Mejuah-juah.     Selamat datang di blog sederhana kami: "Rudang Rakyat Sirulo".   Mejuah-juah. Kami minta maaf jika diwaktu dekat ini akan ada sedikit gangguan atau ketidak nyamanan pengunjung terhadap tampilan blog ini, sebab direncanakan dalam waktu dekat blog ini akan melakukan perbaikan. Terima kasih atas kunjungan anda.   Terus dukung dalam doa, untuk Taneh Karo Simalem yan kita cintai segera dipulihkan    Mejuah-juah.        RUDANG RAKYAT SIRULO COMUNITY menerima donasi dari pihak-pihak yang hendak/peduli dengan blog ini, yang ingin berinfestasi. Hal ini ditujukan untuk menghidupkan terus blog ini, serta meng-UPGRADEnya ke wensite berbayar demi kenyamanan pengunjung. Bagi anda yang tertarik silahkan hubungi e-mail: bastanta.meliala@gmail.com. Terima kasih.
Mejuah-juah.   Rudang Rakyat Sirulo Comunity, mengundang partisipasi dari pemcaba untuk mendukung eksistensi blog ini, dengan mengirimkan tulisan-tulisan yang berkaitan dengan Karo ke e-mail: bastanta.meliala@gmail.com    RRSC juga mengundang para pengunjung blog untuk ikut serta membangun jaringan RRSC dengan cara menyampaikan donasi untuk meng-UPGRADE blog ini ke versi berbayar, hal ini dianggap perlu untuk memberi kualitas konten dan kenyamanan pembaca.   Bagi anda yang tertarik untuk mendukung dan ikut serta membangun jaringan RRSC, anda dapat menyampaikan donasi anda ataupun berinfestasi di blog ini. Silahkan hubungi e-mail admin di BASTANTA.MELIALA@GMAIL.COM    Mejuah-juah.
    <--> MEJUAH-JUAH <-->

    Sabtu, 22 Februari 2014

    N a m o

    Namo(cakap Karo) jika diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia berarti: bagian terdalam/lubuk dari sebuah wadah air, misalkan: kolam, sungai, danau, ataupun laut. Dalam perkembangan bahasa yang dipengaruhi oleh dialek-dialek asing, kata namo kemudian mengalami beberapa perubahan bunyi, seperti namo/namau/namu, dll.

    Tenang kel launna i joh, ugapa pé oh namo(tenang sekali airnya dibagaian sana, pasti itu namo/lubuk/bagian terdalam). Ola kéna ku namo éna, gedap kari kéna(jangan kalian ke namo/lubuk/bagian terdalam itu, tenggelam nanti kalian). Meter kel launna, berarti Lau é la ernamo(deras sekali arinnya, berarti sungai ini tidak bernamo). Mbages kel namona(dalam sekali namo/lubuknya).

    Berikut nama-nama daerah yang mengandung kata namo, yang tersebar di beberapa wilayah di Sumatera Utara.

    1. Namo Batang 
    2. Namo Bintang
    3. Namo Buah
    4. Namo Buhara
    5. Namo Bulan
    6. Namo Cengkéh
    7. Namo Cikala
    8. Namo Can-can
    9. Namo Gajah
    10. Namo Kamuna
    11. Namo Keling
    12. Namo Kelungen
    13. Namo Kuala Dekah
    14. Namo Landur 
    15. Namo Mbacang
    16. Namo Mbaru
    17. Namo Mbulan
    18. Namo Mbelin
    19. Namo Mirah
    20. Salang Namo Mbelin
    21. Kuala Namo
    22. Namo Nderasi
    23. Namo Pakam
    24. Namo Pinang
    25. Namo Puli
    26. Namo Raja
    27. Namo Pecawir
    28. Namo Rangkup
    29. Namo Rambé
    30. Namo Rindang
    31. Namo Rindang Bernih
    32. Namo Rubé Julu
    33. Namo Rubé Jahé
    34. Namo Rih
    35. Namo Riam
    36. Namo Tating
    37. Namo Terasi
    38. Namo Tumpa
    39. Namo Sira-sira
    40. Namo Simpur Buaten
    41. Namo Serit
    42. Namo Suro
    43. Namo Suro Baru
    44. Namo Suro Lama
    45. Dll.

    Silahkan tambahkan daftar nama kuta/kampung yang memakai kata "namo" pada kota komentar. Mejuah-juah.




    Minggu, 02 Februari 2014

    KBB: Formula ampuh melawan Lupa(Bag. I: Sambungan)

    KBB
              Pada tulisan sebelumnya yang berjudul: KBB: Formula ampuh melawan Lupa(Bag. I), sedikit saya membahas tentang kejadian di tahun 1988 dimana seluruh masyarakat Karo bersatu padu melakukan perotes kepada pemerintah dikarenakan pihak pemerintah hendak memberi nama Sisingamangaraja XII untuk Tahura Bukit Barisan(sekarang) yang terletak di Desa Tongkeh, Kecamatan Berastagi, Kabupaten Karo, Sumatera Utara) [alasanya masyarakat Karo menolak: baca tulisan sebelumnya KBB: Formula ampuh melawan Lupa(Bag. I)].

              Dari tulisan yang pertama yang telah didiskusikan di beberapa jejaringan sosial, membuat saya tersadar bahwa penamaan Tahura Bukit Barisan bukan hanya alternatif dan jalan tengah untuk meredam masalah(tentunya masyarakat Karo tidak akan memperpanjang masalah), tetapi sesungguhnya tanpa disadari dan seperti sifat dan jiwa kalak Karo yang kurang suka berkoar-koar dan lebih memilih zona aman dan jika istilah pasarannya cantik main; penamaan bukit barisan  kepada Tahura yang kini menjadi salah satu tujuan wisata di Berastagi ini: mengembalikan kedaulatan(konteks: harga diri) masyarakat Karo dan Taneh Karo, demikian juga halnya dengan kasus Kuala Namo International Airport (KANIA) setelah proses panjang dan banyak usulan nama-nama tokoh yang tidak ada satupun nama tokoh dari Karo yang dikuatkan, padahal lokasi bandara tersebut masih masuk dalam wilayah adat masyarakat Karo – Melayu(konsep Taneh Karo Simalem). 

                 Terima kasih buat bapak Juara R. Ginting yang telah mengingatkan saya tentang hal ini. Dan sekali lagi kita bersyukur dengan munculnya diskusi-diskusi KBB yang mengingatkan dan menyadarkan kita kembali apa yang sesungguhnya terjadi terhadap kehidupan masyarakat Karo dan Taneh Karo Simalem di masa lampau, dan ini menjadi suatu formula obat bagi kita untuk melawan lupa akan sejarah, jati diri, tradisi, dlsb kita. Mari terus kita galakkan diskusi KBB ini untuk menggali lebih dalam lagi hal-hal yang berkaitan tentang perkembangan kekaroan kita. Mejuah-juah Indonesia; Mejuah-juah Sumatera Utara; Mejuah-juah Taneh Karo Simalem; Mejuah-juah Kita Kerina.