Mejuah-juah.   Rudang Rakyat Sirulo Comunity    Mejuah-juah.
    <--> MEJUAH-JUAH <-->
    Showing posts with label jamburta. Show all posts
    Showing posts with label jamburta. Show all posts

    Friday, November 7, 2014

    Djamin Ginting Putera Karo Kedua Yang Dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional


    Letjen(Pur). Djamin Ginting
           
    Mejuah-juah. Letjen(Purn). Djamin Ginting satu lagi putera terbaik Karo yang dianugerahi gelar Pahlawan Nasional Indonesia, setelah sebelumnya Kiras Bangun atau yang dikenal dengan Pa Garamata, oleh Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono pada 9 November 2005 dalam kaitan peringatan Hari Pahlawan 10 November 2005, dianugerahi gelar Pahlawan Nasional dan merupakan orang(suku) Karo pertama yang bergelar Pahlawan Nasional.
                   
    Djamin Ginting, peria berdarah asli Karo kelahiran 12 Januari 1921 di Desa Suka, Kecamatan Tigapanah, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, yang beberapa bulan lalu sempat menjadi buah bibir di dunia perfileman Indonesia, melalui film yang berjudul ‘Tiga Nafas Likas’, diperankan oleh aktris cantik Atiqah Hasiholan(sbg. Likas Beru Tarigan) dan Vino G. Bastian(Sbg. Djamin Ginting), serta didukung artis-artis lainnya. Diman dalam film yang menceritakan kehidupan nyata Ibu Likas Beru Tarigan (istri Djamin Ginting) turut juga memberi pandangan bagi para penonton untuk mengenal sosok Djamin Ginting yang merupakan seorang pejuang kemerdekaan Indonesia melawan penjajahan.

    Secara singkat, dapat kita jelaskan, bahwa Djamin Ginting adalah pejuang dan tokoh militer yang paling disegani di Sumatera Utara(Pendiri dan Pangdam pertama Kodam II/BB), politisi jenius(juga salah satu tokoh penggerak pendirian GAKKARI cikal bakal GOLKAR dan anggota DPR RI), dan pernah menjabat Duta Besar Indonesia untuk Kanada, disamping karir dan karya beliau lainnya.

    Djamin Ginting dan Likas Beru Tarigan
    Kini nama Djamin Ginting kembali menjadi sorotan nasional, dimana Pemerintah Repoblik Indonesia melaui Presiden RI akan menganugerahi gelar Pahlawan Nasional sebagai penghargaan bagi jasa-jasa beliau selama hidupnya hingga berpulang ke Maha Kuasa di Ottawa, Kanada 23 Oktober 1974. Tanggal 7 November 2014 ini akan menjadi hari besar bagi bangsa ini dan khususnya juga bagi masyarakat Karo, dimana Presiden RI ke-7 Ir. Joko Widodo akan menganugerahkan gelar pahlawan nasional kepada empat(4) tokoh/pejuang yang berjasa kepada bangsa negara Indonesia, yakni: 1. Sukarni Kartodiwerjo (asal Jawa Timur), 2. Muhammad Mangundiprojo (asal Jawa Tengah), 3. KH Abdul Wahab Hasbullah (asal Jawa Timur) dan 4. Letjend(Purn). Djamin Ginting(asal Karo, Sumatera Utara).

    Menteri Sosial Khofifah Indar Parawangsa mengatakan, penganugerahan gelar pahlawan bagi keempat orang ini telah sesuai dengan prosedur yang ada, yakni lewat rapat pleno gelar pahlawan nasional, Pemberian gelar itu sudah seuai UU Nomor 20 Tahun 2009 tentang gelar tanda jasa dan tanda kehormatan,” lanjut Khofifah, dimana sebelumnya keempat tokoh ini harus bersaing dengan dua belas(12) nama lainnya.


    Jasmerah: Jangan sekali-kali lupakan sejarah. Mejuah-juah..., mejuah-juah... mejuah-juah Indonesia.!



    Tuesday, June 18, 2013

    Sukuisme tadinya jelek, sekarang baik.


