Mejuah-juah.     Selamat datang di blog sederhana kami: "Rudang Rakyat Sirulo".   Mejuah-juah. Kami minta maaf jika diwaktu dekat ini akan ada sedikit gangguan atau ketidak nyamanan pengunjung terhadap tampilan blog ini, sebab direncanakan dalam waktu dekat blog ini akan melakukan perbaikan. Terima kasih atas kunjungan anda.   Terus dukung dalam doa, untuk Taneh Karo Simalem yan kita cintai segera dipulihkan    Mejuah-juah.        RUDANG RAKYAT SIRULO COMUNITY menerima donasi dari pihak-pihak yang hendak/peduli dengan blog ini, yang ingin berinfestasi. Hal ini ditujukan untuk menghidupkan terus blog ini, serta meng-UPGRADEnya ke wensite berbayar demi kenyamanan pengunjung. Bagi anda yang tertarik silahkan hubungi e-mail: bastanta.meliala@gmail.com. Terima kasih.
Mejuah-juah.   Rudang Rakyat Sirulo Comunity, mengundang partisipasi dari pemcaba untuk mendukung eksistensi blog ini, dengan mengirimkan tulisan-tulisan yang berkaitan dengan Karo ke e-mail: bastanta.meliala@gmail.com    RRSC juga mengundang para pengunjung blog untuk ikut serta membangun jaringan RRSC dengan cara menyampaikan donasi untuk meng-UPGRADE blog ini ke versi berbayar, hal ini dianggap perlu untuk memberi kualitas konten dan kenyamanan pembaca.   Bagi anda yang tertarik untuk mendukung dan ikut serta membangun jaringan RRSC, anda dapat menyampaikan donasi anda ataupun berinfestasi di blog ini. Silahkan hubungi e-mail admin di BASTANTA.MELIALA@GMAIL.COM    Mejuah-juah.
    <--> MEJUAH-JUAH <-->

    Senin, 21 Mei 2012

    Pemena dan Senata Dharma tali penghubung sejarah Karo-India.

    Pemena merupakan aliran kepercayaan yang ada pada masyarakat tradisional  Karo, ataupun bisa juga disebut agama asli dari masyarakat Karo. Pemena, merupakan kepercayaan yang menganut sistem politheisme dan dinanisme. Dikatakan politheisme, karena dalam ajaran dasar pemena, perwujudan Dibata(Tuhan) digambarkan dalam tiga wujud, yaitu:
    1.      Dibata Datas(Kaci-kaci)
    2.      Dibata Tengah(Banua Koling), dan
    3.      Dibata Teruh(Paduka Ni Aji)

               Sama halnya dengan apa yang kita temukan dalam ajaran Hindu(Senata Dharma) yang meyakini penjelmaan Dibata(Tuhan) juga dalam tiga wujud, yakni:

    1.       Brahmana(Pencipta Alam)
    2.      Waisya(Pemelihara Alam), dan
    3.       Syiwa(Perusak Alam)

    Dan, juga dikatakan kalau dalam kepercayaan Pemena, Dibata Simada Kuasa(Tuhan Yang Maha Esa); Sinepa Langit ras Doni(Khalik Semesta Alam) memiliki tiga orang anak yang dapat kita dikenal berdasarkan tempat kekuasaanya(kendalinya), dimana ketiga anak Dibata itu, yakni: datas(atas) yang dilambangkan dengan pagé(padi: buahnya diatas), tengah(tengah) dilambangkan dengan jong/jaung(jagung: buahnya ditengah), dan teruh(bawah) yang dilambangan dengan gadong(ubi: buahnya dibawah). lihat disini <= serta bégu-bégu(roh-roh, mungkin yang dimaksud dewa-dewa) lainnya, dan yang paling dekat dengan kehidupan masyarakat tradisional Karo adalah bégu jabu(roh nenek moyang/keluarga).

