Mejuah-juah.   Rudang Rakyat Sirulo Comunity    Mejuah-juah.
    <--> MEJUAH-JUAH <-->

    Thursday, May 31, 2012

    Murbab Karo


    "Murbab" alat musik Karo ber-dawai. Sumber: Google Search.
    "Murbab" adalah salah satu instrumen(alat) musik tradisional Karo, yang adalah merupakan alat musik  dalam kategori instrumen ber-dawai. Murbab merupakan satu-satunya alat musik tradisional Karo yang dimainkan dengan cara menggesek. Dan dulunya, murbab ini dipermainkan secara solo(tunggal) ataupun juga ansambel dalam posisi sebagai melodi.  

    Dimasa kolonial hingga zaman kemerdekaan, alat musik murbab ini sering digunakan dalam kelompok-kelompok ronggeng Karo-Melayu di kawasan Karo Jahé(Dusun Deli/Deli-Serdang), namun seiring dengan perkembangan zaman dan gemerlap dunia hiburan yang notabene-nya menawarkan warna-warna baru dalam dunia musik nusantara, maka perlahan instrumen musik tradisional ditinggalkan begitu juga dengan murbab ini, dan bahkan bisa dikatakan telah punah.

    Saya sedikit beruntung karena pernah melihat dan mendengarkan murbab ini secara langsung, dimana Nini Bulang(kakek) saya yang merupakan seorang guru dan pemimpin salah satu kelompok ronggeng Karo-Melayu(Sada Perarih - Senembah) di kawasan Urung Senembah, dulunya sering memainkan alat ini hingga akhirnya diganti dengan violin(biola); dan bahkan grup ronggeng yang dimotorinya juga bubar dan hal ini tentunya juga turut serta dalam proses punahnya beberapa alat musik tradisional Karo-Melayu Deli khususnya murbab ini.   

