Mejuah-juah.     Selamat datang di blog sederhana kami: "Rudang Rakyat Sirulo".   Mejuah-juah. Kami minta maaf jika diwaktu dekat ini akan ada sedikit gangguan atau ketidak nyamanan pengunjung terhadap tampilan blog ini, sebab direncanakan dalam waktu dekat blog ini akan melakukan perbaikan. Terima kasih atas kunjungan anda.   Terus dukung dalam doa, untuk Taneh Karo Simalem yan kita cintai segera dipulihkan    Mejuah-juah.        RUDANG RAKYAT SIRULO COMUNITY menerima donasi dari pihak-pihak yang hendak/peduli dengan blog ini, yang ingin berinfestasi. Hal ini ditujukan untuk menghidupkan terus blog ini, serta meng-UPGRADEnya ke wensite berbayar demi kenyamanan pengunjung. Bagi anda yang tertarik silahkan hubungi e-mail: bastanta.meliala@gmail.com. Terima kasih.
Mejuah-juah.   Rudang Rakyat Sirulo Comunity, mengundang partisipasi dari pemcaba untuk mendukung eksistensi blog ini, dengan mengirimkan tulisan-tulisan yang berkaitan dengan Karo ke e-mail: bastanta.meliala@gmail.com    RRSC juga mengundang para pengunjung blog untuk ikut serta membangun jaringan RRSC dengan cara menyampaikan donasi untuk meng-UPGRADE blog ini ke versi berbayar, hal ini dianggap perlu untuk memberi kualitas konten dan kenyamanan pembaca.   Bagi anda yang tertarik untuk mendukung dan ikut serta membangun jaringan RRSC, anda dapat menyampaikan donasi anda ataupun berinfestasi di blog ini. Silahkan hubungi e-mail admin di BASTANTA.MELIALA@GMAIL.COM    Mejuah-juah.
    <--> MEJUAH-JUAH <-->

    Kamis, 26 Desember 2013

    Erkata Bedil


    Erkata Bedil adala salah satu lagu perjuangan Karo(dalam cakap/bahasa Karo), karya komponis nusantara Djaga Sembring Depari(Djaga Depari) asal Desa Seberaya, Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Jika kita terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, erkata bedil mengandung artian “bunyi/dentuman senjata”. Erkata Bedil i kuta Medan(dentuman/bunyi senjata di kota Medan)adalah kalimat pembuka dari syair lagu ini, serta di baris kedua dilanjutkan dengan kalimat ngataken kami maju ngelawan(sebagai pertanda(panggilan) bagi kami untuk maju melawan). Itulah dua baris kalimat pada bait pembuka(pertama) dari lagu karya Djaga Depari ini. Medan merupakan kota yang didirikan oleh seorang putra Karo bernama Guru Patimpus Sembiring Pelawi asal Ajijahe(dataran tinggi Karo) yang didiami penduduk asli dari suku Karo dan Melayu, sehingga kota Medan masuk dalam walayah Taneh Karo Simalem, ataupun merupakan salah satu wilayah adat suku Karo.

    Berkobarnya peperangan di kota Medan menjadi rasa tanggung jawab bagi pemuda/i Karo dari wilayah-wilayah Taneh Karo lainnya untuk membantu saudara-saudaranya yang di kota Medan. Perang di Medan adalah perang bagi seluruh wilayah dan masyarakat Karo, maka sering dikatakan “dari Medan area menuju Karo area” ini menunjukkan bahwa Medan adalah salah satu benteng terdepan yang sangat penting bagi dataran tinggi Karo dan dataran tinggi Karo juga merupakan kekuatan utama dari Dusun(Karo Jahe: Deli – Serdang/Medan), atau bisa dikatakan gudang laskar Simbisa(Simbisa sebutan bagi laskar/pasukan Karo). Jika basis pertahanan Medan telah takluk maka pastilah serangan akan ditujukan ke dataran tinggi Karo, dan begitu juga sebaliknya. Karena, Medan dan dataran tinggi Karo merupakan satu jaringan kekuatan perjuangan masyarakat Karo yang terus terhubung dan tak terpisahkan. Hal ini juga tergambar dalam Perang Sunggal yang tercatat sebagai perang telama yang pernah berlangsung di nusantara(± 38 tahun), dimana saat Datuk Sunggal ber-merga Karo-karo Surbakti penguasa Urung Serbanyaman/Sunggal berperang melawan serdadu Belanda yang dibantu oleh Sultan Deli, masyarakat Karo dari wilayah Taneh Karo lainnya khususnya dari gugung(gunung/dataran Tinggi Karo) tidak bisa berdiam diri saja, maka pasukan Simbisa Taneh Karo pimpinan Nabung Surbakti yang mendapat persenjataan dari perdagangan dengan Portugis dan Turki melalui Aceh dan senjata tradisional Karo berupa tumbak/lambing(tombak/lembing), tumbuk lada/rawit(keris khas Karo), leltep(sumpit beracun), dll berbondong-bondong turun gunung membantu pasukan Datuk Sunggal melawan penjajah.
               
    Itulah sekilas gambaran totalitas masyarakat Karo dalam hal berperang dalam rangka mempertahankan harga diri dan kedaulatan Taneh Karo Simalem dan dalam perang kemerdekaan Indonesia yang tergambar jelas dalam syair/lagu Erkata Bedil  karya Djaga Depari. Berikut syair dari lagu Erkata Bedil.

    Erkata bedil i kuta Medan turang la megogo
    Ngataken kami maju ngelawan ari oh, turang
    Tading ijenda si turang besan turang la megogo
    Rajin kujuma si muat nakan ari o, turang

    O, turang la megogo ( kai aku nindu turang )
    Uga sibahan arihta?
    Arih-arihta tetap ersada ari o, turang

    Adina lawes kena ku medan perang turang la megogo
    Petetap ukur ola melantar ari o, turang
    Adina ue nina pagi pengindo turang la megogo
    Sampang nge pagi simalem ukur ari o, turang

    Oh, turang la megogo (kai nindu ari turang)
    Uga sibaha arih-arihta
    Arih-arihta tetap ersada ari o, turang

    Adina sudu tangkena lenga turang la megogo
    Pasarna licin bentengna wajan ari o, turang
    Adina tuhu atendu ngena turang la megogo
    Tantangi cincin man tanda mata ari o, turang

    [ O, turang la megogo ( kai aku nindu turang )
    Uga sibahan arih ta arih-arihta tetap ersada ari o turang ] 2x

    Lihat partitur lagu Karo: Erkata Bedil di bawah ini. 
    Partitur Lagu Karo: Erkata Bedil
    Lihat video lagu Karo: Erkata Bedil di YouTube!




    Rabu, 18 Desember 2013

    Selamat Natal ras Tahun Baru




    Selamat Wari Natal
    Ras
    Tahun Baru

    Mejuah-juah
    T U H A N    Y E S U S
    Si Masu-masu.