    Dalam perakteknya dimasa sekarang ini, berkaitan halnya dengan agama yang diakui oleh negara, kepercayaan pemena dimasukkan dalam kelompok Hindu. Hal ini  bukan hanya dikarenakan kepercayaan pemena tersebut adalah suatu kepercayaan tradisional yang melakukan ritual penyembahan kepada dewa-dewa yang mirip dengan kepercayaan Hindu, namun, ini memiliki faktor historis yang telah berlangsung lama, juga berkaitan dengan geneologis.

     Diyakini, Hindu sudah masuk ke Karo(Aru/Haru) di awal-awal tahun Masehi(dan dipercaya aksara Palawa mulai diperkenalkan. Lihat Tulisen Karo<=) dan mereka merupakan penganut dari ajaran Senata Dharma. Hal ini didukung dengan ditemukannya sebuah inskripsi pada batu bertulis di Lobu Tua, dekat Barus (pantai barat Sumatera bagian Utara), yang ditemukan oleh G.J.J. Deuts pada tahun 1879. Tulisan tersebut di tahun 1932 oleh Prof. Nilakantiasastri, guru besar dari Universitas Madras diterjemahkan. Maka, diketahuilah bahwa pada tahun 1080, di Lobu Tua tak jauh dari Sungai Singkil ada permukiman pedagang dari India Selatan. Mereka orang Tamil yang menjadi pedagang kapur barus yang menurut tafsiran  membawa pegawai dan penjaga-penjaga gudang kira-kira 1. 500 orang.  Mereka diyakini berasal dari negeri-negeri di Selatan India, seperti: Colay(Cōla), Pandya(Pandyth), Teykaman, Muoham, Malaylam, dan Kalingga (Orysa). Sekitar tahun 1128-1285 karen terdesak oleh misi dagang dan siar Islam yang dilakukan prajurit dan pedagang dari Arab serta Turki(ada beberapa ahli  juga berpendapat, jikalau mere sebenarnya terdesak oleh sedadu Jawa, Minang, ataupun Aceh) maka kaum Tamil di Barus mengungsi ke pedalaman Alas dan Gayo di (Kabupaten Aceh Tenggara,) dan kemudian mendirikan Kampung Renun. Ada juga yang menyingkir lewat Sungai Cinendang, lalu berbiak di pelosok Karo kemudian berbaur dengan Proto Karo(Karo Tua).
    Maka, kita dapat berasumsi bahwa Bangsa Tamil-lah yang sudah berbiak dan ber-merga di Karo itulah menjadi motor penggerak dari kepercayaan Pemena dikemudian hari dan bukan tidak mungkin Pemena di Karo sama dengan Senata Dharma yang pernah berkembang di Selatan India, karena jika ditinjau dari segi bahasa, "Pemena = pertama, awal, dasar. bandingkan dengan ''Senata Dharma yang juga berarti kepercayaan(agama) pertama. Jadi, dari segi  kata mungkin kita sepakat, bukan? Selain itu, tidak jarang dalam mangmang/tabas(mantra/doa) Karo banyak ditemukan bahasa-bahasa asing, terutama yang diambil dari bahasa Arab  dan Sansekerta. Dialek cakap(bahasa) Karo sendiri, sangatlah memiliki kemiripan dengan dialek-dialek masyarakat di Selatan India, khususnya untuk dialek Karo Gugung(gunung, dataran tinggi). Namun, tidak cukup ditinjau dari segi bahasa saja! Ada beberapa tradisi pemena yang sama dengan Senata Dharma ataupun masyarakat di Selatan India, diantaranya: upacara Pakuwaluh(membakar dan menghanyutkan abu jenazah) yang dilakukan di Lau Biang(Lau: sungai, biang: anjing) dengan dimasukkan dalam sebuah guci diatas perahu dengan panjang sampan sekitar satu meter. Mengapa dilakukan di Lau Biang? Dalam tafsiran masyarakat dahulu, Lau Biang yang perpanjanganya adalah Sungai Wampu di Langkat mengalir ke Selat Malaka, dan dari sana dengan tuntunan roh-roh(dewa/i) akan mengalir ke Samudra Hindia dan selanjutnya akan sampai di Sungai Gangga di India. Bukan itu saja! Banyak tradisi di Karo yang sama dengan kebiasaan masyarakat di Selatan India, antara lain: masyarakat Karo dahulu selalu melakukan doa di malam bulan purnama serta menyanyikan mangmang/tabas(mantra/doa) dengan cara ngerengget seperti para pendeta Hindu melantunkan mantra; mbesur-besuri, nengget, mbaba anak ku lau, erpangir, ergunting, erkiker(memotong gigi lalu menghitaminya), teraka(seni merajah diri, khususnya bagi anak-anak dan kaum wanita), dll. Dan, dahulu wanita-wanita di Karo juga suka membuat titik merah dikeningnya seperti halnya yang dilakukan wanita-wanita di India(sekarang juga bagi pemeluk kepercayaan pemena).

