerang balik, dilanjutkan denga serangan di tahun 1624 M yang menjadi titik runtuhnya kerajaan Haru di kawasan pesisir serta takluk kepada Aceh. Dengan demikian, kekuatan Haru hanya tinggal di-kawasan pegunungan Karo saja yang hingga kedatangan Belanda belum bisa ditaklukkan oleh kerajaan-kerajaan lainnya terkhususnya Aceh. Baru di-tahun 1908 M kolonial Belanda berhasil mengalahkan kerajaan Haru terakhir(Haru Kuta Buluh/Kesebayaken Kuta Buluh) dan menjatuhkan hukuman kurungan seumur hidup kepada Sibayak(raja) Haru Kuta Buluh, Sibayak Batiren(Pa Tolong). Dengan demikian seluruh wilayah Haru(Karo) telah takluk!
              Dari penggalan-penggalan fakta sejarah diatas, maka kita dapat menarik beberapa kesimpulan, yang mungkin jika kita berpaling pada tradisi-tradisi yang ada(opini publik yang digiring baik sengaja atau tidak) akan terasa janggal, diantaranya:

    1.   
    Geriten(monumen) Togan Raya - Batu Malar
    Geriten(munumen) Togan Raya-Batu Malar.  Tugu peringatan
    kedatangan manusia pertama suku Karo yang  berasal dari
    daratan India sekitar 200 Tahun Sebelum Masehi.
    Suku bangsa Karo telah ada diawal bahkan sebelum memasuki tahun Masehi. Hal ini merujuk pada tahun-tahun yang diyakini berdirinya kerajaan Haru(Karo), setidaknya antara priode abat I hingga abad ke-6. Logika-nya, untuk membentuk ataupun mendirikan sebuah kerajaan besar, tidak-lah mungkin dalam waktu yang singkat, dengan ilmu pengetahuan yang minim, serta jumlah sumber daya manusia yang cukup. Dalam tradisi Karo, untuk membentuk satuan administrasi kuta(satuan/kerapatan dari beberapa kesain) saja harus setidaknya memiliki kelengkapan diantaranya seperti berikut:

    -      Terdiri dari beberapa kesain yang telah berkembang, sehingga nantinya akan disatukan(dinaikkan setatusnya) menjadi kuta.
    -      Memiliki rumah adat yang menjadi tempat tinggal dan pertemuan. Serta perangkat-perangkat dalam rumah adat ini juga telah terpenuhi, baik kebendaannya maupun organik(penghuni).
    -      Memiliki kesain(beranda desa/alun-alun) sebagai tempat pertemuan, bermain anak-anak, penjemuran dan penumpukan hasil tani terkhususnya padi. Dalam sebuah kuta, setidaknya harus memiliki satu kesain dan untuk kuta-kuta yang besar bahkan lebih dari tiga atau empat kesain.
    -      Memiliki jambur sebagai tempat pertemuan, lumbung pangan, tempat muda/i bercengkramah dan belajar, tempat memasak saat pesta, tempat lajang tidur dimalam hari, dan tempat pertandang(musafir/tamu) bermalam;
    -      Memiliki geriten sebagai tempat mengumpulkan/menyimpan tulang belulang leluhur yang dianggap sebagai tokoh/teladan di kuta tersebut;
    -      Memiliki peken(reba) sebagai tempat anggota kuta untuk menanam tanaman keras yang diana luasnya ditentukan oleh pertemuan baluren(lembah);
    -      Memiliki pendonen sebagai tempat mengubur zenajah anggota kuta;
    -      Memiliki perjuman yang merupakan berbatasan denga peken yang diperuntukkan bagi warga umum dan juga tanaman umum;
    -      Memiliki kerangen(hutan) sebagai pengimbang alam, pemasok udara, dan air segar bagi masyarakat desa yang dimana ada larangan untuk menebang pohon(hanya boleh mengambil ranting sebagai kayu bakar), disampin kerangen ada juga deleng rimbun raya dimana di hutan ini-lah baru diperbolehkan menebang kayu untuk memproduksi balok-balok besar untuk keperluan bangunan maupun untuk dijual;
    -      Memiliki barung  yang merupakan tempat mengembalakan hewan jinak, berupa padang rumput yang luas namun terbatas atau bisa dikatakan lokasi peternakan alam;
    -      Memiliki Perjalangen yang merupakan padang rumput luas dan tak terbatas. Dimana hewan ternak bebas berkeliaran dan tidak digembalakan;
    -      Memilik tapin(MCK umum) yang minimal satu kuta harus memiliki dua lokasi tapin yang berjauhan, karena adanya adat rebu(tidak saling sapa) dalam adat Karo;
    -      Memiliki buah uta-uta  sebagai tempat pemujaan atau persembahyangan bagi penganut ajaran Pemena(agama/kepercayaan Karo).