    Selasa, 17 Desember 2013

    TAG HTML UNTUK MEMASUKKAN GAMBAR

    Langsung saja kita ke TKP gan!
    Tag HTML dasar untuk sebuah gambar ialah <img src=" ">
    img menyatakan bahwa konten yang dikelola adalah sebuah image(gambar), sedangkan src merupakan alamat(lokasi) dari image yang hendat ditampilkan.
    Contoh:
    <img src="http://2.bp.blogspot.com/-L1eQeqge1DQ/Uqx3A-yGUQI/AAAAAAAABV4/nIdqkFfZbTc/s320/Untitled.png"  />

    image(img) yang hendak saya tampilkan berada di .... (lihat warna merah cetak tebal diatas). Maka, browser akan mencari/serch(src)alamat tersebut dan menampilkannya, seperti dibawah ini!



    - Bagaimana pula menentukan panjang dan lebarnya, supaya sesuai?
    Ya, cukup tambah aja tag lebar(width) dan tinggi(height). Tag HTML-nya: width = " " dan height=" ". 
    Contoh: 
    <img src="http://2.bp.blogspot.com/-L1eQeqge1DQ/Uqx3A-
    yGUQI/AAAAAAAABV4/nIdqkFfZbTc/s320/Untitled.png" width="50" height="110" border="0" alt="gif creator" />
    Maka akan ditampilkan seperti di bawah ini:

    gif creator
    - Bagaiman pula jika kita ingin gambar yang ditampilkan itu menjadi sebuah link penghubung? Ya, cukup tambahkan saja tag html untuk membuat sebuah link. Tag html untuk membuat ling adalah <a href=" ( tujuan) " </a>.
    Contoh link: <a href="http://www.twitter.com/simbisa_366">Tulisan yang ditampilkan</a> makan hasilnya (silahkan klink untuk mencobanya) --> Tulisan yang ditampilkan 
    Berikut contoh tag html untuk menjadikan sebuah image menjadi link:
    <a href="http://www.twitter.com/simbisa_366"><img src="http://2.bp.blogspot.com/-L1eQeqge1DQ/Uqx3A-
    yGUQI/AAAAAAAABV4/nIdqkFfZbTc/s320/Untitled.png" width="50" height="110"/></a>

    Hasilnya seperti di bawah ini! Klik untuk mencoba.


    Dan, bangaimana pula jika kita ingin gambar yang telah menjadi link tadi, juga merupakan sepuah marquee(konten yang bergerak)? Ya, kita tinggal menambahkan tag html untuk sebuah marquee. Tag-nya adalah: <marquee> .... </marquee>.
    Kita coba dengan menyatukan tag-tag sebelumnya! 

    <marquee> <a href="http://www.twitter.com/simbisa_366"><img src="http://2.bp.blogspot.com/-L1eQeqge1DQ/Uqx3A-
    yGUQI/AAAAAAAABV4/nIdqkFfZbTc/s320/Untitled.png" width="50" height="110"/></a></marquee>
    Hasilnya: 


    Selanjutnya anda tinggal mengembangkan dan  dapat merubah panjang, lebar, dll sesuai dengan keinginan anda. Selamat mencoba.



    Sabtu, 14 Desember 2013

    Liturgi Ibadah Perayaan Natal (dalam Cakap Karo)

    LITURGI IBADAH PERAYAN NATAL
    Gereja Injili Karo Indonesia (GIKI) 
     Jemaat Medan: Senin, 9 Desember 2013

    Théma: “Si ngaloken Tuhan Yesus; ndatken kuasa si mbelin” 
    (Yohanes 1 : 12)
    Sub-théma: “Arah ketubuhen Yésus, erbahan maka kita reh pangna ngakuken kinitekenta, sabab kuasa si mbelin enggo kap i berékenNa man banta.”

    I. PENDILO GUNA ERBAKTI/IBADAH MAN TUHAN
        1. Persikapen: (Pendéta/Pengkhotbah/Kerina serayan Tuhan si hadir)
        2. Ngalo-ngalo kerina Serayan Tuhan:

    Mehamatlah nandangi Tuhan Yésus sangana kita lit ibas rumahNa si Badia. 
    Peteruk ukurta, siendesken pusuh peraténta ku Ia. 
    Ola gejek, ola erbahan keributen, ras ola erbahan kai pé si la ngena atéNa.
                  Senang ukurku perb’an Yésus Tuhanku Si ‘ngkawali aku
                  Temani aku o, Yésus Tuhanku. B’réken pasu-pasuNdu

                  O, Tuhan kawali geluhku. B’réken pasu-pasuNdu
                  O, Bapa temani geluhku. B’réken pasu-pasuNdu

                 ‘Ndi ras Kam o, Tuhanku senang geluhku
                 ‘Ndi ras Kam o, Yesusku tenang tendingku
                  B’réken pasu-pasuNdu

    (Penyembahan: Dikondisikan. Jika belum memungkinkan/konsentrasi jemaat yang hadir belum fokus untuk beribadah, ada baiknya wl/mc mengajak jemaat untuk lebih memfokuskan diri dengan membawa beberapa lagu pujian sebelum masuk ke penyambahan)

    II. IBADAH
         1. Pertoton mbenai Ibadah(Liturgos/Pendeta)
             […]
    Tuhan Yesus Raja Geréja, si enggo ngaloken perpulungen genduari i bas ingan énda. 
    Mari dagé sipesikap kula, ukur, ras tendinta ngaloken kemalemen si rehna ibas Ia nari…. 
    (Liturgos mengajak jemaat: “mari kita kerina kalak si tek, sikataken: Amin.) 


    Rendé: “Kau Sungguh Indah Tiada Taranya” 
                   Kau sungguh indah tiada taranya sungguh mengagumkan
                   Sungguh ajaib tuk di mengerti lebih dari semua yang ada 
                   Hikmat-Mu tiada terselami kasih-Mu dalam tak terduga
                   Kau sungguh indah tiada taranya mulia dan berkuasa

                   Ku kagum hormat akan Engkau 
                   Ku kagum hormat akan Engkau
                   Kau Allah yang layak di puji ku kagum akan Engkau

    2. Liturgi Kerna Erbagé-bagé Keadan (Situasional)
    a. Dibata kap Si Pemena arah kerina sinasa lit-na.
    Dibata kap Si Pemena arah kerina sinasa litna! Bena-benana, ijadiken Dibata langit ras doni. Doni lumé denga, dingen la lit tempasna. Lawit si mbelang ergelumbang itutupi gelap mesangat, janah Kesah Dibata kelaling-kelaling i babo lau siengkuasaisa. Bagé me Dibata njadiken langit ras doni jiné.  

