Mejuah-juah.     Selamat datang di blog sederhana kami: "Rudang Rakyat Sirulo".   Mejuah-juah. Kami minta maaf jika diwaktu dekat ini akan ada sedikit gangguan atau ketidak nyamanan pengunjung terhadap tampilan blog ini, sebab direncanakan dalam waktu dekat blog ini akan melakukan perbaikan. Terima kasih atas kunjungan anda.   Terus dukung dalam doa, untuk Taneh Karo Simalem yan kita cintai segera dipulihkan    Mejuah-juah.        RUDANG RAKYAT SIRULO COMUNITY menerima donasi dari pihak-pihak yang hendak/peduli dengan blog ini, yang ingin berinfestasi. Hal ini ditujukan untuk menghidupkan terus blog ini, serta meng-UPGRADEnya ke wensite berbayar demi kenyamanan pengunjung. Bagi anda yang tertarik silahkan hubungi e-mail: bastanta.meliala@gmail.com. Terima kasih.
Mejuah-juah.   Rudang Rakyat Sirulo Comunity, mengundang partisipasi dari pemcaba untuk mendukung eksistensi blog ini, dengan mengirimkan tulisan-tulisan yang berkaitan dengan Karo ke e-mail: bastanta.meliala@gmail.com    RRSC juga mengundang para pengunjung blog untuk ikut serta membangun jaringan RRSC dengan cara menyampaikan donasi untuk meng-UPGRADE blog ini ke versi berbayar, hal ini dianggap perlu untuk memberi kualitas konten dan kenyamanan pembaca.   Bagi anda yang tertarik untuk mendukung dan ikut serta membangun jaringan RRSC, anda dapat menyampaikan donasi anda ataupun berinfestasi di blog ini. Silahkan hubungi e-mail admin di BASTANTA.MELIALA@GMAIL.COM    Mejuah-juah.
    <--> MEJUAH-JUAH <-->

    Rabu, 14 Maret 2012

    Piso Surit

                 PISO SURIT adalah salah satu dari sekian banyak syair dan lagu yang pernah dihasilkan oleh komponis ataupun penulis nasional asal Karo, Sumatera Utara, Djaga Depari (Djaga Sembiring Depari). Yang dimana, banyak kalangan mengartikan(piso surit) ini merupakan(dalam) sebuah bentuk benda(piso: pisau). Adalah sebuah kekeliruan yang mungkin tidak disengaja, mengingat kata piso yang mengawalinya mengarah ke sebuah kebendaan(pisau), namun sang komponis sendiri(Djaga Depari) diyakini, sebenarnya mengarang lagu yang bertemakan asmara muda/i Karo yang berlatarkan masa penjajahan Belanda ini, menggambarkan seorang kekasih yang sedang mencurahkan isi hatinya kepada alam tentang kekasih yang dinanti yang tak kunjung datang, hal ini adalah satu yang biasa didaerah karo, yakni: suatu kebiasaan muda/i Karo menuliskan ataupun mengisahkan rintihan atau ratapan(cinta dan kehidupan) yang di Karo popular dengan bilang-bilang(ratapan/rintihan yang diukir di kulit kayu atau bamboo). Pit-co-cuit (cit-cuit) suara burung yang memanggil-manggil digambarkan oleh Djaga Depari dengan kata “piso surit “ sebagai seorang insan yang memanggil-manggil(menanti) sang kekasih yang sedang berjuang di medan perang dan tiada kabar pasti darinya. Hehehehe...   Berikut ini adalah syair dari lagu Piso Surit!

    Piso Surit

    Piso Surit, piso Surit
    Terdilo-dilo, terpingko-pingko
    Lalap la jumpa ras atena ngena.

    I ja kel kena, tengahna gundari
    Siang me enda turang atena wari.
    Entabeh naring turang mata kena tertunduh
    Kami nimaisa turang tangis-teriluh.

    (Reff:,,,,)
    Enggo-enggo me dagena
    Mulihlah gelah kena
    Bage me nindu rupa agi kakana.}2x


    Tengah kesain, turang keri lengetna
    Rembang mekapal turang, sehkel bergehna.
    Terkuak manuk ibabo geligar
    Enggo me selpat turang kite-kite kulepar.

    (To ref...): Enggo-enggo me dagena.., dst.
    Piso Surit, piso Surit
    Terdilo-dilo, terpingko-pingko
    Lalap la jumpa ras atena ngena.

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar

    Mejuah-juah!