    Itu-lah syarat yang harus dipenuhi untuk memperoleh setatus kuta! Itu masih dalam hal perangkat, belum lagi proses pendiriannya yang tentunya memakan waktu yang panjang. Bagaimana pula jika mendirikan sebuah kerajaan Urung ataupun Kesebayaken? Hm.. mungkin butuh waktu sekurang-kurangnya 100 tahun, bukan begitu? Jadi, sangatlah masuk akal jika Karo itu sudah ada diawal-awal atau bahkan sebelum memasuki tahun Masehi, mengingat masa pendirian dari kerajaan besar Haru(Karo).

    2.   Karo, telah ada saat masa kemunculan Si Raja Batak(abad ke-13). Maka, muncullah pertanyaan! Mungkinkan Karo juga keturunan dari Si Raja Batak yang dalam tradisi Batak(Toba) adalah nenek moyang seluruh bangsa Batak? Dimana notabene-nya Karo lebih tua dari Si Raja Batak! Jadi, dalam hal ini terbukti bahwasanya Karo bukan-lah keturunan dari Si Raja Batak,  karena Karo lebih tua dari Si Raja Batak, atau setidaknya hidup kerajaan Aru/Haru(Karo) bersamaan dengan masa hidup Si Raja Batak, jadi dalam hal ini perlulah kiranya membangun logika berfikir dalam menyingkapi fakta sejarah, jangan lantas kita menerima begitu saja ataupun menjatuhkan vonis kepeda seseorang ataupun kelompok etnis atas dasar opini umum publik semata!

    3.   Karo = Haru = Aru = Alé = A-lu = Ya-lu = Ya lo = Carrow = Karau = Karaw = Haro = Harw = Haraw = Harladji = Harlanj = Haro-haro = Guru = Gori.

    4.   Kerajaan Haru Karo (Kuta Buluh) adalah kerajaan terakhir, setidaknya di Sumatera bagian Utara yang ditaklukkan oleh kolonial Belanda. Dan, tidak ada dalam sejarah tentang adanya bangsa dan negeri Batak seperti yang digembar-gemborkan seperti pada saat ini. Dan, tidak ada sejarahnya suku bangsa Karo hidup di negeri Batak ataupun berajakan raja Batak. Yang ada dan berkuasa di Karo: Sibayak-Sultan, Raja Urung, Pengulu, Pengulu Kesain, dll.


    5.   Silahkan simpulkan sendiri.
                                                                                                                     
                Beginikah musik dan lagu Batak?





                      Atau kah begini?




    Kira-kira yang mana ya musik ataupun lagu Batak, yang dua video bagian atas atau bawah?
    sumber:  YouTube.
                             Bersambung...


    Comments
    67 Comments

    67 comments:

    1. Hidup Karo!
      Saya sangat setuju kalau Karo memang bukan batak, karena Karo lebih tua dibandingkan dengan Batak! Jdi, Karo bukan keturunan Batak, akan tetapi bataklah yang keturunan KARO. Mejuah-juah!

      ReplyDelete
      Replies
      1. Memang Karo bukan Batak dijelaskan lagi di dalam buku berikut:

        ORANG TOBA: Asal-usul, Jatidiri, dan Mitos Sianjur Mulamula
        http://sopopanisioan.blogspot.co.id/2015/09/buku-telah-terbit.html

        Delete
      2. Horas... Mejuah-juah! Saya seorang keturunan Batak Toba,lahir di Malaysia Saya berkomentar bukan mendabik dada,dan bukan meluruskan Sejarah yang sudah lama berlalu, Diantara semua rumpun Batak yang ada di Tanah Batak,tidak ada yang lebih TUA. Sesuai perjalanan hidup Manusia di jamannya,sebelum ada Manusia Batak yang mempunyai Marga dan adat Dalihan na Tolu,sudah ada manusia yang menghuni Tanah Batak. MANUSIA JAMAN PURBA..... Manusia inilah yang membentuk/Mamukka HABATAHON,/BERMULA BANGSO BATAK. BATAK: Manusia na Maradat, na Maruhum, na Marhaporseaon, kepada Sang Pencipta seluruh alam dan segala isinya. Sesuai peredaran jaman dan perkembangan hidup Manusia, terbentuklah suku-suku bangsa yang ada di seluruh pelosok NUSANTARA ini. Sebelum ada Manusia luar/pinopparni si BOTTAR MATA, MENGOBRAK ABRIK TAMADUN BANGSA INI. Di dalam permasalahan