    Inkulturisasi ataupun Kontekstual adalah bahasa dan cara gereja dalam menyikapi dan mengintegrasikan budaya lokal dengan injil.
    Tahun 1946 terjadi perang etnis di Dairi, antara orang Toba dan kalak Karo atau 'kalak Teba ras kalak Karo' istilah orang Karo Dairi. Banyak juga korbannya dikedua belah pihak. Tidak ada yang berani menulis peristiwa ini, dianggap tabu dan karena itu juga hampir tidak ada pelajaran dari situ, mengapa terjadi, sebab utamanya dsb. Kalau saya ditanya, jawaban saya ialah perang etnis adalah perang etnis, sebab luar bisa banyak tetapi itu tetap faktor extern, faktor luar bisa berpengaruh kalau sudah ada faktor intern, artinya faktor-faktor yang tersembunyi pada tiap etnis bersangkutan. Penduduk asli di Dairi ialah orang Karo dan orang Pakpak, dan Pakpak merasa tidak berkepentingan ikut perang, berlainan dengan kalak Alas yang kemudian terlibat ikut dibeberapa tempat yang berhubungan langsung dengan kepentingan kalak Alas. Setelah perang itu maka di Dairi berduyun kalak Teba ngasak, seperti semut cari gula. Dengan demikian sudah cukup alasan untuk memasukkan Dairi ke Taput ketika itu. Dairi jadi Taput dan semakin leluasa penuh kebebasan kalak Teba berduyun ke Dairi. Sekarang mereka jadi mayoritas di Dairi, masih ada 'positif' kecilnya ialah kalak Teba atau orang Batak masih mengakui Dairi tanah ulayat kalak Pakpak, Karo tidak diikutkan dalam pandangan mereka, walaupun kenyataannya di Dairi penduduk semula adalah Karo dan Pakpak. 'Positif' besarnya ialah Dairi didominasi oleh kalak Teba dan yang lebih positif lagi ialah suasana kondusif sampai sekarang masih berlaku. Situasi kondusif ini masih berlaku apakah karena kita sungkan membicarakan permusuhan alias kontradiksi antar-etnis, atau karena memang kita sudah pandai dan hebat semua, hebat menyembunyikan 'apa adanya' alias fakta dan kenyataan,ethnicgroups self-assertion and ethnicgroups struggling for power. . Bisa juga hebat menyembunyikan api dalam sekam. Dan ini biar bagaimanapun adalah api! Sepandai-pandai tupai melompat . . . Dominasi adalah penjajahan dan sumber ketidakadilan, contohnya seperti yang dikatakan oleh antoropolog Denis Dwyer: "development programmes frequently are controlled and administered at the higher levels by members of the politically dominant ethnic group; and most of the fruits of such development flow into the pockets of a tiny ethnic elite or at best, are distributed in a limited manner within the same ethnic group". Ini salah satu keuntungan politis/ekonomi bagi etnis-etnis yang memperjuangkan dominasi atau hegemoni.

    Kalak Teba diluar Dairi ngakunya Batak (Tobanya tidak diikutkan), begitu juga ada Karo yang ngaku Batak-Karo tapi Karonya diikutkan. Belanda bilang kalian Batak semua, seperti orang Pribumi katanya kepada semua orang coklat lainnya di seluruh tanah air, yang lebih hitam, Ambon katanya dan yang lebih hitam lagi, Papua katanya. Disini: keangkuhan + kebodohan Belanda. Dan dalam istilah Batak atau Batak-Karo sebagai pengganti Teba dan Karo, sudah termasuk kedalam pengertian intellektual yang lebih tinggi, disini tidak bisa dipisahkan dari 'perang image' (Juara Ginting) atau apa yang sering saya sebut dengan 'ethnicgroups self-assertion and etnicgroups struggling for power'. Disini berlaku sasaran dan motivasi yang sangat jelas: siapa menguntungkan siapa dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Sama halnya dengan Aceh Gayo atau Aceh Alas atau Aceh apa saja. Antropolog Batak Amir Nadapdap malah bilang Batak Gayo dan Batak Alas, istilah 'aceh' diganti 'batak' sama dia. Sasaran dan motivasi intellektualnya jelas walupun lebih tinggi.

    Ketika ditanyakan pendapatanya soal pemekaran, gubernur Puteh mengatakan: "Saya sependapat dengan DPRD, tidak mungkin karena itu bertentangan dengan UU Nomor 18 Tahun 2001," ujar Gubernur Abdullah Puteh. Gubernur juga menyatakan tidak ingin daerah yang disebut sebagai "Serambi Mekkah" ini dipecah-pecah dengan membentuk provinsi. Karena daerah ini merupakan warisan indatu dan nenek moyang masyarakat Aceh yang sangat kental dengan Islamnya(web TVRI). Gubernur Puteh tidak menjelaskan dimana warisan masyarakat Gayo, Alas dan etnis-etnis asli lainnya. (milis tanahkaro Fri Oct 8, 2004 12:20 pm).

