Mejuah-juah.     Selamat datang di blog sederhana kami: "Rudang Rakyat Sirulo".   Mejuah-juah. Kami minta maaf jika diwaktu dekat ini akan ada sedikit gangguan atau ketidak nyamanan pengunjung terhadap tampilan blog ini, sebab direncanakan dalam waktu dekat blog ini akan melakukan perbaikan. Terima kasih atas kunjungan anda.   Terus dukung dalam doa, untuk Taneh Karo Simalem yan kita cintai segera dipulihkan    Mejuah-juah.        RUDANG RAKYAT SIRULO COMUNITY menerima donasi dari pihak-pihak yang hendak/peduli dengan blog ini, yang ingin berinfestasi. Hal ini ditujukan untuk menghidupkan terus blog ini, serta meng-UPGRADEnya ke wensite berbayar demi kenyamanan pengunjung. Bagi anda yang tertarik silahkan hubungi e-mail: bastanta.meliala@gmail.com. Terima kasih.
Mejuah-juah.   Rudang Rakyat Sirulo Comunity, mengundang partisipasi dari pemcaba untuk mendukung eksistensi blog ini, dengan mengirimkan tulisan-tulisan yang berkaitan dengan Karo ke e-mail: bastanta.meliala@gmail.com    RRSC juga mengundang para pengunjung blog untuk ikut serta membangun jaringan RRSC dengan cara menyampaikan donasi untuk meng-UPGRADE blog ini ke versi berbayar, hal ini dianggap perlu untuk memberi kualitas konten dan kenyamanan pembaca.   Bagi anda yang tertarik untuk mendukung dan ikut serta membangun jaringan RRSC, anda dapat menyampaikan donasi anda ataupun berinfestasi di blog ini. Silahkan hubungi e-mail admin di BASTANTA.MELIALA@GMAIL.COM    Mejuah-juah.
    <--> MEJUAH-JUAH <-->

    Selasa, 12 Februari 2013

    Lagu perjuangan masyarakat Karo


    Totalitas perjuangan Karo yang tergambar dalam syair dan lagu

    Dari Medan are ke Karo area ”. Pada pos kali ini, saya ingin membagikan beberapa syair/lagu yang menceritakan perjuangan masyarakat  Karo dalam melawan penjajahan serta mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Berikut syair/lagu perjuangan Karo!

    1. Erkata Bedil
    Erkata Bedil adala salah satu lagu perjuangan Karo(dalam cakap/bahasa Karo), karya komponis nusantara Djaga Sembring Depari(Djaga Depari) asal Desa Seberaya, Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Jika kita terjemahkan kedalam bahasa Indonesia, Erkata Bedil mengandung artian “bunyi/dentuman senjata”. Erkata Bedil i kuta Medan(dentuman/bunyi senjata di kota Medan)adalah kalimat pembuka dari syair lagu ini serta di baris kedua dilanjutkan dengan kalimat Ngataken kami maju ngelawan(sebagai pertanda(panggilan) bagi kami untuk maju melawan). Itulah dua baris kalimat pada bait pembuka(pertama) dari lagu karya Djaga Depari ini. Medan merupakan kota yang didirikan oleh seorang putra Karo bernama Guru Patimpus Sembiring Pelawi asal Ajijahe(dataran tinggi Karo) yang didiami penduduk asli dari suku Karo, Melayu, dan Simalungun, sehingga masuk dalam walayah Taneh Karo Simalem, ataupun merupakan salah satu wilayah adat suku Karo. Berkobarnya peperangan di kota Medan menjadi rasa tanggung jawab bagi pemuda/i Karo dari wilayah-wilayah Taneh Karo lainnya untuk membantu saudara-saudaranya yang di kota Medan. Perang di Medan adalah perang bagi seluruh wilayah dan masyarakat Karo, maka sering dikatakan “dari Medan area menuju Karo area” ini menunjukkan bahwa Medan adalah salah satu benteng terdepan yang sangat penting bagi dataran tinggi Karo dan dataran tinggi Karo juga merupakan kekuatan utama dari Dusun(Karo Jahe: Deli – Serdang/Medan), atau bisa dikatakan gudang laskar Simbisa(Simbisa sebutan bagi laskat/pasukan Karo). Jika basis pertahanan Medan telah takluk maka pastilah serangan akan ditujukan ke dataran tinggi Karo, dan begitu juga sebaliknya. Karena, Medan dan dataran tinggi Karo merupakan satu jaringan kekuatan perjuangan masyarakat Karo yang terus terhubung dan tak terpisahkan. Hal ini juga tergambar dalam Perang Sunggal yang tercatat sebagai perang telama yang pernah berlangsung di nusantara, dimana saat Datuk Sunggal Karo-karo Surbakti penguasa Urung Serbanyaman berperang melawan serdadu Belanda yang dibantu oleh Sultan Deli, masyarakat Karo dari wilayah Taneh Karo lainnya khususnya dari gugung(gunung/dataran Tinggi Karo) tidak bisa berdiam diri saja, maka pasukan Simbisa Taneh Karo pimpinan Nabung Surbakti yang mendapat persenjataan dari perdagangan dengan Portugis dan Turki melalui Aceh dan senjata tradisional Karo berupa tumbak/lambing(tombak/lembing), tumbuk lada(keris khas Karo), leltep(sumpit beracun), dll berbondong-bondong turun gunung membantu pasukan Datuk Sunggal melawan penjajah.
               