        Delete
      3. Di dalam permasalahan yan timbul, di antara suku/rumpun Batak, KARO bukan BATAK,/KARO BUKAN KETURUNAN SI RAJA BATAK,memang benar bukan semua orang yang tingal di tanah KARO keturunan ni SI RAJA BATAK, MENURUT SEJARAH NI SI RAJA BATAK, ADA KETURUNAN/PINOPPARNA YANG TINGAL DI TANAH KARO, DAN BERKEMBANG BIAK SAMPAI SEKARANG. Segala sesuatu yang terjadi,dan berlaku di dalam kehidupan BANGSO BATAK, ada permulaannya. Sejarah dan turi-turian Legenda yang terjadi di DOLOK PUSUK BUHIT,semua ada permulaannya. Terjadinya sesuatu SEJARAH dan LEGENDA,MELALUI PERJALANAN HIDUP YG PANJANG. Tidak akan mungkin terjadi, karena pandai menulis dan pandai berbicara. Horas... Mejuah-juah. NB: HABATAHON TIDAK ADA SATU KUASA YANG DAPAT MENGUBAHNYA, APALAGI MENGUBURNYA.

        Delete
      4. Horas... Mejuah-juah! Saya seorang keturunan Batak Toba,lahir di Malaysia Saya berkomentar bukan mendabik dada,dan bukan meluruskan Sejarah yang sudah lama berlalu, Diantara semua rumpun Batak yang ada di Tanah Batak,tidak ada yang lebih TUA. Sesuai perjalanan hidup Manusia di jamannya,sebelum ada Manusia Batak yang mempunyai Marga dan adat Dalihan na Tolu,sudah ada manusia yang menghuni Tanah Batak. MANUSIA JAMAN PURBA..... Manusia inilah yang membentuk/Mamukka HABATAHON,/BERMULA BANGSO BATAK. BATAK: Manusia na Maradat, na Maruhum, na Marhaporseaon, kepada Sang Pencipta seluruh alam dan segala isinya. Sesuai peredaran jaman dan perkembangan hidup Manusia, terbentuklah suku-suku bangsa yang ada di seluruh pelosok NUSANTARA ini. Sebelum ada Manusia luar/pinopparni si BOTTAR MATA, MENGOBRAK ABRIK TAMADUN BANGSA INI. Di dalam permasalahan

        Delete
      5. Mejuah juah. Payo nge kata kalimbubu enda. Orang karo berbeda budaya dan adat .Jadi persepsi orang luar tentang Medan dan Karo harus mulai kita rubah . MULAI dari kata kata horas , dsb . Juga GBKP harus kita hilangkan B batak nya. Karena Batak itu hanya sebutan Belanda utk orang2 selain muslim. Yang ada itu Suku toba , karo, simalungun, dsb.

        Delete
      6. Mejuah juah. Payo nge kata kalimbubu enda. Karo harus mulai menunjukkan identitasnya dengan otang luar. Krena itulah dia kenyataanny, nenek kami ga pernah mengajarkan ada hubungan dengan raja batak apalah. Harus kita mulai menunjukkan pada orang luar ,mulai dari bahasa sapaan mejuah juah bukan hotass. Dan juga GBKP harus dimulai dirancangkan untuk dihilangkan B bataknya. Krena batak itu sebutan Belanda utk orang non ISLAM jaman dulu. Yg ada suku karo,toba, simalungun ,dsb. Mejuah juah.

        Delete
    2. KARO BUKAN BATAK TITIK(..)
      Karo tidaklah mungkin keturunan dari Si Raja Batak, karena Karo jauh lebih tua,, yang benar Batak adalah keturunan KARO(nenek moyang Batak adalah Karo)Itu baru masuk akal.
      Mejuah-juah!

      HIDUPPPPPPP KAROOOOOOOOOOOOOOOOO...........!!!!!!!!!!!!

      ReplyDelete
    3. Bujur untuk komentarnya teman2 smua. Mejuah-juah!

      ReplyDelete
    4. Dari tulisan di atas, saya dapat menyimpilkan kalau penulis hendak mengarahkan opini akan Karo ukanlah Batak, dan sejujurnya saya juga sependapat, namun sayang opini pulik yang telah lama berkemang sangatlah susah untuk dirubah. Namun, saya senang karena masih anyak generasi2 muda Karo yang peduli dan giat memperjuangkan akan hal ini dan masih bersih dari kontaminasi batak. Hidup Karo!
      Sekali Karo tetap Karo!

      Mejuah-juah!

      ReplyDelete
      Replies
      1. Terima kasi atas komentar Anda!
        Salam mejuah-juah! KARO BUKAN BATAK!

        Delete
      2. Mejuah juah silih
        Kam asli dari binjai ya?

