Mejuah-juah.     Selamat datang di blog sederhana kami: "Rudang Rakyat Sirulo".   Mejuah-juah. Kami minta maaf jika diwaktu dekat ini akan ada sedikit gangguan atau ketidak nyamanan pengunjung terhadap tampilan blog ini, sebab direncanakan dalam waktu dekat blog ini akan melakukan perbaikan. Terima kasih atas kunjungan anda.   Terus dukung dalam doa, untuk Taneh Karo Simalem yan kita cintai segera dipulihkan    Mejuah-juah.        RUDANG RAKYAT SIRULO COMUNITY menerima donasi dari pihak-pihak yang hendak/peduli dengan blog ini, yang ingin berinfestasi. Hal ini ditujukan untuk menghidupkan terus blog ini, serta meng-UPGRADEnya ke wensite berbayar demi kenyamanan pengunjung. Bagi anda yang tertarik silahkan hubungi e-mail: bastanta.meliala@gmail.com. Terima kasih.
Mejuah-juah.   Rudang Rakyat Sirulo Comunity, mengundang partisipasi dari pemcaba untuk mendukung eksistensi blog ini, dengan mengirimkan tulisan-tulisan yang berkaitan dengan Karo ke e-mail: bastanta.meliala@gmail.com    RRSC juga mengundang para pengunjung blog untuk ikut serta membangun jaringan RRSC dengan cara menyampaikan donasi untuk meng-UPGRADE blog ini ke versi berbayar, hal ini dianggap perlu untuk memberi kualitas konten dan kenyamanan pembaca.   Bagi anda yang tertarik untuk mendukung dan ikut serta membangun jaringan RRSC, anda dapat menyampaikan donasi anda ataupun berinfestasi di blog ini. Silahkan hubungi e-mail admin di BASTANTA.MELIALA@GMAIL.COM    Mejuah-juah.
    <--> MEJUAH-JUAH <-->

    Selasa, 16 Oktober 2012

    Kalender Karo

    Kalender Karo: Bulan April 2013 (Sipaka V = Paka Arimo / Sipaka VI = Paka Kuliki)
    Kalender Karo: di bulan April 2013

    Kalender Karo: Bulan Mei 2013 (Sipaka VI = Paka Kuliki/Sipaka VII = Paka Kayu)
    Kalender Karo: di bulan Mei 2013

     Berikut penjelasan(ramalan) dari hari-hari dalam Kalender Karo!

    1. ADITIA 
    Dalam penanggalan Karo. Aditya adalah hari yang pertama, dikatakan hari yang medalit (licin), namun baik untuk memulai/mengawali sesuatu pekerjaan, dan juga hari yang baik untuk membuat suatu kesepakatan/perjanjian (baik usaha, percintaan, dll).


    2. SUMA 
    Adalah hari yang ke-dua dalam penanggalan Karo yang disebut juga sebagai “ wari si dua nahe (hari untuk kaki dua)” contoh: manusia, ayam, dll. Hari ini dikatakan hari yang kurang baik jadi, tidak baik untuk melakukan perdebatan, penyelidikan, atau menguji sesuatu. Namun, seperti dikatakan didepan wari si dua nahe, harinya untuk mahluk berkaki dua baik untuk berburu, mancing, menjala, dll.


    3. NGGARA
      Adalah hari ke-tiga dalam penanggalan Karo. Hari ini dikenal sebagai hari yang sulit, kejam, dan keras sehingga, zaman dahulu kala para puanglima (panglima) mempergunakan/memanfaatkan hari ini untuk hari berperang (hari baik untuk berperang) seperti namanya “nggara = mara, bara, terbakar.” Selain baik untuk berperang hari ini juga di katakan baik untuk berpaling/menghindar dari sesuatu hal, buang sial, meramu obat, berburu, membuka lahan, baik juga untuk melakukan/mengunjungi sesuatu/se-seorang, tetapi hal/keadaan tidak/kurang baik untuk yang dikunjungi.