    Saturday, May 26, 2012

    Pentingnya Membagun Logika Berfikir dalam Menyingkap Fakta Sejarah


    Pilu rasanya mendengar seorang pahlawan yang dengan gigih dan berani memperjuangkan bangsanya namun dikemudian hari di-cap sebagai seorang penghianat oleh generasi penerusnya yang sebelum itu diperjuangkan nasibnya. Itulah yang dialami oleh beberapa pejuang di negeri ini, sebuat saja Presiden Pertama RI,  Ir. Soekarno yang sempat namanya tercemar(dicemarkan) dimasa Orde Baru, tetapi syukurlah sekarang sudah di-rehabilitasi(dibersihkan) kembali. Bukan itu saja, banyak pejuang-pejuang di repoblik ini yang bukan hanya tidak memperoleh haknya sebagai seorang pejuang(pahlawan), akan tetapi malah di-cap penghianat. Ulung Sitepu (Pa Timur), adalah salah seorang yang pernah memimpin Sumatera Utara, tepatnya Gubernur ke-delapan Sumut (15 Juli 1963 – 16 November 1965) dengan wakilnya saat itu P. R. Talaumbanua (16 November 1965 – 31 Maret 1967) yang dikemudian hari diangkat menggantikannya. Beliau yang memulai karirnya dari dunia militer hingga puncak karirnya sampai pada posisi Gubernur Sumatera Utara dengan pangkat terakhir di militer Brigadir Jenderal(Brigjen), hingga meletusnya G30 S/PKI yang membuatnya jatuh dan harus menelan pil pahit sebagai tawanan politik tanpa proses peradilan dan tuduhan yang tidak jelas dan tidak seorangpun hingga saat ini di dunia ini dapat membuktikannya hingga ajal menjempunya di dalam penjara.
    Sejak kecil, Nini Bulang(kakek) saya selalu menceritakan kisah-kisah keberanian para pejuang kepada saya, dan menceritakan sosok-sosok pejuang itu dari banyak sudut-pandang. Saya sadar hal ini beliau lakukan agar logika berfikir saya terbangun dan tidak hanya menerima opini-opini publik yang digiring oleh sebuah kepentingan untuk menjatuhkan ataupun memuliakan seorang tokoh atau kaum(kelompok). Dan, hal ini jugalah yang kemudian hari mempengaruhi pola pikir saya tentang memandang atau menilai suatu hal dengan lebih teliti dan tidak terburu-buru menerima begitu saja.
    Kaitannya dengan problematika etnisitas di Sumatera bagian tengah dan utara, ini merupakan ruang-ruang etnisitas yang sangat rumit untuk menentukan batas-batas dari kegiata etnisitas masa lampau, atau para ahli sering menyebutnya ruang-ruang jejaringan yang hilang! Jeraringan yang hilang menurut hemat saya dalam artian akibat dari kuatnya opini publik yang mendukung satu teori yang dianggap mutlak walau dalam sisi logika, tradisi(cerita rakyat dan mistis), serta fakta tidaklah kuat atau bahkan jauh dari kenyataan. Opini yang digiring oleh banyak kepentingan ini yang pada akhirnya merupakan potensi terbesar dalam pengkaburan suatu kejadian bahkan hingga ke identitas.
    Dan, mungkin dalam hal ini, isu yang paling krusial tentang identitas etnisitas di Sumatera bagian utara dan tengah, adalah tentang mempertanyakan posisi Karo didalam rumpun Batak, atau para patriot pejuang identitas ini dengan gamblang mengatakan “Karo Bukan Batak!”. Menyikapi hal ini, hendaknya kita jangan bersikap pragmatis ataupun menerima begitu saja segala vonis yang diberikan kepada sekelompok etnis itu dengan mudahnya, karena itu sungguh-sunguh sangat kejam dan menyakitkan. Itulah sebab maka saya mengatakan “pentingnya membangun logika berfikir dalam menyingkap fakta sejarah”. Namu, cukupkah hanya logika? Ya, tentu tidak! Untuk mencapai sebuah kebenaran yang ril, kita harus memperhitungkan juga beberapa aspek yang terangkum dalam dimensi ruang dan waktu, yang meliputi: logika, tradisi(cerita rakyat dan mitologi), gentik(sifat baik yang tampak atau tidak), geografis, ekonomo, dan teritorial.
    Kembali kepada apa yang dilakukan oleh pejuang identitas ini(Karo Bukan Batak), mungkin saya tidak usah lagi membuka satu-per satu secara konkrit tentang apa yang yang ingin saya kemukakan, karena pada dasarnya saya bukanlah seorang yang suka menggiring opini publik demi mencapai tujuan tertentu dan karena hal ini sudah menjadi suatu cerita umun di masyarakat, namun ntinya, saya ingin menekankan “pentingnya membangun logika berfikir dalam menyingkap fakta sejarah!”.
    Tetapi, berikut ini saya ingin membagikan beberapa kata kunci yang mungkin dapat menjadi bahan pertimbangan pembaca, seperti:
    ·         Antara Haru (Karo kuno), Majapahit,  Sriwijaya, Padang Lawas, Pane dengan kisah Si Raja Batak.
    ·         Tradisi Merga Silima(merga Karo) beserta cabang(sub-)merga dengan Silsilah Terombo Marga Batak, Sejarah Suku Bangsa Mandailing, Sejarah suku bangsa Simalungun, serta legenda Danau Toba dalam versi Karo, Toba, dan etnis lainnya.
    ·         Sejarah Zending Hindu di Sumatera khususnya di bagian utara dan tengah
    ·         Cakap(bahasa) Karo dengan bahasa Toba(atau batak lainnya), benarkah hanya dialek saja yang berbeda?
    ·         Antara agama Pemena dan Parmalin
    ·         Warna nasional Karo dan Batak serta kebiasaan dan peralatan hidup lainnya.
    ·         Zending Kristen (RMG dan NZG)
    ·         Pandangan ahli-ahli antropologi, etimologi, sastra, agama, dan budaya tentang satuan Batak.
    ·         Asal mula kata Batak!
    ·         Pandangan seorang Karo Sirulo (Karo Murni) tentang dirinya dan kaumnya 

     dll...
                Beberapa kata kunci diatas dapat Anda pertimbangkan, dan sengaja saya tidak mengulasnya agar Anda-lah yang mencari dan membangun opini sendiri, buka atas pemikiran atau pendapat saya. Hehehe… Namun, saya berharap Anda membuka hati, pikiran, naluri, dan logika berfikir dengan memperhitungkan dimensi ruang dan waktu yang melingkupi: logika, tradisi, dan fakta! Trimakasih dan semoga berhasil. ;-)


    Friday, May 25, 2012

    Legenda Danau Toba dan Tarigan Mergana (Si Raja Umang)

    Danau Toba tampak dalam peta
    Danau Toba tanpak dalam peta.


    Danau Toba(Lake Toba) adalah danau  terbesar di Indonesia, Asia Tenggara, bahkan di Asia yang terletak di Provinsi Sumatera Utara, berjarak sekitar 176 km dari Kota Medan, dan dengan Pulau Samosir ditengahnya dengan luas sekitar 167 km2  dan merupakan objek wisata andalan dari provinsi tersebut. Adapun luas keseluruhan Danau Toba diperkirakan sekitar 3.000 km2 yang sebagian besar terletak di Kabupaten Simalungun, Kabupaten Toba Samosir, Humbang Hasudutan, dan Kabupaten Karo. Danau ini sendiri terletak pada garis lintang dan garis bujur antara 98030’ BT; 3005’ LS serta 99020’ BT; 2040 LS dengan ketinggian 904 meter di atas permukaan laut(dpl), serta kedalaman maksimal danau mencapai 505 meter.