        Delete
    5. lit jilena di banndu ka benda'' tah pe situs situs peninggalan sejarah, untuk mendukung tulisenndu yg diatas, gelah lebih jelas ia kade kade
      bujur ras mejuah juah

      ReplyDelete
    6. Sebagian substansi tulisan ini menarik dan menambah wawasan baru, namun tidak sedikit pula yang kurang akurat dan bukti. Dalam buku laporan Ferdinand Mendez Pinto pengelana Portugis itu pada tahun 1539 Masehi tidak disebutkan Aceh berperang dengan Haru, melainkan dengan Raja Batak yang bernama Angisiry Timorraja, nama ini lebih dekat ke Simalungun yang identik dengan Tuan Anggi Sri Timurraja (Tuan Anggi raja dari Timur). Sebagaimana kita ketahui bersama, timur adalah penyebutan lain bagi suku Simalungun.

      ReplyDelete
      Replies
      1. This comment has been removed by the author.

        Delete
      2. Itu kan versi anda, mana mungkin dari simalungun berperang ke aceh. Tetapi mengapa anda menyebutkan Angisiry Timorraja atau Tuan Anggi Sri Timurraja sebagai si raja batak? Apakah maksud anda si raja batak toba atau si raja batak simalungun? Mengapa simalungun mengatakan Angisiry Timorraja sebagai si raja batak? Saya lebih setuju dikatakan dengan sebutan tuanku anggi sritimuraja daripada si raja batak, karna ujung2nya lebih identik ke toba.

        Delete
      3. Tapi kalau dilihat dari perkembangan sekarang simalungun adalah toba. Karna simalungun mengacu pada si raja batak/toba. Setau saya marga simalungun ada empat tapi lebih berkuasa yg masuk ke marga simalungun. Mereka mengaku cinta simalungun tapi lebih cinta asalnya yaitu toba. Jadi kami ga heran jika simalungun ikut mengakui si raja batak toba.

        Delete
      4. Dari faktanya, kita lihat banyak photo tua Rumah Adat Karo di wilayah Simalungun sekarang impal Masrul. Ini jadi tanda tanya besar. Ada Rumah Adat Karo dan perkutan Karo. :-)

        Delete
      5. Mejuah-juah impal Masrul.
        Menurut Kam, kira-kira apa beda penyabutan "Timor rijk" dan "Simaloengoen rijk" di wilayah Simalungun sekarang(dlm literatur dulu).!???
        Hehehe... :-)
        Mejuah-juah.

        Delete
    7. Saya punya buku ttg laporan Pinto ini, di dalamnya jelas tertulis Raja Batak bukan Haru. Banyak para sejarawan yg belum membaca langsung laporan ini, akibatnya mereka keliru dalam mentransformasi cerita ini ke tengah khalayak, kekeliruan itu pun terus berkesinambungan. Adapun pihak sejarawan Simalungun menyamakan Raja Batak ini dengan Nagur yang merupakan sebuah kerajaan besar di Sumatera Timur dengan rajanya bermarga Damanik. Kerajaan ini dimulai sejak tahun 500 Masehi dan berakhir abad 16 Masehi.

      ReplyDelete
      Replies
      1. Coba bandingkan dengan kasus Tungkat Penalu(komentar dan penjelasan tidak saya lanjutkan. Sikahkan cari tahu, biar benar-benar kam mengerti). Bagaimana liarnya pendapat dan komentar ahli-ahli Eropa.

        Sama halnya dengan photo Rumah Adat Karo dengan anak babi yang berkeliaran.
        Orang Eropa bilang itu peternakan/kebun-->juma(Karo). Padahal kalau dalam alam pikir Karo, kalau boar zijn(bertani) atau di juma itu erbarung(Barung), bukan Rumah. Kalau Rumah atau Rumah Adat Karo itu di Kuta. :-)

        Demikianlah dalam banyak hal penjelajah Eropa itu kasi label. Mejuah-juah.

        Delete
    8. Kami hingga saat ini terus menyelidiki apa hubungan Nagur dengan Haru dan Raja Batak yang diserang oleh Aceh itu. Adapun nama Sultan Aceh yg berperang dengan Raja Batak itu bernama Sultan Alauddin Riayat Syah Al-Qahhar. Peperangan ini berlangsung 2 babak, pada babak pertama pihak Batak yang meraih kemenangan dan pada babak kedua pihak Batak terjebak dan mengalami kekalahan.

      Baik saya rasa demikian saja koreksi dari saya, bagi yang berminat diskusi dengan saya boleh menghubungi saya via facebook. Horas

      ReplyDelete
    9. Mengenai kerajaan Batak Timur = Nagur, ini masih misteri. Dalam beberapa versi Batak Timur atau Batak Timur Raya juga dikaitkan dengan Lingga Timur Raya. Sehingga diyakini identik dengan Aroe/Haru yang identik dengan Karo. Bahkan, sesungguhnya antara Karo dan Simalungun dimasa lamapau juga hampir-hampir terjadi kekeliruan yang diakibatkan oleh antropolog pemula, mungkin hal ini diakibatkan banyaknya kemiripan antara Karo dan Simalungun yang kuat dipengaruhi oleh budaya Hindu(India). Dan, ini terbukti saat pengaturan wilayah Sumatera Timur, dimana Karo-Simalungun disatukan menjadi Afdeeling Simalungun en Karolanden.

