"Murbab" alat musik Karo ber-dawai. Sumber: Google Search.
"Murbab"
adalah salah satu instrumen(alat) musik tradisional Karo, yang
adalah merupakan alat musik dalam kategori instrumen ber-dawai. Murbab merupakan
satu-satunya alat musik tradisional Karo yang dimainkan dengan cara menggesek.
Dan dulunya, murbab ini dipermainkan secara solo(tunggal) ataupun juga ansambel
dalam posisi sebagai melodi.
Saya
sedikit beruntung karena pernah melihat dan mendengarkan murbab ini
secara langsung, dimanaNini Bulang(kakek) saya yang merupakan
seorang guru dan pemimpin salah satu kelompok ronggeng Karo-Melayu(Sada Perarih
- Senembah) di kawasan Urung Senembah, dulunya sering memainkan alat ini hingga
akhirnya diganti dengan violin(biola); dan bahkan grup ronggeng yang
dimotorinya juga bubar dan hal ini tentunya juga turut serta dalam proses
punahnya beberapa alat musik tradisional Karo-Melayu Deli khususnya murbab
ini.
Pilu rasanya
mendengar seorang pahlawan yang dengan gigih dan berani memperjuangkan
bangsanya namun dikemudian hari di-cap sebagai seorang penghianat oleh generasi
penerusnya yang sebelum itu diperjuangkan nasibnya. Itulah yang dialami oleh
beberapa pejuang di negeri ini, sebuat saja Presiden Pertama RI, Ir. Soekarno yang sempat namanya
tercemar(dicemarkan) dimasa Orde Baru, tetapi syukurlah sekarang sudah
di-rehabilitasi(dibersihkan) kembali. Bukan itu saja, banyak pejuang-pejuang di
repoblik ini yang bukan hanya tidak memperoleh haknya sebagai seorang
pejuang(pahlawan), akan tetapi malah di-cap penghianat. Ulung Sitepu (Pa Timur),
adalah salah seorang yang pernah memimpin Sumatera Utara, tepatnya Gubernur
ke-delapan Sumut (15 Juli 1963 – 16 November 1965) dengan wakilnya saat itu P. R.
Talaumbanua (16 November 1965 – 31 Maret 1967) yang dikemudian hari
diangkat menggantikannya. Beliau yang memulai karirnya dari dunia militer
hingga puncak karirnya sampai pada posisi Gubernur Sumatera Utara dengan
pangkat terakhir di militer Brigadir
Jenderal(Brigjen), hingga meletusnya G30 S/PKI yang membuatnya jatuh dan
harus menelan pil pahit sebagai tawanan politik tanpa proses peradilan dan
tuduhan yang tidak jelas dan tidak seorangpun hingga saat ini di dunia ini dapat
membuktikannya hingga ajal menjempunya di dalam penjara.
Sejak kecil, Nini Bulang(kakek) saya selalu
menceritakan kisah-kisah keberanian para pejuang kepada saya, dan menceritakan
sosok-sosok pejuang itu dari banyak sudut-pandang. Saya sadar hal ini beliau
lakukan agar logika berfikir saya terbangun dan tidak hanya menerima
opini-opini publik yang digiring oleh sebuah kepentingan untuk menjatuhkan
ataupun memuliakan seorang tokoh atau kaum(kelompok). Dan, hal ini jugalah yang
kemudian hari mempengaruhi pola pikir saya tentang memandang atau menilai suatu
hal dengan lebih teliti dan tidak terburu-buru menerima begitu saja.
Kaitannya
dengan problematika etnisitas di Sumatera bagian tengah dan utara, ini
merupakan ruang-ruang etnisitas yang sangat rumit untuk menentukan batas-batas
dari kegiata etnisitas masa lampau, atau para ahli sering menyebutnya ruang-ruang jejaringan yang hilang!
Jeraringan yang hilang menurut hemat saya dalam artian akibat dari kuatnya opini publik yang
mendukung satu teori yang dianggap mutlak walau dalam sisi logika,
tradisi(cerita rakyat dan mistis), serta fakta tidaklah kuat atau bahkan jauh
dari kenyataan. Opini yang digiring oleh banyak kepentingan ini yang pada
akhirnya merupakan potensi terbesar dalam pengkaburan suatu kejadian bahkan
hingga ke identitas.