    Terang si ersinalsal tuhu mejilé. Émaka isirangken Dibata ka me terang ndai arah gelap nari. I gelariNa me “terang” ndai “Suari” ras gelap ndai “Berngi”. 

    Ijadiken Dibata ka awang-awang gelah ratur ka doni sini ‘nggo itepana ndubé; guna nirangken lau sini lit i datas ras lau sini lit i teruh gelah ola ersada. Tuhu ibas wari peduaken itepa Dibata awang-awang ndai ras i gelarina é “Langit”. Émaka ben wari, jenari siangka. 

    Ibas wari peteluken Dibata mulihi erbahan si mehuli nandangi doni énda, reh nina Dibata: “Ersadalah Kerina lau sini lit i teruh langit ibas sada ingan, gelah lit teridah taneh kerah. Jadi me kai sini sura-suraken Dibata é. Janah igelariNa kerah ndai salu “Daraten” ras lau sini enggo ersada ndai “Lawit”. I idah Dibata maka kai sini jadiken-Na é tuhu-tuhu mehuli, maka nina Dibata ka: “Turahlah ibas taneh nari kerina sinuan-sinuan, é me dukut-dukut  sierbuah, kayu si erbuah sini lit sinuanna ibas buahna nari,” Émaka jadi me bagi sini i sura-suraken Dibata. 

    Ijadiken Dibata ka matawari, bulan, ras bintang; maka enggo banci sinanami kerna tanda-tanda pemula wari, bulan, tahun bagé pé musim. I idah Dibata sijadikenNa é tuhu-tuhu mehuli, jadi me énda ibas wari peempatken.

    Kenca é, mulihi Dibata ngerana salu dum kuasaNa, Nina: “Lit lah erbagé-bagé macam si nggeluh ndemi lau ras erbagé-bagé macam perik sini ndemi awang-awang.” Maka jenari ijadikeNa me rubia-rubia subuk si nggelu di daraten, lawit, bagé pé bas awang-awang. Meriah ukur Dibata dum salu kemulian ngidah kerina si jadikenNa é tuhu-tuhu mehuli kap. siénda jadi ibas wari pelimaken.  

    La erngadi-ngadi Dibata nepa kerina simehuli.  Seh bas wari peenemken ijadikenNa me Manusia si sentudu ras tempasNa jiné, simenam seri ras Ia; guna engkuasai kerina sienggo i tepaNa ndubé. 

    Jenari maka ngadi me ia nepa ibas wari pepituken sini seh asa genduari sitandai salu wari Sabat, em wari ija Dibata ngadi nepa, maka iprentahkenna kerina singiani doni muji-muji Ia ibas wari sabat-Na si Badia é. Oh, andiko tuhu-tuhu mehuli dingen mejilé kerina tinepa Dibata é. 

    (WL/MC: “Rendélah muji TUHAN, si meréntah i Sion! Turiken man bangsa-bangsa kai si enggo ilakokenNa” (Masmur 9:11))

    Rendé: “Andiko Jiléna”
    Andiko jilena tinepa Dibatanta subuk pertibi enda ras isina Kerina
    Deleng meratah, kerangen, perik-perik rende kabangen
    Andiko jilena seh kel kap ulina.

    Andiko hulina si ‘nggo itepaNa jine
    Terang dingen pe gelap; Wari, tahun, ras musim
    Watawari si terang, bulan, – bintang ersinalsal
    Andiko jilena ‘ndiko sehkel ulina

    Emaka tanggar-tanggar me kita jelma Kerina
    Ola melantar, ola meturdaksa
    Lit tenah kata pedah Dibatanta man banta:
    Jaga kelengi k’rina tinepaNa. 


    b. Opé lenga ndabuh ku bas dosa

    Ipasu-pasu Dibata me Manusia sini ijadikenNa sentudu ras tempasNa jiné salu mberéken kuasa ras kemulian; ras i tamakenNa me manusia ndai ibas sada ingan sisenang ém kap Peken Édén. 

    Kenca bagé, nina ka TUHAN Dibata, “La mehuli adi manusia é nggeluh sisada-sisada. Ku bahanlah teman si cocok man bana, guna manpati ia.” Maka ibuatNa sada tulan rang-rang manusia ndai sangana ia tunduh, jenari itutupiNa salu jukut ras iberékenNa kesah kegeluhen. Jadi me sekalak diberu ibas tulan rang-rang é nari.

    Ikataken “Diberu” gelarna, sabab ia ibuat i bas dilaki nari. Ém sababna dilaki nadingken nandé – bapanan gelah ersada ia ras ndeharana, maka ia duana engo jadi sada.


    c. Manusia ndabuh ku bas dosa

    Paksa Diberu si enggo ijadiken Dibata arah tulan rang-rang manusia ndai erdalin sisada i Peken Édén, reh me si iblis ibas rupa nipé, iajuk-ajukna si Diberu é gelah manken buah batang kayu si lit i tengah-tengah peken é, si ilarang Dibata ndubé. Entabeh ras mejilé kel tuhu rupa buah kayu é, maka kerina si ngidahsa merhat ‘ncubasa, bagé pé Diberu ndai, maka ipanna buah batang kayu pemeteh si ngajarken si bujur ras si jahat, jé nari i berékenna man perbulangenna, maka ipan perbulangenna ka me buah é. Erbahansa tuhu-tuhu Dibata ernembeh até, sebab manusia ‘nggo ngelanggar peréntahNa.  

    Kegeluhen si senang ’nggo i sikapken Dibata ndubé nandangi manusia, tapi dosa erbahansa Dibata erciga até nandangi tinepa si sentudu ras tempasNa ndubé. Ipelawes Dibata me Manusia ndai arah Peken Édén, jé nari seh asa genduari kesusahen dingen kiniseran sitetap jadi asam geluh manusia é erkiteken ‘nggo ndabuh ku bas kelbung dosa.

    Ertambah-tambah Manusia ndai, maka dosa pé ertambah-tambah ka erbagéna. Kesusahen dingen kiniseran kepé la erbahan maka manusia ndai jera arah dosa. Pedah-pedah Dibata lanai diaté manusia ndai, ‘nggo lepak tuhu perdalinna. Lanai ia mbiar man Tuhan Dibatana, janah lanai ia sikeleng-kelengen bagi sini enggo iajarken Tuhan ndubé. 

    Ngayaki erta, kinibayaken, ras Kerina kesenangen doni, tuhu-tuhu jelma ndai ‘nggo ndauh arah dalin Tuhan; ndabuh ku bas dosa simesangat, maka labo kesenangen sini dat manusia é, tapi kini seran erkiteken dosa.

    (Si ngogéken liturgi b. Opé lenga ndabuh ku bas dosa ras c. Manusia ndabuh ku bas dosa sekalin ku lebé mbacakensa.)

