Mejuah-juah.     Selamat datang di blog sederhana kami: "Rudang Rakyat Sirulo".   Mejuah-juah. Kami minta maaf jika diwaktu dekat ini akan ada sedikit gangguan atau ketidak nyamanan pengunjung terhadap tampilan blog ini, sebab direncanakan dalam waktu dekat blog ini akan melakukan perbaikan. Terima kasih atas kunjungan anda.   Terus dukung dalam doa, untuk Taneh Karo Simalem yan kita cintai segera dipulihkan    Mejuah-juah.        RUDANG RAKYAT SIRULO COMUNITY menerima donasi dari pihak-pihak yang hendak/peduli dengan blog ini, yang ingin berinfestasi. Hal ini ditujukan untuk menghidupkan terus blog ini, serta meng-UPGRADEnya ke wensite berbayar demi kenyamanan pengunjung. Bagi anda yang tertarik silahkan hubungi e-mail: bastanta.meliala@gmail.com. Terima kasih.
Mejuah-juah.   Rudang Rakyat Sirulo Comunity, mengundang partisipasi dari pemcaba untuk mendukung eksistensi blog ini, dengan mengirimkan tulisan-tulisan yang berkaitan dengan Karo ke e-mail: bastanta.meliala@gmail.com    RRSC juga mengundang para pengunjung blog untuk ikut serta membangun jaringan RRSC dengan cara menyampaikan donasi untuk meng-UPGRADE blog ini ke versi berbayar, hal ini dianggap perlu untuk memberi kualitas konten dan kenyamanan pembaca.   Bagi anda yang tertarik untuk mendukung dan ikut serta membangun jaringan RRSC, anda dapat menyampaikan donasi anda ataupun berinfestasi di blog ini. Silahkan hubungi e-mail admin di BASTANTA.MELIALA@GMAIL.COM    Mejuah-juah.
    <--> MEJUAH-JUAH <-->

    Sabtu, 02 Juni 2012

    Sembiring Meliala


    Sembiring Melaiala adalah salah satu cabang(sub-) merga dari merga Sembiring. Sembiring Meliala(Milala/Maliala) masuk dalam kelompok Sembiring Si La Man Biang(Sembiring yang tidak memakan anjing/memantangkan anjing) dan juga masuk dalam kelompok Singombak(jika meninggal jasadnya dibakar dan abunya dihanyutkan).

    Dalam tradisi lisan Karo dikatakan, Sembiring Meliala ini berasal dari sebuah negeri di Selatan India yang bernama Malayalam dan nenek moyang mereka bernama Pagyth Malayalam(Pagit Meliala) yang memimpin ekspedisi mengemban misi penaklukan negeri-negeri di daratan Sumatera, yang diperkirakan masuk ke Sumatera dari dua jalur, yakni:
    1.      Teluk Haru
    Dipercaya kaum kesatria Meliala(Malayalam) ini masuk dari Teluk Aru/Haru(Langkat) dan berdiam disana hingga akhirnya membuka permukiman di Alé(Deli Tua) dan sebagian ke dataran Tinggi Karo(Sarinembah). Migrasi dari Teluk aru/Haru ke pedalaman Deli dan dataran tinggi ini diyakini karena terdesak oleh pedagang dan misi siar Islam, namun, diketahui juga di tahun 628 M, Aru/Haru(kerajaan Karo kuno) diserang oleh Sriwijaya di daerah pesisir, sehingga mengakibatkan ibu kota kerajaan berpindah ke Deli Tua dan banyak rakyat Aru lari ke pedalaman dan dataran tinggi yang dianggap lebih aman, dan di masa inilah diyakini munculnya istilah kalak jahé, kalak jahé-jahé, ataupun kalak dusun yang maksudnya adalah "orang dari hilir(orang Karo hilir) yang mengungsi ke pegunungan.  Dan diceritakan juga, beberapa keturunan di gugung(teruh deleng/pegunungan) turun gunung kembali(dimana sebelumnya telah mendirikan kerajaan Aru Sarinembah bersama dengan kaum yang ada di dataran tinggi) dan membuka perkebunan lada di daerah Deli serta bersatu dengan kaum yang tinggal di dataran rendah mendirikan Kerajaan Haru – Deli Tua dan beberapa kuta(kampung) di Karo Jahé(Dusun Deli/Deli–Serdang). Dan tokoh penting yang cukup dikenal dari Kerajaan Haru – Deli Tua ini, adalah Ratu Haru, Seh Ngenana beru Sembiring Meliala atau lebih dikenal dengan sebutan Putri Hijau.