      Informasi Nagur ini-pun saya sangat berharap agar putra Simalungun asli lah yang lebih banyak berperan, sebab seperti gendang(musik) tradisional, kalau dalam istilah Karo.. kalau bukan darah Karo asli tidak akan tahu dan kena endek dan renggetnya, begitu juga dengan sejarah masa lampau Simalungun dan Karo ini dimana pihak-pihak ketiga yang kurang mengerti terkadang hanya menginformasikan fase-fase akhir dari sebuah perjalanan sejarah itu. Seperti halnya yang saudara Masrul kemukakan mengenai Nagur yang merupakan Proto Simalungun abad ke-5 hingga 16 M,,, sehingga jika memang demikian benar dan adanya, maka opini publik tentang konsep Batak satuan etnisitas kekerabatan vertikal(geneologi/darah) yang berasal dari Si Raja Batak yang dalam tradisi Toba-Batak dan dilegitimasi melalui antropolog2 dan sarjana2 kebatakan.... jelas tidak lagi sesuai. Bukan begitu?

      Terima kasih atas komentar dan koreksinya saudara Masrul Purba Dasuha.
      Mejuah-juah dan salam Habonaron do Bona.
      :D

      ReplyDelete
    10. Wah, Menarik juga............
      Saya sebagai Orang Batak, tidak mempermasalahan kalau Karo adalah Batak atau Batak adalah Karo, atau bahwa batak adalah keturunan karo. Tetapi yang saya tau, bahwa Karo dan Batak mempunyai kekerabatan yang sangat dekat, baik kebiasaan dan bahasa (mirip)

      Yang saya tahu, bahwa sejarah orang batak berasal dari Samosir, dan terciptalah marga2, baik marga Batak, Marga(marge) Karo, Kalau menurut saya, pada waktu Gunung Toba meletus orang karo/batak sudah ada jadi sebagian besar musnah dan tercerai berai.

      Yang paling hebatnya, Karo/Batak Sudah mempunyai tulisan sendiri, sehingga silsilah atau hal-hal penting lainnya tercatat dengan baik.

      Untuk membuktikannya, bahwa batak adalah keturunan karo atau sebaliknya, bagaimana ingin membuktikan "Duluan Telor apa Ayam?".

      Bukan untuk mengarahkan opini, saya membaca silsilah orang batak, bahwa orang Karo adalah keturunan orang batak. (maaf, saya bukan ahli sejarah, saya hanya anak IT yg hobby nuls)

      www.pakgaol.com

      ReplyDelete
      Replies
      1. Silsilah dan terombo adalah hal yang baru bagi Batak dan bahkan kerajaan-kerajaan di nusantara. Jadi, kebenarannya tidak sampai 35%

        Kemiripan itu wajar karena bertetangga dan selalu berinteraksi, cuma anehnya mengapa perbedaannya lebih dalam dan banyak, baik dari bahasa, sifat, adat, kebiasaan, rumah adat, dlsb. Aneh ya?
        SIapa yang menyamakan? Jangan2 kolonial belanda untuk mempermudah dalam hal identifikasi.

        Delete
      2. pak gaol yg budiman,opini anda seperti orang yg pasra dgn apa yg ada tertulis / anda baca di buku.buku ialah hasil pemikiran seseorang yg dituang/ ditulis.buktinya apa sudah anda kros cek kebenarannya??
        nyatanya silsilah yg dibuat oleh siapapun pengarangnya hanya isapan jempol tanpa ada bukti n fakta otentik .
        gunung toba meletus krg lbh 75.000 tahun yg lalu,apa mungkin sudah ada manusia di situ?
        tinggi gunung toba berkisar 10000m,apa mungkin manusia bisa hidup diketinggian tsb?
        ledakan gunung toba diperkirakan sebesar 300000 bom atom,yg membuat seluruh dunia gelap gulita oleh abu vulkanik selama beberapa bulan.
        oleh krn dasyat nya ledakan tsb apa mungkin leluhur yg tinggal disana(jika ada) bisa bertahan???

        mana duluan telur apa ayam?
        apakah yg diciptakan tuhan?telor atau ayam.saya kira anda tau jawabannya.
        nah dari kesimpulan diatas saya kira anda lebih bisa memahami tulisannya.sekian

        Delete
      3. Labo iangkaina kel e, kade-kade. Asal belas saja nge.
        Bas jang kalak e nge atena nggasgasi, lang ajngna pe labo iangkana. :D

        Delete
    11. mejuah-juah
      karo bukan batak!....
      sekali karo tetap karo..
      salam damai...