    Rende:  “Perbahan Dosa” 
    Perbahan dosa ‘nggo mekeleksa ibabo doni ban manusi
    Maka Dibata pé ‘nggo ngukumsa kini seran ‘ndubé ibréNa
    O, Tuhanku; Kam kap me Rajaku ku tinggelken pendiloNdu
    Gelahna aku bagé pé bangsaku la reh mbagesna ku bas dosa

    Perbahan dosa ‘nggo seh kelekna, maka geluhta seh suina
    Kai pé sibahan bas doni énda kerina murdé la erturin 
    O, Tuhanku alemi min kami gelahna kami pé terkelin
    AmpuniNdu min salah lepakku. B’réken me dagé pasu-pasu.

    Ukur si picet ras pé mesergé; Si tep-tep wari bas geluhta
    Ia ngé ngenca si pejoresa, maka dagé sidahi Ia 
    O, Manusia si nggeluh bas dosa ota min dagé dahi Ia 
    Akukenlah salah ras lépakta gelah i b’réNa kemalemen


    d. Padan Dibata kerna keselamaten nandangi Manusia

    Gia tuhu-tuhu dosa enggo engkuasai kegeluhen Manusia ndai. Tapi keleng até Tuhan kepé la erngadi-ngadi kempak Manusia é.

    Até Dibata, maka Manusia si enggo ndabuh ku bas dosa mulihi ku bas dalin si payo singena até-Na. Maka erpadan mé Dibata lako meréken keselamaten man Manusia. Tapi, la erngadi-ngadi Manusia é erbahan dosa, sini erbahansa maka lanai mungkin Manusia ndai ngasep mulahi dirina arah siding dosa nari erkitéken enggo tuhu mesangat. Tapi, padan Dibata kerna keselamaten é igenapi ngé, tapi, ise nge dagé si ngasep nggenapisa? 


    e. Ketubuhen Yesus

    Genduari padan ndai enggo igenapi, bagi sini ijanjiken Dibata ndube ras si inubuatken nabi-nabi. Yesus ngé ngenca keselamaten é. Dosa si mesangat erbahansa maka Manusia labo ngasep mulahi dirina arah siding dosa nari. Maka, padan Dibata kerna nelamatken Manusia é Tuhan Yesus kap ngenca si ngasep nggenapisa salu peteruk dirina nusur ku doni tubuh erkelangken sekalak singuda-nguda nari tergelar si Maria ibas pelangkah i karang asuh-asuhen i bas sada kuta melenget dingen mesuni em Bethlehem i kuta Yedea.  

    Rendé: “Hai Kota Mungil Betlehem"
    Hai kota mungil Betlehem, betapa kau senyap
    Bintang di Langit cemerlang, sewaktu kau lelap
    Namun di lorong glap-mu, terpancar t'rang kekal
    Harapan sepanjang Masa, terjadilah sekarang.

    Bayi Kudus telah lahir, malaikat bersorak,
    Meski dunia sedang lelap, Malaikat menjaga.
    Hai, bintang-bintang Fajar, puji dan sembahlah!
    Juru selamta t’lah lahir, damai sejahtera.

    Rendé:Mari Surak Muji Tuhan
    Mari surak muji Tuhan  endesken endén-endén si meriah
    O, Surga doni ersurak k’rina
    Mari dagé puji Ia salu ukur ras tendinta
    Puji gelarNa si Badia

    O, mari surak rendé ras ermazmur puji gelarNa si Badia
    La erngadi-ngadi ku puji Kam Tuhan
    Pujilah Tuhan si Erkuasa


    f.  Keselamaten é ‘nggo seh man kalak Karo

    Ketubuhen Yésus labo saja nelamatken kita Manusia arah dosa nari, tapi si ték dingen nggit ngaloken Ia, iberékenNa kap Kuasa si Mbelin.

    Seribu Waluh Ratus Siwahpuluh(1890) tahun kenca ketubuhen Yésus, berita Si Meriah kerna padan keselamaten si rehna arah Dibata nandangi Manusia ‘nggo kap seh ku tengah-tengahta Rakyat Karo Sirulo é. Erkelang-kelangken suruh-suruhen-Na, berita Si Meriah si bena-benana i pesehken man kalak Karo i sada kuta sikitik dingen melenget, ém kap: i kuta Buluh Awar Simalem.  

    Rendé/Solo:Buluh Awar Simalem ” 
    Tuhu kitik kel kam jiné arah kerina kuta i doni énda
    Tuhu-tuhu menda seh kel lengetna o, Buluh Awar kuta simalem
    Émaka ola aru aténdu, sebab kam si pilih Dibata 
    Salu nua palas pedah kataNa, 
    Man k’rina rakyat Karo sirulo, 
    Man k’rina rakyat Karo sirulo.

    Pasarna licin, erembang, -- erbatu-batu
    Mbentasi kerangen rimba raya. 
    Bagé me ndubé serana me kap perdalin 
    Simbaba Berita Si Meriah 

    O, Buluh Awar jé’m’ jadi pemena
    i tetapken Yesus Tuhan mbarken b’ritaNa. 
    Labo erkiteken kam ndubé si mbelinna,
    tapi p’ratén Dibata la kap terolangi,
     kai si nggo jadikenNa ém me si mehuli

    Mejuah-juah o, Buluh Awar kuta simalem 
    Mejuah-juah. Mejuah-juah Karo Sirulo
    Mejuah-juah Merga Silima
    Mejuah-juah kita Kerina. Mejuah-juah kita Kerina.


    3.  Liturgi Erbagé-bagé Pendahin(Profesi)

    - Perjuma-juma(Petani)
    Paksa surutna matawari, dingen langit pé erdire-dire muat ku gelapna, ijé makana kami mulih juma nari. Megati me kami ipergelari “si mulih karaben.” Dahin kami, ém kap i juma ras i sabah, muan-nuan kerina sinuan sierguna man kegeluhen. Pagé, gadung, gulén-gulén, cina, rimo seh pé ku nurung bagé pé manuk, lembu, kambing, ras sidebanna niasuh kami guna ‘ncukupi kegeluhen kami bagé pé guna jelma sinterem. Latih dingen mesera tuhu, megati ka sinuan é bayungen ras lali regana, tapi, adi la dahiken kami uga kami banci ‘ncukupi kegeluhen kami? Ras, ugaka jelma sinterem é ndatken kai si perlukenna man panganna? Émaka amin mbué gia perbébén ibas pendahin kami énda, tetap ilakoken kami salu tutus ras ukur payo, maka Tuhan Si Masu-masu Kerina pendahin, kegeluhen, ras isi jabu kami.        