    Banyak orang Karo maupun orang Teba tidak pernah mengerti existensi perang etnis 1946 antara kalak Karo dan kalak Teba, karena tidak pernah mendengar. Selalu disembunyikan seperti menyembunyikan SARA kreasi Orba Suharto. Pelajaran dari SARA Suharto ialah: ada yang disembunyikan atau dipaksa sembunyi dan ada yang secara sembunyi dijalankan. Etnis-etnis yang jauh dari kekuasaan harus bungkem, tapi jawanisasi jalan terus. SARA disini saya samakan dengan istilah sukuisme, istilah yang juga punya pengertian lain dalam perkembangan sekarang karena dulu sebelum Orba dan masa Orba sukuisme sangat negatif dan dipakai untuk menakut-nakuti etnis yang menunjukkan ke-etnisannya, yang tidak menunjukkan dianggap 'baik' walupun kemudian bakal jadi sebab utama kekalahan total etnis tersebut, seperti Karo , Alas, Gayo, Pakpak, Dayak dst. Jawanisasi saya maksudkan sama dengan feodalisme jawa, sistem mana telah dipaksakan berlaku diseluruh Indonesia ketika kekuasaan militer fasis-pancasilais Orba Suharto dan yang telah berakibat sangat merugikan adat/tradisi kehidupan otonomi dan demokratis banyak daerah seperti Sistem Nagari di Minang atau sistem demokrasi Runggu Rakut Sitelu pada etnis Karo, sistem mana telah exis dan berlaku mengatur kehidupan Minang dan Karo bahkan jauh sebelum feodalisme Jawa.

    Ethnic revival atau Cultural revival dunia adalah revolusi besar kebudayaan etnis-etnis dunia membembaskan dirinya dari penindasan kultur/budaya dan juga secara politis dan ekonomi. Ini terjadi secara besar-besaran di Uni Soviet, Yugoslavia, Irlandia Utara, Rwanda, Chapata/Mexiko, Srilangka dst, dan di Indonesia sendiri Kalbar, Kalteng, Maluku, Sulteng/Poso dll.

    Di Swedia berdiri Parlemen Sami + benderanya, diluar parlemen Swedia.

    Di Aceh pemekaran ALA/ABAS, di Sumut pemekaran Protap, Sumtim, propinsi Karo, Tabagsel, Nias. Setelah perang etnis di Indonesia kemudian dibagian lain dilaksanakan dengan pemekaran dan yang sudah terlaksana lebih dulu ialah Gorontalo, Babel, Banten, dll.

    Sukuisme sekarang baik, dan lebih baik lagi kalau dibicarakan atau memang harus dibicarakan apa adanya, menghindari api membara dalam sekam dan dengan sendirinya menghindari perang etnis, yang sudah makan korban dimana-mana termasuk di Indonesia. "Ngerana kita atau erperang kita" pernah kutulisken mbarenda. Erperang sangana ngusir penjajah seh beluhna kita, gundari ngerana, lanai pakai bambu runcing atau bedil. Arah ngerana enda banci nambah "bargaining position" (istilah si pernah ipake Rudy Pinem). Ngerana soal pemekaran Karo jelas bakal nambah ruang gerak politis bagepe ekonomi man Karo (termasuk DAU; DAK). Gundari ngerana saja lebe, gia lenga lit pemekaran tapi enggo itteh kalak ija posisinta, itteh kalak sura-suranta si pasti, enda pe enggo terakap. Kai denga ka adi pemekaran daerah-daerah otonomi (5 daerah otonom: Berastagi, Deli, Langkathulu, Singalorlau, Tigalingga/Tanehpinem) enggo terbentuk, tentu ibas Sumut enggo 5x lebih besar suara politikta. Kai denga ka adi berhasil kita bentuk propinsi Karo, enda enggo bulat suara Karo jadi sada suara ku Pusat, Karo jadi perpanjangan tangan pusat, lanai perlu calo. (Milis tanahkaro Tue Dec 18, 2007 9:14 pm).

    Globalisasi telah mendesak kemanusiaan kepelosok yang paling terpencil sekalipun, dan satu-satunya tempat bertahan bagi kemanuisaan ialah dalam grup 'bersama' yang paling kecil yaitu etnisnya atau sukunya, yang kulturnya sama. "the focus is almost exclusively at ethnics and not nations" , kata Erik Lane dalam bukunya - Globalization and Politics: Promises and Dangers. Selanjutnya dia tulis: "Thus, people are so intimately connected with a culture that they are, so to speak, constituted by the culture in question or embedded in such a particular culture."

