Mejuah-juah.     Selamat datang di blog sederhana kami: "Rudang Rakyat Sirulo".   Mejuah-juah. Kami minta maaf jika diwaktu dekat ini akan ada sedikit gangguan atau ketidak nyamanan pengunjung terhadap tampilan blog ini, sebab direncanakan dalam waktu dekat blog ini akan melakukan perbaikan. Terima kasih atas kunjungan anda.   Terus dukung dalam doa, untuk Taneh Karo Simalem yan kita cintai segera dipulihkan    Mejuah-juah.        RUDANG RAKYAT SIRULO COMUNITY menerima donasi dari pihak-pihak yang hendak/peduli dengan blog ini, yang ingin berinfestasi. Hal ini ditujukan untuk menghidupkan terus blog ini, serta meng-UPGRADEnya ke wensite berbayar demi kenyamanan pengunjung. Bagi anda yang tertarik silahkan hubungi e-mail: bastanta.meliala@gmail.com. Terima kasih.
Mejuah-juah.   Rudang Rakyat Sirulo Comunity, mengundang partisipasi dari pemcaba untuk mendukung eksistensi blog ini, dengan mengirimkan tulisan-tulisan yang berkaitan dengan Karo ke e-mail: bastanta.meliala@gmail.com    RRSC juga mengundang para pengunjung blog untuk ikut serta membangun jaringan RRSC dengan cara menyampaikan donasi untuk meng-UPGRADE blog ini ke versi berbayar, hal ini dianggap perlu untuk memberi kualitas konten dan kenyamanan pembaca.   Bagi anda yang tertarik untuk mendukung dan ikut serta membangun jaringan RRSC, anda dapat menyampaikan donasi anda ataupun berinfestasi di blog ini. Silahkan hubungi e-mail admin di BASTANTA.MELIALA@GMAIL.COM    Mejuah-juah.
    <--> MEJUAH-JUAH <-->

    Selasa, 09 April 2013

    Dulu dan sekarang kristen

    Dalam beberapa kali diskusi dengan teman-teman, tidak jarang menyimpulkan jikalau dalam masyarakat Karo kekeristenan yang sesungguhnya itu baru berjalan setidaknya dua generasi. Bahkan, ada juga yang pesimis dengan dua generasi dan mengatakan kalau baru satu generasa saja, yakni generasi kita ini, sehingga disimpulkan, kita generasi muda Karo sekarang inilah merupakan generasi Kristen Karo yang pertama.



