Mejuah-juah.     Selamat datang di blog sederhana kami: "Rudang Rakyat Sirulo".   Mejuah-juah. Kami minta maaf jika diwaktu dekat ini akan ada sedikit gangguan atau ketidak nyamanan pengunjung terhadap tampilan blog ini, sebab direncanakan dalam waktu dekat blog ini akan melakukan perbaikan. Terima kasih atas kunjungan anda.   Terus dukung dalam doa, untuk Taneh Karo Simalem yan kita cintai segera dipulihkan    Mejuah-juah.        RUDANG RAKYAT SIRULO COMUNITY menerima donasi dari pihak-pihak yang hendak/peduli dengan blog ini, yang ingin berinfestasi. Hal ini ditujukan untuk menghidupkan terus blog ini, serta meng-UPGRADEnya ke wensite berbayar demi kenyamanan pengunjung. Bagi anda yang tertarik silahkan hubungi e-mail: bastanta.meliala@gmail.com. Terima kasih.
Mejuah-juah.   Rudang Rakyat Sirulo Comunity, mengundang partisipasi dari pemcaba untuk mendukung eksistensi blog ini, dengan mengirimkan tulisan-tulisan yang berkaitan dengan Karo ke e-mail: bastanta.meliala@gmail.com    RRSC juga mengundang para pengunjung blog untuk ikut serta membangun jaringan RRSC dengan cara menyampaikan donasi untuk meng-UPGRADE blog ini ke versi berbayar, hal ini dianggap perlu untuk memberi kualitas konten dan kenyamanan pembaca.   Bagi anda yang tertarik untuk mendukung dan ikut serta membangun jaringan RRSC, anda dapat menyampaikan donasi anda ataupun berinfestasi di blog ini. Silahkan hubungi e-mail admin di BASTANTA.MELIALA@GMAIL.COM    Mejuah-juah.
    <--> MEJUAH-JUAH <-->

