Mejuah-juah.     Selamat datang di blog sederhana kami: "Rudang Rakyat Sirulo".   Mejuah-juah. Kami minta maaf jika diwaktu dekat ini akan ada sedikit gangguan atau ketidak nyamanan pengunjung terhadap tampilan blog ini, sebab direncanakan dalam waktu dekat blog ini akan melakukan perbaikan. Terima kasih atas kunjungan anda.   Terus dukung dalam doa, untuk Taneh Karo Simalem yan kita cintai segera dipulihkan    Mejuah-juah.        RUDANG RAKYAT SIRULO COMUNITY menerima donasi dari pihak-pihak yang hendak/peduli dengan blog ini, yang ingin berinfestasi. Hal ini ditujukan untuk menghidupkan terus blog ini, serta meng-UPGRADEnya ke wensite berbayar demi kenyamanan pengunjung. Bagi anda yang tertarik silahkan hubungi e-mail: bastanta.meliala@gmail.com. Terima kasih.
Mejuah-juah.   Rudang Rakyat Sirulo Comunity, mengundang partisipasi dari pemcaba untuk mendukung eksistensi blog ini, dengan mengirimkan tulisan-tulisan yang berkaitan dengan Karo ke e-mail: bastanta.meliala@gmail.com    RRSC juga mengundang para pengunjung blog untuk ikut serta membangun jaringan RRSC dengan cara menyampaikan donasi untuk meng-UPGRADE blog ini ke versi berbayar, hal ini dianggap perlu untuk memberi kualitas konten dan kenyamanan pembaca.   Bagi anda yang tertarik untuk mendukung dan ikut serta membangun jaringan RRSC, anda dapat menyampaikan donasi anda ataupun berinfestasi di blog ini. Silahkan hubungi e-mail admin di BASTANTA.MELIALA@GMAIL.COM    Mejuah-juah.
    <--> MEJUAH-JUAH <-->

    Kamis, 26 Mei 2011

    Perkawinan Se-merga Pada Merga Sembiring

    Belakangan ini pikiran saya tertuju kepada satu hal yang lama membuat saya bertanya-tanya, mengapa demikian. Beberapa saat yang lalau, seorang “turang” (saudara lain jenis kelamin. Misal: Peria - wanita; wanita – peria) saya bertanya demikian: 

    Turang : “Tur (turang)!”

    Saya  : “Ya?”

    Turang : “Kalau merga Sembiring bisa tidak “SIBUATEN?” (kawin semerga-red)” tanyanya.

    Saya  : “Hm..! Sebenarnya dari dulu ada sih turang merga Sembiring sibuten dan dari beberapa tulisan yang kubaca dan percakapan dengan beberapa orang, tidak ada yang melarang (mengatakan tidak boleh).” Sambungku “memangnya kenapa tur?”

    Turang : “Gak apa-apa kok tur!” jawabnya “Tapi. Kalau Sembiring ....(sensor).. dengan Sembiring.... Boleh gak?”


    Saya  : “Kita tahu turang kalau sebenarnya dalam adat Karo perkawinan se-merga itu dilarang, bahkan di tabukan. Jadi, walaupun dikatakan bisa, hem... kalau bisa jangan deh, tur. Entar repot jadinya, aku 'gak tahu harus duduk dimana. Hahahaha.. “ sambungku lagi  “ Tapi entah mengapa kita Sembiring ini saling sibuaten.”

    Turang  : “ Iya, ya tur!” sambungnya “ Berarti boleh donk?”

    Saya   : “Ye! Enak aj, dasar!”

    Turang   : “Hehehehe..”
    Masalah bisa atau tidaknya “perkawinan semerga” pada dua cabang merga Karo (Sembiring dan Perangin-angin) ini memang sangat membingungkan juga (Ya! Kalo loe mau bingung. Heheheh..), mengapa demikian? Ya! Kita ketahui bersama kalau dalam adat-istiadat Karo (suku lainnya juga), pernikahan se-merga (sibuaten) itu sangat dilarang keras, bahkan dianggap suatu hal yang memalukan keluarga, dan tabu (pantang hukumnya). Namun, kalau benar demikian mengapa di dua cabang merga Karo (Sembiring dan Perangin-angin) diperbolehkan? Aneh juga! Sebenarnya masalah kawin se-merga ini sudah dilarang oleh pemuka adat di beberpa daerah, bahkan sudah diberikan hukuman pengucilan, ataupun pengusiran dari kuta (kampung), tapi masih saja ada yang melanggarnya dengan alasan atas nama cinta.

    Ok’deh! Saya mau sedikit berandai-andai dan menulis hasih diskusi dan penelusuran saya di internet, ataupun menafsirkan (opini). Namun, berhubung saya merga Sembiring, jadi yang kita bahas untuk saat ini di merga Sembiring saja ya.! Ha-ha-ha.

    Merga Karo (Merga Silima)

    Dalam Suku Karo kita mengenal “Merga Silima” atau “Silima Merga,” yakni (berdasarkan abjad):
    1. GINTING
    2. Karo-karo
    3. Perangin-angin
    4. Sembiring
    5. Tarigan
    (Berdasarkan Rekomendasi Kongres Kebudayaan KARO. 3 Desember 1995)

    Merga Sembiring

    Merga Sembiring terdiri atas delapan belas (18) cabang merga dan juga terbagi atas dua kelompok, yakni:

    I. Kelompok Sembiring yang “man biang” (makan daging anjing) dan tidak di perbolehkan saling sibuaten (tidak boleh kawin se-merga), yang terdiri dari empat. Yaitu:

    1. Sembiring Kembaren
    2. Sembiring Keloko
    3. Sembiring Sinulaki, dan
    4. Sembiring Sinupayung
    (walaupun tidak dibolehkan, namun tidak jarang juga kita temui kelompok Sembiring "si man biang" ini juga saling sibuaten dengan sesama Sembiring)

    II. Kelompok Sembiring yang “mantangken biang/la man biang” (tidak makan daging anjing). Kelompok Sembiring ini terdiri dari 14 cabang dan dapat saling sibuaten (diperboleh kawin se-merga). Sembiring ini sering juga disebut dengan “Sembiring Singombak,” bukan singombang ya! Mungkin SINGOMBAK ini maksudnya: karena pada dasarnya mereka penganut ajaran Pemena(Senata Dharma/Hindu), sehingga jika meninggal dunia jasadnya dibakar dan di “OMBAKEN (hanyutkan)” dengan menggunakan guci diatas sebuah perahu kecil. Menurut cerita, dulunya dilakukan di “Lau Biang (Sungai Wampu).” Adapun ke-14 Sembiring Singombak itu adalah.

