Mejuah-juah.   Rudang Rakyat Sirulo Comunity    Mejuah-juah.
    <--> MEJUAH-JUAH <-->

    Friday, June 29, 2012

    Ginting Serragih


           
                    Ginting Serragih, adalah salah satu cabang(sub-)merga dari merga Ginting, sehingga dalam penamaannya disebutkan dengan Ginting Serragih. Menurut J. H. Neumann, Ginting Serragih ini merupakan salah satu Ginting Tua yang menyebar ke Simalungun dan Batak(Toba) yang dikemudian hari di Simalungun menjadi Saragih atau juga Saragih Munthe dan Saragi di Batak(Toba). 

    Beberapa budayawan dan sejarahwan Karo berpendapat kalau Ginting Serragih ini merupakan sembuyak(saudara kandung) dari Ginting Munte dan Ginting Manik, hal ini dikarenakan oleh karena kuta(kampung) asal mereka(kuta awal kemunculan mereka), serta jalur dan waktu penyebaran mereka yang hampir bersamaan. Namu, ada juga yang berpendapat kalau Ginting Serragih ini, adalah pecahan(keturunan) dari Ginting Munte yang menyebar ke wilayah Simalungun dan Tapanuli Utara(Toba), yang dimana dikemudian hari mereka menjadi Saragih ataupun juga Saragih Munte di Timur Danau Toba(Simalungun) dan menjadi Saragi di Toba yang keturunannya ini kemudian sebahagian mulih kuta(pulang kampung) ke Taneh Karo dan bergabung kembali dengan kaumnya Ginting Serragih di Taneh Karo.

                Adapun negeri/wilayah bentukan ataupun kekuasaan dari merga Ginting Serragih ini, yakni: Kerajaan Urung Tanjung Morawa, dan kuta kemulihen-nya(kampung adat, kampung halaman leluhur) mereka, adalah Lingga Julu dan Surbakti. Mejuah-juah!


    Tuesday, June 5, 2012

    Aksara Karo Bag II

    -->
     Ke-khasan Dialek Karo Yang Tegambar Pada Tulisen Karo

    Diyakini, Tulisen(aksara) Karo yang juga disebut Surat Haru(karena dulunya dipergunakan meluas di wilayah-wilayah bekas kerajaan Aru(Haru – Karo) meliputi Sumatera bagian tengah dan bagian utara)dapat dikatakan merupakan aksara yang paling populer setidaknya di kawasan Sumatera bagian utara dan tengah. Hal ini ditunjukkan dengan banyaknya karya-sastra klasik yang ditemukan dan disimpan oleh para kolektor-kolektor serta galeri seni di dunia, dimana dari kesemuanya itu merupakan buah tangan dari para guru(orang pintar dan bijaksana dalam segala hal) dan rakyat jelata. Jadi, di Karo bukan hanya kaum guru dan sibayak(raja, bangsawan) saja yang memiliki kemampuan baca tulis, melainkan segenap lapisan dan usia masyarakat juga demikian.

    Jika kita menelisik kepada tulisen(aksara) Karo itu, yang dipadukan denga cakap(bahasa) serta endek(logat atau dialek) Karo, maka tampak jelas ke-khasan dari tulisen karo itu yang tidak akan kita temui dalam aksara-aksara serta dialek lainnya. Dimana dalam indung surat(huruf induk/utama) yang terdiri dari 21 surat(huruf/font), ada dua indung surat yang sangat mencitrakan ke-khasan dari aksara, bahasa, dan logat Karo itu sendiri, yakni pada indung surat “NDA” dan “MBA”(“nda” dan “mba” hanya ada di Karo). Perhatikan penunjukan karakter “nda” dan “mba”, serta contoh-contoh penggunaanya dalam kata!
    Karakter "nda" dan "mba" serta contoh penulisannya dalam kata

    Sebenarnya selain bunyi  “nda” dan “mba”  yang ada dalam indung surat Karo, ada satu bunyi yang juga sangat khas dalam dialek Karo, yakni:  “nca”.  Namun  sayangnya bunyi “nca” ini tidak ada diwakili secara khusus dalam indung surat Karo, melainkan jika kita hendak menuliskan “nca” kita haru menulis: “na+penengen+ca” Perhatikan penunjukan karakter dibawah ini!
    cara penulisan bunyi "nca".
    Perhatikan juga penggunaannya pada kata-kata berikut ini!

    contoh penulisan "nca" dalam kata-kata.
     
    -->
    Perhatikan contoh penulisan “nca” diatas sangat tidak efektif, karena untuk menuliskannya setidaknya kita harus menggunakan indung surat  “na” diikuti anak surat(diakritik) penengen dan dilanjutkan dengan indung surat “ca”. Mungkin dalam hal ini saya mencoba menggabungakan ketiga karakter tersebut “na+penengen+ca”, sehingga akan tampak seperti gambar dibawah! Namun, itu masih butuh pengkajian dan kesepakatan antara sesama pengguna tulisen(aksara) Karo. Dan, berikut paduan karakter untuk membentuk bunyi “nca” berdasarkan rancangan saya!

    Tujuh karakter pengembangan untuk membentuk bunyi "nca"
    menurut rancangan Bastanta P. Sembiring.