    4. BUDAHA 
    Adalah hari keempat dari penanggalan Karo. Hari baik buat yang berkaki empat. Disebut juga hari padi, baik untuk menanam padi, memulai/mengawali kegiatan bertani, dan hari ini juga baik untuk melakukan kegiatan ataupun pesta.


    5. BERAS PATI 
    aDalah hari kelima dari penanggalan Karo, dimana hari ini juga sangat licin, hari baik untuk melakukan pesta, mengket rumah mbaru (masuk rumah baru), memulai berdagang, mencari pekerjaan, tetapi di hari ini dikatakan tidak baik untuk berdebat.


    6. CUKRA ENEM  
    aDalah hari keenam dalam penanggalan Karo, disebutlah hari berngi (malam). Artinya hari untuk mengakhiri semua kegiatan-kegiatan, sehingga disebut juga hari pencerahan karena selain mengakhiri kegiatan-kegiatan, dipercaya juga akan menjadi akhir dari segala kegalauan yang dialami, sehingga disebut “wari salangsai.” Dikatakan hari ini juga baik untuk merantau, berlayar mangarungi samudera, melamar kerja, menghadap raja (petinggi/pejabat/penguasa/bangsawan), mulai berdagang. Selain itu, hari ini juga baik untuk melakukan upacara pernikahan, pesta muda-mudi, mengawali kegiatan bertani, nungkuni (meminang/melamar pujaan hati)


    7.     BELAH NAIK 
    Adalah hari ke-tujuh dalam penanggalan Karo, juga disebut hari penderas, hari Raja, adil, hari baik untuk nangkih/lompat (membawa lari kekasih hati untuk menyatukan diri (jika tidak di restui)), melamar kerja, memberi sesaji, menyelesaikan utang adat (bayar utang adat), mandi kembang karena tujuan telah tercapai, dan hari baik untuk semua pesata-pesta.

    8.     ADITIA NAIK
    Adalah hari ke-delapan dalam penanggalan Karo, hari dimana semua baik. Baik untuk berpesta, baik untuk membuat perjanjian, musyawarah, mandi kembang, menikah, memasuki rumah baru, memulai berdagang, baik untuk menjalin kembali hubungan yang t’lah lama retak atau terputus (bermaaf-maafan), membawa pujaan hati lari (kalau tidak di restui), memcari barang-barang antik, mencari barang beharga, dll.

    9.     SUMANA SIWAH 
    Adalah hari ke-sembilan dari penanggalan Karo, dikatakan hari yang kurang baik.  Harus berhati-hati dan teliti dalam bertindak ataupun melakukan setiap kegiatan, hanya baik untuk berburu ataupun memasang jerat.

    10. NGGARA SEPULUH 
    Adalah hari ke-sepuluh dalam penanggalan Karo, di katakan hari ini adalah hari “malas.” Harus berhati-hati dalam berbicara, hindari perdebatan, awas api! Baik untuk meramu obat, membalas dendam (berperang), memulai project, buang sial, melangsungkan pernikahan, berpesta, dan mengambil tualng-tulang leluhur untuk dipersatukan dalam sebuah geriten (bangunan/rumah untuk menyatukan dan menyimpan tulang-tulang keluarga dalam masyarakat Karo). Hari ini juga dikatakan hari yang kejam dan keras, jadi harus berhati-hati!

    11. BUDAHA NGADEP 
    Adalah hari ke-sebelas dari penanggalan Karo. Dikatakan sebagai hari pencerahan, hari baik, baik untuk melakukan semua kegiatan dan baik untuk berpesta. Baik untuk membuat suatu perjanjian, musyawarah, mengunjungi Kalimbubu, melamar pekerjaan, membuka usaha, dan melakukan acara-acara adat.


    12. BERAS PATI TANGKEP 
    Hari ke dua belas dalam hari-hari Karo. Merupakan hari yang baik. Baik untuk menghadap/menemui pajabat atau orang besar, melamar kerja, bersemedi (meditasi), mandi kembang dengan jeruk purut, acara meminta rejeki, melangsungkan pernikahan, melakukan pemujaan kepada Tuhan.