    1. Berahmana
    2. Meliala
    3. Muham
    4. Maha
    5. Pandia
    6. Pelawi
    7. Depari
    8. Colia
    9. Tekang
    10. Gurukinayan
    11. Bunuaji
    12. Keling
    13. Busuk
    14. Sinukapur
    Dan dari ke-18 Sembiring Singombak ini terbagi lagi menjadi tiga (3) golongan. Berikut ini ketiga golongan SEMBIRING SINGOMBAK itu:

    I. Golongan Pertama
    Sembiring Berahmana, Pandia, Colia, Guru Kinayan, dan Sembiring Keling.

    II. Golongan Kedua  
    Sembiring Depari, Pelawi, Bunuaji, dan Sembiring Busok.

    III. Golongan Ketiga
    Sembiring Meliala, Maha, Muham, Pandebayang, dan Sembiring Sinukapur.

    Dimana, perkawinan se-merga pada Sembiring Singombak itu hanya dibolehkan dengan golongan yang berbeda (tidak boleh satu golongan).
    (Menurut: Brahma Putro, Pustaka Alim Sembiring Kembaren, dan Pdt. J. H. Neumann)

    Inilah bandit2-nya yang kawin se-merga nie.. Ops becanda broo!
    Ok! ‘Kembali Ke Labtob’ itu yang sering di lontarkan oleh Om Tukul Arwana, ya! Pertanda kita juga harus kembali ke topik!

    Merga Sembiring, adalah salah satu merga Karo (dari Merga Silima) yang juga merupakan salah satu merga terbesar (keturunannya terbanyak), sehingga tentunya besar juga permasalahan-permasalahan sosial yang timbul dan harus di hadapinya.
    Berikut hasil diskusi dan penelusuran saya, beberapa alasan mengapa merga Sembiring ini saling sibuaten!
    1. Dipercayai (menurut sejarah) bahwasanya merga Sembiring ini adalah merga Karo yang asli berasal dari daratan India (Hindustan), sehingga pada dasarnya menganut ajaran Hindu. Jadi kalau mati, ya dibakarlah! Setelah jasad di bakar, maka abunya dimasukkan ke dalam sebuah guci dan disimpan di tempat khusus diatas langit-langit rumah. Abu jenazah itu dikumpulkan hingga banyak (semua anggota keluarga) hingga pada saatnya (jika keluarga tersebut memiliki rejeki) diadakan pesta pelepasan ataupun pengombaken(menghanyutkan) abu jenazah. Dalam kepercayaan Karo kuno, maka abu di kumpulkan dan dibawa ke “lau mbelin (sungai besar)” untuk diombakken(dihanyutkan) dengan menaruh guci tempat abu yang telah terkumpul diatas sebuah perahu kecil, dan diharapkan abu-abu itu akan sampai di “Sungai Gangga,” tanah leluhur suku Sembiring.
    Dalam sebuah cerita “Ngombakken Abu Jenazah Jabu Sembiring Mergana (menghanyutkan abu jenazah keluarga Sembiring).” Diadakanlah pesta yang sangat  besar yang lamanya tujuh hari, tujuh malam, mengundang semua sangkep nggeluh (sanak saudara, kerabat),  sehingga semua apa yang dimiliki (padi/beras, buah, dan ternak) keluarga Sembiring habis, sehingga setelah pesta pengombaken itu selesai, timbulkan kata yang kurang mengenakkan dari “anak beru” Sembiring Mergana: “Letih benar melaksanakan tugas anak beru di Jabu Sembiring Mergana ini, bukan itu saja semua hasil kerja keras selama ini habis untuk pesta ini. Misalkan, jikalau ada lagi pesta-pesta Sembiring Mergana ini maka habislah tenaga dan harta kita.” Maka kata anak beru Sembiring Mergana kepada “Merga Siempat dan beru/br (beru/br = menandakan wanita) Siempat (Ginting, Karo-karo, Tarigan, dan Perangin-angin)”: “ Jikalau ada diantara kalian yang ingin menikah, pesanku janganlah mengambil beru/br Sembiring ataupun menikah dengan merga Sembiring. Karena akan begini jadinya, jika diadakan pesta pengombaken apa yang menjadi kerja keras selama ini akan habis.” Begitulah komentar, mungkin keluh kesah anak beru Sembiring Mergana.

    Mulai saat itulah tidak ada lagi  “singuda-nguda (gadis)” yang mau menikah dengan merga Sembiring dan “anak perana (pemuda)” yang mau mempersunting beru Sembiring. Sehingga mulai saat itu merga Sembiring dan beru Sembiring tawiren/pangke/cawir singuda-nguda ras anak perana (tidak laku. Hahahaha...).
    Hal ini membuat Sembiring Mergana berfikir “Jikalau tidak ada lagi yang mau mempersunting/menikahi turangku(saudariku) beru Sembiring, biarlah aku yang mempersuntingnya.” Dan juga kata beru Sembiring: “Jikalau tidak ada lagi yang mau mengasihi dan menyayangi turangku (saudaraku) Sembiring Mergana, biarlah aku yang mengasihi dan menyayanginya.” Itulah awal mulanya Sembiring Mergana dan Beru Sembiring saling sibuaten (kawin se-merga).

    Selain cerita diatas masih ada cerita versi lain yang mungkin menjadi alasan mengapa Sembiring dan Beru Sembiring kawin se-merga. Seperti:

