Mejuah-juah.     Selamat datang di blog sederhana kami: "Rudang Rakyat Sirulo".   Mejuah-juah. Kami minta maaf jika diwaktu dekat ini akan ada sedikit gangguan atau ketidak nyamanan pengunjung terhadap tampilan blog ini, sebab direncanakan dalam waktu dekat blog ini akan melakukan perbaikan. Terima kasih atas kunjungan anda.   Terus dukung dalam doa, untuk Taneh Karo Simalem yan kita cintai segera dipulihkan    Mejuah-juah.        RUDANG RAKYAT SIRULO COMUNITY menerima donasi dari pihak-pihak yang hendak/peduli dengan blog ini, yang ingin berinfestasi. Hal ini ditujukan untuk menghidupkan terus blog ini, serta meng-UPGRADEnya ke wensite berbayar demi kenyamanan pengunjung. Bagi anda yang tertarik silahkan hubungi e-mail: bastanta.meliala@gmail.com. Terima kasih.
Mejuah-juah.   Rudang Rakyat Sirulo Comunity, mengundang partisipasi dari pemcaba untuk mendukung eksistensi blog ini, dengan mengirimkan tulisan-tulisan yang berkaitan dengan Karo ke e-mail: bastanta.meliala@gmail.com    RRSC juga mengundang para pengunjung blog untuk ikut serta membangun jaringan RRSC dengan cara menyampaikan donasi untuk meng-UPGRADE blog ini ke versi berbayar, hal ini dianggap perlu untuk memberi kualitas konten dan kenyamanan pembaca.   Bagi anda yang tertarik untuk mendukung dan ikut serta membangun jaringan RRSC, anda dapat menyampaikan donasi anda ataupun berinfestasi di blog ini. Silahkan hubungi e-mail admin di BASTANTA.MELIALA@GMAIL.COM    Mejuah-juah.
    <--> sedang dalam perbaikan <-->

    Kamis, 13 Juni 2013

    UIS KARO DAN KARO BUKAN BATAK

    Oleh Juara R. Ginting (Leiderdorp, Netherlands)
    disadur dari group FB: JAMBURTA MERGA SILIMA.

    Saya ada sedikit saran dalam membiacarakan uis Karo ini, khususnya dalam hubungannya dengan ulos Batak dan Karo Bukan Batak! (KBB) [JRG-red]. Namun, sebelum lebih lanjut membaca, ada baiknya kita mendengarkan video klip berikut ini. Mejuah-juah.


    Masyarakat KARO dalam sebuah acara adat
    Kalak Karo
    Saran pertama
    , sebaiknya kita sama-sama berangkat dari titik nol dan berhanyut dengan proses PENCARIAN INFORMASI dan PENGKAYAAN PENGETAHUAN tentang yang dipersoalkan. Jangan paksakan kesan pribadi yang mungkin saja tingkatnya sangat rendah untuk dianggap sebagai data/ informasi menjadi sebuah kesimpulan.

    Misalnya, pendapat senina Ginting mergana coffee: "Beda uis gara dengan yg Simalungun apa? Saya lihat sama aja." Nadanya adalah untuk dijadikan penangkis sebuah argumen (Karo Bukan Batak). Padahal, saya yang sudah bertahun-tahun meneliti semua tenunan tradisional di Sumatra tidak menemukan sebiji textil pun yang sama antara Simalungun dan Karo. Lain halnya kalau mirip-mirip. Dan jangan lupa, kemiripan tidak selalu terletak pada objek tapi juga pada otak si pemandang (subjetifitas).

    Saran ke dua, tidak adanya orang Karo bertenun bukanlah barang baru. Justru sekarang ini sudah ada satu dua orang Karo yang bertenun. Sudah sejak awal-awalnya orang Karo tidak bertenun. Tapi, orang-orang Karo di Binjai, Sunggal, Laucih, Delitua dan Patumbak mengembangkan pertanian kapas yang menjadi bahan dasar dari tenunan tradisional itu. Daerah ini disebut Sinuan Bunga (Penanam Kapas). Di bagian lebih atas, seperti halnya sekitar Sibolangit, memproduksi gambir sebagai bahan dasar pewarna tenunan, makanya disebut juga wilayah Sinuan Gamber(Penanam Gamber).

    Kapas didagangkan dari wilayah Sinuan Bunga ke bagian lebih tinggi dari Taneh Karo setelah diadakan pemintalan oleh orang-orang Karo. Hasilnya adalah Benang Sepuluh dan Benang Dua Puluh (perhitungan yang penting dalam upacara raleng tendi: Siwah Spulu Sada / 9 + 11 = 20). (Ingat juga Aron Sepuluh dan Aron Dua Puluh yang terus saling bersaing dalam acara guro-guro aron. Bila yang satunya menjadi aron simantek yang lainnya menjadi aron anceng dengan memainkan drama gundala-gundala atau pergamber-gamber di pinggir kampung).