Dan, mungkin
dalam hal ini, isu yang paling krusial tentang identitas etnisitas di Sumatera
bagian utara dan tengah, adalah tentang mempertanyakan posisi Karodidalam
rumpun Batak, atau para patriot pejuang identitas ini dengan gamblang
mengatakan “Karo Bukan Batak!”. Menyikapi hal ini, hendaknya kita jangan
bersikap pragmatis ataupun menerima
begitu saja segala vonis yang diberikan kepada sekelompok etnis itu dengan
mudahnya, karena itu sungguh-sunguh sangat kejam dan menyakitkan. Itulah sebab
maka saya mengatakan “pentingnya membangun
logika berfikir dalam menyingkap fakta sejarah”. Namu, cukupkah hanya
logika? Ya, tentu tidak! Untuk mencapai sebuah kebenaran yang ril, kita harus
memperhitungkan juga beberapa aspek yang terangkum dalam dimensi ruang dan waktu, yang meliputi: logika, tradisi(cerita
rakyat dan mitologi), gentik(sifat baik yang tampak atau tidak), geografis, ekonomo,
dan teritorial.
Kembali kepada
apa yang dilakukan oleh pejuang identitas ini(Karo Bukan Batak), mungkin saya
tidak usah lagi membuka satu-per satu secara konkrit tentang apa yang yang
ingin saya kemukakan, karena pada dasarnya saya bukanlah seorang yang suka menggiring opini
publik demi mencapai tujuan tertentu dan karena hal ini sudah menjadi suatu
cerita umun di masyarakat, namun ntinya, saya ingin menekankan “pentingnya membangun logika berfikir dalam
menyingkap fakta sejarah!”.
Tetapi, berikut ini saya
ingin membagikan beberapa kata kunci yang mungkin dapat menjadi bahan
pertimbangan pembaca, seperti:
·Antara Haru(Karo kuno), Majapahit, Sriwijaya, Padang Lawas, Pane dengan kisah Si
Raja Batak.
·Tradisi Merga Silima(merga Karo)
beserta cabang(sub-)merga dengan Silsilah Terombo Marga Batak, Sejarah Suku Bangsa Mandailing, Sejarah suku bangsa Simalungun, serta legenda Danau Toba dalam versi Karo, Toba, dan etnis lainnya.
·Sejarah Zending Hindu di Sumatera khususnya di bagian utara
dan tengah
·Cakap(bahasa) Karo dengan bahasa Toba(atau batak lainnya),
benarkah hanya dialek saja yang berbeda?
·Antara agama Pemena
dan Parmalin
·Warna nasional Karo dan Batak serta kebiasaan dan peralatan
hidup lainnya.
·Zending Kristen (RMG dan NZG)
·Pandangan ahli-ahli antropologi, etimologi, sastra, agama,
dan budaya tentang satuan Batak.
·Asal mula kata Batak!
·Pandangan seorangKaro
Sirulo(Karo Murni) tentang dirinya dan kaumnya
dll...
Beberapa
kata kunci diatas dapat Anda pertimbangkan, dan sengaja saya tidak mengulasnya
agar Anda-lah yang mencari dan membangun opini sendiri, buka atas pemikiran atau
pendapat saya. Hehehe… Namun, saya berharap Anda membuka hati, pikiran, naluri,
dan logika berfikir dengan memperhitungkan dimensi
ruang dan waktu yang melingkupi: logika, tradisi, dan fakta!Trimakasih dan semoga berhasil. ;-)
Danau Toba(Lake Toba) adalah danau terbesar di
Indonesia, Asia Tenggara, bahkan di Asia yang terletak di Provinsi Sumatera Utara, berjarak sekitar 176 km
dari Kota Medan, dan dengan Pulau Samosir ditengahnya dengan luas sekitar 167 km2 dan merupakan
objek wisata andalan dari provinsi tersebut. Adapun luas keseluruhan Danau Toba
diperkirakan sekitar 3.000 km2 yang sebagian besar terletak di Kabupaten Simalungun,
Kabupaten Toba Samosir, Humbang Hasudutan, dan Kabupaten Karo. Danau ini sendiri terletak pada garis lintang dan
garis bujur antara 98030’ BT; 3005’ LS serta 99020’ BT; 2040 LS dengan
ketinggian 904 meter di atas permukaan laut(dpl), serta kedalaman maksimal danau
mencapai 505 meter.