    1. Kita katakan diawal tadi, bahwa menurut sejarah Merga Sembiring berasal dari India. Merga Sembiring pertama di gambarkan ber-sosok: badan besar, kulit gelap, hidung besar dan lebar, dan bersuara besar. Ya, kesimpulannya: “Jelek!” Sehingga, karena rupanya yang buruk tidak ada peria dan wanita lainnya yang mau berhubungan dengannya. Maka banyak diantara mereka yang tidak menikah. (Hem.! Jauh beda dengan skarang ya! Merga/beru Sembiring Ini mantab2. Hehehe..)
    Hal ini membuat populasi mereka kala itu menurun derastis. Mengantisipasi ancaman kepunahan dan juga tidak mungkin kalau mereka terus menerus hidup menyendiri,  jadi jalan satu-satunya ialah dengan menikahkan mereka. Tetapi dengan siapa? Melihat hal ini, maka jalan satu-satunya adalah “mereka saling sibuaten.” Dan, mengerti akan permasalahan yang terjadi para tetua adat, penguasa, dan raja (Sibayak) memberikan pengecualian kepada keturunan mereka dan kebebasan untuk saling sibuaten asalkan jangan dalm saru cabang (mislkan: Meliala – Meliala; Depari – Depari)atau sedarah langsung.
    1. Cerita berikut berawal dari keturunan India yang berdomisili di daerah yang didiami masyarakat Karo, sehingga untuk memuluskan langkahnya sebagai seorang pedagang ia mempelajari adat-istiadat Karo, bahasa Karo, dan mengambil salah satu merga Karo. Karena kulitnya yang gelap, asalnya dari Hindustan, dan dia seorang pemuja Brahmana, maka dia menggunakan merga Sembiring Berahmana. Begitu juga dengan istrinya, karena seorang Hindu dari Etnis Malyam Tamil, maka dia menggunakan beru Meliala. (menurut cerita Meliala berasal dari Etnis Malyam Tamil). Jadi, kemanapun mereka pergi, selalu katakan ia seorang Sembiring dan banyak keturunan dari daratan India lainnya seperti mereka(misalkan seorang dari Colla, mengambil merga Sembiring Colia, pedagang dari Pandyth mengambil merga Sembiring Pandia, dlsb). Memang kalau dilihat dari watak, rupa, dan logat tidak ada yang tidak percaya kalau mereka orang Karo, beitupun dengan anak-anak mereka.
    Singkat cerita, timbullah pergunjingan di masyarakat “mengapa di dalam satu keluarga suami-istri memiliki merga/beru yang sama? Dan mengapa ada pesta pernikahan antara mega/beru yang sama?” Hal ini menjadi sangat meresahkan ketika banyaknya anak muda dan para penganut aliran kebebasan mengikuti jejak mereka (padahal mereka sebenarnya orang India. Sembiring juga keturunan India-kan?) menjadikan hal ini untuk melegalkan pernikahan se-merga, dan lama-kelamaan ini tumbuh seperti sebuah trend dan kebiasaan ataupun hal yang wajar. Semakin banyak terjadi kasus-kasus di beberapa daerah membuat terjadinya pertentangan dan bahkan perperangan antar kuta (desa) di beberapa daerah, membuat tetua adat dan penguasa setempat harus ikut campur.... Dari hasil musyawarah, maka pada saat itu tetua adat dan penguasa mengeluarkan keputusan: 1) tetap pada aturan yang berlaku dan menghukum yang melanggar dengan hukuman “pengucilan di masyarakat, ataupun diusir dari kuta.” 2) Karena sudah terlanjur terjadi, maka tetua adat dan penguasa memberikan pengecualian kepada para keluarga keturunan India, namun tetap melarang bagi keturunan Karo asli.
    1. Cerita berikut ini juga menjadi alasan mengapa terjadi perselisihan antara kelompok “Kuala” dengan kelompok “Terumbu dan Tembengen” dalam tulisan saya sebelumnya “SEMBIRING MELIALA MERGANA SI TELU NINI SI PITU KUTA” dimana, karena pesatnya perkembangan dan pertumbuhan Sembiring ini membuat mereka mayoritas dan dominasi di beberapa kuta. Sehingga, untuk mencari pasangan mereka sangat sulit (orang mereka semua, gak ada yang lain. Ya! Haruslah jeruk makan jeruk. Hehehehe...). Membuat mereka saling sibuaten.
    1. Selain cerita-cerita diatas, ada juga cerita yang mengaitkan mengapa merga/beru Sembiring ini saling sibuaten dengan sifat ataupun watak dari merga/beru Sembiring... berikut pemaparannya.
    Pada umumnya Merga Sembiring rata-rata berjiwa diplomatis. Sedikit berbicara tapi memiliki arti dan makna yang mendalam. Sifatnya yang tertutup dan pendiam cenderung membuatnya sulit dalam mengungkapkan perasaannya sesungguhnya, walau demikian sikap rendah hati, totalitas, ketulusan, dan selera humornya, serta sikap welas  asih membuatnya dapat diterima dengan baik di masyarakat. Sedangkan beru Sembiring pada umumnya penyabar namun cenderung bersifat agresif, ingin menjadi pemimpin, dan menguasai. Sehingga mereka membutuhkan sosok yang penyayang dan penyabar untuk dapat mengimbangi agresifitas dari wataknya.
    Perbedaan sifat namun melengkapi ini membuat terkadang beru Sembiring akan merasa lebih nyaman dan cocok dengan Sembiring Mergana jika dibandingkan dengan yang lain. Begitupula sebaliknya! Mereka dapat saling mengerti apa yang menjadi kelebihan dan kelemahan mereka yang dapat membangun sebuah komunikasi yang baik yang pada akhirnya menumbuhkan ketertarikan, rasa percaya, saling membutuhkan, saling menyayangi, dan yang terpenting dapat saling menyokong dalam segala situasi. Rasa kesamaan yang mendalam ini membuat terkadang mereka lebih jauh memaknainya dan menimbulkan suatu rasa yang berbeda, yang dimana tadinya hanya sekedar “persaudaraan yang tulus; yang saling mendukung” berubah menjadi rasa cinta yang mendalam dan kebutuhan yang lebih untuk menyokong kehidupan selamanya.

    6. Alasan berikut ini berkaitan dengan turi-turin(cerita asal usul) dan pengelompokan Sembiring seperti telah dibahas sebelumnya. Pengelompokan itu, jelas terjadi karena adanya suatu perbedaan, mungkin sifat atau watak, negeri asal, bahkan dan tentunya darah keturunan. Hal ini semakin diperkuat dengan apa yang dianut dalam tradisi Karo, dimana dikatakan Karo adalah suku bangsa yang bernenekmoyangkan Karo(Aroe) yang dari nenek moyang Karo inilah dikemudian hari lahir Merga Silima. Masih dalam tradisi yang sama(Karo-red), dikemudian hari Karo(Merga Silima) ini mengalami invasi dari suku bangsa lain, baik yang memiliki pertalian dekat maupun jauh dengan Merga Silima dan kemudian suku-suku pendatang itu merasuk dan membentuk klan-klannya masing-masing dan bergabung dengan Merga Silima itu menjadi sub/sib dari Merga Silima tersebut. 

    Dalam hal ini, tanpak dan jelas kalau setelah terjadinya invasi suku bangsa ke Karo, maka karo bukan lagu satuan etnis vertikal(geneologi) yang utuh, sehingga pernikahan semerga bukanlah icest murni. Namun, sebagai yang telah mengaku Karo wajib dan sudah sepatutnya-lah mengikuti aturan main yang ada di Karo. Bukan begitu?

    Ya! Itulah beberapa alasan yang mungkin awal mulanya mengapa merga/beru Sembiring ini saling sibuten... Jadi enda ngenca si banci ku ceritaken turang arah penungkunendu. Ija kurang ras lepakna mindo maaf aku, ras ulanai min i goda2’du kami turangdu e “La tahan pancing turang!” Hahahaha... Bujur.
    Sampai di sini dulu kade2. Kapan2 si lanjutken! Mejuah-juah!

    Senin, 23 Mei 2011

    Dina Guittar Wijngaarden

                  “Dina Guittar Wijngaarden adalah istri dari Pdt. J. Wijngaarden  yang merupakan seorang pekabar injil(pendeta) yang ditugaskan oleh  Nederlansch Zending-genootschp(NZG) untuk melakukan pelayanan  Pekabaran Injil( PI) di daerah perkebunan Hindia Timur di wilayah pesisir timur pantai Sumatera bagian Utara unit PI Buluhawar. Sebelumnya, Pdt. J. Wijgaarden ini telah bertugas di Pulau Sewu dekat Pulau Timor. Dan, beliaulah penginjil pertama yang membuka sekolah missi pertama(yang emudian ditutup) dan berhasil melakukan babtisan pertama kepada suku Karo (1. Sampe, 2. Ngurapi, 3. Nuah, 4. Tala, 5. Pengarapen, dan 6. Tambar) tercatat tanggal 20 Agustus 1893, hingga beliau wafat tanggal 21 September 1894 dikarenakan penyakit disentri saat dia baru melakukan perjalanannya di daerah Tanjung Beringin. Ada isu yang beredar bahwasanya kematian Pdt. J. Wijgaarden ini bukan murni karena penyakit “disentri” melainkan ada yang berpendapat kalau beliau di bunuh oleh penduduk Tanjung Beringin dengan cara guna-guna ataupun racun.
     