    Berikut legenda-legenda yang terkait dengan Danau Toba yang pastinya menambah keunikan dari danau yang dipercaya merupakan hasil letusan vulkanik yang diperkirakan terjadi sekitar 75.000 tahun lampau.

    Legenda Danau Toba

    Disebuah deleng api (gunung api) di Selatan Taneh Karo, berdiamlah sekelompok masyarakat yang terisolasi dengan dunia luar, dimana mereka hidup dengan cara berburu dan tinggal di gua-gua yang banyak ditemui di kaki gunung. Oleh masyarakat lainnya kaum ini disebut dengan bangsa umang(dalam cakap Karo: umang dipakai untuk menunjuk orang-orang diluar mereka yang masih primitive, pemakan kerang dan daging mentah, dan tiggal di gua-gua) ataupun Tarigan Umang(umang Tarigan).

    Mejuah-juah Danau Toba
    Danau Toba tampak dari Kabupaten Karo
    Suatu ketika istri Si Tarigan(Si Raja Umang) yang kala itu sedang mengandung mengalami pendarahan yang sangat banyak sekali saat hendak melahirkan anaknya. Karena merasa sangat kesakitan sekali saat proses persalinan, maka tak pelak teriakan demi teriakan yang keras keluar dari mulut kemberahen(ratu, istri) Si Raja Umang yang membuat gunung api bergetar. Terus dan terus teriakan itu terdengar semakin lama semakin kerasnya hingga getaran(gempa bumi) dasyat pun terjadi yang mengakibatkan meletusnya gunung api dan membentuk sebuah lembah berbentuk kuali. Pendarahan yang sangat, tak henti-henti juga sejalan dengan teriakannya yang makin lama makin keras karena tidak sanggup menahan kesakitan, dimana darah yang keluar banyak itu mengalir mengisi lembah yang baru saja terbentuk oleh letusan gunung api, dan tiba-tiba darah yang keluar itu berubah menjadi kabut yang tebal dan kemudian mencair menjadi air memenuhi lembah yang baru terbentuk itu dan membanjiri daerah itu, dan terjadilah sebuah danau(danau Toba), sehingga membuat bangsa umang Tarigan harus mengungsi dari daerah itu ke beberapa daerah seperti : Purba Tua, Cingkes, Tong-tong Batu, serta daerah-daerah lainnya(kejadian ini mnggambarkan apa yang menjadi teori yang dipercayai oleh para ahli tentang terbentuknya Danau Toba, dimana menurut ahli, di – Kala Plaistosen (sekitar 700.000 tahun lalu) muncul tumor di Sumatera di sekitar Sumatera bagian tengah dan utara. Fenomena ini terjadi bersamaan denga aktivitas vulkanis dan tektonis yang dimana letusan-letusan gunung berapi melemparkan panas yang mengandung tufa bersifat riolit di sepanjang pegunungan timur laut sekitar daerah Pematangsiantar sampai sekitar 20 km dari pesisir, bahkan hingga 300 – 400 km dari pusat letusan. Diperkirakan aktifitas vulkanik melemparkan material sebanyak 2.000 km3 dan mengakibatkan runtuhnya bagian atas puncak gunung sehingga membentuk kuali hingga sekarang masih memiliki  pinggiran seperti benteng alam dengan ketinggian lebih dari 2. 000 meter diatas permukaan laut dan depresi ini kemudian diisi Danau Toba, dan kemudian mendorong munculnya Pulau Samosir serta beberapa gunung api seperti Deleng(gunung) Sibayak dan Deleng Sinabung di utara danau.).