    - Perbinaga(Pedagang)
    Lenga terang pé wari é ‘nggo ka kami seh i Tiga. Mbergeh entah pé melas. Udan dingen lasna matawari labo la igejab kami. Guna ngelitken barang-barang sini iperluken jelma sinterem, piah anak-anak i rumah pé megati lanai kami jumpa. Tapi siénda Kerina ilakoken kami salu tutus ras meriah ukur, dingen erpengarapen sebab Tuhan kap Si Masu-masu ras sinjagai kami kerina.    

    - Supir
    Kami supir. Tiap wari dahin kami ém kap mbaba kendaran guna naruhken penumpang ku ingan tujunna. Amin kitik penghasilen dingen seh kel latihna, la kami moncé gelah kerina min penumpang énda ola cengkal perdalinna ras seh ku ingan tujunna tepat waktu ras selamat. Melala tuhu perbébén ras pencuban siihadapi ibas dalin si kadang pinter ras la jarang meluk-eluk. Megati ka nge lalit sewa ras la ka jarang kurang ka nge setoren. Latih dingen mesera tuhu, tapi sienda kerina ilakoken guna ncukupi kegeluhen keluarga i rumah ras ncukupi kerna kebutuhen persekolahen anak-anak. O, Tuhan pasu-pasuNdu min pendahin kami ras kawaliNdu min kami ngalur-ngaluri pasar singgedang enda, subuk bas dalin pinter, erembang, bagepe dalin si meluk-eluk gelah ola kiniteken kami énda pé ikut meluk-eluk. Puji Tuhan, pasu-pasuNdu pendahin kami ras kerina isi jabu kami.   

    - Pegawai pemerintahen/PNS/TNI/POLRI, dll
    Kami erdahin bas pemerintahen. Kami erdahin man Negara enda. Kami erdahin guna ndalanken pendahin-pendahin siperluken kerina masyarakat, maka megati ka kami ipergelari abdi Negara, abdi masyarakat. Tapi, megati tuhu la ilakoken kami pendahin kami énda bagi sini arusna, maka ibas sienda kerina kami mindo maaf ras mindo ampun man Dibata gelah jénda nari ku lebé kami banci tuhu-tuhu jadi abdi Negara ras pelayan masyarakat situhu-tuhu, gelah arah Kerina silakoken kami pé tuhu-tuhu encidahken kerna kemulian Tuhan. O, Bapa ajriNdu min kami ndalinken Kerina pendahin kami énda, gelah arah kai pé silakoken kami, tuhu-tuhu gelarNdu ipebadia.

    - Tokoh Agama

    - Pelajar   
    Kami anak singuda denga. Melala tuhu tantangen ibas paksa nguda denga, ras ku lebé pé reh buéna ka nge tantangen. Maka tutus kel até kami erlajar, gelah ku lebé kegeluhken kami pé tambah-tambah salu pemeteh si rehna arah Tuhan nari. Tuhan Yesus ajariNdu min kami gelah kami jadi sekalak pelajar si atan igelari anak-anakNdu ras ipasu-pasuNdu ka pendahin orang tua kami gelah reh ngasupna ka ia ‘ncukupi kerna keperlun kami.

    (Kerina si mbaca liturgi: "O, Tuhan. Ajari kami ibas ndalinken Kerina pendahin kami, gelah kai pé sini lakoken kami, tuhu-tuhu gelarNdu ipebadiaken. A m i n .")

    4.  Persembahan Pujian: GIKI…..

    5.  Pemasangen Lilin Natal

    (Liturgos/Pendéta: " Engo sibegiken berita kerna ketubuhen Yesus Kristus. Tek kita maka Tuhan Yesus tuhu-tuhu anak Dibata Si Tonggal si enggo ‘nggit peteruk dirina tubuh i bas pelangkah i karang asuh-asuhen guna nebus dosanta manusia. Ia bagi lilin gara sini pediat diriNa meseng gelah banci nerangi kerina sini lit i sekelewetna. KetubuhenNa labo saja enggo nelamatken kita arah siding dosa nari, tapi kuasa si mbelin iberékenNa kap man kalak si tek ras nggit ngaloken Ia ibas geluhna seh asa paksana pepagi Ia reh pedua kaliken guna ngalo-ngalo kita guna bengket ku Rumah-Na si Badia. Seh ménda paksana kita Pegara Lilin Natal, nginget-nginget kerna belinna pengorbanen Tuhanta Yesus jiné ras jadi tanda maka kita lanai nggeluh bas sigelap, sebab terang é ‘nggo kap seh ku tengah-tengahta mbereken man banta kuasa si mbelin guna ngelawan sigelap. Guna pegara lilin, iundang kami ku lebé: " )

    - Pengkhotbah/Pendeta Jemaat GIKI Medan(Pdt. Brahmana)
    - Panitia Natal/Majelis Pengerja GIKI Medan (Bp. Dody)
    - Persekutuan GIKI Patumbak (Ev. Arnem Tarigan)
    - Mewakili GIKI se-Sumut/Indonesia (Pdt. Sembiring)
    - Mewakili Jemaat 
    - Komisi Sekolah Minggu (Caterine)
    - Mewakili Komisi Ibu (Nd. Ina)
    - Mewakili Komisi Bapak(Roy Gurukinayan)
    - Komisi Musik dan Pemuda(Bastanta P. Sembiring)
    - Gereja tetangga (GBKP, dlsb)

    Rendé:  “Malam Kudus” (Sangana pemasangen lilin) 
    Malam Kudus, sunyi senyap, bintang-Mu gemerlap
    Juruselamat Manusia ada datang di dunia
    Kristus anak Daud 2X

    Anak Kecil, Anak Kudus, Tuhanku Penebus
    Ten’tra surga bernyanyi merdu bawa kabar kedatangan-Mu
    Kristus Anak Daud 2X
    Malam Kudus, sunyi senyap bintang-Mu gemerlap
    Aku datang ya Tuhanku, bersembahyang di kandang-Mu
    Dan menucap syukur 2X

    6.  Persembahen Pujin arah Serayan Tuhan i GIKI Medan:

    7.  Rendé untuk khotbah/Firman Tuhan: 

    “Setiap Janji-Mu Tuhan”
    Setiap janji-Mu Tuhan kusimpan dalam lubuk hatiku
    Lewati setiap masalah tiap tetes airmata dalam hidupku
    Janji-Mu menopang hidupku; kasihMu menuntun langkahku 
    dalam setiap  waktu
    Penolongku yang aku percaya

    Trima kasih buat kasih setia-Mu
    Penyertaan-Mu sempurna 
    Janji-Mu tak pernah terlambat menolongku
    Trima kasih ku bertrima kasih
    Buat Kasih setia-Mu di dalam hidupku

    8.  Firman Tuhan (K h o t b a h .)

    9.  Pengakun Kiniteken Kalak Kristen:
    (Pengkotbah: "Perpulungen si kelengi Tuhan iundang kami cinder. Marilah  kita kerina kalak Kristen sebelang-belang doni énda siakuken kini tekenta, ninta dagé ras-ras:" )

    - Aku tek man Dibata Bapa Si la ersibar kuasaNa, Si nepa langit ras doni. 
    - Aku tek man Yésus Kristus AnakNa Si Tonggal, Tuhanta, si jadi arah Kesah Si Badia, tubuh idus singudanguda nari si so keliamen, tergelar si Maria, si ngenanami keniseran paksa pemeréntahen Pontius Pilatus, nipakuken ku kayu persilang, maté, jenari ikuburken, nusur ku doni kematén, petelu wariken enggo kéké i bas si maté nari, nangkih ku Surga, perkundulNa arah kemuhen Dibata, jenari reh me Ia pepagi guna ngerananken si nggeluh ras si nggo maté.
    - Aku tek man Kesah Si Badia, janah lit sada Geréja Si Badia, persadan kalak si Badia, pengalemi dosa, kinikékén kula, ras kegeluhen si rasa lalap. A m i n.