      ReplyDelete
    12. memang kalak karo lalit ngataken sa batak.................

      hidup karo...

      kita berdiri sendiri

      mejuah juah

      ReplyDelete
      Replies
      1. S E T U J U !

        By: Erik TARIGAN

        Delete
    13. setuju....
      mejuah-juah

      salam damai.

      ReplyDelete
      Replies
      1. (Y)
        Yang Karo 'Mejuah-juah'. Jika, kita 'batak' jangan ragu-ragu silahkan sebut saja 'HORAS'.

        Me bage?

        Delete
    14. mantap maju terus karo aku keturunan campuran tapi aku mesih berdarah karo hidup karo mejuah juah kita krina

      ReplyDelete
      Replies
      1. Mejuah-juah, kade-kade.
        ISe-lah kita asli(la campuren) adi genduari enda? Kuakap enggo jarang. Cuma, adi Karo kita Karo-lah ninta, ola abu-abu, me bage?

        (Y)

        Delete
    15. Fantastic dan sangat menarik mengungkap sejarah masa lampau. Saya sangat tertarik dengan postingan. Saya jg sedang mencari tahu tentang keberadan Batiren Perangin-angin (Pa Tolong Sibayak kutabuluh) karena sangat minim dokumentasi dan publikasinya tdk seperti Pa Mbelgah dan Pa Pelita yang banyak dokumen dan cerita sekitar mereka. Dari postingan diatas baru skarang saya ketahui bahwa Kerajaan Terakhir di Tanah Karo yang belum ditaklukkan Belanda adalah Kesibayaken Kutabuluh dengan Rajanya Batiren Perangin-angin (Pa Tolong). Jika ada teman2 yang berkenan membagi crita atau dokumen literatur seputar Pa Tolong ini mohon sudilah kiranya berkenan share ke kita untuk meluruskan sejarah karo khususnya Sejarah Singkat dan Kehidupan Batiren Perangin-angin (Pa Tolong). Saya asli Perangin-angin Sukatendel asal Kuta Buluh Simole tapi la keturunan Sibayak Kuta Buluh. Salam sitandan. Mejuah-juah kita kerina.

      ReplyDelete
    16. Karena mirip, maka Aru menjadi Haru, maka dianggap lah itu Karo.
      Biar keren dan jadi bangsa tertua.
      Diawal tulisan kerajaan Aru/ Haru sudah ada sejak abad I Masehi. Disebutkan Tahun 1624 baru kerajaan Haru runtuh. Mohon maaf, satu kerajaan di dunia ini tak pernah bertahan sampai 15 abad.
      Kalau orang Karo sudah ada sejak abad I Masehi, knapa jumlahnya sedikit? Logika dong. Mestinya Karo yg menguasai Indonesia ini, bukan Jawa.

      ReplyDelete
      Replies
      1. Siapa bilang Karo sedikit, broo?
        Lihat keturunan Karo di Deli Sedang, Asahan, Sedang Bedagai, Medan, Binjai, Langkat, Simalungun, Dairi, bahkan hingga Aceh.

        Dan, bandingkan juga dengan bangsa Inca, Maya, dll di Amerika. Tidak selamanya suku tua menjadi populasi dominan. Banyak alasan membuat suku tua tidak dominan, misalkan migrasi besar-besaran, baik akibat peperangan, wabah penyakit, bencana alam... dan bisa juga genoside.

        Delete
      2. Coba kam tanytakan sama kenjurun Senembah, Urung Serbanaman(Sunggal), Hamparan Perak, Sipitu Kuta, dll di pesisir timur Sumatera apa merga mereka? Hehehehe... Itu contoh-contoh orang Karo, broo. Jadi, Karo ini ceritanya saja sedikit, cuma kalau ditelisik jangan-jangan lebih banyak dibanding Toba. Hahahaha...

        Delete
      3. Dia kepala dia juga ekor. Jering

        Delete
      4. POPULASI MASYARAKAT TOBA LEBIH BANYAK DARI KARO, BERARTI LEBIH TUA TOBA,,,




        Delete
    17. This comment has been removed by the author.

      ReplyDelete
    18. Terima kasih atas postingan nya... jadi lebih tau tentang sejarah kerajaan karo... mejuah juah kita kerina...

      ReplyDelete
    19. Nupung Permana TariganApril 11, 2015 at 9:44 PM

      Aku bangga Jadi Orang Karo. Bujur ras mejuah juah kita kerina

      ReplyDelete
    20. Kerajaan Karo pernah berjaya sekian lama.... hidupkan kembali kejayaan itu... Bagi kdkd yang mengerti kebudayaan karo tolong dishare budaya unggul apa yang pernah dimiliki kerajaan Karo yang masih relevan diterapkan sekarang dan masa yad.