    Monday, June 4, 2012

    Ginting MANIK


                Ginting Manik merupakan salah satu cabang(sub-)merga dari merga Ginting. Menurut tradisi Karo, Ginting Manik ini masih sembuyak(saudara sedarah) dengan Ginting Munté(Munthé) dan Ginting Pasé, hal ini tampak dari daerah asal mereka yang sama-sama dari kuta Tongging. Bukan itu saja, dalam penyebarannya(migrasinya), kedua sub-merga Ginting ini hampir memiliki jalur yang sama, setidaknya dari Tongging hingga ke Munté, namun dari Munté keturunan merga Ginting Manik ini melanjutkan penyebarannya ke Kuta Bangun, dan sebahagian ke Singa.
                Ada sebuah kisah yang sangat menarik dan cukup populer tentang Merga Ginting Manik dan tentunya Tarigan(Si Raja Umang). Dimana kisah ini sangat akrab dalam tradisi ndilo udan(memanggil hujan) dalam kepercayaan masyarakat Karo, yang di-interpretasikan dalam bentuk seni drama dan tari topeng, populer dengan sebutan Gundala-gundala atau dibeberapa daerah Karo lainnya disebut tembut-tembut Seberaya yang membawakan kisah Manuk Sigurda-gurdi(Siluman berwujud burung raksasa) berkepala tujuh.
                Darwan Prinst, S. H., dalam bukunya Adat Karo menyebutkan, si manteki(pendiri) kuta Singa adalah Ginting Sinusinga, namun beliau juga menambahkan kalau hal ini belumlah jelas! Saya berpendapat, “mungkin saja kalau Ginting Sinusinga ini adalah keturunan(pecahan) dari Ginting Manik di Singa”. Saya berpendapat demikian karena, almarhum(mendiang) Nini Bulang(kakek) saya Nagkih Ginting Manik(ayah dari nandé/ibu saya) adalah keturunan asli dari Pengulu Singa(di duga pendiri kuta Singa). Dalam hal ini, Mama(paman) saya sudah mendapat konfirmasi akan kebenarannya dari Karo-karo Sekali yang merupakan anak beru tua Ginting Manik Mergana saat masih di Singa, dan tanpa sengaja tahun 2011 lalu saya bertemu seorang yang juga ber-beberé Ginting Manik Singa, beliau juga membenarkan akan hal ini.
                Diceritakan dalam perjalanannya ke Dusun(Karo Jahé), putra Ginting Manik dan beru Sembiring Kembaren ini diselamatkan oleh anak berunya Karo-karo Sekali yang merupakan seorang guru mbelin dan Sembiring Meliala dari percobaan pembunuhan yang direncanakan oleh pihak sembuyak dari bapanya(ayahnya), karena saat itu Ginting Manik yang seorang Sibiak(sibiak = utama, bedakan dengan sibayak)Perbapan(kaum pria/penghulu) meninggal di-usia muda dan meninggalkan seorang anak yang masih kecil. Menurut tradisi, jabatan sibiak perbapan kuta ini diwariskan secara turun temurun, kecuali tidak ada ahli warisnya maka jabatan untuk selanjutnya dipangku oleh sembuyaken-nya yang tertua, itu-lah diduga menjadi alasen utama dalam percobaan pembunuhan terhadap anak Si Ginting Manik ini. Namun, rencana ini digagalkan oleh anak berunya Ginting, yakni: Karo-karo Sekali dan kalimbubu Ginting saat itu Sembiring Kembaren yang melarikannya ke daerah Dusun Deli(Karo Jahé).
                Akan kebenaran dari cerita ini juga diperkuat dengan adanya niat dari kalimbubu Sembiring Kembaren untuk kembali menjalin pertalian kekeluargaan dengan Ginting Manik, hal ini tampak pada perjodohan yang direncanakan sekitar tahun 1920’an. Namun sedikit terhalang, karena si beru Sembiring Kembaren yang notabene-nya janda seorang Belanda, dimana mantan suaminya yang seorang jaksa merasa tidak senang, sehingga dengan segala kewenangannya si Ginting Manik dibuang ke Singapura dan akhirnya dipindahkan ke Nusa Kambangan(Cilacap), namun atas segala upaya yang dilakukan pihak keluarga dan atas prilaku baik(Si Ginting Manik sejak di Nusa Kambangan, Cilacap dikenal dengan ahli penanam kelapa yang membut pihak Belanda menaruh simpatik) akhirnya Si Ginting Manik(Nangkih Ginting Manik) dibebaskan.
                Banyak kisah dibalik perjalanan Si Ginting Manik ini, namun dilain waktu akan saya ceritakan. Hehehe…. Dan berikut jalur perjalanan dari Ginting Manik di Dusun Deli(Karo Jahé) yang sempat saya peroleh dari beberapa orang tua: Singa => Rimo Mukur => (.???.) => Kuta Jurung => Namo Rambé, dan seterusnya. Kebenaran akan cerita ini memang masih perlu didalami, akan tetapi setidaknya dengan mengumpulkan tradisi-tradisi yang ada sedikit titik terang sudah mulai tampak.
                Adapun kuta-kuta yang menjadi tempat berdiamnya merga Ginting Manik ini menurut tradisi-tradisi yang ada adalah Tongging, Aji Nembah, Munte, Kuta Bangun, Singa, dan Linga; serta penyebarannya bukan hanya di wilayah Taneh Karo saja melainkan hingga ke Pak-pak(Dairi) dan Toba, sehingga merga ini juga ada di suku Pak-pak dan Toba dengan sbutan Manik.