Mejuah-juah.     Selamat datang di blog sederhana kami: "Rudang Rakyat Sirulo".   Mejuah-juah. Kami minta maaf jika diwaktu dekat ini akan ada sedikit gangguan atau ketidak nyamanan pengunjung terhadap tampilan blog ini, sebab direncanakan dalam waktu dekat blog ini akan melakukan perbaikan. Terima kasih atas kunjungan anda.   Terus dukung dalam doa, untuk Taneh Karo Simalem yan kita cintai segera dipulihkan    Mejuah-juah.        RUDANG RAKYAT SIRULO COMUNITY menerima donasi dari pihak-pihak yang hendak/peduli dengan blog ini, yang ingin berinfestasi. Hal ini ditujukan untuk menghidupkan terus blog ini, serta meng-UPGRADEnya ke wensite berbayar demi kenyamanan pengunjung. Bagi anda yang tertarik silahkan hubungi e-mail: bastanta.meliala@gmail.com. Terima kasih.
Mejuah-juah.   Rudang Rakyat Sirulo Comunity, mengundang partisipasi dari pemcaba untuk mendukung eksistensi blog ini, dengan mengirimkan tulisan-tulisan yang berkaitan dengan Karo ke e-mail: bastanta.meliala@gmail.com    RRSC juga mengundang para pengunjung blog untuk ikut serta membangun jaringan RRSC dengan cara menyampaikan donasi untuk meng-UPGRADE blog ini ke versi berbayar, hal ini dianggap perlu untuk memberi kualitas konten dan kenyamanan pembaca.   Bagi anda yang tertarik untuk mendukung dan ikut serta membangun jaringan RRSC, anda dapat menyampaikan donasi anda ataupun berinfestasi di blog ini. Silahkan hubungi e-mail admin di BASTANTA.MELIALA@GMAIL.COM    Mejuah-juah.
    <--> MEJUAH-JUAH <-->

    Minggu, 15 September 2013

    Buluhawar Simalem


    Mejuah-juah. Buluhawar. Sebuah desa terpencil di Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatera Utara. Kontur alam yang berbukit-bukit serta air dan udara yang sejuk membuat setiap orang yang berkunjung akan malas untuk pulang dan selalu rindu untuk kembali ke sana. 
    Bukan itu saja, Buluhawar juga menyimpan segudang cerita dimasa lampau, salah satunya dimana permukiman terpencil ini pernah dipakai Tuhan untuk menjadi saluran berkat bagi daerah-daerah sekitarnya, terkhususnya bagi masyarakat Karo. 

    Atas kesepakatan antara Pemerintah Kolonial Belanda dengan Deli Mascapij maka diutuslah H. C. Kruijt(1890) melalui badan misi zending Belanda NZG (Nederlandshe Zendelinggenootschap) untuk mengabarkan Injil kepada masyarakat Karo dan kemudian menjadikan Buluhawar menjadi Pos PI pertama, hingga Pemerintah Kolonial Belanda berencana memulai pembangunan jalan raya ke dataran tinggi Karo, namun ditolak oleh para Sibayak, hingga pada 1909 baru rencana itu terealisalikan(Medan – Kabanjahe; Kabanjahe – Sarinembah – Kuta Bangun; Kabanjahe – Seribu Dolok – Pematang Siantar), namun tidak seperti rencana semula via Buluhawar, akan tetapi via Sibolangit – Bandarbaru – Doulu. 

    Ini merupakan salah satu proyek besar kolonialisme di Pesisir Pantai Timur Sumatera(Oostkust van Sumatera) yang pernah dilaksanakan. Jalur Medan – Kabanjahe sendiri dimulai dari Arnhemia(Boven Deli/Pematang Siantar Karo. Sekrg. Pancur Batu), Sibolangit, Bandar Baru, dan Berastagi. Tahun 1911 merupakan awal dibukannya perkebunan-perkebunan sayur oleh kaum Eropa ke dataran tinggi Karo. Tahun 1914 layanan bis dua kali seminggu dibuka oleh beberapa perkebunan dan di tahun 1915 baru benar-benar diadakan layanan pengangkutan rutin setiap hari(Hingga 1918 dilaporkan lebih dari 6300 orang telah diangkut). Sehingga, dengan demikian jalur Cingkam Pass(Sibolangit – Buluh Awar – Bukum) yang selama ini dipakai para perlanja sira (pemikul garam), pedagang, dan pengelana dari dataran tinggi Karo ke pesisir dan sebaliknya; serta Buluhawar yang menjadi persinggahan/peristirahatan lambat laun ditinggalkan bahkan dilupakan.

    25 Mei 2013 merupakan kali pertama kunjungan saya ke Buluhawar. Sungguh desa terpencil ini benar-benar kian terlupakan dan bahkan oleh kalangan Kristen Karo sendiri semakin sedikit yang mengenal Buluhawar dan sejarah yang telah ditorehkannya bagi perkembangan masyarakat Karo. Namun, saya sangat merasakan magis Buluhawar yang merupakan awal lahirnya kekeristenan Karo masih terasa, tinggal bagaimana kita membangkitkannya, sehingga jangan sampai desa kecil Buluhawar Simalem ini kian terpencil dan terisolasi yang akhirnya semakin mengkaburkan sejarah kehidupan kekeristenan Karo, seperti halnya H. C. Kruijt yang merupakan perintis jalan semakin dilupakan juga.

    Keindahan Buluhawar dengan udaranya yang sejuk, serta kehidupan masyarakatnya membuat saya terpikat, dan saya berharap demikian juga halnya terjadi kepada kebanyakan orang, terkhususnya keluarga-keluarga Kristen Karo, sebab jika semakin banyak orang yang berkunjung ke salah satu situs sejarah kekeristenan Sumatera Utara ini, maka akan semakin banyak juga yang peduli, demikian juga akan semakin banyak muncul gagasan-gagasan untuk mengembangkannya.

    Akhir kata: dalam segala kekurangan dan keterbatasan, saya mencoba membuat tulisan ini, serta mencoba menulis sebuah syair dan lagu khusus untuk mengungkapkan rasa cinta saya kepada Buluhawar Simalem. Mejuah-juah Tuhan Yesus Si Masu-masu.

    Buluhawar Simalem
    Tuhu kitik kel kam jiné
    Arah kerina kuta i doni énda
    Tuhu-tuhu ménda seh kel lengetna
    O, Buluhawar kuta simalem

    Émaka ola aru aténdu
    Sebab kam si pilih Dibata
    Salu nuan palas pedah kataNa
    Man k’rina rakyat Karo Sirulo
    Man k’rina rakyat Karo Sirulo

    Pasarna licin erembang – erbatu-batu
    Mbentasi kerangen rimba raya
    Bagéme ndubé serana mekap perdalin
    Si mbaba Berita Si Meriah

    O, Buluhawar jé – m’ jadi pemena
    I tetapken Yesus Tuhan mbarken b’ritaNa
    Labo erkiteken kam ndubé si mbelina
    Tapi praten Dibata la kap terolangi
    Kai si ‘nggo jadikenNa em kap simehuli

    Mejuah-juah o, Buluhawar kuta simalem
    Mejuah-juah. Mejuah-juah Karo Sirulo
    Mejuah-juah Merga Silima
    Mejuah-juah kita kerina

    Lihat Partitur dibawah!
    Buluhawar Simalem: Partitur




    Comments
    5 Comments

    5 komentar:

    Mejuah-juah!