Ginting Serragih, adalah salah satu cabang(sub-)merga dari merga Ginting, sehingga dalam
penamaannya disebutkan dengan Ginting
Serragih. Menurut J. H. Neumann, Ginting Serragih ini merupakan salah satu
Ginting Tua yang menyebar ke Simalungun dan Batak(Toba) yang dikemudian hari di
Simalungun menjadi Saragih atau juga Saragih Munthe dan Saragi di Batak(Toba).
Beberapa budayawan dan sejarahwan Karo berpendapat kalau Ginting
Serragih ini merupakan sembuyak(saudara kandung) dari Ginting Munte dan Ginting Manik, hal ini dikarenakan oleh karena kuta(kampung) asal mereka(kuta awal kemunculan mereka), serta jalur dan waktu penyebaran mereka yang
hampir bersamaan. Namu, ada juga yang berpendapat kalau Ginting Serragih ini,
adalah pecahan(keturunan) dari Ginting Munte yang menyebar ke wilayah
Simalungun dan Tapanuli Utara(Toba), yang dimana dikemudian hari mereka menjadi
Saragih ataupun juga Saragih Munte di Timur Danau Toba(Simalungun) dan menjadi
Saragi di Toba yang keturunannya ini kemudian sebahagian mulih
kuta(pulang kampung) ke Taneh Karo dan bergabung kembali dengan kaumnya Ginting Serragih di Taneh Karo.
Adapun negeri/wilayah
bentukan ataupun kekuasaan dari merga Ginting Serragih ini, yakni: Kerajaan
Urung Tanjung Morawa, dan kuta kemulihen-nya(kampung
adat, kampung halaman leluhur) mereka, adalah Lingga Julu dan Surbakti. Mejuah-juah!
Ke-khasan Dialek Karo Yang Tegambar Pada Tulisen Karo
Diyakini, Tulisen(aksara) Karoyang juga disebut Surat Haru(karena dulunya dipergunakan
meluas di wilayah-wilayah bekas kerajaan Aru(Haru – Karo) meliputi Sumatera bagian
tengah dan bagian utara)dapat dikatakan merupakan aksara yang paling populer
setidaknya di kawasan Sumatera bagian utara dan tengah. Hal ini ditunjukkan
dengan banyaknya karya-sastra klasik yang ditemukan dan disimpan oleh para
kolektor-kolektor serta galeri seni di dunia, dimana dari kesemuanya itu
merupakan buah tangan dari para guru(orang
pintar dan bijaksana dalam segala hal) dan rakyat jelata. Jadi, di Karo bukan
hanya kaum guru dan sibayak(raja, bangsawan) saja yang
memiliki kemampuan baca tulis, melainkan segenap lapisan dan usia masyarakat
juga demikian.
Jika kita menelisik kepada tulisen(aksara) Karo itu, yang dipadukan
denga cakap(bahasa) serta endek(logat atau dialek) Karo, maka
tampak jelas ke-khasan dari tulisen karo itu yang tidak akan kita temui dalam
aksara-aksara serta dialek lainnya. Dimana dalam indung surat(huruf induk/utama) yang terdiri dari 21 surat(huruf/font), ada dua indung surat
yang sangat mencitrakan ke-khasan dari aksara, bahasa, dan logat Karo itu
sendiri, yakni pada indung surat “NDA” dan “MBA”(“nda” dan “mba” hanya ada di
Karo). Perhatikan penunjukan karakter “nda” dan “mba”, serta contoh-contoh
penggunaanya dalam kata!
Karakter "nda" dan "mba" serta contoh penulisannya dalam kata
Sebenarnya selain bunyi “nda” dan
“mba” yang ada dalam indung surat Karo,
ada satu bunyi yang juga sangat khas dalam dialek Karo, yakni: “nca”. Namun
sayangnya bunyi “nca” ini tidak ada
diwakili secara khusus dalam indung surat Karo, melainkan jika kita hendak
menuliskan “nca” kita haru menulis: “na+penengen+ca” Perhatikan penunjukan
karakter dibawah ini!
cara penulisan bunyi "nca".
Perhatikan juga penggunaannya pada kata-kata berikut ini!
contoh penulisan "nca" dalam kata-kata.
-->
Perhatikan contoh penulisan “nca” diatas sangat tidak efektif, karena
untuk menuliskannya setidaknya kita harus menggunakan indung surat “na” diikuti anak surat(diakritik) penengen
dan dilanjutkan dengan indung surat “ca”. Mungkin dalam hal ini saya mencoba
menggabungakan ketiga karakter tersebut “na+penengen+ca”, sehingga akan tampak
seperti gambar dibawah! Namun, itu masih butuh pengkajian dan kesepakatan
antara sesama pengguna tulisen(aksara) Karo. Dan, berikut paduan karakter untuk
membentuk bunyi “nca” berdasarkan rancangan saya!
Tujuh karakter pengembangan untuk membentuk bunyi "nca"
menurut rancangan Bastanta P. Sembiring.
Ada sebuah kisah yang
sangat menarik dan cukup populer tentang Merga Ginting Manik dan tentunya
Tarigan(Si Raja Umang). Dimana kisah ini sangat akrab dalam tradisi ndilo udan(memanggil hujan) dalam
kepercayaan masyarakat Karo, yang di-interpretasikan dalam bentuk seni drama
dan tari topeng, populer dengan sebutan
Gundala-gundala atau dibeberapa daerah Karo lainnya disebut tembut-tembut Seberaya yang membawakan
kisah Manuk Sigurda-gurdi(Siluman berwujud
burung raksasa) berkepala tujuh.
Akan kebenaran dari
cerita ini juga diperkuat dengan adanya niat dari kalimbubu Sembiring Kembaren
untuk kembali menjalin pertalian kekeluargaan dengan Ginting Manik, hal ini
tampak pada perjodohan yang direncanakan sekitar tahun 1920’an. Namun sedikit
terhalang, karena si beru Sembiring Kembaren yang notabene-nya janda seorang
Belanda, dimana mantan suaminya yang seorang jaksa merasa tidak senang,
sehingga dengan segala kewenangannya si Ginting Manik dibuang ke Singapura dan
akhirnya dipindahkan ke Nusa Kambangan(Cilacap), namun atas segala upaya yang
dilakukan pihak keluarga dan atas prilaku baik(Si Ginting Manik sejak di Nusa
Kambangan, Cilacap dikenal dengan ahli penanam kelapa yang membut pihak Belanda
menaruh simpatik) akhirnya Si Ginting Manik(Nangkih Ginting Manik) dibebaskan.
Adapun kuta-kuta yang
menjadi tempat berdiamnya merga Ginting Manik ini menurut tradisi-tradisi yang
ada adalah Tongging, Aji Nembah, Munte, Kuta Bangun, Singa, dan Linga; serta
penyebarannya bukan hanya di wilayah Taneh Karo saja melainkan hingga ke
Pak-pak(Dairi) dan Toba, sehingga merga ini juga ada di suku Pak-pak dan Toba dengan sbutan Manik.