    13. CUKERA DUDU (LAU/air) 
    Adalah hari/wari mehuli(baik), baik melangsungkan pernikahan, menanam kebaikan untuk tolak balan dan segala niat buruk orang kepada kita, ngeluncang, mengunjungi orang tua/kalimbubu, memasuki rumah baru, erpangir ku lau (mandi kembang ke sungai).


    14. BELAH PURNAMA RAYA 
    Adalah hari ke-empat belas, yang dikatakan juga dengan wari Raja (hari raja). Di hari ini dikatakan baik untuk melakukan upacara/pesta besar, harinya untuk orang-rang besar (sibayak/raja, bangsawan, pejabat,dll), mandi kembang kesungai untuk bersih diri, ngeluncang, guro-guro aron, minum air suci, naruhken anak ku kalimbubu (ngantarkan anak (laki-laki) ke pihak kalimbubu.


    15. TULA 
    Adalah hari ke lima belas. Hari sial!, semua merasa enggan melakukan apapun dalam hari ini karena dipercaya hari yang sial, namun baik ngerabi (membabat, membersihkan semak) dan juga baik menanam kelapa nyiur.


    16. SUMA CEPIK 
    Adalah hari ke enam belas dalam hari-hari Karo. Hari yang tidak baik!, jangan sampai ada yang/bagian kurang dalam suatu ramuan, maka hasilnya akan berakibat fatal. Baiknya: berburu, masang jerat, mancing, dan memasang jala.


    17 NGGARA ENGGO TULA 
    Adalah hari baik untuk buang sial, membuat obat, buang suntuk, dan mandi kembang keberuntungan.


    17. BUDAHA GOK 
    Adalah hari dimana munculnya buah padi, mulai munculnya putik, memberi padi, mengawali musim tanam, menanam padi (padi darat), memulai panen padi, melakukan pengerikan, menyimpan padi walaupun dikatakan hari ini adalah hari yang kurang baik.


    18. BERAS PATI SEPULUH 
    Adalah hari ke sembilan belas dan harinya untuk memulai/mengawali untuk melakukan pembersihan lahan untuk menanam, memotong kayu untuk dipergunakan membangun rumah ataupun gubuk, baik memancing, dan juga baik untuk mendirikan gubuk di kebun.

    19. CUKRA SI DUA PULUH (20) 
    Adalah hari baik untuk membuat/meramu obat-obatan, memasuki rumah baru, nampeken tulan-tulan erkata gendang (upacara memimdahkan tulang-tuang keluarga dari kubur asal ke geriten), baik juga melakukan perjalanan, dan bermalas-malasan.

    20. BELAH TURUN 
    Adalah hari ke dua puluh satu, dikatakan hari yang baik untuk buang sial, memasang jerat, memancing, dbrburu, dan memikat.

    22. ADITIA TURUN  
    Adalah harinya untuk membuat/meramu obat-obatan, erpangir kengalen, buang sial, berburu, memancing, buang/nangkal penyakit, dan turun ke air.


    23. SUMANA MATE 
    Adalah hari ke dua puluh tiga dalam kalender Karo, hari yang baik memasang jerat baik di darat maupun di dalam air, dan melakukan perburuan hewan-hewan.

    24. NGGARA SIMBELIN 
    Adalah hari baik membuat/meramu obat-obatan, mandi kembang buang sial dan tangkal bala dan penyakit, serta meminta/berdoa kepada Yang Kuasa agar segalanya baik dan berjalan baik.


    25. BUDAHA MEDEM  
    Adalah hari ke dua puluh lima yang dimana juga dikatakan harinya untuk tanaman/tumbuh-tumbuhan. Hari ini baik untuk menanam dan tentunya baik untuk ke ladang, memberi padi, muti, menuai padi ke kebun, melakukan pengerikan, serta pergi/berangkat merantau baik untuk bekerja maupun menuntut ilmu.