                 Dengan wafatnya Pdt. J. Wijgaarden, otomatis posisi kepemimpinan pelayanan NZG di Dusun(Karo Jahé/Deli-Serdang) kosong, maka tugasnya untuk sementara di lanjutkan oleh sang istri. Disinilah tampak keteguhan hati seorang Dina Guittar, teruji! Hari-harinya dipenuhi dengan banyak tantangan, sebagai seorang janda, beliau bukan hanya menjadi ibu tungggal bagi putranya “Cornelius” melainkan juga bagi anak-anak babtis-nya dan kaum Kristen kecil yang telah percaya. Bersama kaum pernandén(kaum ibu) yang sudah percaya, beliau berjalan ke daerah-daerah sekitar Buluhawar sambil menggendong putranya Cornelius untuk melakukan pelayanan injil serta kegiatan sosial. Tantangan seperti gunjingan karena setatusnya yang janda, penolakan oleh masyarakat, serta teror dari para guru mbelin(guru besar = orang yang pandai dalam segala hal, khusunya agama, obat-obatan, racun, dan hal-hal mystis) yang tidak senang dengan pekerjaan yang dilakukannya, membuat hari-harinya berat. Namun, itu terus dilakukannya hingga kedatangan Pdt. M.  Joustra kelak.

                 Walalupun hanya dalam waktu yang singkat, keberadaannya diantara masyarakat Karo khususnya, namun Dina Guittar telah banyak melakukan perubahan terhadap pemahaman yang keliru (tidak relevan dengan pri-kemanusiaan) di tengah-tengah masyarakat Karo, seperti: saat beliau mendampingi suaminya (Pdt. J. W.) menyampaikan berita keselamatan (injil), memperkenalkan metode-metode pengobatan secara medis, melakukan kegiatan sosial, dan hal yang paling radikal ialah saat dia menentang kepercayaan lahir nunda(cara membunuhan dengan cara halus, dimana bayi yang baru lahir dengan ibunya meninggal duni saat melahirkannya di taruh di sisi ibunya dengan alasan agar tendinya(hati, jiwa, rohnya) kelak tidak seperti merasa kekurangan(kegogon), maka dikatakan dia diberi kesempatan untuk menyusu kepada sang ibu yang telah meninggal untuk terakhir kalinnya dan kemudian jasad ibunya yang telah tiada itu dibalikkan denga bosisi menindih sang bayi hingga tidak bernyawa) dan pengorbanan jiwa yang dianut masyarakat Karo, sehingga membuat beliau dan suaminya Pdt. J. W., saat itu sangat dibenci dan dimusuhi baik oleh para Guru Mbelin maupun masyarakat(dan ini juga dikaitkan dengan kematian Pdt. J. W.,). 

                   Masih banyak hal-hal lain yang telah beliau lakukan di tengah-tengah masyarakat Karo yang belum di ekspos ke publik... Hendaknya kisah-kisah hidup dibalik misi PI ke masyarakat Karo lebih banyak lagi di ekspos ke masyarakat, seperti halnya kisah Dina Guittar ini yang dimana bisa dijadikan contoh teladan  bagi kaum wanita Indonesia, khususnya bagi wanita-wanita Karo.

                  Hm.... Salut deh bwt ibu Dina Guittar Wijngaarden(Nandé Cornelius), kyk’a dia layak’lh diberi penghormatan sebagai salah seorang inspirator bagi wanita Indonesia, khususnya wanita Karo..  Bujur ras Mejuah-juah.

    Jumat, 20 Mei 2011

    Ini Bukan Berastagi, Lae!

    Cerita ini terjadi saat saya sedang mengambil formulir SPMB (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru), kalau tidak salah itu merupakan hari terakhir yang ditentukan Panitia SPMB untuk mengambil formulir. Sabtu, di Gedung Serbaguna UNIMED sekitarar pukul 14.45 wib, antrian masih panjang dan menurut jadwal penutupan dilakukan pukul 16.00 wib.

    Singkat cerita! Tinggal satu langkah lagi saya sudah berada di barisan terdepan... “lama jug!” gumamku dalam hati “padahal cuma satu orang yang mau diurusi. Dasar Indo...., birokrasi lelet!” Bosan dengan antrian, aku coba menghilangkan kejenuhanku dengan cari pemandangan di sekitar hehehehe..... kebetulan saat itu banyak cewek-cewek cantik yang ikut antri. “ Hm....! lumayan makanan mata.”  Wkwkwkwk... tanpa sengaja aku membaca nama yang tertera di map (folder) orang didepanku, tertulis : GINTING! “Oh, kade-kade!” kataku. Beberapa saat kemudian orang didepanku pergi karena urusannya telah selesai, selanjutnya giliranku.

                Saat perjalanan pulang aku melihat orang yang tadinya berdiri antri di depanku, juga sedang berjalan keluar komplek universitas itu. Seorang peria berbadan besar, kulit agak gelap, dan sekucur lengannya tampak bulu yang lebat (monyet kale...!!! Hahahaha..) Ku coba mendekatinya “Hi! Kamu ngambil formulir SPMB juga ya? Ku lihat tadi kamu di depanku.” Tanyaku dengan gaya khas’q. Hehehe..

                “Ia!” jawabnya datar sambil menganggukkan kepalannya.

                Selanjutnya ku perkenalkan diriku lengkap dengan mergaku yang selama ini membuatku merasa bangga. Hahahah... kataku: “Bastanta P. Sembiring” sambil menjulurkan tanganku kepadannya.

                “ ........ GINTING” balasnya sambil menjabat tanganku!

                “O.! Kalak Karo kam pal?” tanyaku, langsung menggunakan bahasa Karo.

                “Iya, lae!” jawabnya.

                “Lae!” Pikirku!

                Kusambung dengan menjelaskan identitasku: “Aku Sembiring Meliala, b’bre Ginting, kita tading i Patumbak!” tanyaku lagi: “Ja nari dage kuta pal’ku?”

                Jawabnya: “Kita orang Berastagi lae, tapi kost di Padang Bulan.”

                Percakapan terus berlanjut, namun aku selalu bertanya-tanya dalam hati: “Ini orang benar-benar gak ngerti bahasa Karo atau jangan-jangan dia malu berbahasa Karo?” Merasa tidak nyaman dengan komunikasi antara dua putra Karo, namun tidak menggunakan bahasa Karo aku coba bertanya kepadannya: “O, pal-ku.! Dai nari kucakapi kam salu cakap Karo tapi ku idah lalap i balas-du salu bahasa Indonesia?” Lanjutku “ labo min salah adi la kin iangkaindu cakap Karo e, tapi adi kam kalak Berastagi la kuakap mungkin kam la beluh cakap Karo!”

    Dia hanya terdiam acuh, tak acuh dengan pernyataanku.

                “La kuakap sedap saja adi kita kalak Karo, si etehka nge cakap Karo, tapi la kita cakap Karo.” Kataku! Lanjutku dengan bertanya: “La kin kam beluh cakap Karo pal’ku?”

                Sejenak dia tanpak diam, dan tiba-tiba dia bersuara dengan lantang: Ini bukan Berastagi, lae!