    HUT kota Medan tahun ini sangat memprihatinkan (posting Alexander). Sebabnya karena pemimpin kota Medan sedang dikurung, sebab ekonomi yang semakin mencekik, atau juga adanya 'perang image' tadi. Dan perang image ini bisa berhenti kalau kita semua sudah merasakan keuntungan dari kemegahan sejarah bersama kita. Dan ini memang perjuangan . . . perjuangan untuk keadilan bagi dan untuk seluruh nation Indonesia.

    Enda ka lebe
    Bujur ras mejuah-juah
    MUG

    Sukuisme tadinya jelek, sekarang baik< Prev  Next > 
    Posted By: Wed Jul 2, 2008 11:59 am  |
    Oleh: M. U. Ginting (Swedia)
    disadur dari: tanahkaro · Mailing List Tanah Karo Simalem.

    Lihat juga:
    Karo bukan Batak: Sekedar opini dari saya (Bagian 2)






    Sunday, March 3, 2013

    Museum Karo Lingga dan Desa Budaya Lingga

    Museum Karo Lingga: menyimpan benda-benda dari kebudayaan Karo
    Museum Karo Lingga: menyimpan benda-benda dari kebudayaan Karo

    Museum Karo Lingga dan Kuta Budaya Lingga, adalah dua tujuan wisata yang ada di
    Kabupaten Karo, Sumatera Utara, Indonesia.
    Perjalanan saya kali ini(Sabtu, 2 Maret 2013) tidak seperti biasa yang walau dadakan namun secara keseluruhan berjalan mulus. Kali ini tidak begitu mulus dan sidikit mengecewakan. Pasalnya, walau sudah ada rencana, manun sedikit perubahan lokasi tujuan dari semula ingin mengunjungi lokasi konservasi orang utan di Bahorok, Bukit Lawang, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara namun karena ada beberapa hal diluar dugaan, maka tujuan-pun dirubah ke tiga Museum yang menyimpan koleksi benda budaya Karo, yakni: Museum GBKP di kompleks RC. GBKP, Sukamakmur, Museum Pusaka Karo yang terletak di kota wisata Berastagi, dan  Museum Karo Lingga di Desa Lingga.

    Perjalanan dari rumah(Patumbak, Deli Serdang) sekitar pukul 09.00 wib, cuma kali ini kami menelusuri jalur Patumbak – Delitua - Titi Kuning – Padang Bulan(Medan) – Pacur Batu – ke Kabupaten Karo, tidak seperti biasa yang mengambil jalur Patumbak – Delitua – Namorambe - Namom Mbacang/Bintang - Pancur Batu, sehingga tentulah kemacetan dan persimpangan lampu merah harus dihadapi.  Jalur ini diambil karena kami(saya dan adik saya) sekalian mengantarkan Nande(ibu) Ginting kami ke Jambur Pemere Padang Bulan, Medan untuk melayat acara adat kematian Bapak Depari. Sebelumnya saya mengucapkan turut berduka dan semoga keluarga Depari diberi ketabahan.

    Memasuki Jalan Jendral A. H. Nasution hingga Simpang Pos kemacetan parah terjadi, hampir  2 jam lebih kami terjebak macet, baru memasuki Jl. Letjend. Djamin Ginting lalu-lintas kembali lancar hingga Jambur Pemere dimana kami menurunkan Nande beru Ginting. Sepanjang Jl. Djamin Ginting Padang Bulan, Medan kendaraan sangat padat, mengingat hari Sabtu walau demi kian tidak ada kemacetan berarti selain oleh karena sebuah angkot(angkutan kota) kuning yang mogok tepat ditengah badan jalan, namun segera ditanggulangi sang pengemudi dan beberapa orang yang kebetulan melintas, sehingga jalan kembali lancar. Baru di sekitar Tiga(pasar tradisional) Pancur Batau kemacetan kembali terjadi hingga melewati Puskesmas Pancur Batu. Berhubung hari Sabtu, maka kendaraan yang menuju gugung(dataran tinggi/pegunungan) cukup padat, setidaknya dari Bandar Baru samapi Peceren jalanan baru tampak lengang dan sepi, dan memasuki Kota Wisata Berastagi(sekitar 66 km dari Medan) kembali padat dengan kendaraan. Seperti biasa jika melakukan perjalanan ke dataran tinggi Karo, sebelum memasuki Kota Berastagi, pemberhentian pertama kami adalah SPBU Sukamakmur yang letaknya tepat di samping kompleks RC. GBKP Sukamakmur, dilanjut pemberhentian kedua yakni Peceren dimana disepanjang kedua belah sisi jalan terdapat toko-toko yang menjual panganan khas Peceren dan yang paling populer adalah Wajit Peceren dan beberapa aneka panganan lainnya.

