Mejuah-juah.     Selamat datang di blog sederhana kami: "Rudang Rakyat Sirulo".   Mejuah-juah. Kami minta maaf jika diwaktu dekat ini akan ada sedikit gangguan atau ketidak nyamanan pengunjung terhadap tampilan blog ini, sebab direncanakan dalam waktu dekat blog ini akan melakukan perbaikan. Terima kasih atas kunjungan anda.   Terus dukung dalam doa, untuk Taneh Karo Simalem yan kita cintai segera dipulihkan    Mejuah-juah.        RUDANG RAKYAT SIRULO COMUNITY menerima donasi dari pihak-pihak yang hendak/peduli dengan blog ini, yang ingin berinfestasi. Hal ini ditujukan untuk menghidupkan terus blog ini, serta meng-UPGRADEnya ke wensite berbayar demi kenyamanan pengunjung. Bagi anda yang tertarik silahkan hubungi e-mail: bastanta.meliala@gmail.com. Terima kasih.
Mejuah-juah.   Rudang Rakyat Sirulo Comunity, mengundang partisipasi dari pemcaba untuk mendukung eksistensi blog ini, dengan mengirimkan tulisan-tulisan yang berkaitan dengan Karo ke e-mail: bastanta.meliala@gmail.com    RRSC juga mengundang para pengunjung blog untuk ikut serta membangun jaringan RRSC dengan cara menyampaikan donasi untuk meng-UPGRADE blog ini ke versi berbayar, hal ini dianggap perlu untuk memberi kualitas konten dan kenyamanan pembaca.   Bagi anda yang tertarik untuk mendukung dan ikut serta membangun jaringan RRSC, anda dapat menyampaikan donasi anda ataupun berinfestasi di blog ini. Silahkan hubungi e-mail admin di BASTANTA.MELIALA@GMAIL.COM    Mejuah-juah.
    <--> MEJUAH-JUAH <-->

    Senin, 23 Mei 2011

    Dina Guittar Wijngaarden

                  “Dina Guittar Wijngaarden adalah istri dari Pdt. J. Wijngaarden  yang merupakan seorang pekabar injil(pendeta) yang ditugaskan oleh  Nederlansch Zending-genootschp(NZG) untuk melakukan pelayanan  Pekabaran Injil( PI) di daerah perkebunan Hindia Timur di wilayah pesisir timur pantai Sumatera bagian Utara unit PI Buluhawar. Sebelumnya, Pdt. J. Wijgaarden ini telah bertugas di Pulau Sewu dekat Pulau Timor. Dan, beliaulah penginjil pertama yang membuka sekolah missi pertama(yang emudian ditutup) dan berhasil melakukan babtisan pertama kepada suku Karo (1. Sampe, 2. Ngurapi, 3. Nuah, 4. Tala, 5. Pengarapen, dan 6. Tambar) tercatat tanggal 20 Agustus 1893, hingga beliau wafat tanggal 21 September 1894 dikarenakan penyakit disentri saat dia baru melakukan perjalanannya di daerah Tanjung Beringin. Ada isu yang beredar bahwasanya kematian Pdt. J. Wijgaarden ini bukan murni karena penyakit “disentri” melainkan ada yang berpendapat kalau beliau di bunuh oleh penduduk Tanjung Beringin dengan cara guna-guna ataupun racun.
     

                 Dengan wafatnya Pdt. J. Wijgaarden, otomatis posisi kepemimpinan pelayanan NZG di Dusun(Karo Jahé/Deli-Serdang) kosong, maka tugasnya untuk sementara di lanjutkan oleh sang istri. Disinilah tampak keteguhan hati seorang Dina Guittar, teruji! Hari-harinya dipenuhi dengan banyak tantangan, sebagai seorang janda, beliau bukan hanya menjadi ibu tungggal bagi putranya “Cornelius” melainkan juga bagi anak-anak babtis-nya dan kaum Kristen kecil yang telah percaya. Bersama kaum pernandén(kaum ibu) yang sudah percaya, beliau berjalan ke daerah-daerah sekitar Buluhawar sambil menggendong putranya Cornelius untuk melakukan pelayanan injil serta kegiatan sosial. Tantangan seperti gunjingan karena setatusnya yang janda, penolakan oleh masyarakat, serta teror dari para guru mbelin(guru besar = orang yang pandai dalam segala hal, khusunya agama, obat-obatan, racun, dan hal-hal mystis) yang tidak senang dengan pekerjaan yang dilakukannya, membuat hari-harinya berat. Namun, itu terus dilakukannya hingga kedatangan Pdt. M.  Joustra kelak.

                 Walalupun hanya dalam waktu yang singkat, keberadaannya diantara masyarakat Karo khususnya, namun Dina Guittar telah banyak melakukan perubahan terhadap pemahaman yang keliru (tidak relevan dengan pri-kemanusiaan) di tengah-tengah masyarakat Karo, seperti: saat beliau mendampingi suaminya (Pdt. J. W.) menyampaikan berita keselamatan (injil), memperkenalkan metode-metode pengobatan secara medis, melakukan kegiatan sosial, dan hal yang paling radikal ialah saat dia menentang kepercayaan lahir nunda(cara membunuhan dengan cara halus, dimana bayi yang baru lahir dengan ibunya meninggal duni saat melahirkannya di taruh di sisi ibunya dengan alasan agar tendinya(hati, jiwa, rohnya) kelak tidak seperti merasa kekurangan(kegogon), maka dikatakan dia diberi kesempatan untuk menyusu kepada sang ibu yang telah meninggal untuk terakhir kalinnya dan kemudian jasad ibunya yang telah tiada itu dibalikkan denga bosisi menindih sang bayi hingga tidak bernyawa) dan pengorbanan jiwa yang dianut masyarakat Karo, sehingga membuat beliau dan suaminya Pdt. J. W., saat itu sangat dibenci dan dimusuhi baik oleh para Guru Mbelin maupun masyarakat(dan ini juga dikaitkan dengan kematian Pdt. J. W.,). 

                   Masih banyak hal-hal lain yang telah beliau lakukan di tengah-tengah masyarakat Karo yang belum di ekspos ke publik... Hendaknya kisah-kisah hidup dibalik misi PI ke masyarakat Karo lebih banyak lagi di ekspos ke masyarakat, seperti halnya kisah Dina Guittar ini yang dimana bisa dijadikan contoh teladan  bagi kaum wanita Indonesia, khususnya bagi wanita-wanita Karo.

                  Hm.... Salut deh bwt ibu Dina Guittar Wijngaarden(Nandé Cornelius), kyk’a dia layak’lh diberi penghormatan sebagai salah seorang inspirator bagi wanita Indonesia, khususnya wanita Karo..  Bujur ras Mejuah-juah.

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar

    Mejuah-juah!