    26. BERAS PATI MEDEM 
    Adalah hari yang ke dua puluh enam dalam kalender Karo. Dikatakan wari si malem-malem (senuanya baik), mere nakan man orang tua (salah satu tradisi orang Karo.. memberi/mengantar makan(-nan) kepada orang tua agar orang tua sehat-sehat dan panjang umur dan anak/cucu sehat-sehat, panjang umur, murah rejeki dan selalui disertai doa dan restu dari orang tua), ndahi kalimbubu (menghadap/mengunjungi pihak kalimbubu), melangsungkan pesta pernikahan, serta membuat/meramu obat-obatan.

    27. CUKRANA MATE 
    Adalah hari buang sial, baik membuat/meramu obat, berburu, memancing, membersihkan lahan pertanian.

    28. MATE BULAN NGULAK
      Adalah hari untuk buang sial, encari inspirasi serta motivasi untuk menggugah semangat, berburu, serta memancing ke laut lepas.

    29. DALAN BULAN  
    Adalah hari ke dua puluh sembilan. Hari ini juga menjadi hari akhir/penutup dalam beberapa paka (bulan) dalam kalender Karo, seperti: si paka dua (2. paka tendang/lampu), si paka empat (4. paka padek/katak), si paka enem (6. paka kuliki/elang), si paka waluh(8. paka tambak/kolam), si paka sepuluh (10. paka baluat/alat musik tiup; sej. Seruling), dan si paka sepuluh dua (12. paka binurung(nurung)/ikan). Hari ini juga sering dikatakan hari yang kurang baik,  dan simehuli tupuk.


     30. SAMI SARA 
    Adalah hari/wari nutup Kerja (hari akhir kegiatan/pesta), menyelesaikan pekerjaan ataupun perjanjian, pupursage (suatu upacara perdamaian antara pihak-pihak yang berselisih menurut adat-istiadt Karo), berdoa kepada Yang Kuasa serta roh-roh nenek moyang, serta mengakhiri pendidikan (ngguru: dalam artian menuntut ilmu mystis). Sami Sara juga merupakan hari terakhir dalam hari-hari Karo (30) dan juga hari terakhir dari beberapa paka (bulan), seperti: paka sada (1. paka kambing), paka telu (3. paka gaya/cacing), paka lima (5. paka arimo/harimau), paka pitu (7. paka kayu), paka siwah (9. paka gayo/sej. kepiting), paka sepuluh sada (11. paka batu).

    Lihat juga: Katika

    Minggu, 14 Oktober 2012

    Karo Icon's

    Aksara Karo.gif
    Aksara Karo
    Berikut untuk memasang Aksara Karo di blog Anda:
    HTML kode untuk blog/website:
    <b>Aksara Karo(Surat Aru)</b>
    <a href="http://arikokena.blogspot.com">
    <img src="http://i.picasion.com/pic65/96d990e898902d972f96e40a2b36aabc.gif" width="210" height="140" border="0" alt="gif creator" /></a><br/>

    Rumah Adat Karo
    Rumah Adat Karo
    HTML kode untuk blog/website:
    <b>&nbsp;&nbsp;&nbsp;Rumah Adat Karo&nbsp;&nbsp;&nbsp;<a href="http://arikokena.blogspot.com/2012/10/karo-icons.html"><img src="http://i.picasion.com/pic66/e157cfba18c61fc2b60e19875d79490e.gif" width="210" height="160" border="0" alt="gif creator" /></a><br /><br>

    HTML kode untuk blog/website:
    <a href="http://arikokena.blogspot.com.com/"><img src="http://i.picasion.com/pic66/8f5ea6bb3309cf0758ff9de8c8053c05.gif" width="300" height="162" border="0" alt="free gif creators" /></a>

    Aksara Karo
    HTML kode untuk blog/website:
    <b>Indung Surat - Aksara Karo</b><br/><a href="http://arikokena.blogspot.com"><img src="http://2.bp.blogspot.com/-lXiqDBll-P0/UJPNGKgQGcI/AAAAAAAAAvo/6ZLUkQdHXxE/s1600/Untitled.jpg"></a>