Berikut legenda-legenda yang terkait dengan Danau
Toba yang pastinya menambah keunikan dari danau yang dipercaya merupakan hasil letusan
vulkanik yang diperkirakan terjadi sekitar 75.000 tahun lampau.
Legenda Danau Toba
Disebuah deleng api (gunung api) di Selatan Taneh Karo, berdiamlah sekelompok masyarakat yang terisolasi dengan dunia
luar, dimana mereka hidup dengan cara berburu dan tinggal di gua-gua yang
banyak ditemui di kaki gunung. Oleh masyarakat lainnya kaum ini disebut dengan bangsa
umang(dalam cakap Karo: umangdipakai untuk menunjuk
orang-orang diluar mereka yang masih primitive, pemakan kerang dan daging mentah, dan tiggal di
gua-gua) ataupun Tarigan Umang(umang Tarigan).
Danau Toba tampak dari Kabupaten Karo
Suatu ketika istri Si Tarigan(Si Raja Umang) yang kala
itu sedang mengandung mengalami pendarahan yang sangat banyak sekali saat
hendak melahirkan anaknya. Karena merasa sangat kesakitan sekali saat proses
persalinan, maka tak pelak teriakan demi teriakan yang keras keluar dari
mulut kemberahen(ratu, istri) Si Raja Umang yang membuat gunung api bergetar. Terus dan terus teriakan itu
terdengar semakin lama semakin kerasnya hingga getaran(gempa bumi) dasyat pun terjadi yang mengakibatkan
meletusnya gunung api dan membentuk sebuah lembah berbentuk kuali. Pendarahan
yang sangat, tak henti-henti juga sejalan dengan teriakannya yang makin lama
makin keras karena tidak sanggup menahan kesakitan, dimana darah yang keluar
banyak itu mengalir mengisi lembah yang baru saja terbentuk oleh letusan gunung
api, dan tiba-tiba darah yang keluar itu berubah menjadi kabut yang tebal dan kemudian mencair menjadi air memenuhi lembah yang baru terbentuk itu dan membanjiri
daerah itu, dan terjadilah sebuah danau(danau Toba), sehingga membuat bangsa
umang Tarigan harus mengungsi dari daerah itu ke beberapa daerah seperti :
Purba Tua, Cingkes, Tong-tong Batu, serta daerah-daerah
lainnya(kejadian ini mnggambarkan apa yang menjadi teori yang dipercayai oleh
para ahli tentang terbentuknya Danau Toba,
dimana menurut ahli, di – Kala Plaistosen (sekitar 700.000
tahun lalu) muncul tumor di Sumatera di sekitar Sumatera bagian tengah dan utara.
Fenomena ini terjadi bersamaan denga aktivitas vulkanis dan tektonis yang
dimana letusan-letusan gunung berapi melemparkan panas yang mengandung tufa bersifat riolit di sepanjang pegunungan timur laut sekitar daerah Pematangsiantar sampai sekitar 20 km
dari pesisir, bahkan hingga 300 – 400 km dari pusat letusan. Diperkirakan
aktifitas vulkanik melemparkan material sebanyak 2.000 km3 dan mengakibatkan runtuhnya bagian atas puncak
gunung sehingga membentuk kuali hingga sekarang masih memiliki pinggiran seperti benteng alam dengan
ketinggian lebih dari 2. 000 meter diatas permukaan laut dan depresi ini
kemudian diisi Danau Toba, dan kemudian mendorong munculnya Pulau
Samosir serta beberapa gunung api seperti Deleng(gunung)Sibayakdan Deleng Sinabungdi
utara danau.).