                 Dalam hal seni, beberapa tafsiran juga muncul, diantaranya rengget Karo yang hampir sama dengan cara orang India untuk melantuntak mantra, suara sarune yang tinggi di Karo yang endekna(cara permainannya) sama seperti teknik vokal wanita di India, dan mempu mengambarkan motif vokal wanita India, serta beberapa perkusi Karo yang serupa dengan yang ada di India. Dan, secara geneologis, hubungan Karo - India ini mendapat konfirmasi dari turi-turin(cerita lisan asal-usul) dari beberapa sub-merga Sembiring, seperti: Sembiring Meliala, Pandia, Brahmana, Colia, Muham, Keling, dll.

               Dikemudian hari, hubungan Karo dengan daratan India terputus. Hal ini mengingat jarak antara Sumatera dengan daratan India yang jauh, ditambah lagi dengan gencarnya ekspedisi-ekspedisi yang dilakukan oleh pedagang Islam baik dari Arab maupun Turki yang mendapat dukungan penuh dari penguasa-penguasa(Sultan) di pesisir pantai Sumatera. Namun, di abad ke-16(?), hubungan kembali terjalin, hal ini ditunjukkan dengan kedatangan seorang resi Magidan yang adalah seorang Brahmana yang menemui bekas muridnya di India yang seorang dari kaum kesatria Meliala(lihat Silsilah Berahmana) di Tanah Karo yang kemudian menetab di Telun Kaban. Atas bantuan muridnya dan penguasa setempat yang juga menjadi kalimbubu-nya setelah menikahi putri sibayak tersebut, Magidan kemudian mengembangkan Maharesi Brgu Sekte Ciwi(salah satu ajaran Hindu) di Tanah Karo. Dan setelah itu sepertinya hubungan Karo – India kembali terputus hal ini mungkin karena mereka(Kaum Pemena) kembali mulai tersisihkan oleh gencarnya Missi Injil Kristen dan Siar Islam di Tanah Karo setelah kedatangan VOC di wilayah-wilayah Karo. Hingga di tahun 1950-n saat dimana lembaga-lembaga keagamaan di Indonesi gencar menjaring jemaat, barulah Tanah Karo mendapat perhatian kembali oleh kelemnbagaan Hindu hingga di tahun 1977 terbentuklan Prisadha Hindu Dharma di  Kabupaten Tanah Karo.
                  Itulah secuil cerita hubungan antara Karo dan India yang akan tetap abadi selama  para keturunan yang telah ber-merga itu meyakini tadisinya turi-turin asal-suaulnya dan kepercayaan Pemena(Hindu) masih bertumbuh di Tanah Karo. Bujur ras mejuah-juah kita kerina.


    Comments
    4 Comments

    4 komentar:

    1. jadi bang di tanah karo sendiri masih ada gak masyarakatnya yang melakukan ritual2 pemena dan mengaku bahwa dia itu pemena (gak mau di masukan dalam agama2 yang di akui neagara)?

      BalasHapus

    Mejuah-juah!