      ReplyDelete
    21. Memang Karo bukan Batak dijelaskan lagi di dalam buku berikut:

      ORANG TOBA: Asal-usul, Jatidiri, dan Mitos Sianjur Mulamula
      http://sopopanisioan.blogspot.co.id/2015/09/buku-telah-terbit.html

      ReplyDelete
      Replies
      1. Tidak ada siapa,Memaksa siapa,Menjadi orang Batak,Kalau memang benar, Karo bukan BATAK, Anda harus dapat membuktikan,SEJARAH KARO yang sebenarnya. Karena apa, KARO DI KATAKAN BATAK, dan karena apa KARO bukan BATAK. Karena apa orang MELAYU DELI bukan KARO, orang KARO mengatakan orang deli tua keturunan orang KARO. Semua ada permulaanya, Sejarah dan LEGENDANYA. HABATAHON dan ORANG BATAK,tetap ada SEJARAHNYA,dan LEGENDANYA. Horas...

        Delete
      2. Tidak ada siapa,Memaksa siapa,Menjadi orang Batak,Kalau memang benar, Karo bukan BATAK, Anda harus dapat membuktikan,SEJARAH KARO yang sebenarnya. Karena apa, KARO DI KATAKAN BATAK, dan karena apa KARO bukan BATAK. Karena apa orang MELAYU DELI bukan KARO, orang KARO mengatakan orang deli tua keturunan orang KARO. Semua ada permulaanya, Sejarah dan LEGENDANYA. HABATAHON dan ORANG BATAK,tetap ada SEJARAHNYA,dan LEGENDANYA. Horas...

        Delete
    22. perkenalken bang, aku marga ginting. aku gedang2 bas jakarta, sentabi kel adi cakap karoku erpasir. kai hubungena adi karo ras simalungun. sebab adi kuidah mirip bang.

      ReplyDelete
    23. Kita Manusia sekarang,hanya peyambung generasi yang dulu,yang tidak dapat melihat apayang terjadi di masa yang sudah lama berlalu,bagai mana seorang Manusia bisa memastikan,apa dia tidak mengetahui/tidak melihat kejadian di masa yang lalu. Yang pasti tidak ada siapa,memaksa siapa menjadi ORANG BATAK,di antara suku yang serumpun dengan BATAK. Ini adalah satu pejalanan hidup manusia yang serumpun dengan BATAK. Kalau memang benar,KARO BUKAN BATAK,COBA CERITAKAN SIAPA KARO SEBELUM ADANYA KERAJAAN ISTANA DI NUSANTARA INI. Karena sebelum ada BATAK TOBA,SUDAH ADA HABATAHON.

      ReplyDelete
    24. Kita Manusia sekarang,hanya peyambung generasi yang dulu,yang tidak dapat melihat apayang terjadi di masa yang sudah lama berlalu,bagai mana seorang Manusia bisa memastikan,apa dia tidak mengetahui/tidak melihat kejadian di masa yang lalu. Yang pasti tidak ada siapa,memaksa siapa menjadi ORANG BATAK,di antara suku yang serumpun dengan BATAK. Ini adalah satu pejalanan hidup manusia yang serumpun dengan BATAK. Kalau memang benar,KARO BUKAN BATAK,COBA CERITAKAN SIAPA KARO SEBELUM ADANYA KERAJAAN ISTANA DI NUSANTARA INI. Karena sebelum ada BATAK TOBA,SUDAH ADA HABATAHON.

      ReplyDelete
    25. Saya tidak punya kapasitas untuk menilai apakah Karo bukan Batak,tapi sebagai orang Batak Toba yg lahir di Karo,saya cuma melihat banyak persamaan Adat dan Bahasa, apakah karena daerahnya berdekatan sayapun tidak tahu. KALAU memang Karo bukan Batak,s ebaiknya saudara Kami orang Karo harus sepakat dulu..membuat penelitian, seminar dan setelah dicapai kata sepakat, maka kesepakatan itu diumumkan ke khalayak ramai. Dengan demikian tidak ada lagi ketahuan dan jauh dari kesan "opportunis" atau orang Batak bilang"DIPARALANGALANGAN". Slang pendapat di Medsos ini tanpa ada kesimpulan, memicu perpecahan dan ada kesan supaya berbeda saja. Saya kira Kami orang2 yg menyebut dirinya BATAK tidak akan keberatan kalau suku Karo akhirnya menyatakan dirinya BUKAN BATAK, tap akhirnya lega yg mana sebenarnya BATAK dan BUKAN BATAK, tapi yg jelas kita adalah Bangsa INDONESIA. HORAS..,MEJUAH JUAH,

      ReplyDelete
    26. Koreksi :tidak ada lagi KERAGUAN, maksud saya

      ReplyDelete
    27. Mejuah juah ...aku kalak karo .Margaret karo karo Purba karo karo ..ada sejarah nggak mengenai Marga Purba karo karo saya sangat ingin mempelajarinya . Saya dari Purba Rumah Kabanjahe kesain Rumah Derpih .mohon penjelasannya Teman Teman. BUJUR Mejuah juah .