                “Wuih,  kawan ini! Sombong kali!. Orang Tapanuli, Jawa, Melayu, Flores, dll itu saja cakap Karo sama aku. Ini! Kau-nya orang Berastagi. Lang aku Nini Bulangku’pe nggom tubuh i Deli, ras nai-nai nari keluargaku enggom tading i Deli (Medan) enda!” Sesaat itu juga rasa simpatiku kepadanya sirnah. Aku sedikit merasa kecewa dan sedih melihat saudara sesukuku seperti malu berbahasa daerah denganku. Selama ini aku menganggap dan berfikir: orang yang berdomisili di daerah pegunungan Karo lebih menghargai dan menjunjung tinggi nilai-nilai budaya Karo (salah satunya bahasa), tetapi ternyata tidak juga! Ternyata banyak juga putra/i Karo yang berdomisili di daerah pegunungan Karo dan sekitarnya yang malu menunjukkan identitasnya dan bahkan untuk berbahasa Karo saja tidak bisa. Bukan saat itu saja sering aku bertemu orang-orang yang demikian, namun aku tidak berkecil hati, mungkin ada hal-hal yang membuat mereka demikian. “Kalau tidak kita yang melestarikan dan menggunakan budaya kita, siapa lagi?”

    Jujur aku sedikit merasa panas dengan pernyataannya, tetapi tidak apalah; cara dan pemikiran orang itu berbeda. Namun menunjukkan ekspresi kekecewaanku, lantas ku menepis pernyataanya “Payo kata’du ena pal! Jenda memang labo seri ras Berastagi oh, aku Nini Bulangku’pe enggom tubuh i tanah Deli e, sada’pe lanaibo lit kami i Taneh Karo oh.! Bicara mulih-kin pe ku Taneh Karo lanaibo lit ingan kami ras mungkin lanaibo ialoken i joh, tapi setidakna em jadi kenang-kenangen ras tanda man kami bahwasana meherga, metunggung, ras mehaga akap kami pendahin-pendahin (perjuangan) Nini-ninita nai!” sambil berlalu dan meninggalkannya.

    ....
                Januari 2007 saat perjalanan menuju Kabanjahe bersama teman-teman diatas bus Sutra, tepatnya di daerah Bandarbaru. Seorang kondektur meminta ongkos, sebelumnya terjadi juga percakapan diantara kami.

                “Mau kemana, Lae?” tanya sang kondektur.

                Jawabku dengan lantang: “Ini bukan Tapanuli, Impal!”
    Hahahaha.....

    "Bangsa yang besar, adalah bangsa yang menjunjung tinggi (menghargai) sejarah perjuangan bangsanya. Suku yang besar, adalah suku yang menjunjung tinggi (menghargai) dan mau melestarikan tradisi budayanya"
    Mejuah-juah kita kerina....

    Kamis, 19 Mei 2011

    19 Mei 2011


    Sepertinya orientasi perjuangan kekaroan kita saat ini sudah perlu diubah, jangan hannya tertuju ke Tanah Karo saja. Sebab untuk membesarkan Karo tidak hanya tertumpu pada pembangunan Tanah Karo semata, melainkan pembangunan jiwa Karo yang seutuhnya. Artinya semua aspek pendukung eksistensi bagi kejayaan Karo harus mengalami dan merasakan apa yang dimaksud dengan “Mengembalikan Kejayaan Karo (Haru)!.”

    Sebaba, kita ketahui! Kekuatan Karo sesungguhnya bukan hanya terletak di Tanah Karo, namun kita juga perlu memperhitungkan Deiri, Deli Serdang, Langkat, Binjai, Medan, dan daerah-daerah lainnya yang memiliki potensi pengembangan eksistensi kekaroan.

    Sejarah mencatat kebesaran dan eksistensi masyarakat Karo di beberapa daerah tersebut diatas, tetapi mengapa kita sebagai generasi penerus yang seharusnya lebih lagi mempersatukan visi Karo ini, malah membuat jurang pemisah diantara kita. Seharusnya ini keuntungan bagi kita, namun malah menjadi kelemahan yang membuat kita tercerai berai.

    Kita harus sadar, potensi kekuatan geopolitik Karo sebenarnya sangatlah luas, camkan itu! Tetapi, apakah kita tidak sadar ataukah memang kita sulit untuk disatukan? Entahlah! Sejarah yang seharusnya dapat kita manfaatkan sebagai senjata, kini malah menjadi momok menakutkan bagi kita.

    “Karo Gugung, Singalur Lau, Karo Deli, Karo Binge, Karo Jahe, dll. Entah apapun istilah atau pengelompokan itu.! Bukankah istilah-istilah itu menunjukkan kebesaran dan eksitensi kita di beberapa wilayah, kok malah jadi membuat kita lemah...??? Hehehe.. (Aku’pe teori sj nge, prktkna.... Hahahah..! ;-))

    Enggo mena! Hehehehe...

    Rabu, 18 Mei 2011

    Sembiring Meliala Mergana: Si Telu Nini, Si Pitu Kuta

    Dikisahkan sekitar antara abad ke-15 - 16 Masehi, tiga orang (Telu Nini) dari kaum Sembiring Meliala Mergana merantau dari ''Sarinembah'' menuju ke wilayah pesisir. Adapun hal ini dikarenakan jumlah populasi mereka sudah terlalu banyak, sehingga mereka membutuhkan wilayah baru, baik untuk permukiman maupun lahan pertanian. Hal ini bersamaan dengan gelombang para ''Perlanja Sira'' (pembawa/pemikul/penjual garam) dari  gugung(dataran tinggi Karo ke wilayah Dusun(Karo Jahe/Deli-Serdang)).

    Sebelum sampai di Dusun, diceritakan, rombongan ini sempat singgah di ''Barusjahe'' untuk beristerahat serta bersilaturahmi dengan Barus Mergana yang merupakan kalimbubu dari Sembiring Meliala Mergana ini, dan dari sana mereka kemudian melanjutkan perjalanan hingga sampailah mereka di ''Buluh Gading.''

    Merasa sangat cocok dengan wilayah Buluh Gading,  dimana kontur tanah, iklim, dan airnya sama persis dengan
    kuta  asal mereka di Sarinembah, mereka memutuskan untuk menetap dan membuka kuta(perkampungan) di sana dan salah seorang dari mereka kembali ke Sarinembah untuk membawa sangkep nggelu(sanak saudara) mereka untuk menetap di Buluh Gading(seperti aturan adat Karo dalam manteki(membuka, mendirikan) permukima harus dengan kelengkapan sangkep nggeluh( sistem kekerabatan Karo) yang secara garis besar meliputi  sangkep siempat/siempat terpuk, yakni: Sembuyak, senina, anak beru, dan kalimbubu). Dari sinilah kemudian kaum mereka dikenal dengan sebutan ''Sembiring Meliala Mergana Si Telu Nini'' Buluh Gading.


    Di Buluh Gading pertumbuhan mereka juga sangat pesat, begitu pula dengan kualitas hidup mereka.  Hal ini lah yang dikemudian hari mendorong mereka untuk memperluas kuta, atau mencari lokasi baru. Terhitung setidaknya sekitar tiga generasi dari awal kedatangan mereka ke Buluh Gading, barulah mereka mengembangkan kuta. Maka, sebahagian dari kaum itu membuka kuta di ''Kuala (1. Kuala Uruk, 2. Kuala Sabah, 3. Kuala Cawi, 4. Kuala Paya, dan 5. Kuala Tebing), sebahagian mengembangkan kuta di Terumbu dan Tembengen, serta dibelakang hari juga beberapa kuta disekitar, dimana salah satunya adalah Kampung Tengah. Dan, dari sinilah mereka di panggil ''Meliala Mergana Si Pitu Kuta'' Kuala.