    Sampai di Kota Berastagi, kami langsung menuju Museum Pusaka Karo di Jalan Perwira No. 3, Berastagi yang tidak jauh dari bundaran Tuju Mejuah-juah(Perjuangan) Berastagi, namun di pintu museum tersebut tertulis “TUTUP” dan ada larangan parkir didepannya, maka tidak mau larut dalam kekecewaan kami pun melanjutkan perjalanan ke sekitar objek wisata Gundaling yang masih di kawasan kota wisata Berastagi. Dari Gundaling, kami melanjutkan perjalanan ke Museum Karo Lingga di Lingga. Jujur, saya tidak tahu pasti letaknya, maka sambil berbelanja perbekalan saya mencoba bertanya-tanya kepada kasir swalayan dan masyarakat sekitar tentang informasi lokasi Museum Karo Lingga ini. Setelah mendapat informasi maka kami melanjutkan perjalanan menuju Desa Lingga. Melalui Jl. Udara Berastagi hingga simpang empat kami berhenti sejenak bertanya lagi memastikan arah kami sudah tepat dan melanjut perjalanan mengikuti jalan menuju Desa Lingga dan Kabanjahe. Tidak jauh dari tempat kami bertanya, ada pertigaan dengan papan penunjuk arah dan plank bertulisakan Museum Karo Lingga dan sebuah komplex pemakaman dan geriten tepat di pertigaan itu, maka kamipun masuk ke kanan pertigaan itu menuju Desa Lingga, dan sekitar +/- 300 meter dari pertigaan akhirnya kami menemukan tujuan kami, yakni Museum Karo Lingga, tepat didepan sebuah Gereja Khatolik yang bangunannya juga bernuansakan Karo.

    Museum Karo Lingga adalah museum yang menyimpan benda-benda dari kebudayaan Karo, yang letaknya di Desa Lingga(jalan menuju desa budaya Lingga), tepat didepan Gereja Khatolik Santo Petrus. Bangunan museum ini sendiri merupakan model rumah panggung yang terbuat dari kayu, dengan bernuansa Karo yang paling jelas tampak pada bagian atapnya dan ayo-ayo(muka) dari rumah yang ada bertuliskan salam khas masyarakat Karo: “Mejuah-juah.”

    Saat masuk ke kompleks museum yang dimana halamanya ditumbuhi oleh rerumputan hijau, tanpa menunggu untuk disapa saya langsung turun dari mobil dan menyapa seorang peria paruh baya dengan sapaan khas Karo. Berikut percakapan antara kami di halaman depan museum.

    Museum Karo LinggaSaya:  “Mejuah-juah, Pak!” sambil menjulurkan tangan saya.
    Si Bapak: “Mejuah-juah” balasnya denga senyuman sambil menjabat tangan saya.
    Saya: “Me enda nge ningin Museum Karo Lingga e, Pak?”
    Si Bapak: “Ue, ku bas-ken, lit nge bas bibindu.” Jawabnya dengan penuh keramahan, sambungnya: “Egia, ja nari kin kena?”
    Saya: “Kami Patumbak nari, Pa?”
    Si Bapak: “Adi bage kubasken kena yah.” Katanya mempersilahkan kami untuk masuk.

    Museum Karo Lingga
    Bagian tengah museum
    Untuk memasuki museum ini (tidak dipungut berapa beaya resmi, namun sukarela) kita harus menaiki anak tangga dari bambu bulat, dan ture-ture(teras)-nya juga masih terbuat dari bambu, dan menjaga kebersihan museum alas kaki harus dibuka. Namun tidak usah khawatir, karena lantai museum ini bersih kok dan cukup nyaman untuk menginjakkan kaki didalamnya, karena lantainya juga terbuat dari kayu.