    Saya Kalak Karo
    HTML kode untuk blog/website:
    <b>Saya Kalak Karo</b><br/><a href="http://arikokena.blogspot.com"><img src="http://2.bp.blogspot.com/-rDGFkAjw390/UHpAdQ4V3dI/AAAAAAAAAsM/2EBassm7STg/s1600/SKK.jpg"></a>

    HTML kode untuk blog/website:
    <b>Taneh Karo Lanaibo Banci Terlupaken</b><br/><a href="http://arikokena.blogspot.com"><img src="http://3.bp.blogspot.com/-ZON5X66FV0U/UHpAnW9wdXI/AAAAAAAAAsU/zaKPyaQy-28/s1600/JB.jpg"></a>

    Dasi bercorak "Uis Karo: Beka Buluh"
    Dasi bercorak "Uis Karo: Beka Buluh"
    Bastanta Permana Sembiring Meliala
    Mejuah-juah

    HTML kode untuk blog/website:
    <b>We Are KARONESE: Sapoholland.NL</b><br/><a href="http://arikokena.blogspot.com"><img src="http://4.bp.blogspot.com/-o00IxR5wjLg/UHpBTYnNBcI/AAAAAAAAAsc/SVKIH3EQsGw/s1600/JB.jpg"></a>
    HTML kode untuk blog/website:
    <b>BUMI TURANG (Bumi Persaudaraan Bhineka Tunggal Ika)</b><br/><a href="http://arikokena.blogspot.com"><img src="http://2.bp.blogspot.com/-PXaj_nPjpnM/UHpBw4YeefI/AAAAAAAAAsk/a7a6V4hxkS4/s1600/Pakaian.jpg"></a>


    HTML kode untuk blog/website:
    <b>Bastanta Permana Sembiring</b><br/><a href="http://arikokena.blogspot.com"><img src="http://2.bp.blogspot.com/-_O2jQUc7CPA/UHpCj83711I/AAAAAAAAAss/zUu1NScEwg8/s320/bs.jpg"></a>
    STOP Penyebaran HIV/AIDS di Taneh Karo
    Barne: PTS GIKI 2013




    Jumat, 12 Oktober 2012

    Kiras Bangun (Garamata)



    Kiras Bangun Si Gara Mata
    Kiras Bangun(Garamata) 1852 - 1942
                Kiras Bangun atau Garamata(si mata merah) adalah pejuang kemerdekaan melawan penjajahan Belanda asal Karo.  Lahir di Batu Karang 1852,  dari ayah yang beristri tiga Kiras Bangun ersembuyakken(bersaudarakan) 5 orang, 4 orang saudara dan 1 orang saudari.  Dari keluarga berdarah bangsawan(masih dalam keluarga raja urung silima kuta) ber-merga Peranginangin dari cabang(sub-)merga Bangun, yang kental dengan tradisi Karo, dimana ayahnya yang juga merupakan tokoh masyarakat dan adat menempa beliau menjadi sosok yang humanis, disiplin, bijaksana, dan berpendirian teguh. Hal ini tampak dari penolakannya yang keras terhadap tawaran-tawaran Belanda yang ingin membuka perkebunan di wilayah Karo yang dalam pemikiran seorang Kiras Bangun ini kelak akan menyengsarakan dan membuat kaum pribumi akan tersingkir dari tanah nenek moyangnya.