    Dan, dari
    pitu kuta(tujuh perkampungan) itulah mereka berkembang membangun kuta-kuta baru di wilayah Dusun dan menjadi  sibiak(utama) "Penghulu'' secara turun temurun di setiap kuta yang mereka dirikan. Namun, setelah perkembangan di tujuh kuta ini sangat pesat, terjadi perselisihan antara kelompok lima kuta(Kuala) dengan kelompok Tembengen-Terumbu. Hal ini dikarenakan: selisih paham, perbedaan sifat(kaum Kuala cenderung ber-watak lebih keras), permasalahan tapal batas kuta dan juma(lahan pertanian), dan yang paling krusial ialah permasalahan sibuaten(kawin se-merga). Hal ini memicu pertikaian antar kuta. Menanggulangi perselisihan ini, maka para tetua kuta memutuskan untuk membawa ''Karo-karo Barus Mergana'' dari ''Barusjahe'' yang merupakan ''Kalimbubu'' dari ''Sembiring Mergana'' untuk mendamaikan(dikemudian hari Karo-karo Barus Mergana inilah yang menjadi Sibayak Sirengit-rengit). Untuk menghindari perselisihan lebih parah, diangkatlah Barus Mergana ini menjadi penghulu menggantikan Sembiring Meliala Mergana di beberapa kuta. Mulai saat itulah penghulu di beberapa kuta yg didirikan Meliala Mergana bukan keturunan Sembiring Meliala dan tidak turun-temurun lagi.

    Demikianlah sejarah singkat Meliala Mergana Si Telu Nini Si Putu Kuta ini yang selama ini diceritakan secara turun temurun di keluarga Meliala Mergana Si Telu Nini Si Pitu Kuta.  Penulis, sebagai generasi ke-7(terhitung semenjak kepindahan dari Buluh Gading) dari generasi Terumbu, saya hanya memiliki secuil informasi dari perjalanan ''Sembiring Meliala Mergana Si Telu Nini, Si Pitu Kuta ini. Jadi, kalau ada diantara senina - turang(sdr/i) yang memiliki informasi lainnya dan lebih akurat mari kita saling berbagi. Bujur ras Mejuah-juah.

    Bukan Chernobyl Yang Kami Takuti!

    "Ingat nuklir, ingat Chernobyl!"
    Mungkin kalimat itu yang sering terlintas dalam benak kita jika bicara tentang "nuklir."

    Peta letak Chernobyl dan Pripiat
    Sumber:
    http://www.world-nuclear.org/info/chernobyl/inf07.html
    Chernobyl dan Prypiat! Sebuah konplek reaktor nuklir yang dibangun dimasa Uni Soviet di atas lahan rawa, 80 mil di utara Kiev (sekarang ibukota Ukraina) tepatnya di Oblast Kiev di Chernobyl Raion (distrik) dekat dengan perbatasan Belarusia. Terletak di kordinat 51°38’LU 30°11’BT. Chernobyl dibangun bersamaan dengan Prypiat, Prypiat adalah kota yang diperuntukkan bagi 50.000 orang pekerja reaktor nuklir Chernobyl, setelah akhirnya pemerintah Soviet mengevakuasi warganya akibat musibah nuklir, dan seketika kota ini menjadi kota tak berpenghuni hingga sekarang. Sebagai sebuah kota yang diperuntukkan bagi pekerja Reaktor Nuklir Chernobyl, tentunya Prypiat memiliki kehidupan layaknya sebuah kota industri, dimana apartemen-apartemen di bangun, rumah sakit, sekolah, tak terkeculi hotel, kafe, bar, dan taman kota, serta tampat bermain, berbeda jauh dengan gambaran yang kita lihat sekarang ini. Lihat video berikut(sumber: youtube) yang menunjukkan kondisi Chernobyl dan Prypiat tahun 2011.




    Di Reaktor Nuklir Chernobyl ini telah di operasikan empat unit reaktor nuklir (masing masing reaktor mampu menghasilkan 1 gigawatt) yang menggunakan reaktor model RBMK – 1000, yang dirancang oleh Uni Soviet menggunakan balok-balok grafit sebagai pengganti air yang didinginkan(reaktor no 5 dan 6 masih dalam tahap pengerjaan, ketika kecelakaan terjadi). Model RBMK-1000 dirancang untuk pembangkit listrik dan penghasil plutonium bagi persenjataan Uni Soviet. Reaktor unit I resmi beroperasi tahun 1977, setahun kemudian, yakni pada tahun 1978 unit II mulai beroperasi, disusul unit III tahun 1981, dan unit IV pada tahun 1983. Reaktor ini beroperasi hingga terjadinya bencana yang mengerikan itu di tahun 1986. 

    Jumaat, 25 April 1986. Bencana itupun dimulai, saat dimana salah satu dari empat blok reaktor yaitu: reaktor Unit 4 direncanakan akan di padamkan untuk perawatan rutin. Selama dilakukan perawatan dan pemadaman, para teknisi akan melakukan beberapa tes diantaranya "Apakan daya turbin dapat menghasilkan energi yang cukup untuk membuat sistem tetap bekerja dengan baik sampai generator kembali beroperasi." Ini sangat berbahaya, bahkan bisa dikatakan bermain api (bunuh diri), sama saja dengan menyimpan dinamit di saku celana. Apalagi dengan prinsip kerja model reaktor RBMK -1000, yang dimana kita ketahui pada model reaktor ini, jika sistem kehilangan air pendingin maka akan memicu pembelahan inti atom lebih cepat, dan menjadi semakin panas. Sangat berbahaya dan bertentangan dengan respon ideal terhadap sistem kerja reaktor nuklir terhadap sistem pendingin, dimana kita ketahui di model yang banyak digunakan di negara-negara lain, salah satunya pesaing nuklir Uni Soviet yakni Amerika Serikat, dimana, jika reaktor mulai kehilangan air pendingin, maka reaktor tersebut turut serta mengurangi kecepatan pembelahan (produksi tenaga), dengan demikian secara berangsur-angsur panas yang di sebabkan berkurangnya air pendingin, suhunya juga semakin menurun.

    Pukul 13.00 pemadaman dan tes dimulai. Untuk mendapatkan hasil yang akurat (terhadap uji coba), maka operator memilih mematikan sistem keamanan. Inilah awal dari musibah paling menakutkan itu. Dilaporkan, pada pertengahan tes, pemadaman ditunda selama lebih kurang sembilan jam, karena adanya permintaan daya listrik di Kiev. Pemadaman dan tes-pun kemudian dilanjutkan pukul 23.10. Kemudian, 26 April 1986 pukul 01.00 dini hari, daya reaktor menurun tajam, otomatis sistem LGR (Ligtwater Graphit Moderator Reactor) juga tidak berfungsi optimal, suhupun meningkat melelehkan tabung reaktor dan zat radioaktif yang terjadi akibat reaksi berantai dan bahan bakar yang mengandung radioaktif lepas keluar dari tabung(kebocoran), para teknisi terus berusaha mengoperasikan rendahnya daya, tetapi reaktor tak terkendali. Jika sistem keselamatan tetap aktif, mungkin operator berpeluang untuk menangani masalah ini, namun tidak. Dan akhirnya reaktor meledak tepat pukul 01.23.40 dini hari (UTC+3). Terjadi dua kali ledakan dalam selang tiga detik meruntuhkan gedung. Gas radioaktif, reruntuhan bangunan, dan material dari reaktor terlempar ke udara hingga setinggi dua per tiga mil (1 km), menyulut kebakaran radioaktif nyaris mencapai 1 mil (1,6 km) di udara, dua pekerja terbunuh seketika, dan dua puluh sembilan lainnya berkubang radioaktif dan tewas akibat mengalami keracunan limbah radioaktif.