    Koeksi "gundala-gundala" di Museum Karo Lingga
    Koeksi "gundala-gundala" di Museum Karo Lingga
    Memang, koleksi dari museum ini masih jauh dari lengkap, akan tetapi, setidaknya kita sudah mendapat sedikit gambaran tentang kehidupan masyarakat Karo, khususnya dimasa lampau. Memasuki museum di bilik ruangan sebelah kanan kita akan menemui benda-benda kesenian dan kerajinan Karo, dari alat musik dan alat pertanian, serta alat dapur yang dipajang di lemari kaca, dan diatas meja yang terbuka dipajang patung dan tiga buah gundala-gundala (topeng Karo), dan sebuah replika manuk sigurda-gurdi(penggambaran jelmaan/siluman rajawali), serta beberapa photo yang dipajang di dinding(untuk menjaga keamanan benda dan kenyamanan pengunjung maka di setiap benda yang dipajang terbuka deiberi tulisan "Jangan Disentuh!") . Di bilik kiri didominasi dengan peralatan sehari-hari dari masyarakat Karo, mulai dari alat dapur, alat makan, alat mengambil/menampung air, dan pernak-pernik lainnya. Ada juga tongkat dan dalam lemari etalase kaca dipajang patung model yang memakai pakaian adat Karo(pria-wanita) dan uis(kain) tradisional Karo, serta photo-photo yang dipajang di dinding.         
    Peralatan sehari-hari masyarakat Karo
    Peralatan sehari-hari masyarakat Karo
     Yang menarik perhatian saya adalah dibagian tengah ruangan ada beberapa peralatan sehari-hari masyarakat Karo tradisional, dan yang paling menarik perhatian saya adalah “campah”, yakni: tempat makan orang Karo zaman dahulu yang terbuat dari kayu yang lebarnya sekitar 65 x 65 cm, dengan ketebalan sekitar 15 - 20 cm. Dan, beberapa benada yang mengingatkan saya kepada almarhum Nini Bulang(kakek) saya, seperti gelang-gelang(wadah memasak dari bahan kuningan), tumbak(tombak), guci, mangkuk, pinggan pasu, dll yang dulu sempat juga saya koleksi namun karena berpindah-pindah sebahagian entah kemana. Puas berbincang-bincang dengan bibi penjaga museum dan mengambil beberapa jepretan photo dari kamera digital, kami memutuskan melanjutkan perjalanan ke Kuta(Kampung) Budaya Lingga yang tidak jauh dari museum.

    Beranjak dari Museum Karo Lingga menuju Desa Budaya Lingga, optimis saya akan memetik makna yang berarti dan melihat objek-objek yang menarik, ya.. ada betulnya, karena disepanjang jalan menuju desa budaya Lingga banyak kita jumpai kuburan dan geriten(penyimpanan tulang) yang dibangun megah dengan gaya arsitektur khas Karo serta perladangan masyarakat setempat. Bagus sekali, namun tak sepenuhnya benar! Memasuki kompleks desa budaya Lingga, kita disambut gapura seperti sebuah gerbang yang berdiri megah dan kokoh dengan gaya arsitektur Karo. Melintasi gerbang, kita seakan melintasi ruang dan waktu dari modern ke klasik, setidaknya itu apresiasi dari saya. Namun jika sudah masuk maka sedikit rasa kecewa menerpa, karena apa yang diberitakan tidak lagi sesuai dengan kenyataan sesungguhnya, atau dengan kata lain, yang diberitakan itu adalah cerita sejarah(masa lampau). Tidak jauh dari gerbang masuk, kita akan disambut sebuah bangunan yang cukup megah, yakni Jambur(balai) Lingga. Kami memutuskan untuk memarkirkan mobil tepat di depat jambur.

    Sebuah Jambur  ber-cat putih yang berdiri kokoh dan megah dengan tiang-tiang kayu bulat menambah keunikannya. Di langit-langit jambur juga terdapat dua buah papan yang lumayan lebar(sekitar 1, 5 x 3 meter) yang bertuliskan nama-nama dengan bermerga Karo. Tidak menunggu untuk disapa, saya langsung menyapa orang-orang yang ada di jambur yang asyik menonton permainan tenis meja. Seperti biasa, diawali salam “Mejuah-juah” berkenalan dan basa-basi. Tidak mau sia-sia datang ke desa Lingga saya banyak bertanya tentang desa tersebut kepada seorang masyarakat setempat yang kebetulan ber-merga Karo-karo Sinulingga. Merga Karo-karo Sinulingga adalah kelompok merga yang memanteki(mendirikan) desa Lingga dan keturunannya juga dimasa aristokrak berbiak merupakan kaum Sibayak(raja, penguasa, si kaya, yang dimuliakan, bangsawan) di Lingga dengan gelar Sibayak Lingga. Salah satu pertanyaan saya yakni tentang nama-nama yang tertera di langit-langit jambur, dan beliau(Sinulingga) menjelaskan kalau nama-nama itu merupakan para tokoh pendiri jambur. Dia juga bercerita kalau jambur di desa itu dulunya memiliki halaman yang luas dan ditumbuhi rumput hijau dan tempat parkirnya juga luas, namun seiring bertambahnya populasi penduduk, maka bangunan bertambah dan semakin merapat ke jambur hingga kini hanya meyisakan bangunan utama jambur dan jalan yang ngitari jambur dari tiga sisi jambur.