                Seperti lazimnya muda/i Karo yang menjalani pendidikan tradisional(mayan atau [-n]dikar = bela diri, katika = ramal, tambar-tambar = ilmu pengobatan, aji-aji = racun, mbayu(tenun dan mengayam khusus untuk kaum wanita), ergendang = musik, agama, adat, tulisen Karo, dan kebijaksanaan lainnya)  selain itu, beliau juga berkesempatan untuk mengenyam pendidikan formal yang dijalaninya di Kota Binjai, sehingga pastilah beliau menguasai bahasa Melayu juga tulisen(aksara) Karo, yang ini kemudian nantinya menjadi modal beliau untuk dapat melakukan pendekatan dan meyakinkan untuk mempersatukan pejuang dari lintas wilayah, suku, agama, dan golongan baik di sekitar Sumatera Utara hingga ke Aceh. Walau terlahir dari keluarga pengulu Silima Kuta yang tentunya memiliki hak-hak istimewa diantara masyarakat lainnya, tidak lantas membuat beliau sombong dan sewenang-wenang dalam perangainya seperti lazimnya para kaum aristokrat, sehingga beliau sangat disukai oleh karena kepeduliannya dalam memperjuangkan hak-hak masyarakat yang hendak dirampas baik oleh penguasa-penguasa lokal terkhususnya dari penjajahan kolonial Belanda.

                Di Karo, adalah sebuah kebiasaan khususnya kaum bapa(bapak) melakukan perjalanan ke kuta-kuta(kampung), hal demikian juga dilakukan oleh Kiras Bangun, namun perjalanan yang lazim beliau lakukan bukan hanya berkaitan dengan menjalin silaturahmi antar keluarga ataupun Merga Silima, melainkan juga berkaitan dengan peran beliau sebagai tokoh adat dan masyarakat yang dimana kala itu sering terjadi peperangan baik antar kesain, kuta, urung, maupun kesebayakan di wilayah-wilayah Karo, sehingga kehadiran beliau adalah sebagai seorang juru damai, dan disamping itu dengan memanasnya situasi di wilayah Karo yang diakibatkan oleh rencana pemerintah kolonial Belanda untuk membukan perkebunannya di dataran tinggi Karo, membuat Kiras Bangun geram dan memanfaatkan saat-saat itu untuk juga menggalang kekuatan untuk melakukan perlawanan.

                Kepopuleran Kiras Bangun yang terdengar oleh Belanda baik di dataran tinggi hingga ke pasisir, dan ditambah lagi dengan adanya rencana kolonial Belanda untuk membuka perkebunan tambakau di dataran tinggi Karo, dima sebelumnya di tahun 1870 Belanda telah menguasai Sumatera Timur dan telah membuaka perkebunan karet di sekitar Binjai dan Langkat, maka dengan taktik pendekatan melalui utusan yang semerga bernama Nimbang Bangun yang juga masih memiliki pertalian saudara, Belanda menawarkan persahabatan dengan imbalan memakai pengaruh Kiras Bangun di dataran tinggi untuk memperoleh lahan-lahan untuk dijadikan perkebunan tembakau. Namun, sadar hal ini akan menyengsarakan rakyat Karo, maka dengan tegas Kiras Bangun menolak walau selalu ditawari imbalan-imbalan yang menarik dari kolonial Belanda.

                Tidak lantas menyerah, pihak Belanda berulang kali mengutus Nimbang Bangun dan utusan-utusan lainnya untuk membujuk Kiras Bangun agar mau bersahabat dengan pihak kolonial, namun bukan tergoda, hal ini malah membuat Kiras Bangun semakin keras menolak, apalagi ditahun 1901 kolonial Belanda membuka markasnya di Kabanjahe, hal ini membuat Kiras Bangun menjadi berang dan menumbuhkan kebenciannya terhadap kolonial Belanda. Sehingga, bersama pasukannya beliau mengusir paksa Belanda dari dataran tinggi Karo.

