Mejuah-juah.     Selamat datang di blog sederhana kami: "Rudang Rakyat Sirulo".   Mejuah-juah. Kami minta maaf jika diwaktu dekat ini akan ada sedikit gangguan atau ketidak nyamanan pengunjung terhadap tampilan blog ini, sebab direncanakan dalam waktu dekat blog ini akan melakukan perbaikan. Terima kasih atas kunjungan anda.   Terus dukung dalam doa, untuk Taneh Karo Simalem yan kita cintai segera dipulihkan    Mejuah-juah.        RUDANG RAKYAT SIRULO COMUNITY menerima donasi dari pihak-pihak yang hendak/peduli dengan blog ini, yang ingin berinfestasi. Hal ini ditujukan untuk menghidupkan terus blog ini, serta meng-UPGRADEnya ke wensite berbayar demi kenyamanan pengunjung. Bagi anda yang tertarik silahkan hubungi e-mail: bastanta.meliala@gmail.com. Terima kasih.
Mejuah-juah.   Rudang Rakyat Sirulo Comunity, mengundang partisipasi dari pemcaba untuk mendukung eksistensi blog ini, dengan mengirimkan tulisan-tulisan yang berkaitan dengan Karo ke e-mail: bastanta.meliala@gmail.com    RRSC juga mengundang para pengunjung blog untuk ikut serta membangun jaringan RRSC dengan cara menyampaikan donasi untuk meng-UPGRADE blog ini ke versi berbayar, hal ini dianggap perlu untuk memberi kualitas konten dan kenyamanan pembaca.   Bagi anda yang tertarik untuk mendukung dan ikut serta membangun jaringan RRSC, anda dapat menyampaikan donasi anda ataupun berinfestasi di blog ini. Silahkan hubungi e-mail admin di BASTANTA.MELIALA@GMAIL.COM    Mejuah-juah.
    <--> MEJUAH-JUAH <-->

    Jumat, 03 April 2015

    Pajak Delitua: 974 Kilometer Nan Jauh Di Sana

    Oleh: Bastanta P. Sembiring (Jambi)

    bastantaGPS menunjukkan 974 kilometer dari tempat aku berpijak saat ini ke sebuah kota nan jauh di sana, dimana kenangan masa kecilku tertinggal. Oh, tidak lagi. Ternyata sudah hilang digusur, demikian kudengar dari berita di televisi. 974 Km, kenangan akan “Berondong Tiga Delitua” masih melekat kuat. Bukan karena enaknya, tetapi murah meriah. Cocok saat budget paspasan, dimakan sambil bersendaugurau menunggu Nande Ginting selesai berbelanja.
    delitua 9
    Pajak Delitua setelah diobrak-abrik Satpol PP Deliserdang [Rabu 1/4] (Foto: IMANUEL SITEPU)

    Hari ini Kamis, kataku dalam hati. Hari yang sibuk dan ceria bagi sebagian besar masyarakat Delitua sekitarnya.
    “Saatnya ku tiga,” kata Nini Tigan yang menghabiskan 101 tahun usianya di Deli hingga tutup usia tahun 2008 lalu.
    Itu dulu. Hari ini kudengar tangismu dari 974 km nan jauh di sana.
    974 km, ada Pajak Delitua, kata orang Karo. Pajak adalah pasar dalam bahasa Karo. Tiga juga pasar. Bedanya, tiga tidak terjadi setiap hari, seperti halnyatiga di Namorambe pada hari Senin, Penen hari Selasa, Tiga Juhar hari Rabu, Delitua hari Kamis, Sibolangit hari Jumat, Pancur Batu ataupun Talun Kenas tiganya pada hari Sabtu. Semua itu merupakan hiburan tersendiri bagiku saat sedang di Deli.
    974 km, di sana ada makanan favoritku. Babi Panggang Karo (BPK) + kidu-kidu dan lomok-lomok. Bukan itu saja, ada mie babi, capcai, babi kecap dan masih banyak lagi.


    berubah menjadi kota yang senyap

    Biasa saat Kamis malam, aku, bapak, dan adikku jalan-jalan ke Delitua. Mengapa harus Kamis malam? Jawabnya, karena itu saat yang tepat untuk mengunjungi Delitua. Setelah sibuk seharian saat malam tiba, Delitua terlelap melepas penatnya. Maka, Delitua yang kata orang macet dan semraut itu berubah menjadi kota yang senyap.
    974 km, nan jauh di sana. Kini tinggal kenangan. Muka sangar dan dingin ini ternyata tidak ada artinya. Toh, air mata ini menetes juga.
    Oh, aku jadi ingat. Ada jahitan celanaku tahun lalu yang belum sempat diambil. 974 km nan jauh di sana. Padahal sudah lunas kubayar. Hmm…
    Mejuah-juah.

    Artikel ini sebelumnya telah dipublikasikan di SoraSirulo.com dengan link: http://www.sorasirulo.com/2015/04/02/pajak-delitua-kanangan-nan-jauh-di-mata/

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar

    Mejuah-juah!