    Pak Sinulingga juga bercerita, dahulu bangunan rumah di Lingga bergaya arsitektur tradisional Karo(rumah panggung) dan banyak sekali didapati rumah-rumah adat(Si Waluh Jabu). Namun, beberapa tahun belakangan rumah-rumah itu runtuh dimakan usia dan diganti dengan bangunan yang lebih modern, sehingga kini hanya menyisakan dua rumah adat lagi yang juga terancam runtuh. Jadi ancaman kepunahan rumah adat Karo di Lingga sudah dalam ambang sangat kritis dan butuh segera diperhatikan. Lihat video Ekspedisi Cincin Api.

    Lama berbincang-bincang dengan Pak Sinulingga saya banyak mendapat informasi kehidupan masa lampau dari desa Lingga yang membuat saya merinding sekaligus sedih. Desa Lingga yang tersohor dalam sejarah Sibayak Lingga dan pemberitaan dengan nama desa budaya dengan rumah adat yang berusia ratusan tahun, saya rasa sudah pantas menyandang istilah kini “hanya kenangan”. Apakah kita membiarkannya saja? Melihat apa yang terjadi di Desa Lingga mengingatkan saya dengan perjalanan Kerja Tahun(pesta tahunan masyarakat Karo) saya sekitar tahun 1997 di Desa Buah Raya dan Kuta Buluh Simole. Dimana, saya kecapekan bolak-balik menaiki anak tangga dari ruma adat Si Waluh Jabu yang  satu ke rumah adat lainnya, dan, sejak saat itu tidak pernah lagi mengunjungi dua tempat tersebut. Apakan disana juga rumah adat ini telah punah? Hm.. Menyedihkan sekali mendengar cerita dari Pak. Sinulingga dan melihat dengan kedua mata ini bahwa desa-desa tradisional Karo kini hanya kenangan seperti halnya Kerajaan Aru(Haru: Karo Kuno). 

    Puas melihat sekeliling Desa Lingga, namun sengaja saya tidak mengambil satu gambar-pun, karena jujur untuk saat sekarang ini selain daripada sejarahnya, udaranya yang sejuk, serta masyarakatnya yang ramah dan bersahabat tidak adalagi sisa-sisa kebesaran Lingga yang diceritakan, dan, kami pun berpamitan pulang kepada beberapa orang tua dan masyarakat Lingga yang sangat ramah dan royal senyum. Sebuah pengalaman yang mengharukan tetapi kami harus kembali dan meninggalkan udara sejuk di Desa Budaya Lingga yang melegenda ini. Namun, saat perjalanan pulang, saya tidak henti-hentinya memikirkan rumah adat yang terancam punah itu dan hati kecil ini terus bertanya: apankah kejayaan Lingga akan kembali? Dimana dulunya Lingga tersohor bukan hanya alam yang indah dan kemajuan dalam bidang ekonomi, tetapi dengan rumah adatnya, dan tokoh-tokohnya terkhusus dari kaum Sibayak(Sibayak Lingga) yang melegenda dan disegani oleh negeri-negeri sekitarnya. Selain itu, dari tradisi yang beredar meyakini bahwa nenek moyang bangsa Batak atau sering disebut Si Raja Batak juga diyakini berasal dari Lingga dan masih keturunan dari Sibayak Lingga. Mungkin saat-saat kejayaan itu kembali hanya dalam mimpi saja.


    Jam menunjukkan Pukul 15.45 wib saat kami keluar dari Desa Lingga. Tidak sempat untuk singgah di Museum GBKP yang terletak di Kompleks RC. GBKP Sukamakmur, karena semua fasilitas di RC dijadwal tutup pukul 16.00 wib. Tapi tidak apa lah, sebab museum yang satu ini sudah sering saya kunjungi dan selalu akan ada kesempatan untuk mengunjunginya, setidaknya saat menemani adik saya berenang di kolam rengan kompleks RC tersebut.