                Setahun kemudian(1902) Belanda dengan utusanya Guillaume beserta sedadu yang dipersenjatai lengkap yang dimana sebelumnya telah mendapat ijin dari beberapa penguasa urung di dataran tinggi bergerak menuju dataran tinggi Karo. Kiras Bangun menilai hal ini merupakan sebuah penghinaan serta upaya kolonial untuk menguasai Taneh Karo,  sembari menggalang kekuatan dan menyusun strategi perang, maka dengan keras beliau meng-ultimatum Belanda agar segera meninggalkan Taneh Karo jika tidak ingin terjadi perlawanan sengit dari rakyat Karo. Peringatan yang disampaikan tidak juga diindahkan oleh pihak Belanda, maka dengan itu pertempuran tidak dapat lagi dielakkan. Sadar akan kemampuan persenjataan dan jumlah musuh lebih kuat(dimana kaum pribumi bayak direkrut menjadi serdadu Belanda), maka Kiras Bangun menggalang kekuatan, salah satunya dengan melakukan pendekatan terhadap urung-urung Karo yang dikenal dengan “pertemuan tiga jeraya” . Dan satu hal yang menakjubkan dalam “pertemuan tiga jeraya” ini, dimana mampu mengumpulkan lebih dari 3000 orang dan tercatat terjadi tiga kali pertemuan. Hal inilah yang semakin membuat pihak kolonial menjadi kewalahan, dimana ini merupakan penggalangan kekuatan tradisional terbesar di Sumatera dan mungkin di nusantara sepanjang sejarah.

                Patroli-patroli serdadu Belanda semakin gencar dilakukan untuk membasmi perlawanan masyarakat, sehingga menimbulkan pertempuran dimana-mana. Suara tembakan terdengar dimana-mana, korban berjatuhan, hal ini mengiris hati dan menguji mental seorang pemimpin sekelas Kiras Bangun. Walau hati pilu namun sadar akan lebih sakit jika dijajah, dengan motto perjuangan: Namo bisa jadi aras;  Aras bisa jadi namo.  Hari ini bisa saja kita kalah, tapi besok kita pasti menang!” yang juga penyemangat bagi pasukanya, maka, sampai darah penghabisan perjuangan tetap diterusna, hal ini tergambar dalam supah yang beliau beserta pasukan simbisa/urung-nya ikrarkan:


    Tanger ko nakan si nipan kami enda,(masaklah engkau nasi yang kami makan)
    Tangar ko bengkau si nipan kami enda, (masaklah engkau lauk-pauk yang hendak kami makan)
    Tanger ko lau si inem kami enda,(masaklah enkau air yang hendak kami minum)
    Kami ersumpah bekas arih – arih kami ersada ngelawan Belanda adi ia reh ku Tanah Karo njajah kami (kami bersumpah dengan bahu menbahu melawan Belanda jika datang ke Tanah Karo hendak menjajah kami)
    Ras ipelawes sienggo ringan i kabanjahe (dan kami akan mengusir yang telah berada di Kabanjahe)
    Si bagi Mara – mata Belanda.(Dan seperti orang(pihak-pihak) yang merah/membara matanya seperti Belanda(maksudnya ketamakan, hendak menguasai/menjajah))
    Ndigan pagi kami engkar ibas perbelawanen kami enda(Jikalau suatu waktu kami mengingkari sumpah kami)
    Mate kami ibunuh nakan, ibunuh bengkau, ibunuh lau sini inem kami enda(matilah kami karena makanan dan minuman yang kami telan)
    Janah keturunen kami (Juga keturunan kami)
    La nai banci selamat merjat Tanah Karo enda.(Tidak akan selamat jika menginjak Taneh Karo ini).