Dan, diceritakan setelah itu, tiga orang keturunan Tarigan itu sampai
di Tengging
saat dimana daerah itu sedang mengalami gejolak oleh serangan Manuk Sigurda-gurdi (Jelmaan/siluman burung raksasa) berkepala tujuh yang suka
menculik anak-anak gadis di wilayah itu. Mendengar ketiga keturunan Tarigan itu
telah berada di Tengging(Tongging), maka Pengulu Tengging, Ginting Manik Mergana meminta bantuan kepada ketiga Tarigan(Tarigan adalah salah satu mergadari Merga Silima/merga-merga Karo)
itu untuk mengalahkan Manuk Sigurda-gurdi
yang telah lama meresahkan penduduk Tengging. Maka, dengan ber-umpankan seorang
gadis perawan ketiga Tarigan itu memancing Manuk
Sigurda-gurdi agar keluar dari sarangnya. Saat Manuk Siguda-gurdi datang menghampiri umpannya dan henda menerkam
si gadis, salah satu dari Tarigan-pun keluar dan langsung meng-eltepManuk Sigurda-gurdi (eltep = sumpit beracun yang merupakan salah satu
senjata Karo yang paling berbahaya yang dalam sejarah perang
kemerdekaan juga sempat dipergunakan, salah satunya saat melindungi Wakil Presiden Moh. Hatta saat melakukan
kunjungan ke Berastagi). Enam dari
tujuh kepala terkena eltep-pan si
Tarigan, namun satunya lagi dapat terhindar dari eltep-pan si Tarigan, dan Manuk
Sigurda-gurdi mencoba berlari menyelamatkan diri dan bersembunyi. Si
Tarigan kehilangan jejak dan sempat terkecoh, maka Tarigan yang lainnya dengan
kemampuanya ertendong (telepati) berusaha menditeksi keberadaan Manuk Sigurda-gurdi, ternyata dia
bersembunyi di balik dedaunan diatas pohn yang sangat besar dan dengan segera
Si Tarigan lainnya-pun dengan kemampuannya yang cepat memanjat pohon segera
melakukan serangan dan terjadilah pertarungan yang sengit antara Si Tarigan dan Manuk Sigurda-gurdi. Dengan bantuan Si Tarigan Pertendongyang menyalurkan tenaga dalamnya dari jarak
jaug maka Manuk Sigurda-gurdi dapat
ditaklukkan dengan tebasan pisau Si Tarigan yang mengenai kepala Manuk Sigurda-gurdi (- cerita ini
sebenarnya menggambarkan tentang kejadian dimasa lampau, dimana di
wilayah-wilayah Karo sering terjadi peperangan antar urung begitu juga dengan banyaknya beredar para gerombolan perampok
yang mengakibatkan penawanan serta penculikan).
Mendengar berita kemenangan besar Si Tarigan dari Manuk
Sigurda-gurdi membuat Pengulu
Tengging, Ginting Manik Mergana
senang, dan atas rasa trimakasihnya dia menganugrahi kekuasaan di-beberapa
wilayahnya dan juga memberi gelar kepada ketiga Tarigan dan keturunannya sesuai
keahliannya, yakni: Tarigan Pengeltep(ahli menyumpit) yang kemudian dinikahkan
dengan beru(putri, panggilan untuk kaum wanita Karo) Ginting
Manik dan menjadi pengelana hingga ke Tong-tong Batu, sehingga diwilayah Sidikalang dan sekitarnya
dikatakan panteken(pendirian, didirikan) dari(oleh) merga Tarigan(Gerneng/Gersang/Girsang), sedangkan Tarigan Pertendong (Ahli
telepati) dan Tarigan Penangkih-nangkih (ahli memanjat) tinggal di Tongging
serta keturunannya berkembang dan kemudian menjadi Purba,Sibero,
danCingkes
di Karo,
dan beberapa generasi setelah itu, ada diantara mereka yang bermigrasi ke
wilayah Tapanuli(Toba), dan Simalungun.
Itulah Legenda Terjadinya Danau Toba dan Si
Tarigan (Si Raja Umang)menurut turi-turin (tradisi) leluhur Karo,
yang mungkin jika ditelisik sangatlah memiliki keterkaitan dengan apa yang
menjadi teori yang dipercayai oleh para ilmuan walau cara penyampaiannya
berbeda. Hal ini menunjukkan bahwasanya, sejak dahulu peradaban masyarakat
Karo itu sudah maju, sehingga cerita-cerita yang disampaikan-pun juga memiliki
sudut pandang ilmiah untuk membangun logika berfikir, bukan hanya sekedar
cerita yang menghibur. Semoga cerita ini
dapat member inspirasi kepada pembaca atau setidaknya member hiburan. Hehehe….
;-)