    2.      Teluk Barus
    Jalur ke-dua ini sangat erat kaitannya dengan sejarah Zending Hindu di Sumatera bagian timur, utara, dan tengah, dimana setelah ditemukan situs batu bertulis di Labu Tua dekat bandar Barus oleh: G. J . J. Deuts pada tahun 1879 M. Setelah tulisan tersebut di tahun 1932 oleh Prof. Nilakantiasastri, guru besar dari Universitas Madras diterjemahkan, maka diketahuilah bahwa pada tahun 1080 M, di Lobu Tua tak jauh dari Sungai Singkil ada permukiman pedagang dari India Selatan. Mereka orang Tamil yang menjadi pedagang kapur barus yang menurut tafsiran  membawa pegawai dan penjaga-penjaga gudang kira-kira 1. 500 orang.  Mereka diyakini berasal dari negeri-negeri di Selatan India, seperti: Colay(Cōla), Pandya(Pandyth), Teykaman, Muoham, Malayalam, dan Kalingga (Orysa). Sekitar tahun 1128-1285 M karen terdesak oleh misi dagang dan siar Islam yang dilakukan serdadu dan pedagang dari Arab serta Turki(ada beberapa ahli  juga berpendapat, jikalau mere sebenarnya terdesak oleh sedadu Jawa, Minang, ataupun Aceh) maka kaum Tamil di Barus mengungsi ke pedalaman Alas dan Gayo(Kabupaten Aceh Tenggara,) dan kemudian mendirikan Kampung Renun. Ada juga yang menyingkir lewat Sungai Cinendang, lalu berbiak di pelosok Karo dan bergabung dengan kaum-kaum yang telah berbiak disana.

    Dalam kehidupan sehari-hari, Sembiring Meliala ini menjalin hubungan yang sangat dekat dengan Sembiring Pandebayang dan Sembiring Tekang. Dipercaya hubungan dekat ini telah terjalin saat masih di negeri asal nenek moyang mereka di India selatan. Diduga, ketiga sub-merga Sembiring ini adalah ersembuyak( er= ber; se = satu; mbuyak = rahim; sembuyak= saudara kandung/serahim), sehingga dalam beberapa keadaan tidak mengherankan jika mereka memakai nama sub-merga itu bersamaan dalam kehidupannya. Kedekatan ini juga tampak dari rurun(nama kecil/panggilan) mereka, dimana Sembiring Meliala untuk lelaki dipanggil dengan Jemput(di Sarinembah) atau Sukat(di Beras Tepu dan Munte), sedang untuk anak yang perempuan dipanggil dengan, Tekang! Sementara rurun Sembiring Tekang adalah Jambé untuk laki-laki dan Gadong bagi yang perempuan.

    Dalam hal menjalin kekerabatan, salah satunya melalui proses pernikahan; kelompok Sembiring Singombak(juga Meliala) ini menganut sistem pernikahan Eksogami(mengharuskan menikah dengan orang diluar merga-nya) dan sistem Eleutherogami(tidak ada larangan tertentu, kecuali sedarah ataupun ada suatu kesepakatan/perjanjian). Namun, untuk saat sekarang ini dibeberapa wilayah pernikahan se-merga(sibuaten) ini telah dilarang oleh penatua-penatua setempat dan tokoh adat.

    Berikut beberapa kuta yang didirikan serta didiami dan menjadi kuta kemulihen(kampung halaman/kampung adat) kelompok Sembiring Meliala ini baik di dataran tinggi Karo maupun di Karo Jahé(Dusun Deli/Deli–Serdang), di gugung: Sarinembah(kesebayaken/kerajaan), Raja Berneh, Kidupen, Munté, Naman, Beras Tepu, Biaknampé, Jaberneh; di dusun: Deli Tua(kerajaan), Buluh Gading,  Si Pitu Kuta(Kuala Uruk, Kuala Cawi, Kuala Paya, Kuala Tebing, Kuala Sabah, Terumbu, dan Tembengen), dll. Sedangkan untuk Sembiring Tekang: Kaban dan Lingga(mungkin disinilah terjadinya perjanjian dan pengangkatan saudara antara Tékang dan Sinulingga, sehingga antara mereka tidak bisa saling sibuaten(menikahi)); untuk Sembiring Pandébayang: Buluh Naman dan Guru Singa.


    Comments
    1 Comments

    1 komentar:

    1. kita kalak sembiring meliala haruuus M A J U...

      BalasHapus

    Mejuah-juah!