    Itulah sekilas gambaran totalitas masyarakat Karo dalam hal berperang dalam rangka mempertahankan harga diri dan kedaulatan Taneh Karo Simalem dan dalam perang kemerdekaan Indonesia. Berikut syair dari lagu Erkata Bedil.

    Erkata bedil i kuta Medan turang la megogo
    Ngataken kami maju ngelawan ari oh, turang
    Tading ijenda si turang besan turang la megogo
    Rajin kujuma si muat nakan ari o, turang

    O, turang la megogo ( kai aku nindu turang )
    Uga sibahan arihta?
    Arih-arihta tetap ersada ari o, turang

    Adina lawes kena ku medan perang turang la megogo
    Petetap ukur ola melantar ari o, turang
    Adina ue nina pagi pengindo turang la megogo
    Sampang nge pagi simalem ukur ari o, turang

    Oh, turang la megogo (kai nindu ari turang)
    Uga sibaha arih-arihta
    Arih-arihta tetap ersada ari o, turang

    Adina sudu tangkena lenga turang la megogo
    Pasarna licin bentengna wajan ari o, turang
    Adina tuhu atendu ngena turang la megogo
    Tantangi cincin man tanda mata ari o, turang

    [ O, turang la megogo ( kai aku nindu turang )
    Uga sibahan arih ta arih-arihta tetap ersada ari o turang ] 2x

     
    Lagu erkata bedil di youtube.


    2.  Sora Mido
    Sora Mido(Suara Kesedihan), merupakan ungkapan kesedihan ataupu ratapan karena peperangan yang menimbulkan banyak korban harta, benda, dan jiwa. Lagu ini menggambarkan totalitas masyarakat Karo dalam berperang mempertahankan harga diri dan wilayahnya, dimana sejarah mencatat bahwa hampir seluruh wilayah Taneh Karo Simalem dibumi-hanguskan agar serdadu Belanda tidak dapat mempergunakan fasilitas apapun untuk menunjang administrasi dan pertahanannya di Taneh Karo(Dalan catatan sejarah Drs. Teridah Bangun, pada agresi Belanda I tahun 1947 banyak kuta (kampung) yag dibumi-hanguskan supaya tidak dapat dipergunakan oleh penjajah. Terdapat 53 kuta yang dibumihanguskan di Tanah Karo, yakni: 1. Jumaraja (Cintarayat); 2. Keling; 3. Payung; 4. Berastepu; 5. Batukarang; 6. Sarinembah; 7. Perbesi; 8. Kuala; 9. Kutabangun; 10. Pergendangen; 11. Keriahen; 12. Singgamanik; 13. Kinepen; 14. Munthe; 15. Suka; 16. Rumah Kabanjahe; 17. Kota Kabanjahe; 18. Berastagi; 19. Kacaribu; 20. Kandibata; 21. Lau Baleng; 22. Susuk; 23. Tiganderket. 24. Kuta Buluh; 25. Tanjung; 26. Gurukinayan; 27. Selandi 28. Kidupen; 29. Gunungmanukpa; 30. Toraja; 31. Silakkar; 32. Rajatengah; 33. Tigabinanga; 34. Ajinembah; 35. Tiga Panah; 36. Barus Jahe; 37. Tigajumpa; 38. Merek; 39. Tengging; 40. Garingging; 41. Ergaji; 42. Barung Kersap; 43. Tanjung Beringin; 44. Naman; 45. Sukadebi; 46. Kutatengah; 47. Sigarang-garang; 48. Ndeskati; 49. Gamber; 50. Gruhguh; 51. Sukajulu; 52. Kuta Lepar; dan 53. Mbang Sibabi. Kemudian rakyat Karo mengungsi ke Tanah Pakpak Dairi dan Tanah Alas di Aceh. Setelah perjanjian Renville Januari 1948 baru mereka kembali ke kampungnya masing-masing.  Lagu dengan melodi yang liris dan syahdu yang sangat tergambar kesedihan dan kepiluan didalamnya, ditambah penjelasan dari syairnya yang menggambarkan kekejaman peperangan, sehingga dibait-bait akhirnya ada terselip himbauan bagi para sinatang layar-layar(pemegang bendera, maksudnya: bendera lambang negara yang berdaulat, sehingga sinatang layar-layar merujuk kepada orang-orang yang memegang kedaulatan atau sederhananya pemerintah yang berkuasa) jangan melupakan kegetiran masa perang dan agar menghormati jasa-jasa pejuang dan keluarganya yang telah berkorban, sehingga kelak tidak adalagi peperangan dan generasi berikutnya mampu menghargai jasa perjuangan bangsanya dan membawa bangsa Indonesia ini ke perubahan yang terus semakin baik. Berikut syair dari lagu Sora Mido. Berikut syair dari lagu Sora Mido.