    Sabtu, 19 Mei 2012

    Gundala-gundala Permainan Masa Kecil-ku



    Berbicara tentang bermain atau permainan dimasa kecil, ada sebuah permainan tradisional yang sangat saya sukai dan selalu kami mainkan disore hari sebelum mandi sore, yakni: bermain gundala-gundala ataupun sering juga disebut manuk sigurda-gurdi.
    Permainan gungdala-gundala ataupun manuk sigurda-gurdi merupakan permainan rakyat asli asal Karo, yang berbentuk lakon seperti sebuah seni pertunjukan drama dan tari, dimana permainan ini dimainan oleh beberapa orang yang memerankan beberapa tokoh, diantaranya: sebagai sibayak(raja, gelar bangsawan Karo), kemberahen(permainsuri), putri raja, puanglima(panglima), para kesatria(prajurit), juak-juak(pelayan dan dayang-dayang), hewan(khususnya kerbau), petani, dan yang terpenting adalah pemeran manuk sigurda-gurdi serta peran pembantu lainnya.
    Dan, masih melekat dibenak saya saat memainkannya, kami sering bermain ini di halaman rumah, di ladang, ataupun di perkebunan(kebetulan saya tinggal di daerah PTPN II dan IX); serta kostum yang kami kenakan kami buat sendiri,  dimana: topeng dan pedang-nya kami buat dari pelepah pisang, mahkota rajanya dan pakaiannya dari daun kopi, daun kemiri, ataupun daun kelapa sawit; dan gendang(musiknya) dari bunyi-bunyian yang dihasilkan oleh kaleng, bambu, dan tempurung kelapa. Sangat sederhana dan sedikit primitive namun asik dan saya sarankan Anda untuk mencobanya! Hehehe… ;-)
    Permainan gundala-gundala ini diadopsi dari salah satu seni tari topeng pada masyarakat Karo. Selain sebagai seni pertunjukan, gundala-gundala ini juga merupakan sebuah tradisi ndilo udan(memanggil hujan) jika terjadi kemarau panjang  di beberapa wilayah Karo ini dikenal dengan tembut-tembut Seberaya(karena berasal dari desa Seberaya). Dalam pertunjukannya, gundala-gundala ini selalu membawakan sebuah kisah, dimana satu kisah yang sangat popular dalam pertunjukan gundala-gundala ini, yakni cerita “Manuk Sigurda-gurdi”. Cerita ini juga di beberapa wilayah memiliki versi yang bervariasi namun alur ceritanya tetap dipertahankan seperti aslinya.
    Diceritakan(Manuk Sigurda-gurdi), di satu wilayah di Taneh Karo ada sebuah negeri yang dipinpin oleh seorang raja yang bergelar Sibayak(raja, gelar bangsawan Karo, iibesar, sikaya) dengan kemberahen(permainsuri), serta putri tunggalnya yang cantik jelita yang menikah dengan seorang pegawai kerajaan yang setia dan perkasa, serta sakti mandraguna. Setelah menikahi sang putri, si pegawai istana tersebut kemudian diangkat menjadi kepala pengawal kerajaan serta dikemudian hari ia menjadi puanglima(panglima) tertinggi di kerajaan tersebut.
    Disatu hari, sang raja mengajak kepala pengawal istana yang juga kela-nya(menantu laki-laki-nya) untuk berburu ke sebuah hutan, di perjalanan mereka dikejutkan oleh seekor manuk sigurda-gurdi(burung raksasa) yang membuat raja serta rombungannya terkejut dan sedikit takut. Namun, si burung raksasa tersebut bukannya menyerang, akan tetapi menyapa sang raja dengan kesantunan dan penuh hormat. Melihat ini, sang raja menaruh simpati kepada si gurda-gurdi dan mengajaknya untuk tigal bersamanya di istananya, si burung raksasa pun dengan senang hati menerima maksud baik sang raja.
    Setelah manuk sigurda-gurdi tinggal di istana, situasi istana berubah seketika menjadi ramai. Sifat rendah hati, santun, dan keramahan manuk sigurda-gurdi menaruh simpati banyak pihak terutama sang putri yang sangat terhibur dengan keberadaan manuk sigurda-gurdi di sampingnya.  Saat sang raja dan para prajuritnya keluar istana, manuk sigurda-gurdi memegang peranan yang sangat penting, bukan saja menghibur namun juga melindungi seluruh keluarga kerajaan karena selain santun dan baik hati, manuk sigurda-gurdi juga ahli dalam ilmu mayan/ndikar(tarung).
     Suatu hari, ketika keluarga istana sedang asik bercanda dengan manuk sigurda-gurdi, tanpa sengaja sang putri menyentuh paruh gurda-gurdi dan seketia gurda-gurdi menjadi berang dan mengamuk membuat seluruh istana panik. Dia memporak-porandaan semua yang ada disekitarnya, yang membuat sang raja memerintahkan kepala pengawal untu menghadang perbuatannya. Maka terjadilah pertarungan yang sengit hingga berhari-hari antara manuk sigurda-gurdi dengan kepala pengawal kerajaan.  Melihat pertarungan yang tiada henti-henti, maka sang raja memerintahkan para kesatrianya untuk membantu sang menantu dengan cara menyalurkan energi kepada sang kepala pengawal kerajaan dari jarak jauh. Pertarungan semakin sengit, namun akhirnya manuk sigurda-gurdi kewalahan mengahdapi kepala pengawal kerajaan yang dibantu oleh para kesatria kerajaan dan manuk sigurda-gurdi pun kalah karena terkena pukulan dan terpental ke tanah. 
    Cerita ini juga mengingatkan kita, tentang kisah perjalanan merga Tarigan saat dimintai bantuanya oleh seorang raja di Tongging untuk mengalahkan seekor burung raksasa(manuk sigurda-gurdi) yang suka memangsa gadis-gadis perawan diwilayah itu.
    Banyak versi dari cerita ini, namun dalam setiap pertunjukan atau sekedar permainan, alur cerita ini masih dipertahankan keasliannya. Bagaimana, apa Anda tertarik memainkannya? Hehehe.... Bujur ras mejuah-juah kita kerina!

    Comments
    4 Comments

    4 komentar:

    Mejuah-juah!