    Dan, diceritakan setelah itu, tiga orang keturunan Tarigan itu sampai di Tengging saat dimana daerah itu sedang mengalami gejolak oleh serangan Manuk Sigurda-gurdi (Jelmaan/siluman burung raksasa) berkepala tujuh yang suka menculik anak-anak gadis di wilayah itu. Mendengar ketiga keturunan Tarigan itu telah berada di Tengging(Tongging), maka Pengulu Tengging, Ginting Manik Mergana meminta bantuan kepada ketiga Tarigan (Tarigan adalah salah satu merga dari Merga Silima/merga-merga Karo) itu untuk mengalahkan Manuk Sigurda-gurdi yang telah lama meresahkan penduduk Tengging. Maka, dengan ber-umpankan seorang gadis perawan ketiga Tarigan itu memancing Manuk Sigurda-gurdi agar keluar dari sarangnya. Saat Manuk Siguda-gurdi datang menghampiri umpannya dan henda menerkam si gadis, salah satu dari Tarigan-pun keluar dan langsung meng-eltep Manuk Sigurda-gurdi  (eltep =  sumpit beracun yang merupakan salah satu senjata Karo yang paling berbahaya yang dalam sejarah perang kemerdekaan juga sempat dipergunakan, salah satunya saat melindungi Wakil Presiden Moh. Hatta saat melakukan kunjungan ke Berastagi). Enam dari tujuh kepala terkena eltep-pan si Tarigan, namun satunya lagi dapat terhindar dari eltep-pan si Tarigan, dan Manuk Sigurda-gurdi mencoba berlari menyelamatkan diri dan bersembunyi. Si Tarigan kehilangan jejak dan sempat terkecoh, maka Tarigan yang lainnya dengan kemampuanya ertendong (telepati) berusaha menditeksi keberadaan Manuk Sigurda-gurdi, ternyata dia bersembunyi di balik dedaunan diatas pohn yang sangat besar dan dengan segera Si Tarigan lainnya-pun dengan kemampuannya yang cepat memanjat pohon segera melakukan serangan dan terjadilah pertarungan yang sengit antara Si Tarigan dan Manuk Sigurda-gurdi. Dengan bantuan Si Tarigan Pertendong  yang menyalurkan tenaga dalamnya dari jarak jaug maka Manuk Sigurda-gurdi dapat ditaklukkan dengan tebasan pisau Si Tarigan yang mengenai kepala Manuk Sigurda-gurdi (- cerita ini sebenarnya menggambarkan tentang kejadian dimasa lampau, dimana di wilayah-wilayah Karo sering terjadi peperangan antar urung begitu juga dengan banyaknya beredar para gerombolan perampok yang mengakibatkan penawanan serta penculikan).

     Mendengar berita kemenangan besar Si Tarigan dari Manuk Sigurda-gurdi membuat Pengulu Tengging,  Ginting Manik Mergana senang, dan atas rasa trimakasihnya dia menganugrahi kekuasaan di-beberapa wilayahnya dan juga memberi gelar kepada ketiga Tarigan dan keturunannya sesuai keahliannya, yakni: Tarigan Pengeltep(ahli menyumpit) yang kemudian dinikahkan dengan beru(putri, panggilan untuk kaum wanita Karo) Ginting Manik dan menjadi pengelana hingga ke Tong-tong Batu, sehingga diwilayah Sidikalang dan sekitarnya dikatakan panteken(pendirian, didirikan) dari(oleh) merga Tarigan(Gerneng/Gersang/Girsang), sedangkan Tarigan Pertendong (Ahli telepati) dan Tarigan Penangkih-nangkih (ahli memanjat) tinggal di Tongging serta keturunannya berkembang dan kemudian menjadi Purba, Sibero, dan Cingkes di Karo, dan beberapa generasi setelah itu, ada diantara mereka yang bermigrasi ke wilayah Tapanuli (Toba), dan Simalungun.

    Beberapa generasi kemudian diketahui, keturunan dari Tarigan Pengeltep yang di Tong-tong Batu juga bermigrasi ke Juhar, dan dikenal dengan Tarigan Sibayak(Sibayak = raja, gelar bangsawan Karo, Si Besar) dan Tarigan Jambur Lateng. Mereka, juga dikenal dari rurun(nama kecil, panggilan)-nya, yakni: untuk Tarigan Sibayak dipanggil Batu bagi anak laki-laki dan Pagit untuk anak perempuan. Sedangkan, untuk Tarigan Jambur Lateng adalah Lumbung untuk laki-laki dan Tarik untuk yang perempuan. Beberapa generasi kemudian datang pula Tarigan Rumah Jahé dengan nama rurun Kawas untuk yang laki-laki dan Dombat bagi yang perempuan.

    Itulah Legenda Terjadinya Danau Toba dan Si Tarigan (Si Raja Umang)menurut turi-turin (tradisi) leluhur Karo, yang mungkin jika ditelisik sangatlah memiliki keterkaitan dengan apa yang menjadi teori yang dipercayai oleh para ilmuan walau cara penyampaiannya berbeda. Hal ini menunjukkan bahwasanya, sejak dahulu peradaban masyarakat Karo itu sudah maju, sehingga cerita-cerita yang disampaikan-pun juga memiliki sudut pandang ilmiah untuk membangun logika berfikir, bukan hanya sekedar cerita yang menghibur.  Semoga cerita ini dapat member inspirasi kepada pembaca atau setidaknya member hiburan. Hehehe…. ;-)

    Mejuah-juah Danau Toba Simalem!