    Kecelakaan PLTN Chernobyl masuk dalam level – 7 (major accident) sesuai dengan ketentuan INES (The International Nuclear Event Scale). Bahkan, hingga sekarang tingkat radiasi masih dalam keadaan kritis, yaitu 5,6 Roentgen per secong (R/S) atau 0,056 Grays per second (Gy/S). Bahkan, insiden ini disebut-sebut bencana nuklir terburuk sepanjang sejarah, yang dimana kekuatan radiasinya seratus kali lebih besar dari bom nuklir yang pernah di jatuhkan di Nagasaki dan Hiroshima (1945), Jepang. 56 orang mati seketika, 4. 000 orang mati karena kanker (terkait efek radiasi), dan diperkirakan 600. 000 mengalami berbagai penyakit akibat paparan radiasi, dan 135. 000 di ungsikan termaksud 50. 000 dari Prypiat. Bahkan temuan IAEA (International Atomic Energy Agency) tahun 2006, 5 juta orang yang tinggal di Belarusia dan Ukraina terkontaminasi zat radioaktif (daerah-daerah sekitas Chernobyl). Populasi tumbuhan dan hewanpun menurun tajam, bahkan ada yang melaporkan melihat hewan-hewan yang berupa dan berbentuk aneh di sekitar kawasan Chernobyl, para ilmua berpendapat ini diakibatkan terjadinya mutasi ginetik oleh efek terkontaminasi zat radioaktif. Chernobyl menjadi momok bagi industri nuklir dunia, dan kota kembarnya Prypiat seketika menjadi kota tak berpenghuni, bahkan di konotasikan kota mati, kota hantu, kota malapetaka, dll di sematkan kepadanya. Dan masih banyak kisah-kisah mengerikan lainnya yang menghiasi cerita Chernobyl ini, diantaranya efek negatif dari kontaminasi radioaktif yang masih dirasakan hingga sekarang. Chernobyl dan Prypiat hingga sekarang masih dinyatakan sebagai zona berbahaya dan tertutup untuk umum.

    Mengerikan bukan? Dan, apakah kita yakin mau dekat dengan reaktor nuklir dengan SDM, teknologi, dan budaya kerja yang kita miliki? Ingat! Bencana Chernobyl tidaklah murni kecelakaan saja, tetapi juga efek dari kesalahan operator/manusia (human error!) karena di laporkan beberapa prosedur kerja di luar ketentuan SOP (Standart Operation Procedur) dimana hannya 8 batang kendali yang dipakai dari semestinya 30, hal ini mengakibatkan reaktor tidak terkendali, dan desainnya yang tidak memenuhi standar IAEA dimana, Chernobyl tidak memiliki "kubah kungkungan" (dari beton maupun baja) yang berfungsi untuk mengurung radiasi agar tidak kemana-mana jika terjadi kebocoran. Dan masih banyak kesalahan lainnya.

    Bukan hanya Chernobyl, masih banyak kecelakaan nuklir lainnya. Bahkan belum lama ini kita di takutkan oleh reaktor nuklir di Daiichi, di Provinsi Fukushima, Jepang yang keempat unit reaktornya mengalami kebocoran akibat sistem pendinginnya tidak bekerja dengan baik akibat di terjang tsunami dan gempa 8,9 SR yang menghantam daerah tersebut. Hm....! Jadi, bagai mana? Apa kita siap? He he he. Namun, tidak adil jika kita hanya mengangkat efek negatif dari radioaktif. Oh! Kita persempit saja ya jadi PLTN. Untuk membuat argumen yang seimbang, perlu rasanya jika kita juga melihat manfaat-manfaat dan kelebihan dari energi nuklir itu. Dengan demikian kita dapat membandingkan antara manfaat dan resiko dari nuklir itu sendiri. Namun saya tidak akan memaparkan lebih jauh karna hanya bikin bingung aja, cukup yang penting kita ketahui aja. He he he.

    Otto Han, Lise Meiner, dan Fritz Stassmann, mereka dikenal sebagai fisikawan asal Jerman yang pertama kali melakukan percobaan terhadap energi nuklir, yakni pada tahun 1938. Awalnya nulkir ini dikembangkan sebagai senjata pemusnah masal di era Perang Dunia II, seperti bom atom yang dijatuhkan Amerika Serikat di Hiroshima dan Nagasaki, Jepang (1945). Sadar akan energi yang dapat dihasilkan, kemudian para ilmuan berfikir untuk mengembangkan nuklir sebagai sumber energi alternatif pembangkit listrik. 20 Desember 1951 merupakan momentum besar bagi industri nuklir, dimana reaktor nuklir pertama untuk menghasilkan energi listrik yakni reaktor percobaan EBR-1 di bangun di dekat kota Arco, Idaho, Amerika Serikat, yang menghasilkan energi sekitar 100 KW. Barulah pada 27 Juni 1954 di Obninsk, Uni Soviet PLTN pertama di beroperasi untuk jaringan listrik. Tahun 1950 PLTN Calder Hall di Inggris mulai beroperasi, ini merupakan PLTN komersil pertama.

    Di tinjau dari kavasitas energi yang pernah di hasilkan, pada tahun 1960 dari reaktor dihasilkan energi 1 gigawatt, kemudian 1970 sebesar 100 gigiwat, 1980 sebesar 300 gigawatt. Namun di tahun 80’an energi di hasilkan dari reaktor nuklir tidak terlalu besar, perkembangan, industri nuklir terusik oleh beberapa insiden yang membuat pemerintah akan berpikir dua kali untuk membangun reaktor nuklir, salah satunya insiden kecelakaan nuklir di PLTN Chernobyl yang dianggap merupakan bencana nuklir paling buruk sepanjang sejarah (Waw! Ternyata bukan kita aja yang takut ya? Ha ha ha...). Hal ini berlangsung hingga sekitar tahun 2005, dan akhirnya kembali di lirik, terdorong karena menipisnya bahan bakar fosil.

    Tahun 2005 tercatat 443 PLTN yang berlisensi di dunia, yang tersebar di 26 negara. Namun, hal yang sangat mencemaskan, masih banyak reaktor nuklir di dunia ini yang tidak terdaftar di badan atom dunia IAEA. Sehingga, susah untuk melakukan kontrol. Ketakutan yang timbul adalah, jika reaktor-reaktor tersebut dibangun untuk menghasilkan plotonium bagi senjata pemusnah masal. Inilah salah satu yang membuat kontroversi akan tenaga nuklir ini kian memanas dan menjadi momok bagi perkembangan industri nuklir.

