Mejuah-juah.     Selamat datang di blog sederhana kami: "Rudang Rakyat Sirulo".   Mejuah-juah. Kami minta maaf jika diwaktu dekat ini akan ada sedikit gangguan atau ketidak nyamanan pengunjung terhadap tampilan blog ini, sebab direncanakan dalam waktu dekat blog ini akan melakukan perbaikan. Terima kasih atas kunjungan anda.   Terus dukung dalam doa, untuk Taneh Karo Simalem yan kita cintai segera dipulihkan    Mejuah-juah.        RUDANG RAKYAT SIRULO COMUNITY menerima donasi dari pihak-pihak yang hendak/peduli dengan blog ini, yang ingin berinfestasi. Hal ini ditujukan untuk menghidupkan terus blog ini, serta meng-UPGRADEnya ke wensite berbayar demi kenyamanan pengunjung. Bagi anda yang tertarik silahkan hubungi e-mail: bastanta.meliala@gmail.com. Terima kasih.
Mejuah-juah.   Rudang Rakyat Sirulo Comunity, mengundang partisipasi dari pemcaba untuk mendukung eksistensi blog ini, dengan mengirimkan tulisan-tulisan yang berkaitan dengan Karo ke e-mail: bastanta.meliala@gmail.com    RRSC juga mengundang para pengunjung blog untuk ikut serta membangun jaringan RRSC dengan cara menyampaikan donasi untuk meng-UPGRADE blog ini ke versi berbayar, hal ini dianggap perlu untuk memberi kualitas konten dan kenyamanan pembaca.   Bagi anda yang tertarik untuk mendukung dan ikut serta membangun jaringan RRSC, anda dapat menyampaikan donasi anda ataupun berinfestasi di blog ini. Silahkan hubungi e-mail admin di BASTANTA.MELIALA@GMAIL.COM    Mejuah-juah.
    <--> MEJUAH-JUAH <-->

    Kamis, 26 Desember 2013

    Erkata Bedil


    Erkata Bedil adala salah satu lagu perjuangan Karo(dalam cakap/bahasa Karo), karya komponis nusantara Djaga Sembring Depari(Djaga Depari) asal Desa Seberaya, Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Jika kita terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, erkata bedil mengandung artian “bunyi/dentuman senjata”. Erkata Bedil i kuta Medan(dentuman/bunyi senjata di kota Medan)adalah kalimat pembuka dari syair lagu ini, serta di baris kedua dilanjutkan dengan kalimat ngataken kami maju ngelawan(sebagai pertanda(panggilan) bagi kami untuk maju melawan). Itulah dua baris kalimat pada bait pembuka(pertama) dari lagu karya Djaga Depari ini. Medan merupakan kota yang didirikan oleh seorang putra Karo bernama Guru Patimpus Sembiring Pelawi asal Ajijahe(dataran tinggi Karo) yang didiami penduduk asli dari suku Karo dan Melayu, sehingga kota Medan masuk dalam walayah Taneh Karo Simalem, ataupun merupakan salah satu wilayah adat suku Karo.

    Berkobarnya peperangan di kota Medan menjadi rasa tanggung jawab bagi pemuda/i Karo dari wilayah-wilayah Taneh Karo lainnya untuk membantu saudara-saudaranya yang di kota Medan. Perang di Medan adalah perang bagi seluruh wilayah dan masyarakat Karo, maka sering dikatakan “dari Medan area menuju Karo area” ini menunjukkan bahwa Medan adalah salah satu benteng terdepan yang sangat penting bagi dataran tinggi Karo dan dataran tinggi Karo juga merupakan kekuatan utama dari Dusun(Karo Jahe: Deli – Serdang/Medan), atau bisa dikatakan gudang laskar Simbisa(Simbisa sebutan bagi laskar/pasukan Karo). Jika basis pertahanan Medan telah takluk maka pastilah serangan akan ditujukan ke dataran tinggi Karo, dan begitu juga sebaliknya. Karena, Medan dan dataran tinggi Karo merupakan satu jaringan kekuatan perjuangan masyarakat Karo yang terus terhubung dan tak terpisahkan. Hal ini juga tergambar dalam Perang Sunggal yang tercatat sebagai perang telama yang pernah berlangsung di nusantara(± 38 tahun), dimana saat Datuk Sunggal ber-merga Karo-karo Surbakti penguasa Urung Serbanyaman/Sunggal berperang melawan serdadu Belanda yang dibantu oleh Sultan Deli, masyarakat Karo dari wilayah Taneh Karo lainnya khususnya dari gugung(gunung/dataran Tinggi Karo) tidak bisa berdiam diri saja, maka pasukan Simbisa Taneh Karo pimpinan Nabung Surbakti yang mendapat persenjataan dari perdagangan dengan Portugis dan Turki melalui Aceh dan senjata tradisional Karo berupa tumbak/lambing(tombak/lembing), tumbuk lada/rawit(keris khas Karo), leltep(sumpit beracun), dll berbondong-bondong turun gunung membantu pasukan Datuk Sunggal melawan penjajah.
               
    Itulah sekilas gambaran totalitas masyarakat Karo dalam hal berperang dalam rangka mempertahankan harga diri dan kedaulatan Taneh Karo Simalem dan dalam perang kemerdekaan Indonesia yang tergambar jelas dalam syair/lagu Erkata Bedil  karya Djaga Depari. Berikut syair dari lagu Erkata Bedil.

    Erkata bedil i kuta Medan turang la megogo
    Ngataken kami maju ngelawan ari oh, turang
    Tading ijenda si turang besan turang la megogo
    Rajin kujuma si muat nakan ari o, turang

    O, turang la megogo ( kai aku nindu turang )
    Uga sibahan arihta?
    Arih-arihta tetap ersada ari o, turang

    Adina lawes kena ku medan perang turang la megogo
    Petetap ukur ola melantar ari o, turang
    Adina ue nina pagi pengindo turang la megogo
    Sampang nge pagi simalem ukur ari o, turang

    Oh, turang la megogo (kai nindu ari turang)
    Uga sibaha arih-arihta
    Arih-arihta tetap ersada ari o, turang

    Adina sudu tangkena lenga turang la megogo
    Pasarna licin bentengna wajan ari o, turang
    Adina tuhu atendu ngena turang la megogo
    Tantangi cincin man tanda mata ari o, turang

    [ O, turang la megogo ( kai aku nindu turang )
    Uga sibahan arih ta arih-arihta tetap ersada ari o turang ] 2x

    Lihat partitur lagu Karo: Erkata Bedil di bawah ini. 
    Partitur Lagu Karo: Erkata Bedil
    Lihat video lagu Karo: Erkata Bedil di YouTube!




    Comments
    1 Comments

    1 komentar:

    1. LetJend Djamin Ginting17 Februari 2016 16.27

      notnya betul gak nih nadanya kayak beda sama lagunya gak jelas

      BalasHapus

    Mejuah-juah!