    Sora Mido
    Terbegi sora bulung-bulung erdeso
    I babo makam pahlawan silino
    Bangunna serko medodo
    Cawir cere sorana mido-idom
    Cawir cere sorana mido-idom

    Terawih dipul meseng kutanta ndube
    Iluh silumang ras simbalu-mbalu erdire-dire
    Sora ndehereng erperenge-renge ate
    Kinata ngayak-ngayak medeka ndube
    Kinata ngayak merdeka ndebe

    Emakana tangarlah si’ncikep layar-layar
    Ola kam merangap, turang dingen ola kena erjagar-jagar
    Kesah ras dareh kel ndube tukurna merdekanta enda
    Ola lasamken pengorbanen bangsanta
    Ola lasamken kahulna bangsanta

    Enggo kap megara lau lawit ban dareh simbisanta
    Enggo megersing lau paya-paya ban iluh tangista
    Enggo kap gelap langit perbahan cimber meseng kutanta ndube
    Kinata ngayak-ngayak medeka kita
    Kinata ngayak-ngayak merdeka kita

    Tegu min dage temanta si’nggo cempang
    Didong doahken anak sitading melumang
    Keleng ras dame ateta sada karang
    Em pertangisen kalak lawes erjuang
    Em pertangisen kalak lawes erjuang

    Tebegi sora bulung-bulung erdeso
    Cawir cere sorana mido-idom
    Cawir cere sorana mido-idom


    Sora Mido : Juliana Br. Tarigan & Alasen Barus

    Sora Mido : Ramlah Br. Sitepu



    3.  I juma I padang sambo
                 Kata Padang Sambo dalah tradisi Karo sering dipakai untuk menunjukkan sebuah lokasi/tempat kegiatan untuk mencari nafkah, bisa berupa laut(nelayan), juma-juam(ladang: petani), tiga/pajak(pasar: pedagang), dlsb.

                Adapun lagu I juma-juma I padang sambo ini menceritakan kegetiran dimasa perang, dimana beru Indonesia(putri Indonesia) bukan saja ikut serta secara langsung ke medan perang apakah sebagai tenaga medis, logistik, ataupun ikut serta mengangkat senjata, akan tetapi ada hal yang tak kalah penting, dima kaum wanita ini juga bertanggung jawab dalam membesarkan, merawat, serta memenuhi segala kebutuhan keluarga saat suaminya ataupun ayahnya pergi ke medan perang.  Berikut syair dari lagu I juma-juma I padang sambo, karya: Djaga Depari.

    Seh kel bergehna bage I tengah juma
    Rikut udanna pe gembura
    Wari si ben pe bage ‘nggo ndabuh ku gelapna
    I juma-juma I padang sambo
    Doah-doah kudidong o, turang la megogo
    E(i) karaben I padang sambo

    Ola kel tangis, turang gelah kena mehuli
    Nde lenga gia bapanta mulih
    Ibas tugasna nari si la erlatih-latih
    Engkawali rakyat si la erpilih
    Doah-doah kudidong o, turang la megogo
    E(i) karaben i padang sambo

    Tangiska turang singuda ari
    Terbapa-bapa la erngadi-ngadi
    Mejuah-juah gelah bapata agi
    Mulih me pagi mbaba berita simehuli

    I juma-juma I padang sambo
    Doah kudidong o, turang la mego-go


     
    I juma-juma i padang sambo : Juliana Br. Tarigan

     
     Melinta B. Br. Sembiring

    Mejuah-juah Indonesia Simalem.


    Comments
    1 Comments

    1 komentar:

    Mejuah-juah!