    Semua desa Karo melakukan pencelupan (ertelep) sebelum mereka mengirimnya lewat Perlanja Sira ke Negeri Ketengahen atau disebut juga Sitelu Kuta/Sitolu Huta (Tongging, Paropo, Silalahi). Di sanalah uis Karo ditenun dan nantinya dijemput kembali oleh Perlanja Sira dan menyerahkannya kepada pemesan.

    Ketika controleur Middendorp hendak mengembangkan Bank Rakyat di sekitar tahun 1930-an (dengan mengirim beberapa raja Karo seperti Pa Pelita ke Padang untuk belajar tentang bank), Pa Pelita si Sibayak Kabanjahe menarik para penenun dari Sitolu Huta ke Kabanjahe dan memberikan tempat tinggal untuk mereka satu kesain baru (sejak itulah banyak orang-orang Situlo Huta di Kabanjahe). Ingat Sitolu Huta (Tongging, Paropo dan Silalahi) bukan Toba dan bukan Samosir. Siapa mereka? Itu pertanyaan lain lagi yang bisa kita bahas di lain waktu.

    Sistim seperti ini terdapat hampir di seluruh dunia. Kita ambil saja contoh Pulau Laboya (Indonesia Timur). Tenunan Laboya dimulai di bagian Timur pulau itu dan dilanjutkan ke Laboya Tengah. Penenun-penenun Laboya Tengah tidak boleh menyelesaikan tenunan. Mereka harus menyisakannya untuk diselesaikan di Laboya Barat. Sistim ini terkait dengan konsep The Laboya as a Woven Land yang, ternyata, dianggap punya body phyton (Perhatikan motif kulit ular sawah pada uis gara yang tidak didapati di tenunan Batak).

    Sistim yang mirip pernah diperkenalkan oleh antropolog ternama Bronislaw Malinowsky yang meneliti sistim pertukan mwali (ubi rambat) dengan sulava (mutiara) di Trobrian Island (Fiji) yang kemudian dianalisis oleh Marcel Mauss dengan menelorkan the theory of exchange (ini menjadi trend baru di dalam Antropologi Ekonomi yang menjelaskan sistim perbankan masa kini yang ternyata sama dengan primitive exchange. Sebagaimana dikatakan oleh Levi-Strauss, Wall Street itu bukan tempat rasional dan logika tapi tempatnya The Savage Mind (bukunya ini diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda Het Wilde Denken), alias rumah judi. Karena itu, para antropolog merasa berhak berbicara atas krisis finansial yang terjadi akhir-akhir ini dan menuding penyebab utamanya adalah bank-bank multi nasional yang membunuh bank-bank lokal (sebut saja raja-raja kecil).

    Kajian paling awal tentang tenunan tradisional di Antropologi dilakukan oleh Marcell Mauss di kalangan Eskimo (yang sekarang akan mengamuk kalau dibilang Eskimo. Mereka menyebut diri mereka Inuit. Mereka sudah duluan dengan gerakan IBE yang mirip KBB; Inuit Bukan Eskimo). Menurut Marcell Mauss, uis Inuit yang disebut Potlach adalah juga alat tukar (sejenis uang) selain untuk melindungi diri dari rasa dingin. Dia selanjutnya mengkaji pertukaran Potlach dalam upacara-upacara ritual.

    Penelitian Mauss dijadikan oleh Lévi-Strauss untu mematahkan teori penyebaran kebudayaan secara difusionisme maupun migrasi. Dalam sebuah tulisan saya, saya merespon Lévi-Strauss dengan memperlihatkan perbedaan antara Batak dengan Karo: Di Karo, uis mengalir dari kalimbubu (life giver) ke anak beru (life receiver) (Ingat dalam ngosei). Di Batak, ulos mengalir dari boru ke hula-hula. Ketika saya paparkan ini di Paris, murid-murid Levi-Strauss langsung berkata: "Itu adalah pertanda Karo dan Batak membedakan diri satu sama lain." (dalam missi mereka mematahkan teori dari orang-orang Jerman yang tetap bertahan pada difusionisme dan evolusionisme sehingga mereka getol mengucapkan Batak sebagai sebuah rumpun budaya). Tak aneh, Daniel Peret (yang orang Perancis) mengkoyak-koyak rumpun Batak.

    Saran berikutnya, jangan menganggap semua uis Karo terinspirasi oleh Batak. Parang rusa[k] asalnya dari Gayo yang di sana berarti parang rusa (tanduk rusa) yang artinya sama dengan parang mbelin di Karo. 

    Saran saya yang terakhir, mari mengkespresikan pengalaman-pengalaman pribadi kita di sini tapi jangan lemparkan ke forum sebagai sebuah kesimpulan akhir.

    Mejuah-juah. :D


    Comments
    3 Comments

    3 komentar:

    Mejuah-juah!