Mejuah-juah.     Selamat datang di blog sederhana kami: "Rudang Rakyat Sirulo".   Mejuah-juah. Kami minta maaf jika diwaktu dekat ini akan ada sedikit gangguan atau ketidak nyamanan pengunjung terhadap tampilan blog ini, sebab direncanakan dalam waktu dekat blog ini akan melakukan perbaikan. Terima kasih atas kunjungan anda.   Terus dukung dalam doa, untuk Taneh Karo Simalem yan kita cintai segera dipulihkan    Mejuah-juah.        RUDANG RAKYAT SIRULO COMUNITY menerima donasi dari pihak-pihak yang hendak/peduli dengan blog ini, yang ingin berinfestasi. Hal ini ditujukan untuk menghidupkan terus blog ini, serta meng-UPGRADEnya ke wensite berbayar demi kenyamanan pengunjung. Bagi anda yang tertarik silahkan hubungi e-mail: bastanta.meliala@gmail.com. Terima kasih.
Mejuah-juah.   Rudang Rakyat Sirulo Comunity, mengundang partisipasi dari pemcaba untuk mendukung eksistensi blog ini, dengan mengirimkan tulisan-tulisan yang berkaitan dengan Karo ke e-mail: bastanta.meliala@gmail.com    RRSC juga mengundang para pengunjung blog untuk ikut serta membangun jaringan RRSC dengan cara menyampaikan donasi untuk meng-UPGRADE blog ini ke versi berbayar, hal ini dianggap perlu untuk memberi kualitas konten dan kenyamanan pembaca.   Bagi anda yang tertarik untuk mendukung dan ikut serta membangun jaringan RRSC, anda dapat menyampaikan donasi anda ataupun berinfestasi di blog ini. Silahkan hubungi e-mail admin di BASTANTA.MELIALA@GMAIL.COM    Mejuah-juah.
    <--> MEJUAH-JUAH <-->

    Minggu, 05 Juni 2011

    Bapa Rakyat Sirulo (versi: Rudang Rakyat Sirulo)


    I. Guru Patimpus Sembiring Pelawi (Pendiri Kota Medan)

              Guru Patimpus Sembiring Pelawi adalah seorang “perlanja sira” (pembawa, penjual garam) dari dataran tinggi Tanah Karo (skrng Kab. Karo) yang hidup sekitar abad ke-16 hingga awal abad ke-17 yang lahir di Aji Jahe, Tanah Karo. Beliau mempersunting seorang gadis Karo beru/br Perangin-angin Bangun (beru/br: menandakan wanita) di Batu Karang, Karo. Dari pernikahannya ini (I) beliau membuka kampung di Perbaji dan memperoleh seorang putra yang bernama Bagelit.

    Beliau dikenal sebagai peria yang bersosok kekar, tinggi, gagah, dan berjiwa patriotik. Suka menolong, sehingga digelari Guru (dlm bahasa Karo guru=orang yang memiliki ilmu pengetahuan, mistik (gaib), ilmu pengobatan, dan memiliki kesaktian namun berjiwa penolong dan lemah lembut) Patimpus (timpus/punjut = dibungkus, ikat, dibalut: Seperti kebiasaan peria-peria Karo di desa-desa nimpusken (ikatkan) sarungnya di pinggang, ataupun menmbalut bekal di dalam sarung dan menimpuskanya (mengikatnya) di atas punggungnya) dan dia juga orang  yang selalu ingin memperdalam ilmu, sehingga ia selalu berkelana mencari lawan tanding maupun guru mbelin/guru simesenget/sibaso (guru besar maha sakti) untuk menguji kesaktiannya.

              Dalam uraian lisan yang diceritakan turun-temurun di masyarakat Karo-Melayu kalau Guru Patimpus Sembiring Pelawi seorang yang sakti dan tidak ada yang sanggup mengalahkannya dalam setiap pertarungan. Satu saat Guru Patimpus Sembiring Pelawi harus melewati huta rimba, melawan binatang buas, melewati  lembah-lembah yang terjal dan curam, menulusuri Lau Petani/Lau Tani (lau = sungai) menuju bandar hilir Sungai Deli untuk menguji kesaktiannya. Beliau mendengar di Kota Bangun ada seorang Ulama yang sakti mandraguna, sehingga beliau ingin uji tanding dengan Ulama tersebut, yakni: Datuk Kota Bangun (bermerga Perangin-angin Bangun). Dalam cerita ini disebutkan kalau Guru Patimpus Sembiring Pelawi tidak sanggup mengalahkan Datuk Kota Bangun, sehingga beliau memutuskan untuk tinggal dan berguru dengannya.  

               Sebelumnya Guru Patimpus Sembiring Pelawi adalah seorang yang menganut kepercayaan pemena, hingga akhirnya ia menikah (pernikahannya yang ke-2) dan memeluk Islam. Setelah prenikahan keduanya Guru Patimpus Sembiring Pelawi beserta istri membuka hutan diaantara Sungai Deli dan Sungai Babura yang kemudian menjadi kampung Medan (Medan dipercaya berasal dari kata Madaan (ckp. Karo) yang berarti kesembuhan/baik, diperkirakan 1 Juli 1590 sehingga ini diperingati sebagai hari jadi kota Medan). Dan, dari pernikahannya dengan Putri (beru/br Tarigan) Raja Pulo Brayan (Panglima Deli Tarigan Mergana), beliau memeperoleh dua orang putra yang masing-masing bernama : Kolok dan Kecik (Cikal bakal Kesultanan Hamparan Perak).

               Untuk mengenang jasanya sebagai simanteki (pendiri, pembuka) kota Medan, maka namanya diabadikan menjadi nama salah satu jalan di Petisah, Medan (Jl. Guru  Patimpus) dan didirikanlah Tugu Guru Patimpus Sembiring Pelawi di jalan Gatot Subroto, Medan.

    II. Kiras Bangun
    III. Sibayak Kuta Buluh
    IV. Djamin Ginting
    V. Djaga S. Depari ......, dll (masih dlm proses penyusunan. Hahahaha...)



    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar

    Mejuah-juah!