    10.  Persembahen(Kolekté)
    (Imam Kecil/Pendéta: "Genduari seh ménda paksana sipepulung persembahenta bagi rudang-rudang si merim iadep-adepen Dibata. Kata Dibata kerna persembahen sini tertulis ibas: II Korintus 9 : 6 – 8 (+ Pertoton kerna persembahen)

    Rendé sangana pepulung persembahen: 
    Babalah persembahen si merimna 
    kuadep-adepen Dibatanta. 
    Babalah kurban pujin si mehaga ku lebé altarNa si Badia. 
    G’lah tetap b’réNa pasu-apsuNa man k’rina Manusia. 
    G’lah tetap b’réNa pasu-pasuNa. Terpuji gelar Tuhan.

    Babalah persembahenta man baNa
    tanda lias keleng kap atéNa. 
    ‘Ndesken rikut lagu pujin ku Ia, jadi persembahen si Badia.
    G’lah tetap b’réNa keleng atéNa ras lias atéNa banta
    Émaka ernalem saja man baNa segedang-gedang geluhta.

    11.  Pertoton Syafaat
    - Pertoton Tuhan:
    O, Bapa kami si ni Surga, gelarNdu ipebadia min, reh min kinirajanNdu, seh lah min peraténNdu ibas doni énda bagi ni Surga. Beréken man kami nakan cukup ibas wari si sendah énda. Alemi salah kami, bagi nialemi kami salah kalak empak kami. Ola min kami ibaba Kam kubas percuban, tapi olangilah kami idur si ilat nari; sabab Kam kap si mada Kinirajan, ras kuasa, ras kemulian sindekah-ndekahna. Amin.

    12.  Pemasu-masun:
    (Perpulungen sini kelengi Tuhan, mulihlah alu damai ras mejuah-juah.  Maka, angkatlah tanndu guna ngaloken pasu-pasu si rehna idur Dibata nari.

    Perkuah até Dibata Bapa, lias ras keleng até Tuhanta Yesus Kristus, ras kerembaken Kesah Si Badia ras kam(kita) kerina gelah, genduari seh asa maranatha Tuhan Yesus Kristus reh pedua kaliken ku tengah-tengahta guna ngalo-ngalo kita. Amin.

    Rendé: 
    Kami memuji kebesaran-Mu
    Ajaib Tuhan. Ajaib Tuhan.
    Kami memuji kebesaran-Mu
    Ajaib Tuhan. Ajaib Tuhan. 

    13.  Paksa teneng (saat teduh)

    14.  Rendé lagu-lagu Natal ras sisalam-salamen, tanda pendungi Ibadah Natal GIKI Medan 2013.

    III. ACARA PERAYAN NATAL  


    Selamat Wari Natal (Desember 2013)
    Ras
    Ngalo-ngalo Tahun Simbaru (2014)

    Mejuah-juah TUHAN YESUS Si Masu-masu


    Minggu, 24 November 2013

    Mejuah-juah


    I.         Apa itu mejuah-juah?

    “Mejuah-juah!” Merupakan salam khas masyarakat suku Karo, maupun masyarakat yang berdomisili di daerah-daerah Karo yang sering disebut Taneh Karo Simalem. Selain sebagai salam(pembuka dan penutup), kata mejuah-juah juga sering dipakai untuk menyatakan bahwa segala sesuatunya dalam/berjalan baik, dan juga kata mejuah-juah merupakan sebuah yél- yél (sorakan) atau dalam cakap(bahasa) Karo disebut alep-alep(ersurak) khas masyarakat Karo.

    Seperti halnya beberapa suku bangsa di dunia, terkhususnya yang ada di Indonesia, dan lebih khusus lagi di Sumatera Utara, selain di suku Karo, ada beberapa salam khas lainnya yang menunjukkan asal daerah maupun sukunya, seperti pada masyarakat suku Batak yang memiliki salam khas “Horas”, Nias “Yahowu”, dlsb demikian jugalah “mejuah-juah” ini sudah menjadi tanda identitas bagi masyarakat suku Karo.

    I.         Menggunakan kata mejuah-juah

    Berikut akan dibahas beberapa contoh yang menunjukkan penggunakan kata “mejuah-juah”, baik sebagai salam, pernyataan, maupun yél- yél.

    1.   Mejuah-juah sebagai salam
    a.   Mejuah-juah sebagai salam pembuka(sebelum memulai percakapan)

    Salam mejuah-juah biasanya diucapkan diawal sebelum memulai percakapan, baik secara langsung, maupun tidak langsung(via telpon, surat, e-mail, dll). Biasanya saat bertemu seseorang, baik yang sudah dikenal atau tidak, salam mejuah-juah ini diucapkan. Berikut contoh yang menggunakan kata “mejuah-juah” mengawali komunikasi(langsung dan tidak langsung”

    A: “Mejuah-juah”
    B: “Mejuah-juah”
    A: “Bagi sipernah tempa kuidah kam (Sepertinya saya pernah melihat Anda)”
    B: “Ija kin kira-kira iakapndu? (Dimana kira-kira menurut anda?)
    A: “Hm.. Kam labo kin anak Patumbak?(Hmm… Bukankah anda dari Patumbak?)”
    B: “Pas katandu e. Adi bage mungkin nge pernah iidahndu aku. Tapi, kam ija nari kin kutandu? (Benar yang anda katakana. Kalau demikian, benar mungkin anda pernah melihat saya. Akan tetapi kalau bokeh tahu anda berasal dari mana?)”
    A: “Aku pé kapken anak Patumbak ka ngé (Akupn anak Patumbak juga.)
    < dst.>

    Contoh penggunaan salam “mejuah-juah” lainnya:

    Mejuah-juah

    Bukan hanya percakapan dua atau lebih, salam mejuah-juah juga dipakai untuk menyambut seseorang ataupun pembuka sebuah acara, baik resmi ataupun tidak.