    Juga menjadi kebiasaan saat kami kalau pulang dari dataran tinggi Karo selalu singgah makan BPK, cuma,  kali ini kami memutuskan makan BPK di sekitar Pancur Batu saja untuk mengejar waktu agar terhindar dari kemacetan yang biasa terjadi saat hari sabtu atau hari libur. Ya, tujuan utama tentunya di BPK Ketaren, Namo Mbacang sekalian ngambil jalan potong alternatif untuk pulang ke rumah. Bukan karena itu, lokasinya yang adem dan tenang, serta rasanya yang memenuhi standart dan selera kami membuat BPK Ketaren ini menjadi persinggahan kami jika melewati jalan ini. Ya, saya rasa ini patut menjadi rekomendasi buat teman-teman yang ingin menikmati BPK jika berkunjung ke Sumatera Utara dan tentunya buah salak yang dijajakan tidak jauh dari kedai Ketaren tersebut. Hehehe…. Capek jalan-jalan, ternyata lebih capek menceritakannya ya? Ok-dekh, jalan-jalan kita minggu depan kemana ya? Hehehehe…. Salam Mejuah-juah.

    Spesial untuk Kuta Lingga tercinta, saya ingin menyanyikan satu lagu karya komponis nasional yang juga merupakan salah satu komponis legendaris Karo asal Kuta Seberaya, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, yang berjudul "Bunga-bunga Nggeluh."

    Bunga-bunga Nggeluh (Komponis: Djaga Depari)

    Layas-layasi lah ukurndu
    Ola ndele la erluhu
    Kerna pengindo kempu ninina Dibata metehsa 
    Turi-turi'i lah ukurndu, layasi lah pusuhdu
    Nde.. Kerna 'lajang aku nindu
    Tuhu-tuhu kel meriso 
    Daging ngalah lalap la lolo
    Lampas tayang mata la tunduh
    Ee..nda bunga-bunga nggeluh 
    Kempu kel nini-na anakku, em  bunga-bunganta nggeluh.

    Timai aku timai nini Tigan nindu, 

    Tapi kena nadingken aku
    Ola kel kita sirang nini Tigan ningku, 
    Beru Tarigan ndai ngelukken aku 
    Oh, kempu nini-na kuja pagi kami kerina
    Turang nande Tigan kusayangi, bunga-bunga 'geluh..

    Timai aku timai nindu
    Tapi kena ngelukken aku
    Ola kel kita sirang beru Tarigan ningku
    Tapi genduari kam ngelukken aku
    Oh, bere Karona kuja pagi mama Biringna
    Anakku kempu ninina kusayangi, enda bunga-bunga nggeluh.

    Timai aku timai nindu, 
    Tapi kena ngelukken aku; 
    Olakel aku tading nini ningku, 
    Beru Tarigan ndai ngelukken janji. 
    Oh, nande Tiganna kuja pagi mama Biringna; 
    Turang ku sayangi ari aron enda bunga-bunga 'geluh.

    Lihat video-nya berikut ini: Koleksi:  Bastanta Permana Sembiring;   Patumbak,  01 Agustus 2008; "Bunga-bunga Nggeluh - Pinta-pinta"  Cipt: Djaga Depari;  vokal: Sopian Surbakti; penata musik: Mustika Barus(alm).


    Museum Karo Lingga


    Lokasi: Jl. Kuta Lingga, Desa Lingga, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Karo,
    Sumatera Utara, Indonesia 22153.
    Tiket masuk: Sukarela.
    Parkir: Halaman museum dan jalan(geratis).
    Koleksi: Benda-benda dari kebudayaan Karo.
    Kategori: Museum, wisata sejarah, wisata budaya, dan wisata pendidikan.
    Akses jalan: Keseluruhan bagus(sekitar 15 km dari Kota Wisata Berastagi; 5 km dari 
    Kota Kabanjahe(ibu kota Kabupaten Karo); 81 km dari Kota Medan).



    Kuta Budaya Lingga
    Lokasi: Kuta Budaya Lingga, Desa Lingga, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Karo,
    Sumatera Utara, Indonesia 22153.
    Tiket masuk: Tidak dipungut beaya.
    Parkir: Halaman, parkir, jalan(geratis).
    Koleksi: Sejarah, jambur, pemandangan alam, dan rumah adat.
    Kategori: Wisata alam, wisata sejarah, wisata budaya, dan wisata pendidikan.
    Akses jalan: Keseluruhan bagus(sekitar 15 km dari Kota Wisata Berastagi; 5 km dari 
    Kota Kabanjahe(ibu kota Kabupaten Karo); 81 km dari Kota Medan).