    Dengan kekuatan pasukan yang digalang dari wilayah Sumatera Utara dan Aceh, Kiras Bangun terus bergerak melakukan perlawanan, namun satu per satu benteng pertahanan pasukan simbisa dapat dikuasai musuh salah satunya benteng pertahanan di Lingga Julu(Lingga Hulu) yang dimana salah seorang  pinpinan pasukan simbisa pun ikut menjadi korban.  Kalahnya pertahanan di Lingga Julu, maka pasukan simbisa harus bergerak mundur. 15 September 1904 terjadi pertempuran sengit di Kandibata, Mbesuka, dan Tembisuh, Batu Karang, dan hampir diseluruh dataran tinggi Karo, Dairi, Aceh Tenggara, dan Aceh Selatan. Namun, dibawah komando Kiras Bangun dan juga dibantu oleh kaum pernandén(nandé = ibu) yang dalam setiap pertempuran ikut membantu logistik dan bersorak(er-alep alep) memberi semangat, pasukan urung/simbisa tak henti-hentinya melakukan perlawanan. Dalam pertempuran ini, tercatat setidaknya 30 orang pasukan urung meninggal dunia dan puluhan orang terluka. Pertempuran yang sengit membuat pasukan  simbisa/urung berpencar, namun keesokan harinya ditetapkan Kuala menjadi daerah tempat berkumpul seperti yang telah dipesankan kepada seluruh pasukan. Menghindari kejaran Belanda, pasukan simbisa/urung berpindah  menuju Liren, Kuta Gamber, Kempawa, Pamah dan Lau Petundal dan membangun basis  pertahanan.  Daerah ini termasuk dalam wilayah Dairi yang berbatasan dengan Aceh Selatan, Aceh Tenggara dan Tanah Karo yang dimana medanya bergunung-gunung, lembah yang dalam dan terjal, gersang, berpenduduk jarang sehingga Kiras Bangun merasa daerah ini cocok menjadi basis gerillya untuk mengganggu pemerintahan dan basis pertahanan Belanda. Akan tetapi, karena medan yang susah mereka lemah dalam hal dukungan logistik. Dari tempatnya berdiam sementara ini, Kiras Bangun tidak berdiam saja, akan tetapi dia rutin melakukan aksi-aksinya bersama pasukannya,  melakukan kunjungan-kunjungan baik ke basis-basis pertahanan maupun untuk meyakinkan penguasa-penguasa di Sumatera Utara dan Aceh untuk jangan henti melawan, sehingga dimana-mana terjadi pertempuran yang dilakukan rakyat setempat untuk mengusir penjajah belanda.


                Karena tertekan, Belanda semakin memperkuatkan pasukannya di dataran tinggi dan melakukan penyisiran untuk mencari keberadaan Kiras Bangun, namun tidak berhasil. Segala usaha dilakukan Belanda untuk menangkap Kiras Bangun, dengan cara melakukan tekanan terhadap masyarakat sipil. Dimana-mana terjadi pertempuran dan korban berjatuhan baik dari pejuang maupun dari rakyat sipil, yang membuat hati nurani Kiras Bangun pilu. sehingga dengan berat hati dan tidak mau jatuh korban yang lebih banyak Kiras Bangun pun menyerahkan diri, namun dengan penuh harapan dan cita-cita pada suatu saat dapat bangkit kembali mengusir Belanda.

    Garamata dihukum dalam bentuk pengasingan di perladangan Riung selama 4 tahunhingga akhirnya  dibuang ke Cipinang bersama kedua putranya antara tahun 1919-1926, hal ini dilakukan Belanda agar Kiras Bangun tidak dapat lagi berhubungan dengan pejuang dan masyarakat Karo, sehingga perjuangan dapat diredam dengan mudah. Kiras Bangun atau Garamata gugur pada tanggal 22 Oktober 1942, namun keteladanannya dalam memimpin, serta kemampuannya untuk menyatukan pejuang-pejuang dan penguasa di Sumatera Utara dan Aceh membuat semangat perjuangannya tidak pernah padam.

                Atas keteladanan dan jasa-jasanya, maka pada 9 November 2005 yang juga bertepatan dengan “Hari Pahlawan(10 November)”, Kiras Bangun(Garamata) dianugrahi gelar “Pahlawan Nasional Indonesia” oleh Presiden Repoblik Indonesia : Susilo Bambang Yudhoyono. Kiras Bangun sang pejuang dan teladan layak memperoleh pengakuan negri ini sebagai seorang pahlawan nasional, bahkan pemerintah Sumatera Utara terkhususnya daerah-daerah yang menjadi basis perjuangannya yang saat ini telah tumbuh menjadi daerah tingkat II(Kabupaten/Kota) layaklah menganugrahkan gelar kehormatan dan penghargaan atas jasanya, baik berupa penambalan namanya sebagai nama jalan ataupun tugu(monumen) untuk mengenang perjuangan dan jasa-jasanya. JASMERAH(Jangan sekali-kali lupakan sejarah).