      ReplyDelete
    28. mudah-mudahan bisa menjawab beberapa pertanyaan:
      http://edwardsimanungkalit.blogspot.co.id/2016/01/runtuhnya-mitos-si-raja-batak-5-raja.html ini bukti ilmiahnya dengan tes DNA.
      http://edwardsimanungkalit.blogspot.co.id/2016/03/karo-dan-nias-bukan-keturunan-si-raja.html
      Bukan memusingkan silsilah, namun asal-usul rasanya perlu kita ketahui. Kita tentu tidak ingin mengabaikan sejarah yang benar. Bukan dongeng KOSONG...yang tidak dapat dibuktikan.
      Mejuah-juah

      ReplyDelete
      Replies
      1. Bangso Batak Nauli: Sesuai dengan perjalanan hidup Manusia sejagat,tidak ada satu apapun yang bisa kita ubah. Segala yang terjadi di masa yang sudah berlalu, itulah menjadi Sejarah manusia di Jaman sekarang. Saya bukan menggugat pendapat saudara2 sekalian, untuk membuktikan siapa Batak, dan siapa tidak Batak. Kita dapat mengetahui, yang dikatakan Batak,yang memakai Marga Batak, dan memakai Adat Dalihan Natolu. Saya sendiri tidak dapat memastikan, saya keturunan Si RAJA Batak. Saya lahir di Malaysia, genarasi yang ke 17 dari Op Raja Isumbaon, keturunan Datu Pejel Nai Rasaon Manurung. Membentuk satu Bangsa yang BERTAMADUN DAN MEMPUNYAI PERADAPAN HIDUP MANUSIA. Tidak akan bisa terjadi,karena kepandayan se seorang berbicara/berkoar-koar. Saya dapat mengetahui, HABATAHON MULANI BANGSO BATAK, HAKAROON MULANI BANSO KARO,HAPAKPAHON MULANI BANGSO PAKPAK,HASIMALUNGUNON MULANI BANGSO SIMALUNGUN Kalau sudah tidak mau menjadi Batak, tidak ada siapa yang bisa menghalang. Menjadi satu LEGENDA BANGSO BATAK,Malaikatpun turun dari Langit,di Tano Batak akan menjadi Bangso Batak Nauli. Horas... Mejuah-juah. Kita jadikan satu renungan supaya tidak menjadi dongeng KOSONG.

        Delete
    29. This comment has been removed by the author.

      ReplyDelete
    30. mejuah-juah,sentabi..sebelum berkomentar jauh kita harus cari tau dulu apa sbenarnya arti kata "Batak" ? apakah hadirnya manusia di samosir/pusuk buhit langsung dikatakan "batak"? tulisan pertama yang mengatakan karo merupakan keturunan Si Raja Batak adalah karya W Hutagalung 1926, tarombo dohot turiturian bangsa batak. tapi tidak dijelaskan siapa sebenarnya Si Raja Batak, apakah satu orang, dua orang dst atau begitu muncul langsung diberi gelar si Raja Batak.dalam buku M.O.P "Tuanku Rao" dan Batara Sangti "sejarah Batak" dikatakan si raja batak muncul pada abab ke 13-14 M. menurut saya kemunculan nama Si Raja Batak adalah politik yang dilakukan oleh kolonial untuk mempetakan daerah kekuasaannya, dan batak muncul untuk membedakan munslim dan non muslim. mohon koreksinya. bujur ras mejuah-juah kita kerina.

      ReplyDelete
    31. Sepertinya Pemerintah Indonesia juga sudah mengakui Karo bukan Batak. Berdasarkan Sensus Penduduk online 2020. Suku Karo berdiri sendiri bukan tertulis Batak Karo tetapi Karo.

      Bujur ras Mejuah-juah kita kerina.

      ReplyDelete
    32. Sebelum sampai ke Siraja Batak, bukankah leluhur siraja Batak juga di sebut Batak? Jauh sebelum si Raja Batak, batak itu sendiri sdah ada, yaitu adanya dinasti batak tua/kuno di daerah barus. Apakah komunitas batak itu hanya melahirkan seorang anak yg di sebut dg Siraja Batak/putera mahkota di kerajaan, bagimana dg komunitas bersaudara yg tidak menjadi putera mahkota di kerjaan, apakah mereka otomatis tidak menjadi batak/kelompok batak???

      ReplyDelete

    Mejuah-juah!