    Contoh:
     MC: Mejuah-juah ikataken kami man bandu kerina sini enggo sempatkenndu dirindu lako pulung bas ingan enda.(Mejuah-juah kami ucakpan kepada hadirin sekalian yang telah menyempatkan diri untuk hadir di tempat ini.)
     Atau:
    MC: Mejuah-juah ikataken kami man Bapak Presiden Repoblik Indonesia, Soesilo Bambang Yudhoyono ras Kerina rombongen. (Mejuah-juah kami ucapkan kepada Bapak Presiden Repoblik Indonesia, Soesilo Bambang Yudhoyono beserta seluruh rombongan)

    b.   Mejuah-juah sebagai salam penutup

    Selain sebagai salam pembuka, tidak jarang kata “mejuah-juah” ini juga dipakai sebagai salam penutup percakapan ataupun sebuah cara/pertemuan. Berikut contoh-contoh penggunaan kata mejuah-juah sebagai salam penutup.

    MC: Erkité-kitéken acarata enggo mé dung ras erdalin salu mehuli, maka sekali nari ikataken kami bujur ibas Kerina partisipasindu. Bujur ras mejuah-juah kita Kerina. (Oleh karena acara kita telah selesai dan berjalan dengan baik, maka Sekali lagi kami ucapkan banyak terima kasih untuk partisipasi anda. Terima kasih dan mejuah-juah kita semua.)

    […]
    A: “Uai, bujur melala adi bagé kin(Ya! Kalau begitu terima kasih banyak)”
    B: “Adi bage mulih kami lebe.(Kalau begitu, kami pulang dulu)”
    A: “Adi bagé: mejuah-juah. (kalau begitu: mejuah-juah)
    B: “Mejuah-juah (Mejuah-juah)”


    2.    Menyatakan semua dalam keadaan baik.

    Selain sebagai salam pembuka dan penutup, kata mejuah-juah juga dipakai untuk mengungkapkan bahwa semua hal berlangsung dengan baik. Berikut contoh penggunaan kata mejuah-juah untuk menyatakan semua hal dalam keadaan baik-baik saja.

    A: Mejuah-juah
    B: Mejuah-juah.
    A: “Uga berita-berita enggo i kuta?(bagaimana keadaan di kampong?)
    B: “Mejuah-juah nge Kerina. Kéna gia I Medan éna me mejuah-juah ka nge?(Semua baik-baik saja. Kalian juga di Medan kan dalam keadaan baik-baik juga?)
    A: Mejuah-juah ka ngé Kerina sini jénda.(Yang di sini juga semua baik-baik saja).

    Perhatikan juga lirik pertama dalam syair lagu “Mejuah-juah” karya: Djaga Depari:

    Mejuah-juah, kita Kerina nande bada ermulia.
    Rikutken tuah sangap Kerina
    Nantang singalah-ngalahna…(dst.)”

    Jika kita perhatikan kata mejuah-juah dari penggalan lagu yang berjudul “Mejuah-juah” karya: Djaga Depari diatas, dan jika kita ikuti alurnya dengan memperhatikan kata-kata yang engikutinya kemudian, maka mejuah-juah disana bermakna salam(pembuka), ucapan yang menyatakan semua dalam keadaan baik-baik saja, serta doa dan pengharapan agar semua dalam keadaan baik.

    3.   Sebagai yél yél / sorakan

    Mejuah-juah sebagai salam(pembuka dan penutup), menyatakan semua hal dalam/berjalan baik, tetapi juga mejuah-juah merupakan yél- yél atau sorakan yang dalam cakap Karo disebut [er-]alep-aep atau ersurak.

    Dalam beberapa acara, apakah itu gendang guro-guro aron, perayaan Ulang tahun, kampanye politik, dll tidak jarang MC bersorang “mejuah-juah! Mejuah-juah! Mejuah-juah!” dan tak jarang juga pendengar menyahutnya dengan bersorak “Mejuah-juah! Mejuah-juah! Mejuah-juah!

    II.      Penutup

    Di atas tadi telah diulas tentang penggunaan kata mejuah-juah didalam kehidupan sehari-hari, khususnya pada masyarakat suku Karo. Semoga ulasan yang singkat ini dapat bermanfaat dan sedikit menambah informasi tentang suku Karo dan pengenalan pembaca akan keaneka ragaman tradisi budaya yang ada di Indonesia terkhususnya di Sumatera Utara. Bujur ras Mejuah-juah kita Kerina.

    Petunjuk tambahan:
    -      Mejuah-juah dibaca seperti mengucapkan melaksanakan, merindu, dll
    -      Dagé dibaca seperti mengucapkan Médan, Mélani, dll
    -      Tulisan dalam kurung, cetak mirung, dan berwarna merah adalah terjemahan dari Karo ke Indonesia-nya.
    -      Dll.









    Minggu, 29 September 2013

    Benarkah KBB Strategi Orang Luar Ingin Merubah Nama GBKP

              Pro KBB anti GBKP. Siapa bilang? KBB(Karo Bukan Batak)! Semakin laman, perbincangan ini semakin ramai saja. Tua, muda, bahkan hingga anak kecil sudah ber-KBB. Dari pengangguran, pelajar, petani, pedangang, karyawan swasta, PNS, bahkan hingga kalangan rohaniawan tidak luput dari perbincangan KBB(pengusaha dan pejabat?). Diskusi yang sebelumnya dinilai diskusi murahan yang saling mencemooh, kini berkembang menjadi diskusi kelas intelektual yang diikuti secara luas. Sehingga, KBB yang awalnya ditanggapi secara pesimis dan negatif, kini malah menjadi metode membangun karakter dan bahkan menjadi media pengenalan, pembelajaran dan pembentukan mental masyarakat Karo khususnya.

              Namun, tidak jarang KBB dituding anti GBKP. Tak jarang juga, KBB dituduh merupakan pergerakan orang diluar GBKP untuk mengubah kata 'batak' dalam unsur nama GBKP, bahkan meruntuhkannya? Apakah benar demikian(orang diluar GBKP)? Saya katakan itu tidak benar!
    Stop KBB ????
             Coba, kita lihat orang-orang yang pro-KBB yang berambisi merubah nama GBKP, seperti: Roberto Bangun. Nama ini tidak asing bagi para pejuang KBB. Diketahui, beliau dan kaum muda GBKP pernah dengan gigih hendak merubah nama GBKP menjadi GKKP(Gereja Kristen Karo Protestasan), namun kandas karena mendapat perlawanan dari kaum tua yang lebih kepada alasan administrasi ketimbang alasan historis dan kultural. Maksudnya alasan administrasi, adalah; kaum tua beralasan nama GBKP sudah takdir(?), dan akan susah mengubahnya karena itu yang sudah tercatat di pemerintahan dan DGI(sekarang PGI), walaupun dari berbagai pernyataan dan tulisan kaum tua itu hati kecilnya juga tidak rela dengan kata ‘b’ itu, demikian penuturan Pdt. B. A. Peranginangin disela-sela makan siang saat kunjungan beliau ke Medan(22/9).