    Berikut ini keuntungan/kebaikan PLTN di banding pembangkit listrik lainnya.
    • Tidak menghasilkan emisi gas rumah kaca.
    • Tidak menghasilkan gas-gas berbahaya seperti: karbon monoksida, sulfur dioksida, aerosol, mercury, nitrogen oksida, fartikulete, dan foto kimia.
    • Menghasilkan limbah padat yang sedikit.
    • Biaya bahan bakar evisien (sedikit penggunaan bahan bakar, menghasilkan energi yang cukup besar) Ingat! 1 kg uranium dapat menghasilkan 19 x kilo kalori, bandingkan dengan batu bara yang hanya 7,2 kilo kalori. Menarik bukan?
    • Ketersediaan bahan bakar yang melimpah.
    • Tidak berisik.
    • Tidak terpengaruh oleh cuaca dan musim, dll (seperti halnya PLTA yang terpengaruh kemarau).
    Dari poin-poin di atas dapat disimpulkan kalau PLTN pembangkit energi yang ramah lingkungan, dan evisien(Ingat! Poin-poin di atas hanya diperoleh dalam keadaan operasi normal)

    Dan, berikut kekurangan/keburukan dari PLTN:
    • Resiko kecelakaan nuklir (tidak ada toleransi kesalahan). Menanggulangi itu, reaktor-reaktor modern dilengkapi dengan kubah, baik dari bahan beton maupun baja, akan tetapi ini tidaklah menjamin kalau reaktor benar-benar aman, lagi pula apakah sudah teruji? Tentunya belum 100%. Dengan kata lain: Tidak ada yang aman!
    • Efek paparan radiasi (terkontaminasi radio aktif) yang mengakibatkan menderita penyakit, seperti: kanker, gondok, kanker kulit, kerusakan jaringan syaraf, dll. Bahkan resiko keracunan akut yang bisa mengakibatkan kematian.
    • Limbah radioaktif yang dihasilkan bertahan hingga ribuan tahun. Bahaya zat-zat radioaktif tidak dapat di tuntaskan dengan menimbun ataupun menanamnya, sebab unsur-unsur radioaktif tidak setabil, dan senantiasa berusaha menjadi setabil (peluruhan/emisi). Pada saat reaksi terjadi, unsur radioaktif melepaskan energi alpha, beta, dan gamma (neutron), serta panas. Uranium (U238) zat radioaktif paling lazim dan sederhana, untuk menstabilkannya di butuhkan waktu 449 juta tahun x 10 tahun (sekitar 4,5 milyar tahun), bandingkan dengan usia rata-rata manusia, misalkan 65 tahun, jadi anda sudah bisa menebak maksud saya!
    • Biaya pembangunan reaktor yang mahal, dll.
    Hm...! kalau dilihat cerita diatas, kayaknya lebih banyak negatifnya, ya? Tapi supaya Anda ketahui negara-negara yang memiliki cerita kelam akan nuklir seperti Rusia, Amerika, dan Ukraina (Chernobyl) sendiri tidak pernah terauma dengan reaktor nuklir, dan terus mengembangkan nuklir tersebut, bahkan Jepang yang memiliki sejarah kelam mengenai nuklir (bom atom Nahgasaki dan Hiroshima 1945) masih menganggap nuklir sebagai salah satu sumber energi yang patut diperhitungkan, memang nuklir merupakan jalan keluar untuk kerisis energi, apa lagi untuk listrik. Kita juga setuju untuk itu! Tapi, mengapa kita ketakutan? Jawabnya: karena kita menyadari bahwasanya SDM, teknologi, budaya kerja, serta fisikologi masyaratat kita dengan mereka jauh berbeda, itulah yang membuat kita taku dengan NUKLIR!

    Di sadur dari berbagai sumber....

    Selasa, 17 Mei 2011

    Bastanta Permana Sembiring Meliala

    Gelar (nama): Bastanta Permana  Merga:  Sembiring ;  Cabang(sub/sib-)merga: Sembiring Meliala (Sarinembah, Buluh Gading, Delitua,Terumbu, Tembengen, Kuala Uruk, Kuala Tebing, Kuala Sabah, Kuala Paya, Kuala Cawi, Kampung Tengah, Mardingding, Suban) ; Beré-beré:                   Ginting Manik (Singa, Rimo Mukur, Namo Mengkudu, Kuta Jurung, Namo Rambé);  Binuang:                   Tarigan Gersang ( Kuta Tinggi, Dolat Rakyat); Kampah: Karo-karo Sitepu ;  Entah: Karo-karo Barus (Barus Jahé, Sirengit-rengit, Pertumbuken, Penen); [Per-] Kempu: Sembiring Meliala (Kuala); Enté:                     Sembiring Kembaren Soler: Karo-karo Sitepu ; Tubuh: Medan, 25 Februari 1986 Kuta Nini Bulang: Terumbu (Sibiru-biru), Deli Serdang Kuta asal Bapa: Sigara-gara Patumbak ;  Kuta asal Nandé : Namo Rambé Ingan pusung  ndabuh/mbelin i : Sigara-gara - Patumbak Ringan mejuah-juah: Jl. Pertahanan/Perjuang IV, Dsn. IV, Desa Sigara-gara – Kuta Karo, Kec. Patumbak, Kab. Deli Serdang, Prov. Sumatera Utara;  atau: Jl. Lintas Timur Sumatera – Jambi, Desa Suban V – Simpang Rambutan, Kec. Batang Asam, Kab. Tanjunga Jabung Barat, Prov. Jambi, INDONESIA. ; Kontak: e-mail: bastanta.meliala@gmail.com, twitter: @simbisa_366 ; Gereja: Gereja Injili Karo Indonesia(GIKI) - Medan.

     Mejuah-juah INDONESIA
    Mejuah-juah Merga Silima
    Mejuah-juah Sumatera Utara
    Mejuah-juah Taneh Karo Simalem
    (Kota Medan, Deli-Serdang, Sedang Bedagai, Binjai,
     Langkat, Kab. Karo, Dairi, Simalungun, rsd.)
    Mejuah-juah kita kerina.

    Bersama Tim PI GIKI Medan (Dusun Toro Dolik, Kuala Renangan 2013)
    Bersama Tim PI GIKI Medan (Dusun Toro Dolik, Kuala Renangan 2013)

    Bersama Tim PI GIKI Medan (dermaga Ponton, Palalawan, Riau 2013)
    Bersama Tim PI GIKI Medan (dermaga Ponton, Palalawan, Riau 2013)
     
    Grafik jalur perjalanan Sembiring Meliala Mergana dari Sarinembah hingga Patumbak(abad ke-17 s/d 20)
    Grafik terombo Meliala Patumbak (Bastanta P. Sembring Family)

    Taman Alam Lumbini Berastagi
    Taman  Alam Lumbini Berastagi ( 22 Februari 2013)
    BPS dan Yudha Acser Naptha Karo-karo Lubis, 2010


    Natal Umum Rg GBKP Patumbak - Desember 2010.


    Desember 2010, Dermaga Kuala Tungkal
    Patumbak, Agustus 2009


    Patumbak, 28 Februari 2009 (Ultah Nini Tigan ke-101 tahun)
    Patumbak,  Februari 2009

    BPS bersama Team PA Permata GBKP Suban, 2009
    BPS kumpul bersama PERMATA GBKP Suban, 2008


    Suban, 2008
    Suban, 2008
    Patumbak, 2007
     BPS dan Yudha, Suban 2007




    Medan, 1971


    Namo Rambe, 1970 (Keluarga Ginting Manik)
    Sigara-gara-Patumbak, 1970