    Pandangan ini bukan tidak beralasan, berikut tiga(3) alasan mengapa kekeristenan di Karo itu diyakini masih berjalan dua ataupun bahkan masih satu generasi!
    1.  Sebab jika ditinjau dari aspek sejarah, maka dapat ditarik kesimpulan kalau usaha-usaha pengkristenan terhadap suku Karo tidak lebih dari (1) menjinakkan masyarakat Karo, (2) memecah belah masyarakat Karo, dan (3) mengkaburkan identitas Karo, dan walaupun ketiga(3) ide pokok pengkristenan Karo itu sangat ditentang dan yang melontarkan itu akan dipandang sinis dan buruk, namun itu semua tidak dapat kita pungkiri, karena kristenisasi terhadap suku Karo adalah sebuah rangkaian monuver politik kolonial Belanda agar dapat menaklukkan Karo dan Taneh Karo.
    2. Menjelang berakhirnya Orde Lama dan memasuki masa Orde Baru, diawali dengan meletusnya gerakan 30 September(dimana PKI dituduh sebagai pelaku) yang dikenal dengan Gestapu(G 30 S/PKI) yang efeknya pada pembersihan terhadap komunisme yang dimana masyarakat yang masih hidup dalam tradisi dan kepercayaanya juga disamakan, sehingga untuk menghindari dari pemusnahan maka mau tak mau harus memilih salah satu agama yang diakui oleh negara. Hal ini banyak dialami oleh keluarga-keluarga Karo dan tak jarang sampai mengkaburkan dan bahkan mengganti identitasnya. Dan, kelanjutan dari masa-masa ini muncul sebuah fenomena di masyarakat Indonesia kalau tidak memeluk agama modern adalah kafir, kuno, komunis, dan tertinggal. Coba bayangkan bagaimana masyarakat pada masa itu menjalankan agamannya.
    3. Alasan selanjutnya, kekeristenan di masyarakat Karo adalah kekeristenan warisan, artinya kekeristenan yang diwariskan oleh orang tua kepada kita dan bukan karena panggilan hati nurani kita. Karena, baru saat sekarang inilah keluarga-keluarga Karo mulai terbuka terhadap agama(walau ada beberapa keluarga dari dulu demikian). Bahkan, jangankan agama! Saya ingat sekali betapa kerasnya orangtua saya menentang dan mengomentari saat kakak saya hendak masuk Khatolik, ataupun saat seorang yang masih kerabat dekat kami melakukan acara pasu-pasu perjabun(pemberkatan pernikahan) di gereja lain. Dan, pandangan saya dari apa yang selama ini saya lihat dan perhatikan, bagi kebanyakan orang terkhususnya masyarakat Karo agama itu tidak lebih dari identitas dan harga diri yang harus dibela dan dipertahankan, bukan karena percaya namun, faktor gengsi-lah yang lebih berperan. Sehingga, berangkat dari alasan-alasan ini maka saya dan beberapa teman-teman berkesimpulan kalau kekeristenan yang sesungguhnya, yang datang dari hati nurani, yang merupakan pilihan, dan yang bukan diwariskan masih berlangsung satu generasi(dalam dua generasi) dan bahkan diyakini masih baru lahir(generasi sekarang ini). Sehingga, tak jarang muncul juga pertanyaan yang kedengran sepele namun dalam maknanya, yakni: “Apa perbedaan kekeristenan Karo dahulu dengan sekarang?” Dan, berikut saya mencoba menjawabnya dalam bentuk puisi singkat dengan judul: “Dulu dan sekarang kristen”.(hehehe… belajar bikin puisi ceritanya :D)  

    Dulu dan sekarang kristen!

    Dulu.
    Dulu kami kristen karena penjajahan
    Dulu kami kristen karena ketakutan
    Dulu kami kristen karena pembodohan
    Dulu kami kristen karena kebohongan
    Dulu kami kristen karena politik pemusnahan
    Dulu kami kristen karena harta dan kekayaan
    Dan, dulu kami kristen karena, karena, dan karena!

    Sekarang.
    Sekarang kami Kristen karena t’lah dimerdekakan
    Sekarang kami Kristen karena t’lah disekolahkan
    Sekarang kami Kristen karena t’lah diselamatkan
    Sekarang kami Kristen karena t’lah diberanikan
    Sekarang kami Kristen karena t’lah dimenangkan
    Sekarang kami Kristen karena panggilan hati nurani kami
    Karena KRISTUS pengharapan kami.



    Senin, 08 April 2013

    Ulih latih si merdang


    Cukup menda kap ken latihna ndube
    Akap serayan si arah lebe
    Subuk Pandita ‘tah Guru Agama
    Si mbaba “B’rita Si Meriah” man guna bangsata

    Mbelang taneh kendit ‘nggo i siarna
    Deleng si meganjang ‘nggo i nangkihna
    Mentasi kerangen rimba raya
    Panasna maler iluh mambur em i tahankenna.
    Angin meter udan meder tengah berngi singongo
    ’rdalan sisada labo ku tera;
    Perba’n i tehna TUHAN temanna
    Sehkel tuhu latihna
    Cukup tuhu mberatna
    Dalan siarah lebenta

    Labo kap sia-sia si ‘erdangkenna ndube
    Ertuah kap ken sini suankenna ndube
    Amin metenggiring taneh perjumanta
    Meramis buahna ‘ban Tuhan mupuksa

    Dage ola aru ateta
    Amin kitik rarasen gia
    Dibata kap temanta singkawali kita

    [Pasu-pasu o, Tuhan
    Ras kawali o, Bapa
    Pasu-pasu dage GBKP( Merga Silima e) ] 2x
    Pasu-pasu dage GBKP(Merga Silima e).