              Namun, coba perhatikan! Setelah Roberto Bangun dan para kaum reformis seperti gerakan era 80 – 90(akhir) yang tergabung dalam Tim Ezra dan YPI Takasima keluar dari GBKP, apakah mereka ada menuntut kembali perubahan nama GBKP? Ataupun menuntut perubahan lainnya? Tidak! Karena mereka sadar itu bukan lagi kewenangan dan hak mereka, sehingga mereka lebih memilih kepada memperjuangkan kebebasan Karo dari bayang-banyak ‘batak’ dan kepentingan lainnya itu tanpa menyinggung GBKP.
             
              Hal demikian juga saya alamai. Sejak kecil saya aktif di GBKP, dan mulai sadar akan identitas saya saat saya duduk dibangku sekolah menengah atas(2002) dan dilanjut ke perguruan tinggi(2005). Saya sering mengikuti diskusi dan perdebatan tentang hal ini. Dan, tidak jarang saya jelaskan apa yang saya pernah ketahui tentang muasal/alasan/kemungkinan kata 'b' dalam unsur nama GBKP, dan tidak jarang juga meprovokasi teman-teman lainnya prihal nama ini. Namun, semejak saya keluar dari GBKP(dan beberapa teman lainnya), hingga kini saya tidak lagi mau menyinggung GBKP prihal namanya. Kalau saling sindir, itu biasa! Dan, demikianlah juga saya perhatikan teman-teman pro-KBB lainnya, yakni: tetap yang ingin merubah nama GBKP adalah mereka yang masih bernaung di GBKP(menganggap masih memiliki hak), yang di luar atau keluar, tidak! sehingga tuduhan kalau kami yang diluar GBKP-lah yang paling gentol ingin meruhan nama ini, saya katakana itu tidak benar! Sebab, kami yang eks-GBKP sadar benar itu bukan lagi hak dan wewenang kami, sehingga kami katakan: "soal nama GBKP itu urusan orang dalam GBKP!"

    Namun, walau demikian, tuduhan yang dilontorkan kepada kami yang pro-KBB yang bukan anggota dan tidak lagi anggota GBKP masih juga tetap ada, bahkan seakan-akan sengaja sentimen ini dibangun/digerakkan untuk menumbuhkan kefanatikan gereja, buka kekaroan untuk menekan para pro-KBB. Sehingga, banyak dari teman-teman yang dulunya pro-KBB dengan alasan membela gerejanya kini anti dan menuding KBB itu sebagai pemecah belah dan tidak sanggup lagi membedakan antara memperjuangkan  kepercayaan dan identitas(?). Hal ini sangat disayangkan. Tetapi, itulah bunga-bunga demokrasi, dinamis dan fleksibel melihat perkembangan zaman dan kepentinganya.

              Namun, Sekali kagi saya katakana: yang kami perjuangkan adalah kekaroan, bukan fanatisme gereja(denominasi). Sehingga, anggapan pro-KBB anti GBKP itu tidak benar! Apalagi kami yang bukan dan tidak lagi anggota GBKP, karena itu bukan urusan kami. Mejuah-juah.

    Tulisan ini hanya pembelaan kecil
    dari kami pro-KBB, tiada maksud lain.
    Sebab kami merasa tidak seperti 
    yang dituduhkan banyak orang kepada kami.
    Kami mohon maaf jika ada yang keliru.
    Mejuah-juah. 

              



    Selasa, 17 September 2013

    Apak kata KBBI tentang KBB

             Sepanjang hari ini(17/9) cuaca sangat cerah dari pagi hingga sore. Bahkan sangat cerah dan panas sekali. Menjelang malam; selesai mandi sekitar Pukul 18. 00 wib saya masih merasa gerah. Sedikitpun tidak ada tanda-tanda akan turun hujan(karena sepanjang hari panas sehingga selalu mengamati cuaca dan berharap turun hujan). Namun, cuaca tiba-tiba berbuah, sekitar Pukul 18.45 wib hujan turun dengan dibarengi angina kencang dan deru petir, sehingga sedikit takut menonton TV(maklum di daerah saya sering kejadian tv/radio, ponsel, dll disambar petir). Jadi, agar tidak bosan diam saja di ruman, saya – pun menyetel music di labtob berencana sambil chatting, namun entah mengapa susah untuk terhubung ke jaringan internet, maka iseng-iseng saya test beberapa software yang baru saya download ( dan istal tentunya)(link unduhnya: http://kbbi-offline.googlecode.com/files/kbbi-offline-1.5.exe) , - salah satu yang menarik perhatian saya adalah software KBBI Offline 1. 5 yang merupakan software Kamus Besar Bahasa Indonesia Luar Jaringan(Luring/versi Offline-nya).

              Saya coba ketikkan beberapa kata untuk melihat penjelasan arti lebih luasnya, sambil menguji seberapa mumpuni software yang sederhana ini. Iseng saya kemudian mengetika kata kunci(keyword): “Suku Karo”, maka, berikut yang keluar(semua yang bertautan dengan kata “suku karo”):
    Dengan kata kunci "Suku Karo"
    Dengan kata kunci "Suku Karo"
    Kemudian saya coba dengan keyword lebih sederhana lagi, yakni: “karo”, maka yang muncul beberapa kata, namun saya seleksi ‘karo’ yang berkaitan dengan ‘Karo’ (suku/etnis/daerah) sebagai berikut!
    Dengan kata kunci "karo"
    Dengan kata kunci "karo"
    Dengan kata kunci ‘karo’, setelah diseleksi dengan teliti, maka muncul tiga kata yang memiliki keterkaitan dengan “Karo’ (etnis/suku/daerah), namuan hanya satu kata yang benar-benar merupakan dari istilah Karo asli, yakni: ‘gundala[-gundala] yakni tarian topeng tradisonal suku Karo. Sedangkan pe- le – begu seharusnya perbegu; parmalin(Tapanuli) seharusnya pemena(Karo).

              Kemudian, saya coba masukkan kata kunci “suku batak karo”. Hasilnya, tidak ada kata yang ditemukan yang berkaitan dengan ‘suku batak karo!’, demikian juga jika kita pakai kata kunci ‘batak karo/karo batak’.
    Dengan kata kunci "Batak Karo/Karo Batak/Suku Batak Karo"
    Dengan kata kunci "Batak Karo/Karo Batak/Suku Batak Karo"
     Bagaimana pula jika kita memakai kata kunci ‘batak’ saja? Demikian hasil penulusuran saya( bersambung...)